
"Pergi!!!"
Suara berat Nino yang penuh amarah, memenuhi ruangannya siang itu. Andai saja bisa, ingin rasanya Nino menghempaskan wajah yang ada di hadapannya kini jauh-jauh ke dasar lautan agar tak bisa lagi mengganggu hidupnya.
"Nino ...," lirih Mika, setelah begitu banyak penolakan yang ia terima sejak dirinya memutuskan untuk kembali.
Tangan Nino mengepal kuat. Menahan segala gejolak yang ada di hatinya. Kakinya melangkah. Menjauhi sosok Mika yang terlihat menyedihkan sama seperti sebelumnya. Wanita itu memang selalu datang membawa kesedihannya kepada Nino. Yang dengan bodohnya selalu membuka tangannya lebar-lebar untuk menerima wanita itu.
"Jangan membuatku melupakan jika kau adalah keluarganya Dania!" ancam Nino, nada bicaranya terdengar datar. Namun, cukup menyakitkan bagi Mika.
Mika mengernyit. "Dania? Apa hubungannya Dania dengan semua yang terjadi di antara kita?"
"Karena Dania adalah -"
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu menghentikan Nino untuk memberitahukan identitas baru Dania pada Mika.
"Masuk!" titah Nino, setelah berhasil mengendalikan emosinya.
Liza masuk ke ruangan Nino dengan wajah curiga. "Tuan, ini laporan dari anak cabang yang bermasalah."
Nino mengambil berkas yang di letakkan Liza di atas mejanya. "Aku akan memeriksanya nanti. Kau boleh pergi!"
"Baik, Tuan." Liza membungkuk hormat, sebelum meraih handle pintu.
"Tunggu, Liza!" panggil Nino, masih dengan wajah datarnya yang tidak sesuai dengan kepribadiannya.
Begitu Liza menoleh, Nino langsung menatap tajam ke arah Mika. "Ingat wajah wanita ini! Lain kali dia mendekat ke kantorku, langsung seret dia tanpa ampun!"
Mika tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya karena ucapan Nino. Bagaimana mungkin pria sehangat Nino bisa jadi sangat kejam seperti ini.
"No ...." Mika mencoba mendekati Nino. "Tidak bisakah kita bicara sebentar saja? Seperti dulu."
Meskipun ada kebencian yang sangat besar di hati Nino, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan satu rasa yang pernah tinggal di hatinya untuk wanita yang ada di hadapannya kini.
Nino menghela nafas panjang dan memberikan kode pada Liza untuk meninggalkan ruangannya. "Baiklah, aku beri kau satu kesempatan untuk bicara."
***
__ADS_1
Liza terus memandangi ponselnya dan ruangan Nino secara bergantian. Tugasnya kali ini bertambah, ia harus mengawasi gerak-gerik Nino setiap saat atas permintaan Dania.
"Astaga! Apa benar ini pekerjaan seorang sekretaris?" gerutu Liza, lalu meletakkan ponselnya dengan kasar ke atas meja. "Dimana sebenarnya nyonya berada sekarang? Kenapa belum sampai juga?" gumamnya cemas.
Baru saja Liza akan turun ke lobby, sosok cantik Dania sudah muncul di balik pintu lift. Penampilannya hari ini terlihat begitu cantik dan elegan. Namun, tidak ada yang berlebihan sedikitpun dari apa yang Dania kenakan hari ini.
"Nyonya." Liza berjalan menghampiri Dania. "Saya pikir anda tidak akan datang."
Dania hanya melirik ke arah Liza secara singkat. "Milikku di ganggu, mana mungkin aku tidak datang."
Liza hanya menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap Dania yang menarik ulur perasaan tuannya. Mungkinkah Dania sebenarnya sudah mencintai Nino, tapi ia begitu gengsi untuk mengungkapkan perasaannya. Ataukah, Dania tidak menyadari jika Nino telah tinggal di dalam hatinya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Dania, yang merasa aneh dengan tatapan Liza.
"Ti- Tidak, Nyonya. Saya hanya mengagumi kecantikan anda," jawab Liza gugup.
Dania menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Lebih cantik mana, aku atau wanita itu?"
Liza tersenyum lebar. "Tentu saja anda, Nyonya."
"Baiklah, aku akan masuk sekarang!" ucap Dania seraya memantapkan langkahnya memasuki ruangan Nino yang sedikit tertutupi tirai.
