Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
DASI


__ADS_3

Ricky menatap tajam sosok wanita cantik yang masih berdiri lemah dengan bersandar pada sofa.


"Segalanya sudah berubah, Mika!" ucap Ricky datar.


Ya. Wanita itu adalah Mikayla Sutomo. Adik dari Anika Sutomo yang merupakan ibu kandung Dania. Sudah bertahun-tahun Mika pergi tanpa kabar. Jadi, tidak pernah ada lagi yang menyebut namanya sejak hari dimana ia memilih untuk pergi.


Mika tertunduk sedih. "Aku tidak menyangka jika Nino akan berubah sekejam itu. Ternyata, sepuluh tahun ini telah banyak merubah dirinya."


"Nino tidak pernah berubah! Dia hanya sudah terbangun dari impian kosong yang menenggelamkan harapannya selama ini." Ricky melipat kedua tangannya di dada. "Jika kau datang untuk mengganggunya, aku akan pastikan hidupmu tidak akan tenang!" ancamnya.


Bola mata Mika bergerak ke sudut dimana Ricky berada. "Kau masih begitu membenciku?"


"Hemm ...," jawab Ricky malas.


"Tapi, Ky -"


Ricky menyela ucapan Mika. "Bahkan aku saja tidak bisa menghilangkan kebencian di hatiku untuk dirimu. Seharusnya, bisa kau bayangkan sebesar apa kebencian Nino untukmu?"


Tatapan Mika menerawang jauh ke depan. Namun, ingatannya jelas melihat ke belakang. Masa lalu dimana dirinya masih begitu di sayangi oleh kedua pria hebat itu.


Mika menghela nafasnya. "Aku masih memiliki keyakinan kepada Nino. Dia pasti akan memaafkan aku sama seperti sebelumnya."


"Itu dulu, Mika! Berbeda dengan saat ini." Deta berjalan dengan cepat ke arah Mika. "Dulu, kak Nino hanya melihat dirimu di matanya. Tapi sekarang, dia sudah menikah dan sangat mencintai istrinya."


"Istri? Nino? Menikah? Kapan?" Lontaran pertanyaan meluncur bebas dari bibir tipis Mika.


Deta menggelengkan kepalanya sambil berdecak. "Sudah lebih dari sepuluh tahun kau pergi dan kau pikir semuanya akan tetap sama seperti saat kau tinggalkan? Aku sarankan kau mencari tahu lebih dulu sebelum membuat harapan palsu di hatimu, Nona Sutomo!"


Meskipun terdengar nada ejekan dari ucapan Deta, tapi Mika tidak menggubrisnya dan memilih untuk fokus pada kehidupan baru Nino yang ternyata telah di mulai tanpa dirinya.


"Dengan siapa dia menikah?" tanya Mika tak percaya.


Ricky menghentikan Deta yang akan menjawab pertanyaan Dania. "Kau sudah bertanya terlalu banyak, Mika. Pergilah karena kau tidak pernah di undang untuk datang!"


Mika tahu jika dirinya memang tidak di harapkan. Namun, dalam hati kecilnya ia berharap akan kembali menemukan kehangatan dari keluarga Sanjaya atau setidaknya dari pria hangat seperti Nino. Mika berpikir jika kepergiannya selama sepuluh tahun terakhir akan membuat semua orang memaafkannya dan bersedia membuka kembali lembaran baru dengan dirinya. Sayangnya, Mika tidak seberuntung itu.


"Mas, aku rasa kau terlalu keras pada Mika. Kasihan sekali dia!" ucap Deta, begitu Mika pergi dari hadapan keduanya. Ada setitik rasa sesal karena mengatakan banyak hal pada wanita malang itu.


Ricky meraih pinggang Deta agar mendekat padanya. "Sayang, terkadang kita harus bersikap tegas pada orang-orang tertentu. Sudah! Lupakan saja dia! Dimana Dania dan Nino?"


Pandangan Ricky menyapu seluruh ruangan dan tidak menemukan sosok sahabatnya yang konyol itu dimana pun.


