Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
HASRAT


__ADS_3

Dalam keadaan terdesak, apapun selalu bisa menjadi jawaban selama hal itu bisa menyelesaikan masalah walaupun hanya sesaat.


Hal itu juga berlaku pada Dania yang sudah tidak tahu harus berbuat apa agar Nino tidak tidur di kamar yang berbeda dengannya. Demi untuk citra baik rumah tangganya.


"Aku siap. Ayo, tidur bersama!" lontar Dania.


Nino membelalakan matanya. "Apa?"


Rasa malu Dania sepertinya sudah tidak tertampung lagi sehingga ia akhirnya memilih untuk meninggalkan ruangan Nino akibat jawabannya yang tanpa pikir panjang itu.


"Maaf, sepertinya aku sudah mengganggu pekerjaanmu." Dania sudah mengambil tasnya yang ia letakkan di atas meja kerja Nino. "Aku pergi dulu. Jangan lupa makan siangmu!"


Bukan Nino tidak berinisiatif ataupun peka terhadap keadaan, tapi ia jelas dapat merasakan bahwa Dania ingin menghindarinya untuk saat ini.


Bola mata Nino bergerak mengikuti arah Dania pergi hingga wanita yang ia cintai itu menghilang di balik pintu lift.


Hembusan nafas Nino terasa begitu berat. Namun, ketika tatapannya bertumpu pada kotak makan yang di bawakan Dania, hatinya seketika berubah membaik.


Bergegas Nino kembali ke kursinya untuk membuka kotak makan tersebut. Tanpa ragu Nino mencicipi masakan Dania dan mulai memasukkan makanan itu satu persatu ke dalam mulutnya hingga tak bersisa.


"Sepertinya mulai sekarang aku akan berhenti sarapan agar kau mau mengantarkan makanan untukku, Istri kecilku ...."


***


Malam hari di kediaman Ferdinan, tak banyak aktifitas yang terjadi karena para pelayan juga sudah mulai beristirahat. Kecuali, satu pelayan yang bertugas untuk mematikan semua lampu utama.


Dania berjalan menuruni tangga dan tanpa sengaja berpapasan dengan pelayan tersebut.


"Selamat malam, Nyonya. Anda butuh sesuatu?" tanya pelayan itu.


Dania tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, terima kasih! Kenapa kau belum beristirahat?"


"Saya baru saja akan kembali ke paviliun, tapi jika anda butuh sesuatu saya akan menunggu, Nyonya." Pelayan itu menunduk sopan.


"Tidak perlu. Pergilah beristirahat! Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar." Dania melanjutkan langkahnya menuju pintu utama.


Pelayan tadi mengikuti langkah Dania. "Maaf, Nyonya. Jika anda menunggu tuan, sepertinya tuan tidak akan kembali malam ini."


Dania langsung menghentikan langkahnya. "Kenapa?"


"Biasanya jika tuan sedang sibuk, tuan akan lebih memilih untuk kembali ke apartemennya daripada ke rumah ini. Terlebih di jam seperti ini." jelas pelayan itu.


"Apartemen?"

__ADS_1


***


TING ... TONG ... TING ... TONG ...


Suara bel yang nyaring dan berulang-ulang membuat Nino tak bisa beristirahat dengan tenang. Ia baru saja kembali setelah menyelesaikan beberapa masalah di perusahaan, karena sudah larut malam Nino memutuskan untuk kembali ke apartemennya daripada ke rumah besar untuk menghemat waktu dan tenaganya.


"Siapa yang berani menggangguku di tengah malam seperti ini?" gerutu Nino seraya melangkah menuju pintu.


KLIK ...


Nino membuka pintu dengan mata yang hampir tertutup, tanpa memeriksa siapa yang ada di balik pintu sebelumnya.


"Moony!!!" pekik Nino seraya menggosok kedua matanya, ketika melihat sosok Dania yang berada di depan pintu apartemennya.


Wajah Dania memberengut. "Pengecut!"


Nino mengeluarkan sedikit kepalanya untuk memantau keadaan sekitar. Sebenarnya, tanpa ia melakukan hal seperti itu pun tidak akan ada yang melihat kedatangan Dania karena para penghuni apartemen itu sangat sibuk dan tidak akan sempat untuk berlalu lalang.


"Masuklah!" titah Nino seraya menarik tangan Dania dan langsung menutup kembali pintunya.


Terdengar kekehan dari bibir Dania. "Aku merasa seperti seorang wanita simpanan."


Ucapan Dania langsung menarik manik mata Nino untuk menatapnya. "Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi!"


Nino menghela nafasnya, kemudian mengambilkan segelas air untuk Dania.


