Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
BERDAMAI


__ADS_3

"Jika kata cemburu itu bisa mewakilkan betapa besar cintaku untuk istriku, maka biarlah seluruh dunia menyebutku pria pencemburu."


Rangkaian kata yang di ucapkan Nino semakin membuat Dania percaya jika pria itu memang mencintainya. Terlebih setelah ia mendengar sendiri ungkapan hati Nino semalam.


Malam sebelumnya ...


"Aku hanya ingin ... kejujuran!" lirih Dania, berharap tidak akan ada hal yang lebih buruk terjadi.


Nino mendekat pada Dania dan berlutut di hadapan Dania, sementara matanya terus menatap tangan Dania yang terkepal.


Perlahan Nino menyentuh tangan Dania dan membelainya dengan lembut, sebelum ia mencium tangan Dania yang sedikit gemetar. "Maafkan aku, Moony!"


Dania memekik karena Nino yang tiba-tiba berubah sikap seperti itu. Dania bahkan sempat ingin menarik tangannya, andai saja ia memiliki tenaga yang cukup untuk melakukannya.


"Aku tahu ...," Nino menggantung kata-katanya ketika bola matanya terpaku pada manik mata Dania yang juga tengah menatapnya. "Aku tahu kau tidak mencintaiku, tapi sejujurnya itu bukanlah masalah bagiku. Aku hanya ingin kau berada di sisiku." sambungnya.


Serpihan hati Dania yang sebelumnya berserakan, mulai kembali menyusun dan entah mengapa seperti ada susunan yang berbeda. Namun, Dania tak ingin menghiraukan hal itu untuk saat ini.


"Egois!" sinis Dania, tanpa menatap Nino yang masih tak bisa mengalihkan pandangannya.


Nino tersenyum getir. "Kau benar! Aku memang egois, tapi itu semua aku lakukan hanya untukmu dan hanya padamu."


Kali ini tatapan Dania kembali menuntunnya untuk melihat ketidakberdayaan Nino yang masih berlutut di bawah kakinya.


"Untukku?" tanya Dania tak percaya.


"Benar!" Nino kembali tersenyum dan mencium tangan Dania yang sepertinya mulai terbiasa dengan sentuhannya. "Aku tidak ingin kau terus berseberangan dengan kakakmu karena hal itu tentu saja akan membuat kalian semakin lama terpisah."


Susunan kalimat yang di ucapkan Nino begitu sempurna hingga membuat Dania merasa sesuatu menghantam hatinya untuk yang kesekian kali, meskipun tanpa ia sadari.


"Kami terpisah juga karena ulahmu!" sanggah Dania, masih tidak ingin menerima kenyataan jika Nino tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini.


Nino menghela nafasnya yang terasa sangat berat. "Aku tahu! Itu sebabnya aku berusaha untuk menghindarimu saat kau kembali, karena aku tahu benar jika kau kembali bukan untuk diriku."


Dania menundukkan pandangannya yang langsung bertemu kembali dengan tatapan Nino yang di penuhi kabut kesedihan. Ada rasa yang mendorong Dania untuk menghapus kesedihan di mata Nino, tapi ingatan akan kebohongan Nino mengenai identitas dirinya membuat Dania mengurungkan niatnya.


"Jadi, itu alasanmu menipuku dengan berpura-pura menjadi orang lain dan meminta supirmu untuk menjadi dirimu?" tanya Dania kesal.


Nino melepaskan tangan Dania dengan lembut, kemudian berdiri dengan bersandar di meja kerja Ricky. "Apakah itu yang terlintas di benakmu, Moony?"


Dania mengangguk penuh keyakinan.


"Kau yakin semua itu benar-benar murni kesalahanku?" tanya Nino lagi.


Meskipun ragu, tapi Dania tetap menganggukkan kepalanya.


Nino melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum penuh arti. Sementara Dania hanya kebingungan melihat sikap Nino yang seperti bunglon itu.

__ADS_1


"Aku yakin ingatanmu masih sangat kuat, Moony." Nino mengerlingkan sebelah matanya. "Coba kau ingat, saat kau meminta untuk bertemu denganku. Kau datang ke restoran dan melihat pak Toto yang ada di sana. Tanpa bertanya kau meninggalkan tempat itu dan mengambil kesimpulan bahwa pria tua yang sedang menunggumu disana adalah diriku. Apakah itu kesalahanku?" tanyanya.


Wajah Dania memerah. Namun, bibirnya masih bungkam karena ia tahu apa yang di katakan Nino memang benar.


Nino semakin melebarkan senyumnya. "Dan apa kau ingat, saat kau menangis di taman? Sebenarnya, aku ingin sekali mengakui bahwa akulah pria yang ingin kau temui, tapi kau justru membuatku terkejut dengan memintaku menjadi tameng untukmu agar bisa terlepas dari perjodohan ini. Jujur saja, hatiku sangat hancur saat itu ketika mengetahui begitu tidak inginnya kau menikah denganku."


Ada kegetiran pada kata-kata Nino yang memaksa Dania untuk merasa bersalah, sekalipun ia terus menyangkal semua yang di katakan Nino.


"Aku ...," Dania tidak bisa mengatakan apapun untuk membela diri.


"Tidak masalah, Moony! Aku sudah terbiasa menerima penolakan atas cintaku yang unik padamu. Tapi aku hanya tidak terbiasa melihatmu tersiksa karena diriku." Nino tersenyum, tapi matanya menyiratkan kesedihan dan juga kekecewaan.