"Saat aku tinggalkan tadi, mereka sedang di halaman depan. Tapi aku tidak tahu dimana mereka sekarang. Mungkin saja mereka sudah pulang," jawab Deta sekenanya sambil mengangkat kedua bahunya.


"Kalau begitu ...," Ricky menyusuri lekuk leher Deta perlahan. "Sekarang waktunya kita menghabiskan waktu berdua."


Dengan cepat Deta menahan wajah Ricky. "Belum waktunya!"


"Kenapa?" tanya Ricky, dengan kernyitan di dahinya.

__ADS_1


"Kau harus menjawab dulu pertanyaanku!"


***


"Aku rela menjadi budakmu seumur hidupku, Moony. Tapi aku mohon, jangan terus menunjukkan pesonamu di hadapanku karena aku tidak yakin bisa menahannya lebih lama lagi." Nino menarik tangan Dania hingga wanita itu masuk ke dalam pelukannya.


Dania lagi-lagi bisa merasakan irama jantung Nino yang saling bersahutan. Hatinya pun menghangat, menyadari jika hanya ada dirinya di dalam hati Nino.


'Apakah ini cinta? Ah, tidak mungkin! Aku tidak bisa menyimpulkan hal sebesar ini begitu saja.' Batin Dania menolak.


Puncak kepala Dania berdenyut, ketika Nino menghujaninya dengan kecupan hingga Dania tak sanggup lagi menampung cinta dan kehangatan yang di berikan oleh suaminya.


"Tolong lepaskan aku!" pinta Dania, suaranya tertelan dalam pelukan Nino yang begitu erat.


Nino tersenyum dan kembali mengecup puncak kepala Dania. "Aku akan melepaskanmu, tapi ingatlah selalu bahwa hanya aku tempatmu untuk kembali dan bersandar!"


Dania menganggukkan kepalanya dengan pasti. Bukan hanya persetujuannya atas permintaan Nino, melainkan lebih untuk meyakinkan hatinya sendiri.


"Aku akan berusaha untuk selalu mengingatnya."


***


Pagi yang cerah menyapa Dania yang baru membuka matanya, sementara Nino sudah menghabiskan waktunya selama berjam-jam untuk menikmati kecantikan wanita yang telah menjadi istrinya itu.


"Kau akan terus menggeliat seperti itu atau kau sebenarnya hanya ingin agar aku menyusulmu?" goda Nino, yang berdiri tepat di samping Dania.


Tubuh Nino yang berpakaian lengkap kali ini, setidaknya bisa membuat Dania bernafas lega. Ia juga tidak perlu terkejut saat membuka matanya. Namun, tak bisa di pungkiri jika wajah tampan Nino semakin tampan di pagi hari.


Dania mengalihkan pandangannya. "Kau ada di depanku! Terpaksa aku harus melihatmu."


"Tidak bisakah kau menjawab lebih singkat?" tanya Nino lagi, kali ini terdengar seperti sebuah keluhan.


"Contohnya?" Dania mengerutkan dahinya, tak memahami maksud Nino.


Nino menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Misalnya, katakan saja kau sangat tampan suamiku sayang. Mudah bukan?"


Dania menggelengkan kepalanya dengan gerakan lambat. "Aku tidak bisa memfitnahmu seperti itu. Maaf!"


"Apa? Fitnah katamu?" Nino merangkak kembali ke tempat tidur dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Dania. "Coba lihat suamimu ini dengan lebih jeli!"


Bola mata Dania membesar. Bibirnya terkunci rapat. Sementara, detak jantungnya berpacu tak menentu.


'Diamlah, Wahai jantungku yang baik! Aku tidak ingin Om pedofil tahu jika aku gugup berhadapan dengannya.' Jerit Dania dalam hati. Memohon pada jantungnya yang seolah ingin mendahului hati dan bibirnya.


"Apa aku tampan?" tanya Nino tiba-tiba.


Dania tanpa sadar mengangguk. Namun, ia segera mengerjap ketika mendengar tawa Nino.