Sebenarnya, Dania sedikit ragu ketika melihat tirai di ruangan Nino tertutup. Namun, ia tetap berusaha untuk berpikir positif. Dengan langkah mantap, Dania membuka pintu ruangan Nino tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Seharusnya, kau tetap berada di sampingku saat aku memintanya."
Kalimat yang di ucapkan Nino untuk wanita itu terdengar seperti garam yang di tabur di atas luka Dania. Rasanya perih dan sangat menyakitkan, tapi Dania tidak bisa melakukan apapun. Bahkan untuk menangis saja Dania tidak mampu meneteskan air matanya yang berharga.
"Cut! Durasi untuk adegan romantisnya sudah habis, Tuan dan Nyonya yang terhormat!" seru Dania seraya bertepuk tangan.
Gema tepukan tangan Dania tentu saja terlihat seperti tabuhan genderang perang bagi Nino yang terpaku melihat kehadiran Dania di saat seperti ini.
"Mo- " Bibir Nino kembali mengatup ketika Mika berjalan ke arah Dania.
"Dania? Sayang, apa kabar?" tanya Mika, tak ada rasa bersalah sedikitpun di wajahnya ketika menghampiri Dania dan memeluknya.
Dania menghunuskan tatapan membunuhnya pada Nino yang berdiri mematung di tempatnya.
Tangan Dania melepaskan pelukan Mika. "Maaf, anda siapa?"
__ADS_1
Mika mengernyit dan tersenyum heran karena Dania tidak mengenali dirinya. "Kau tidak ingat aku, Dania?"
Dania menatap lekat wajah Mika yang sedikit mirip dengannya. "Aku ingat kau! Kau yang datang ke rumah kakakku waktu itu bukan?"
Mika menganggukkan kepalanya dan tersenyum dengan tatapan yang berbinar.
"Lalu, untuk apa kau datang kesini?" tanya Dania, menatap tajam ke arah Mika dan Nino secara bergantian.
"Aku ingin bertemu Nino. Dan kau? Apa yang kau lakukan disini? Ah iya, pasti Ricky yang mengirimmu kesini." Mika tersenyum lebih lebar dan hendak menyentuh rambut Dania, tapi langsung di tepis oleh Dania.
Dania mengacuhkan Mika dan berjalan mendekati Nino yang sedari tadi hanya diam karena rasa bersalah yang hinggap di hatinya. Tiba-tiba saja, Dania berjinjit dan mencium bibir Nino sekilas.
"Aku juga datang untuk menemuinya." Dania tersenyum dengan manisnya pada Nino yang tengah menatapnya dengan penuh pertanyaan.
"Dania!!!" teriak Mika, terkejut dengan sikap Dania yang salah menurutnya.
Nino meradang. "Jangan berteriak padanya!"
Mika melemparkan tatapan tak percaya dan menuntut penjelasan pada Nino.
Tangan kekar Nino melingkari pinggang Dania dan mengecupi leher jenjang milik istrinya itu. Menghirup aroma tubuh Dania yang menenangkan.
"Hentikan!" teriak Mika lagi, sementara tangannya mencoba menjauhkan Nino dan Dania. Sayangnya, tubuh mungil wanita itu tidak kuasa melawan kekuatan tangan Nino.
"Pergi saja jika kau tidak ingin melihat semua ini, Mika!" titah Nino, masih menikmati aroma tubuh Dania yang semakin lama semakin memabukkan.
Mika melangkah mundur. "Ini tidak benar! Seharusnya, kau menjaga Dania seperti putrimu sendiri! Kau tidak pantas untuknya, Nino!"
Dania tersenyum licik. "Siapa yang pantas untukku, hanya aku yang bisa menentukannya!"
"Dania, dengarkan aku! Nino sudah menikah. Deta dan Ricky yang mengatakannya padaku." Mika kembali melangkahkan kakinya untuk mendekati Dania.
Nino dan Dania saling berpandangan, kemudian tertawa geli seolah sesuatu yang lucu baru saja terjadi di hadapan mereka.
"Nyonya, aku beritahu kau satu kebenaran! Saat ini kau sedang berhadapan dengan nyonya Ferdian. Istri dari tuan Nino Ferdinan. Dania Ferdinan." Dania membanggakan statusnya sebagai istri Nino untuk pertama kalinya.
Nino semakin mengeratkan rangkulannya di pinggang Dania. "That's right! She's my lovely wife. My sunshine."
"TIDAK MUNGKIN!!!"
__ADS_1
Hallo semuanya 🤗
Di tunggu selalu love, like, and votenya 😘