
Sebuah bingkai kecil yang memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara Nino dengan seorang wanita, setidaknya telah menarik perhatian Dania saat ini.
"Om, siapa wanita yang sedang memelukmu ini?" tanya Dania penasaran.
Nino menegakkan kepalanya dan menatap Dania yang masih menghadap rak berisi kenangan lama miliknya. "Wanita?"
"Iya!" jawab Dania seraya memutar tubuhnya dan menunjuk ke arah bingkai kecil yang ada di dalam sana.
Karena tak pernah merasa ada potret wanita lain di ruang kerjanya selain potret Dania, Nino pun segera menghampiri Dania dan melihat ke arah Dania menunjuk.
Bukan main terkejutnya Nino ketika melihat siapa wanita yang di maksud Dania. Seketika ia menjadi gugup dan salah tingkah.
"Siapa dia, Om?" tanya Dania lagi.
Nino mulai mengusap kepalanya seolah sedang merapihkan rambutnya. "Bukan siapa-siapa."
"Jika bukan siapa-siapa, kenapa potretnya berada di tempat istimewa seperti ini?" Dania merentangkan kedua tangannya bermaksud menunjukkan besarnya ruangan itu. "Bahkan potret pernikahan kita tidak ada disini." gumamnya pelan, nyaris tertelan angin.
Ucapan terakhir Dania dapat di dengar jelas oleh Nino yang langsung menarik tangan Dania dan mendudukkan tubuhnya di kursi kerja Nino.
Dania membelalakkan matanya karena sikap Nino. "Apa yang kau lakukan, Om Pedofil!"
Mendapatkan celaan seperti itu bukannya membuat Nino marah, melainkan tertawa bahagia. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa sehingga langsung memutar kursi yang di duduki Dania menghadap meja kerjanya.
"Ini ...," Dania menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Di atas meja kerja Nino, ada beberapa potret Dania mulai dari kecil hingga beranjak dewasa.
Mata Dania berkaca-kaca akibat tak kuasa menahan haru. "Darimana kau mendapatkan semua ini?" Dania bertanya dengan bibir gemetar karena menahan tangis.
Nino tersenyum dan mengambil sebuah bingkai yang memperlihatkan Dania ketika berusia sekitar enam atau tujuh tahun. "Tentu saja ibunya Tary yang memberikan ini padaku. Bukankah kau terlihat sangat menggemaskan?"
Dania hanya diam dan menatap Nino penuh haru.
Nino meletakkan bingkai yang ia pegang dan mengambil bingkai yang lain. "Ini aku dapatkan dari kakakmu Dito."
Sudut mata Dania mencuri pandang potret dirinya yang tengah memakan es krim.
"Tolong jangan marah, Moony! Aku hanya ingin membuat dirimu seolah berada di dekatku selama sepuluh tahun ini." Nino meletakkan bingkai di tangannya dan beralih menatap Dania. "Dan untuk potret pernikahan kita ... Sebenarnya, aku ingin memasangnya, tapi aku takut kau akan marah. Jadi, ku putuskan untuk menyembunyikannya."
"Menyembunyikannya?" Dania mengulangi ucapan Nino.
__ADS_1
Nino melangkah dan menjauhi Dania, sebelum akhirnya sampai di sebuah lukisan yang ternyata menyembunyikan sesuatu.
Bola mata Dania membulat sempurna ketika Nino mengangkat lukisan tersebut dan memperlihatkan potret pernikahan mereka.
Tatapan Dania begitu terfokus pada potret pernikahan dirinya dengan Nino yang selama ini selalu membuatnya merasa tersiksa. Di potret itu Dania tersenyum penuh kepalsuan, sedangkan tatapan Nino di penuhi oleh cinta meski bibirnya tak menyunggingkan senyuman.
"Om ...," Dania berucap, tapi pandangannya tetap ke depan.
Nino menoleh dan melihat Dania yang mulai di selimuti kabut. "Aku tahu semua ini akan menyakitimu, Moony. Itu sebabnya aku tidak memasang potret pernikahan kita."
Langkah kaki Nino sudah mulai menjauhi Dania dan bersiap untuk kembali menyembunyikan kenangan paling indah dalam hidupnya untuk dirinya sendiri. Namun, tiba-tiba saja Nino tertegun ketika sebuah sentuhan begitu hangat melingkar di pinggangnya.
Tubuh Nino membeku, sementara darahnya terus mendesir. Nino merasa seolah nyawa mulai meninggalkan raganya untuk terbang jauh ke awang-awang. Ia menurunkan pandangannya dan melihat tangan putih Dania sedang memeluknya. Memeluk tubuhnya. Bayangkan itu!
'Apakah ini hanya mimpi? Atau mungkin halusinasi?' Batin Nino tak percaya.
