Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
MANDI


__ADS_3

"Karena di mataku, kau selalu terlihat cantik setiap saat ...."


Kalimat pendek yang sederhana. Namun, di ucapkan dengan penuh cinta dan kelembutan. Wanita mana yang tidak meleleh mendengarnya. Dan tentu saja, Dania juga merasakan hal yang sama. Hatinya mencair sedikit demi sedikit setiap kali di hujani oleh cinta Nino yang begitu besar.


Inilah impian setiap istri. Di cintai dan di hargai oleh suaminya. Tak peduli suaminya itu seorang CEO ataupun hanya seorang tukang tukang bakso. Yang terpenting adalah cinta dan juga saling mengerti. Mengisi kekosongan yang ada hingga terciptanya sebuah keharmonisan dalam sebuah hubungan. Kedamaian dalam sebuah rumah tangga juga selalu menjadi harapan setiap pasangan. Tak terkecuali bagi Dania dan Nino. Ini kali pertama mereka menghabiskan waktu bersama di kantor. Tidak ada perdebatan yang berujung salah paham. Semua hal berjalan sebagaimana mestinya, meski tidak seperti harapan keduanya karena Nino yang di sibukkan oleh segudang pekerjaan yang tak ada habisnya.


"Kau itu benar-benar seorang playboy, Om!" lontar Dania, sebagai jawaban atas pujian Nino untuknya.


Nino mengerutkan keningnya. "Playboy?"


"Hemm ...," Dania mengangguk dengan senyuman nakal di wajahnya. "Lidahmu tidak pernah terpeleset sedikitpun setiap kali kau merayuku. Sepertinya itu bakat yang terlatih."


Nino menarik tangan Dania hingga tubuh keduanya menempel. Dania sampai harus mendongakkan kepalanya untuk menatap Nino.


"Itu semua karena apa yang aku katakan adalah sebuah kebenaran." Tatapan Nino mulai sayu ketika melihat bibir Dania yang ranum. "Kau cantik, pintar, baik, sempurna. Itu sebuah kenyataan. Ah, ya! Dan satu lagi! Aku sangat mencintaimu. Semua itu nyata dan tidak terbantahkan!"


Dania terperangah dengan kata-kata Nino yang begitu menyanjung dirinya hingga ia tidak sadar jika pintu lift sudah terbuka.


"Ayo!" ajak Nino, matanya menatap ke arah pintu lift yang terbuka sementara kakinya berusaha menahan pintunya.


Wajah Dania merona akibat rasa malu. Beruntung, kantor Nino sudah sepi dan tidak ada karyawan yang lembur. Ia jadi tidak perlu khawatir jika ada yang melihat dirinya seperti ini.


"Kalau begitu, akan berkencan kemana kita malam ini?" tanya Nino, tangannya sibuk memasang safety belt di tubuh Dania.


Bibir Dania bergerak seirama dengan gerakan matanya. "Tempat apa yang masih buka di jam begini?"


Nino mencengkram erat kemudi akibat menekan perasaannya melihat tingkah Dania yang menggemaskan.


"Om!" Dania menyentuh tangan Nino yang terlihat tegang. "Apa terjadi sesuatu? Kau sakit?" tanyanya cemas.


'Adikku yang sakit karena lelah menunggu, Moony.' Batin Nino meringis. "Tidak! Aku hanya sedang berpikir." jawabnya beralasan.


Keletihan yang nampak di wajah Nino membuat Dania merasa bersalah.


"Kita pulang saja, Om!" ucap Dania, kemudian beralih menatap ke depan dengan tubuh bersandar.


Nino menoleh karena terkejut. "Tapi -"


"Aku lelah, Om. Ingin melanjutkan tidurku yang bersambung." Dania tersenyum polos dan berpura-pura memejamkan matanya.


"Baiklah! Kita akan pulang, tapi kau harus berjanji jika lain kali kau ingin pergi denganku. Maka kau harus mengatakannya padaku, Moony!" ucap Nino di barengi dengan mobil yang mulai melaju.

__ADS_1


"Hemm ...."


Dania ingin sekali mengatakan banyak hal sebagai jawaban dari permintaan Nino, tapi ia juga sebenarnya menyukai ketenangan yang terjadi hari ini. Untuk itu Dania memilih diam dan menikmati aroma nafas Nino yang seolah memenuhi rongga hidungnya.


***


GUBRAK ...


Dania terbangun pagi ini karena mendengar benda jatuh di sampingnya.


"Apa itu?" gumam Dania, matanya masih belum bisa melihat dengan jelas.


"Maaf, Moony! Aku membuatmu terbangun." Nino mendekat pada Dania.


Mata Dania mengerjap beberapa kali. "Kau sedang mencari sesuatu?"


"Aku lupa dimana meletakkan ponselku," jawab Nino.


Dania berdecak kemudian terkekeh. "Kenapa tidak kau hubungi ponselmu agar dia menjawab dan memberitahu dirimu dimana keberadaannya."


