
"Aku ingin lebih mengenal dirimu ...."
Bukan tanpa alasan Dania begitu ingin tahu tentang siapa sebenarnya Nino. Karena sejak ia membuka matanya siang ini, Dania merasa jika pria yang sedang duduk di sampingnya kini adalah sosok pria yang berbeda. Bukan hanya dari penampilannya, tapi dari tatapan matanya juga sungguh terlihat betapa ia sangat berbeda dengan sosok Nino Ferdinan sang CEO dari Da Nino Corp.
Nino menyeringai. "Jangan mencoba untuk lebih mengenal diriku!"
"Kenapa?" Dania mengerutkan dahinya.
Tiba-tiba saja Nino berdiri dan hendak masuk ke dalam pondok, tapi tangannya di tahan oleh Dania.
Pandangan Nino langsung tertuju pada tangannya yang di pegang Dania. "Kau yakin ingin mengenal diriku lebih jauh lagi?"
"Kenapa tidak?" tanya Dania, masih memegangi tangan Nino.
Nino berjongkok dan menatap bola mata Dania. "Kau tidak takut?"
Dania mengernyitkan dahinya. "Takut apa?"
"Takut akan kehilangan diriku!" seru Nino, di barengi dengan kehangatan yang mendarat di dahi Dania.
"Dasar, Om pedofil mesum!!!"
***
Gelak tawa masih terdengar di balik kamar Nino yang berada tepat di sebelah kamar Dania. Wanita itu menggerutu kesal karena Nino langsung melarikan diri setelah mencuri satu kecupan darinya.
"Awas kau, Om pedofil!" geram Dania, kemudian memakai sandalnya dan berjalan keluar dari kamarnya.
Dania memperhatikan sekelilingnya yang nampak sepi. Sungguh suasana yang sangat berbeda jika di bandingkan dengan suasana rumah besar Ferdinan dan juga rumah besar Sanjaya yang di kelilingi pelayan. Tatapan Dania langsung tertuju pada pintu yang berada di sebelah kamarnya yang sedikit terbuka. Tanpa pikir panjang Dania mendorong pintu itu dan melihat penghuni kamar sedang berbaring di atas tempat tidur, masih dengan tawa yang sama saat di dekat kolam tadi.
"Kau begitu bahagia hari ini?" sindir Dania. Ia memilih bersandar di pintu untuk menjaga jarak aman dari Nino.
Nino menoleh sesaat, tapi tetap enggan beranjak dari tempat tidurnya. "Apa yang membawamu kemari, Moony?"
"Menurutmu?"
"Kau sepertinya ...," Nino terlihat memikirkan sesuatu. "Ingin aku menemanimu tidur."
Dania terbelalak. "Bukan itu!!!"
__ADS_1
Nino kembali tergelak. "Kalau begitu apa? Katakan padaku! Jangan membuatku salah paham dan berpikir jika kau sedang mengejarku."
Terdengar decakan kesal yang terlontar dari mulut Dania sebelum kakinya melangkah untuk membawanya mendekat pada Nino, meski masih dalam jarak yang aman menurutnya.
"Aku masih penasaran tentang dirimu." Dania menatap ke arah lain demi menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba tercipta.
Mendengar jawaban Dania mengundang senyuman di wajah tampan Nino. Ia segera beringsut turun dan menghampiri Dania yang masih enggan mendekat padanya.
"Sepertinya kau begitu ingin tahu tentang aku." Nino berbisik dan memaksa Dania untuk menatap kedua bola matanya. "Bisakah aku mengartikan ini sebagai penerimaan dirimu atas kehadiran diriku di dalam hidupmu?" tanyanya kemudian.
Dania bungkam. Bibirnya seolah tersihir oleh tatapan Nino yang membuatnya terikat dan hanya bisa mengikuti semua keinginan pria itu. Maka, Dania pun hanya menganggukkan kepalanya meski terlihat ragu.
Nino tersenyum lembut dan membawa Dania ke teras kamarnya. Sementara Dania masih tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya di inginkan oleh hatinya.
"Moony, kau harus tahu jika aku tidaklah sama dengan Ricky dan Angga." Nino memulai percakapan tanpa menatap Dania yang masih berdiri mematung di belakangnya. "Namun, aku selalu berusaha untuk bisa berdiri sejajar dengan mereka." sambungnya.
Entah apa yang menyangkut di kerongkongan Dania, tapi rasanya ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun terlebih ketika ia merasakan ada sesuatu yang begitu mengganggu pikiran suaminya.
Dania melangkah dan berdiri di samping Nino yang menatap ke hamparan sawah yang mengelilingi pondok itu.