Dalam keheningan itu, Nino bisa menghirup aroma tubuh Dania yang memabukkan. Ia juga bisa merasakan hembusan nafas Dania yang hangat di punggungnya. Untuk saat ini, Nino hanya ingin merasakan semua itu dan tak ingin apapun lagi dalam hidupnya. Rasanya, penantian selama sepuluh tahun yang ia jalani telah terbayar lunas.
***
Sepanjang hari itu, Dania tak bisa menegakkan kepalanya untuk menatap wajah Nino yang di penuhi kebahagiaan. Ia begitu malu meskipun hanya untuk bertatapan dengan suaminya itu.
Sentuhan tangan Nino sontak membuat Dania menaikkan pandangannya yang langsung bertemu dengan tatapan Nino. Dengan cepat Dania kembali mengalihkan pandangannya karena rasa malu masih berkubang di hatinya.
"Hei, sudahlah! Ada apa denganmu sebenarnya?" tanya Nino frustasi.
Dania memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan perlahan. "Tidak ada apa-apa!"
"Jika tidak ada apa-apa, kenapa kau terus menghindariku?" Nino bertanya seraya memicingkan matanya. "Bukankah kita sudah sepakat untuk saling memberikan ruang?" tanyanya lagi.
'Aku malu karena telah memeluknya. Tidak bisakah dia mengerti?' Umpat Dania dalam hati. "Aku- Aku hanya ingin diam." jawabnya asal.
Nino tiba-tiba saja meletakkan sendoknya dan menarik tangan Dania. "Ayo, pergi!"
"Kemana?" tanya Dania, tapi masih diam di tempatnya.
Senyuman tersungging di sudut bibir Nino. "Mencari ketenangan."
***
Deru mesin kendaraan saling bersahutan di tengah jalanan Ibukota yang tak pernah lengang.
__ADS_1
Dania menatap keluar jendela dan memperhatikan barisan gedung-gedung pencakar langit yang berdiri dengan kokohnya di kanan kiri jalan. Ada sebuah rasa yang tak asing di hati Dania. Ya, ia ingat saat pertama kali ia menaiki mobil mewah milik Ricky ketika usianya masih lima tahun. Dania begitu bahagia saat itu hingga ia tak bosan-bosan menghitung barisan pohon di tepi jalan. Semua kenangan itu tanpa sadar telah mengundang sebuah senyuman di wajah cantik Dania.
"Bisakah aku menjadi alasan dari senyumanmu kali ini?" tanya Nino, menoleh sesaat ke arah Dania yang masih menatap keluar jendela.
Dania menoleh. "Tidak bisa!"
Nino berpura-pura memasang wajah masam. "Betapa terlukanya hatiku ini."
Terdengar decakan dari mulut Dania. "Jika hatimu serapuh itu, bagaimana kau bisa mengukir namamu di dalam sini?"
Dania meletakkan sebelah tangannya di dada dan tersenyum penuh arti hingga membuyarkan konsentrasi Nino yang tengah mengemudi.
"Astaga, Moony! Kau bisa membuatku serangan jantung." Nino menepikan mobilnya dan menatap lekat wajah Dania. "Apakah aku sungguh bisa mendapatkan tempat disana?" tanyanya penuh harap.
Reaksi Nino yang berlebihan menurut Dania, membuat wanita itu tertawa dan melupakan rasa malu yang sebelumnya ia rasakan.
CUP ...
Satu kecupan mendarat di puncak kepala Dania, sebelum Nino kembali melajukan mobilnya.
Dania tertegun dan menyentuh kepalanya, tepat di tempat Nino mendaratkan bibirnya. Ada rasa panas dan juga sesuatu yang tidak di mengerti oleh Dania. Namun, lagi-lagi ia menolak semua perasaan itu.
"Jangan di sentuh lagi atau kau sebenarnya ingin aku melakukannya lagi?" goda Nino seraya mengerlingkan matanya ketika tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Dania.
Dania mendengus kesal dan kembali menatap keluar jendela.
"Apa yang begitu menarik di luar sana?" tanya Nino penasaran.
Tangan Dania menopang dagunya dan menggeram sebelum menjawab, "aku hanya teringat kenangan yang aku lalui bersama kakak dan pangeran."
"Kenangan apa yang kau miliki bersama Ricky hingga mampu melukis senyuman seindah itu di wajahmu?" tanya Nino curiga.
Menyadari nada bicara Nino yang berubah, Dania pun menoleh dan melihat Nino menggenggam kemudi dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Hanya kenangan dimana anak malang seperti aku merasa di hargai dan di sayangi ...."
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih masih setia bersama Da Nino 😘
Mohon dukungannya 'ya readers kuhh sayang 😍
__ADS_1