"Aku tidak haus." Dania menolak air yang di berikan Nino.


GLEK ... GLEK ... GLEK ...


Satu gelas air yang seharusnya untuk Dania, kini sudah berpindah ke perut Nino.


Dania mendengus. "Aku tahu, kau tidak berniat mengambilkan air itu untukku. Sebenarnya, kaulah yang haus bukan aku!"


Nino tertawa dan meletakkan gelas kosong di atas meja. "Kau memang pengertian, Moony."


Pandangan Dania berkeliling untuk mengamati apartemen yang di huni oleh Nino. Apartemen tipe studio yang di dominasi warna putih ini sangat jauh berbeda dengan rumah besar Ferdinan yang kini di tinggali Dania. Suasana di apartemen ini lebih tenang dan nyaman. Meskipun ukurannya lebih kecil daripada kamar tidur utama di rumah besar Ferdinan, tapi sejujurnya jika bisa memilih Dania lebih menyukai apartemen ini daripada rumah besar itu.


"Sejak kapan kau tinggal disini?" tanya Dania, tatapannya terpaku pada tempat tidur yang berada di salah satu sudut ruangan.


Nino mengikuti arah pandangan Dania. "Sebelum kau mencuri hatiku."


Dania seketika menoleh dan tanpa sengaja wajahnya langsung berhadapan dengan wajah Nino yang berdiri di belakangnya. Sekali lagi, rona merah menghiasi wajah Dania karena ulah Nino. Dania langsung memalingkan wajahnya kembali karena takut Nino akan salah paham padanya.

__ADS_1


"Kenapa kau kesini, Moony?" tanya Nino akhirnya, karena Dania tidak nampak akan mengatakan sesuatu.


Dania menghampiri dapur yang tertata rapih di seberang tempat tidur. "Kenapa? Tentu saja karena kau tidak mau datang padaku. Apa kau takut?"


Nino menyeringai. "Aku tidak takut, Moony, tapi aku tidak ingin menjadi menakutkan bagimu."


Jari Dania yang sedang mengusap sudut meja dapur pun berhenti karena jawaban Nino. "Kau memandang semuanya terlalu jauh, Om."


"Bukankah sudah kukatakan bahwa aku seorang pria dan aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyentuhmu." Nino bersandar di dinding, tak jauh dari tempat Dania berdiri.


Dania membalikkan tubuhnya dan bersandar di meja dapur. "Apakah semua pria tua mesum seperti dirimu?"


"Mesum?" Nino tersenyum sinis dan menegakkan tubuhnya. "Itu bukan mesum, tapi kebutuhan biologis. Dan bagaimana aku bisa menolakmu jika kau terus datang padaku?"


Jarak yang sempat ada di antara keduanya kini mulai berkurang karena Nino sudah melangkah dan mendekati Dania yang tak bergerak sedikitpun hingga tubuh kekar Nino kini hanya berjarak beberapa centi dengan tubuhnya.


Bagaikan kelinci yang terperangkap, Dania hanya diam mematung dan menyadari kesalahannya.


"Aku- Aku hanya ...," Dania tak mampu melanjutkan kalimatnya.


Dinginnya bibir Nino bisa Dania rasakan ketika pria itu semakin mendekatkan tubuhnya pada Dania dan menyapa bibir mungil Dania. Perlahan, Dania mulai merasakan kehangatan lidah Nino. Namun, dengan cepat kesadaran Dania kembali sehingga ia mendorong tubuh Nino dengan sekuat tenaga.


Nino melangkah mundur. Bukan karena dorongan Dania, melainkan karena penolakan Dania yang begitu kuat.


Nafas Dania terengah-engah seperti seseorang yang baru saja berlari. "Ka- Kau!!!"


Ibu jari Nino menyentuh bibir Dania dan menghapus jejaknya disana. "Sudah aku katakan bukan, aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyentuhmu. Ini baru di kamar yang sama, bagaimana jika di ranjang yang sama?"


"Itu semua karena kau mesum!" sergah Dania, kemudian bergerak perlahan untuk menjauhi Nino.


Nino memutar tubuhnya mengikuti arah gerakan Dania. "Bukan mesum, Moony, tapi hasratku yang mengenali dirimu."


"Seharusnya kau bisa menahan hasratmu itu padaku!" ucap Dania penuh keyakinan.


Tawa menyembur dari mulut Nino yang justru terdengar menakutkan bagi Dania.


"Berikan aku satu alasan yang bisa membuatku menahan hasratku terhadap istriku sendiri, selain karena dia tidak mencintaiku!"


Hallo semuanya🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2