
Langkah kaki panjang Ricky membawanya ke ruangan CEO Da Nino Corp yang terlihat sunyi.
"Dimana pria konyol itu?" gumam Ricky kesal seraya masuk ke ruangan Nino.
Belum sempat Ricky berbalik, tiba-tiba saja seseorang menepuk bahunya.
"Apa yang membawamu kesini, Brothers?" tanya Nino lesu.
Ricky menaikkan sebelah alisnya. "Menurutmu?"
"Aku sedang tidak ingin bermain teka-teki. Jika kau bosan, pergilah bermain monopoli dengan Tary. Jangan ganggu aku!" lontar Nino, tanpa melihat ke arah Ricky.
Ricky duduk di hadapan Nino dengan wajah menyeringai. "Kau masih bisa santai saat istrimu hilang?"
Nino menatap Ricky, kemudian menghela nafasnya yang terasa begitu berat. "Lalu, apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah mencarinya, tapi aku tidak bisa menemukannya."
"Aku pikir setelah kau menikah, hidupku akan tenang tanpa gangguan darimu. Hah! Sungguh sial nasibku harus selalu menjadi penolongmu." Ricky melipat kedua tangannya di dada.
"Bagaimana lagi? Aku hanya memiliki dirimu dalam hidupku yang menyedihkan ini." Nino tertawa getir. "Tapi bagaimana kau tahu jika Dania menghilang?"
"Itu ...."
Flashback on ...
Ruang rapat Sanjaya Corporation nampak tegang karena raut wajah sang presdir yang dingin dan tatapannya yang membunuh itu, membuat para karyawannya tidak berani walau hanya untuk mengintip. Namun, kesuraman itu seketika menghilang ketika ponsel sang presdir berdering.
"Hallo, Sayang, sudah merindukan -"
Belum sempat Ricky menyelesaikan rayuannya, kalimatnya sudah di potong oleh penelepon yang ternyata adalah Deta.
"Dania ada bersamamu bukan?" tanya Deta di seberang panggilan.
'Apa-apaan ini? Aku sedang butuh asupan manis, tapi Detaku malah menanyakan hal yang aneh seperti ini!' Umpat Ricky dalam hati. "Apa maksudmu, Sayang? Aku sedang di kantor, mana mungkin Dania bersamaku." sanggah Ricky, berharap Deta hanya sedang mencari perhatiannya saja.
"Mas, Dania hilang! Aku mohon cari dia sekarang juga ...."
Flashback off ...
"Lalu, dimana dia sekarang?" tanya Nino penuh semangat.
Ricky mengangkat kedua kakinya dan menumpuknya di ujung meja kerja Nino. Aura pemimpin dan keangkuhan begitu kental mengelilingi dirinya. Tatapan matanya yang dingin dan bibirnya yang datar tanpa senyuman, menambah kesan mengintimidasi dari pria itu.
"Kau ingin tahu dimana Dania berada?" tanya Ricky datar.
Nino mengangguk. "Tentu saja!"
Ricky menjentikkan jarinya. "Tidak semudah itu!"
"Ricky!!!" geram Nino, yang di balas tawa oleh Ricky.
"Baiklah! Dania ada di sebuah hotel di daerah barat kota ini, tapi sekarang dia sudah dalam perjalanan menuju rumah keluarga Riady." tutur Ricky.
Nino menghela nafasnya lega. "Syukurlah!"
"Aku tidak ingin ikut campur dalam rumah tanggamu, No, tapi aku hanya berharap kau dan Dania akan menemukan kebahagiaan kalian bersama." Ricky tersenyum dan beranjak pergi dari ruangan Nino.
Sebuah senyuman tertarik di sudut bibir Nino ketika menatap punggung Ricky yang menjauh.
"Sekali lagi, aku berhutang padamu, Brothers ...."