"Itu bisa aku lakukan jika ponselku dalam keadaan hidup, Moony." Nino meraih dagu Dania dan mengecup bibir itu sekilas.


"Jangan menciumku!" sungut Dania kesal.


Dania menatap ke arah lain. Tidak ingin menjawab pertanyaan Nino.


"Kenapa?" tanya Nino lagi. Kali ini ia tahu jika Dania tidak sedang marah padanya, melainkan hanya sedang merasa malu.


"Aku baru saja bangun tidur," jawab Dania pelan.


Nino berjalan memutar agar bisa melihat wajah Dania dan menggodanya. "Aku tidak mendengar yang kau katakan. Coba katakan sekali lagi!"


Dania menarik nafas dalam. "Aku jelek. Aku bau. Dan aku bahkan belum mencuci wajahku. Tidak seperti dirimu yang sudah rapih, wangi, dan tampan di pagi hari."


Awalnya, Nino hanya diam dan mendengarkan. Namun, tiba-tiba tawa meledak dari mulutnya tanpa bisa di tahan.


"Kau pikir ini lucu?" gerutu Dania, dengan wajah memberengut sempurna.


Nino berusaha mati-matian untuk menghentikan tawanya. "Kalau kau berpikir seperti itu, maka aku hanya bisa melakukan satu hal untukmu."


"Apa?" tanya Dania tanpa suara, tapi semua itu jelas terlihat di wajah dan gerakan bibirnya.

__ADS_1


Belum juga Dania mendapatkan jawaban dari rasa ingin tahunya, tiba-tiba saja Nino mengangkat tubuhnya dan membawa Dania ke dalam kamar mandi.


Nino meletakkan tubuh Dania ke dalam bathtub dengan hati-hati, layaknya sebuah benda berharga yang tak ternilai.


"Apa yang kau lakukan!!!" pekik Dania, terkejut ketika melihat Nino membuka kembali kemeja yang ia kenakan. Saking terkejutnya, Dania sampai terduduk kaku menatap pemandangan yang di suguhkan Nino.


Hanya sebuah senyuman yang tersungging di bibir Nino. Tubuh kekarnya mulai terlihat ketika kemeja yang sebelumnya ia kenakan tergeletak di lantai.


Dania terpaku. Menatap tak percaya tubuh atletis Nino. Sebelumnya, Dania juga pernah melihat betapa sempurnanya tubuh Nino. Namun, saat itu kesadaran dirinya hanya separuh hingga membuatnya tidak menyadari hal itu.


"Aaarrrrrggghhhh!!!" Dania mulai histeris ketika Nino menurunkan celana panjang yang telah terpasang di kakinya.


Lagi-lagi, Nino hanya tersenyum. Dan kali ini senyumnya semakin merekah karena melihat reaksi Dania yang tepat seperti dugaannya.


"Om- Om pedofil mesum!" teriak Dania, tapi anehnya ia tidak merasa takut. Melainkan hanya ingin berteriak dan meluapkan rasa malu di hatinya.


Kaki Nino ikut masuk ke dalam bathtub dan mengisi air. "Kenapa kau berteriak? Nanti orang-orang akan berpikir yang tidak-tidak."


Dania melotot sebagai protes atas ucapan Nino. "Kau yang membuatku berteriak!"


"Memang apa yang aku lakukan?" goda Nino, tubuhnya sudah mulai tertutupi air dan busa.


'Tidak ada yang kau lakukan, hanya aku saja yang berlebihan.' Batin Dania, malu dengan ulahnya sendiri. "Kau pasti sengaja melakukan semua ini!" tuduhnya.


"Benar!" Nino mengangguk penuh keyakinan. "Tidak mungkin jika aku tidak sengaja membawamu kesini."


Dania mendengus kesal. "Aku mengerti maksudmu. Kau ingin aku mandi. Baiklah! Aku akan mandi. Tapi kenapa kau juga ikut mandi bersamaku?"


"Aku hanya bersiaga." Nino memposisikan tubuhnya senyaman mungkin, sementara Dania masih duduk dengan lutut tertekuk.


"Siaga untuk apa? Kau pikir aku ibu hamil hingga kau ingin menjadi suami yang siaga." Dania menutup mulutnya sendiri. Sadar jika pemilihan kata yang ia ucapkan tidak tepat.


Nino menyeringai. "Sebenarnya, aku hanya bersiaga jika kau butuh bantuanku untuk menggosok punggungmu."


Dania memekik tanpa suara ketika merasakan sebuah sentuhan di kakinya yang berada di bawah air.


"Om -" Dania tidak melanjutkan kata-katanya karena Nino langsung memotongnya.


"Pedofil mesum!" sambung Nino, seolah tahu apa yang akan di ucapkan Dania. "Karena kau sudah mengatakan hal itu berulang kali, maka aku tidak akan mengecewakan dirimu."


Percikan air mulai berjatuhan membasahi lantai kamar mandi ketika Nino memulai aksinya pagi itu.

__ADS_1


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa love, like, and votenya untuk Dania dan Om pedofil kesayangannya 'ya 😉


__ADS_2