Dania mulai merasa jika ruang kerja Ricky ini terlalu pengap dan ia mulai sesak nafas. Ia tidak juga mengakui jika semua yang di ungkapkan Nino adalah kebenaran yang selama ini ia tolak.


Nino sebenarnya menyadari kegelisahan Dania, tapi ia bertekad untuk menyelesaikan masalah di antara mereka malam ini karena Nino tidak ingin lagi melihat Dania mencurahkan isi hatinya kepada pria lain, selain dirinya.


"Moony ...."


Dania menaikkan pandangannya dan melihat Nino yang sedang menatapnya dengan tajam.


"Apa yang membuatmu membenciku dan berpikir seandainya pria yang menikahimu bukanlah aku?" tanya Nino getir.


Kerongkongan Dania tercekat akibat terlalu terkejut dengan pertanyaan Nino. "Kau terlalu tua untukku!"


Jawaban Dania yang sekenanya itu justru mengundang tawa Nino yang menyeramkan bagi Dania.


Nino melangkah untuk mengurangi jaraknya dengan Dania. "Apa kau tahu apa maksud kata-katamu tadi?"


Dania mencengkram ujung sofa dan menarik nafasnya dalam-dalam. "Tentu saja aku tahu! Aku tidak sebodoh dirimu yang tidak mengerti apapun!"


"Aku mengerti, Istri Kecilku, tapi aku hanya ingin memastikan jika kau tahu apa yang baru saja kau katakan." Nino kembali memundurkan langkahnya saat melihat Dania ketakutan. "Angkat kepalamu dan lihat aku!" titahnya.


Dania menggelengkan kepalanya dan lebih memilih untuk menatap ke arah lain.


"Lihat aku, Moony!" titah Nino lagi, kali ini nada bicaranya sedikit meninggi.


Dania pasrah dan menoleh untuk melihat suaminya yang tampan sedang berdiri bak model di hadapannya.


'Tampan sekali!' Batin Dania.


Nino tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Dania yang hilang fokus dan menggelengkan kepalanya.


"Lihat aku baik-baik, Moony! Apakah aku sungguh-sungguh terlihat sangat tua bagimu?" tanya Nino, sedikit menggoda.


Dania nampak tidak memperhatikan ucapan Nino. Ia masih terpaku menatap wajah tampan dan tubuh kekar Nino yang telah menjadi miliknya itu.


CTAK ... CTAK ...

__ADS_1


Nino menjentikkan jarinya untuk menyadarkan Dania dari lamunannya.


Dania mengerjap. "A- Ada apa?"


"Apa aku tampan?" tanya Nino genit.


"Iya! Ah, maksudku tidak!" elak Dania, di susul rona merah di kedua pipinya.


"Seingatku, ada yang pernah mengatakan jika usiaku terlihat sama dengan dirinya." Nino menaikkan sebelah alisnya.


Dania mengerucutkan bibirnya. "Mungkin orang itu harus memeriksakan matanya."


"Mungkin saja! Atau mungkin, seharusnya aku membawa istriku ke dokter mata saja." Nino kembali tertawa.


Dania mendengus kesal. "Lakukan apapun yang kau sukai!"


Setelah mengatakan hal itu, Dania berdiri dan hendak meninggalkan ruang kerja Ricky. Namun, Nino menahan pergelangan tangannya dan menarik tubuh Dania agar masuk ke dalam pelukannya.


"Lepaskan aku!" hardik Dania seraya memukul-mukul dada Nino.


Nino meringis kesakitan, tapi tetap melingkari pinggang Dania dengan kedua tangannya. "Aku tidak akan melepaskanmu dalam kemarahan seperti ini, Moony."


Dania berusaha tenang agar Nino mau melepaskan dirinya. "Baiklah, aku sudah tidak marah. Sekarang, tolong lepaskan aku!"


"Aku sudah melonggarkan ikatan cintaku padamu selama sepuluh tahun, Moony. Aku membiarkanmu terbang tinggi dan meninggalkan aku seorang diri disini dalam kesepian, meskipun aku tahu kau juga kesepian. Tidak bisakah kita berdamai dengan keadaan dan mencoba memahami satu sama lain? Bukankah itu akan lebih baik daripada kita saling menyakiti seperti ini?" ucap Nino setengah berbisik.


Bola mata Dania membulat sempurna dan ia pun tak bisa mengatakan apapun, terlebih ketika Nino membelai rambutnya dan menyelipkan beberapa helai rambutnya ke telinga.


"Kau diam? Bisakah aku artikan itu sebagai sebuah persetujuan?" Nino berisik di telinga Dania yang masih diam membeku.


Banyak kata yang ingin Dania ucapkan, tapi entah kenapa bibirnya seolah terkunci rapat. Ia hanya bisa menatap Nino dan mengatakan semuanya melalui sorot matanya.


Nino tersenyum dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Dania hingga hidung keduanya bersentuhan.


"Aku mencintaimu, Moony ..."


Kehangatan dan gejolak cinta Nino begitu kuat terasa melalui sentuhan bibirnya yang tak bisa lagi Dania hindari.


Flashback off ...


Dentingan suara gelas yang beradu menarik kembali kesadaran Dania. Ia menoleh dan melihat wajah Nino yang di penuhi kebahagiaan.


'Jika ini akan menjadi awal baik bagi semuanya, maka aku akan berusaha untuk berdamai dengan takdir yang menyedihkan ini ....'


Hallo semuanya🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2