__ADS_1
***
Menjelang tengah malam, Dania merasa tenggorokannya sangat kering. Ia beringsut turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya dengan langkah gontai. Ketika menuruni anak tangga, Dania sangat terkejut saat melihat sesosok bayangan tengah duduk di sofa dan membelakanginya.
'Siapa itu? Apa mungkin kak Dito? Tidak! Kak Dito dan kak Shan sedang bertugas di perbatasan. Lalu, mungkinkah itu pencuri?' Batin Dania, sementara tangannya gemetar ketakutan.
Minimnya cahaya, di tambah penglihatannya yang belum jelas akibat baru saja terbangun membuat Dania tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di dalam rumahnya.
Perlahan Dania melangkah dan mengambil sebuah payung yang kebetulan berada di dekat tangga. Tangannya terayun ke atas. Berjaga-jaga jika pencuri itu nanti menyerangnya.
Ketika Dania mendekat, tiba-tiba pencuri itu berbalik dan menatapnya. Mata Dania terbelalak dan hampir melompat keluar saat melihat wajah pencuri itu. Tidak! Sepertinya orang itu bukan pencuri.
KLIK ...
Seketika lampu menyala dan memperlihatkan dengan jelas wajah si pencuri.
"Om pedofil!!!" pekik Dania, akhirnya ia bisa mengeluarkan suara.
Nino tersenyum dan menangkap pergelangan tangan Dania. "Apa kau ingin memukulku dengan benda ini?"
Dania menatap tangannya yang masih memegangi payung dan langsung melepaskan payung itu hingga jatuh ke lantai.
"A- Apa yang kau lakukan disini?" tanya Dania gugup.
Nino menarik tangan Dania agar mendekat padanya. "Tentu saja untuk menjemput istri kecilku yang nakal."
'Apa katanya? Dia sebut aku nakal." Batin Dania kesal.
Dania menarik tangannya dengan paksa dan berusaha mendorong tubuh kekar Nino. "Pergilah! Aku tidak ingin pulang."
Lagi, Nino menangkap tangan Dania. Kali ini kedua tangan Dania yang menempel di dada bidang Nino menjadi tahanan dari tangan besarnya.
"Jika kau tidak ingin pulang, aku tidak akan memaksa. Tapi ...," Nino merunduk untuk mendekatkan bibirnya ke telinga Dania. "Aku akan tinggal disini bersamamu." bisiknya.
"Kau pikir tempat ini hotel? Pulanglah ke rumah besarmu itu! Tidak ada tempat untukmu disini." sungut Dania, kembali mendorong tubuh Nino.
"Baiklah!" Nino menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Aku akan pulang agar kau bisa tenang tanpa aku." lirihnya.
Nino sudah berbalik dan berjalan gontai menuju pintu. Namun, tiba-tiba saja ia berbalik dan menatap Dania dengan wajah memelas.
"Moony, bukankah berbahaya jika mengemudi dalam keadaan mengantuk?" tanya Nino, berlagak polos.
Dania berdecak. "Kau bisa istirahat dan minum kopi, jika kau mengantuk."
"Baiklah!" jawab Nino lemah. Ia pun kembali melangkah, tapi kali ini ia berjalan lunglai.
'Panggil aku, Moony! Panggil aku!' Harap Nino dalam hati.
"Hati-hati di jalan, Om!" ucap Dania seraya melambaikan tangannya.
'Kau memang wanita kejam, Dania Nino Ferdinan.' Batin Nino kesal.
Saat tangan Nino hampir mencapai pintu, tiba-tiba tubuhnya lemah dan ia sudah tak mampu berdiri. Dengan cepat Dania menghampiri Nino dan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Ada apa denganmu?" tanya Dania cemas seraya memapah tubuh Nino ke sofa.
Nino meringis. "Aku baik-baik saja, Moony. Aku hanya sedikit pusing."
"Kau sudah makan?" tanya Dania lagi.
__ADS_1
Nino mengangguk lemah. "Aku rasa sudah."