Nino menoleh dan menatap Dania. "Aku tahu aku tidak pantas untukmu, tapi aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu."
'Hah! Apa ini? Kenapa dia membahas hubungan kami? Bukankah dia akan menceritakan tentang dirinya?' Keluh Dania dalam hati.
Dania tetap diam mendengarkan.
"Mengenal Ricky membawaku kepada kesuksesan dan jalan hidup yang lebih baik. Dan mengenalmu ...," Nino meraih tangan Dania dan menciumnya sekilas. "Membuatku menyadari apa arti cinta yang sesungguhnya."
Dania mulai merasakan wajahnya memanas dan ia yakin pasti wajahnya sudah semerah tomat saat ini.
Nino menyadari sikap Dania yang mulai salah tingkah dan segera melepaskan tangannya.
"Ibuku berasal dari tempat ini dan disinilah ibuku menghabiskan sisa hidupnya, tanpa siapapun di sisinya." Nino merasakan buliran air jatuh ke pipinya.
Dania terkesiap dan berniat untuk menghapus air mata Nino. Namun, pria itu lebih dulu menghapus air matanya.
"Ibuku hanya gadis desa biasa yang polos, sama seperti gadis desa lainnya. Dia tidak pernah membayangkan apapun dalam hidupnya hingga pria itu datang dan merubah hidup ibuku. Pria itu datang bagai badai yang menghancurkan kehidupan ibuku yang sederhana. Dia membuat ibuku melahirkan anak-anaknya dan meninggalkan ibuku dalam kesendirian!" Nino mulai tidak bisa menguasai emosinya.
Dania menyentuh bahu Nino dengan lembut. "Kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Nino tersenyum simpul, tapi enggan menatap Dania. "Aku baik-baik saja, Moony! Aku hanya selalu kesal setiap mengingat wajah pria itu."
Dania kembali terdiam.
"Aku tidak tahu apa yang di inginkan olehnya, tapi dia membawa kedua adikku bersamanya. Dia bahkan memintaku meninggalkan ibuku yang saat itu masih sangat lemah karena baru saja melahirkan." Pandangan Nino mulai kabur oleh air mata. "Tapi aku memilih ibu dan tetap tinggal di sini meskipun aku tahu jalan yang aku pilih tidak akan mudah."
Hembusan angin mengisi keheningan di tengah kebisuan Nino yang mencoba tegar menyusun kembali puzzle masa lalunya.
"Dulu aku berpikir jika aku salah telah memilih tinggal dan menolak ajakan pria itu, tapi setelah aku bertemu dengan Ricky dan keluarganya pikiranku pun seketika berubah. Mereka banyak membantu diriku dan membuatku berada di puncak karirku. Tentunya dengan bantuan Angga juga!" Nino merasakan hatinya menghangat saat menyebut nama sahabat lamanya itu.
Tiba-tiba Dania teringat sesuatu. "Apa menyanyi adalah impianmu?"
Nino mengangguk. "Ibuku mengatakan jika bakatku itu di turunkan oleh pria itu."
"Lalu, kenapa kau berhenti? Apa karena aku?" tanya Dania ragu, ia teringat ucapan Deta sebelumnya.
"Tentu saja bukan, Moony!" sanggah Nino.
Dania mencoba mencari kepastian di sepasang bola mata yang tengah menatapnya itu. "Jika bukan karena aku, kenapa kau berhenti mengejar impianmu?"
Nino menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Karena aku merasa sudah tidak ada jalan bagiku untuk menggapai pria itu."
"Apa maksudmu?" tanya Dania bingung.
"Awalnya aku pikir bisa menggapai pria itu dengan cara menjadi seperti dirinya, tapi aku salah! Cara itu hanya membuatku semakin di rendahkan olehnya. Dia menghilang tanpa jejak bersama kedua adikku." Nino sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.
Dania segera merengkuh kepala Nino dan memeluknya. "Kau merindukannya bukan?"
Nino terdiam.
"Kau merindukan ayahmu?" lirih Dania seraya mengusap rambut Nino.
Perlahan hati dan pikiran Nino kembali di masa ia begitu bahagia memiliki seseorang yang ia sebut ... Ayah!
'Benarkah aku merindukannya? Tidak! Aku hanya memiliki kebencian untuknya seumur hidupku ....'
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih masih setia sama DaNino 😘
__ADS_1
Maafkan author yang masih belum bisa maksimal dalam berhalu karena kesibukan real life yang begitu menyita waktu 🙏
Author selalu tungguin ❤nya dari kalian semua lhooo di sudut yang gelap 😆 so, jangan lupa ya 💕