"Maksudku ... Tentu saja kau tampan karena kau seorang pria." Dania menggerak-gerakkan bola matanya untuk mencari alasan. "Iya, benar seperti itu maksudku!"

__ADS_1


Nino tersenyum dan menjauhi Dania. "Baiklah, aku percaya padamu!"


"Tunggu!" teriak Dania, ketika Nino akan memakai dasinya.


Tangan Nino berhenti sejenak. "Ada apa?"


Dania tidak menjawab. Melainkan berjalan dengan cepat ke arah walk in closet dan kembali dengan sebuah dasi di tangannya.


"Aku sudah mengambil dasi, Moony." Nino menunjukkan dasi di tangannya.


"Aku tahu!" jawab Dania, tapi tetap memasangkan dasi yang ia ambil ke leher Nino.


Tubuh Nino membeku. Terlebih ketika tanpa sengaja tangan Dania menyentuh lehernya. Sentuhan yang tidak ada artinya itu, ternyata begitu bermakna bagi Nino. Ingin sekali ia merengkuh tubuh Dania dan melahapnya saat itu juga, tapi Nino tidak bisa melakukan hal yang akan membuat Dania menjauh darinya.


"Kenapa kau sangat tinggi? Haruskah aku memperpanjang leherku?" keluh Dania. Jelas itu bukan sebuah pertanyaan karena ia tahu tidak akan ada jawaban yang memuaskan untuk pertanyaannya.


Tiba-tiba saja, Nino mengangkat tubuh Dania dan mendudukkannya di atas meja kemudian Nino sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan Dania.


"Seperti ini? Apakah kau masih kesulitan?" tanya Nino setengah berbisik.


'Aaarrrrrgghhhh!!! Apa yang kau lakukan, Om pedofil? Sepertinya kau berniat membuatku terkena serangan jantung.' Batin Dania meronta. "Tidak!" jawab Dania pelan.


"Kenapa kau mengganti dasinya?" tanya Nino lagi.


Dania mendongakkan kepalanya untuk menatap Nino, setelah berhasil mengatasi rasa gugupnya. "Entahlah! Aku hanya merasa warna itu tidak seperti dirimu."


"Seperti apa diriku?" Nino merubah tatapannya yang membuat Dania merasa terintimidasi.


Kerongkongan Dania tiba-tiba saja terasa kering. "Ehem ... Ehem ... Aku rasa kau sudah terlambat."


Pengalihan perhatian yang sungguh sangat biasa, tapi memang hanya itu yang terlintas di kepala Dania.


"Ada apa?" tanya Nino, lalu menegakkan kembali tubuhnya setelah Dania selesai memakaikan dasinya. "Kau ingin minum?" tanyanya lagi.


"Tidak! Terima kasih. Aku hanya merasa bibir dan kerongkonganku kering karena aku baru saja bangun tidur." jawab Dania beralasan.


Tanpa di duga, Nino menyentuh dagu Dania dan mengecup bibir Dania dengan lembut.


Mata Dania terbelalak. Dengan cepat tangannya mendorong tubuh Nino agar menjauh dan melepaskan pagutan bibir keduanya.


"Moony, aku -" Nino belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Dania sudah melesat cepat dari hadapannya. "Sepertinya aku sudah keterlaluan."


Nino berjalan gontai keluar dari kamar utama rumah besar Ferdinan. Semangat dan rasa bahagia yang sempat hadir, kini sudah menguap entah kemana. Dalam benak Nino, Dania masih belum bisa menerima dirinya hingga ia menolak dirinya walaupun hanya sekedar sebuah kecupan.


Sementara, di dalam kamar mandi Dania sedang melihat pantulan dirinya di cermin.


"Kau jelek sekali, Dania! Kau bahkan belum menyisir rambutmu." Dania menunjuk wajahnya di cermin. "Dan ... Oh, astaga! Aku juga belum membersihkan mulutku. Apa yang akan dia pikirkan tentang aku sekarang?"


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Terima kasih selalu setia menunggu 😘


__ADS_2