Dania menggeleng-gelengkan kepalanya, kesal dengan jawaban Nino. "Kapan terakhir kau makan?"
"Kemarin malam bersamamu." Nino tersenyum hangat saat pandangannya bertemu dengan mata Dania.
Mata Dania membulat sempurna. Ia tertegun ketika menyadari kelalaiannya sebagai seorang istri. Dania baru ingat sejak kembali dari pondok, ia belum menyiapkan makan untuk suaminya itu. Seketika perasaan bersalah menyelimuti hati Dania.
"Itu artinya kau tidak makan seharian ini?" Dania mencoba memastikan.
Nino tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum simpul dengan wajah pucatnya yang baru di sadari oleh Dania.
Dania langsung berjalan menuju dapur setelah melemparkan tatapan kesalnya pada Nino.
Tak perlu waktu lama, Dania sudah kembali dengan makanan di tangannya. "Makanlah atau kau akan mati!"
Dania meletakkan piring berisi makanan di atas meja, di hadapan Nino.
"Aku tidak akan mati hanya karena tidak makan, tapi aku akan mati jika kau meninggalkan aku." Nino masih duduk dengan lemah, tanpa menyentuh makanan yang di siapkan Dania.
"Terserah kau saja!" geram Dania kesal, hingga wajahnya memberengut.
"Moony, suapi aku!" pinta Nino. Sangat berharap Dania tidak akan menolaknya.
Awalnya Dania ragu. Namun, melihat Nino yang begitu lemah memaksanya untuk mengalah.
Dania mengambil kembali piring yang sebelumnya ia letakkan dan mulai menyuapi Nino.
Satu suapan, terasa begitu sulit untuk Nino telan. Terlebih ketika Dania terus menatapnya seperti itu. Begitu Dania akan memasukkan suapan kedua, Nino menahan tangannya dan membalikkan sendok ke arah Dania.
"Kau juga makan!" titah Nino dingin, tapi penuh kelembutan.
Dania pun menurut tanpa banyak bicara hingga satu piring makanan itu lebih banyak berpindah ke perutnya daripada ke perut Nino.
"Licik!" ketus Dania.
Nino terkekeh. "Jangan marah, Moony! Aku hanya ingin kau makan lebih banyak agar tubuhmu tidak terlalu kurus."
"Aku tidak kurus!" hardik Dania.
"Iya! Iya! Kau tidak kurus. Hanya kurang lemak saja." Tawa Nino menyembur, sedikitnya berhasil mengurangi ketegangan di antara mereka.
Lambat laun, Dania mulai memahami sifat Nino hingga ia pun tersenyum. Namun, senyumnya kembali memudar ketika ia menyadari Nino sedang menatapnya.
"Ehem ...," Nino duduk dengan tegak seraya merapihkan jasnya. "Sepertinya aku harus pulang, sebelum seseorang kembali mengusirku." sindirnya.
Dania bangkit lebih dulu untuk membereskan piring. "Aku tidak akan mengusir suamiku sendiri. Kau bisa tidur disini selama kau ingat ini rumah kakakku."
Nino tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ingin rasanya Nino memastikan sekali lagi, apa yang baru saja Dania katakan. Tapi bahkan, bayangan Dania saja sudah menghilang dari hadapannya.
"Suami? Aku tidak salah dengar bukan? Moony mengakui aku sebagai suaminya." Nino menepuk-nepuk pipinya dengan kuat.
Sementara, di balik dinding dapur. Dania merasa jantungnya hampir meloncat keluar. Ia begitu gugup. Namun, kebahagiaan yang ia lihat di wajah Nino memberikan sedikit kepuasan di hatinya.
"Selamat datang di hatiku, Om pedofil ...."
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih masih stay bersama Dania dan Om Nino 😘
__ADS_1
Yang udah gregetan banget sama mereka berdua, author ketawain jahat lhoo di sudut ruang yang gelap 😜✌✌
But, I'LL always ❤ U readers kesayangan kuhh