Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
BOS BESAR


__ADS_3

Kebohongan yang utuh, jauh lebih baik daripada kejujuran yang hanya separuh. Begitu juga dengan cinta. Lebih baik tidak mencintai daripada mencintai hanya dengan setengah hati, karena luka yang digoreskan hingga mengakibatkan kekecewaan begitu sulit untuk di sembuhkan. Meskipun segala hal telah di lakukan.


Langkah kaki yang gontai membawa Mikayla pergi meninggalkan gedung Da Nino Corp dengan perasaan yang hancur.


"Mulai hari ini, aku sumbangkan apartemen mewah milik suamiku itu untukmu."


Kata-kata Dania begitu dalam menyakiti hati Mikayla. Semua hal yang di lontarkan keponakan satu-satunya itu begitu menjatuhkan harga dirinya. Tanpa terasa air matanya berjatuhan. Hatinya sesak hingga rasanya sulit bagi Mikayla untuk bernafas.


"Dania ..." Mikayla menengadahkan kepalanya ke langit yang terbentang luas. "Kak, kenapa Dania bersikap seperti itu padaku? Dia sudah merebut Nino dariku, Kak! Dia putrimu yang jahat!!!"


Mikayla melemah. Kakinya luruh ke tanah hingga lututnya kini menjadi tumpuan tubuhnya. Tatapan orang yang berlalu lalang tak lagi ia pedulikan. Hatinya terlanjur terluka dan mendamba rasa bahagia. Penyesalan yang selama ini tidak pernah ada, tiba-tiba saja datang dan menyerang hatinya.


"Kembalilah padaku, Nino ...."


***


"Apa?" Nino mendongakkan kepalanya ketika melihat tangan Dania terulur di hadapannya.


Dania tidak menjawab, melainkan hanya menggerakkan jemarinya saja seperti menuntut sesuatu.


Sedikit bingung dengan sikap Dania, akhirnya Nino menghentikan pekerjaannya dan menatap Dania dengan dahi yang berkerut cukup dalam. Menanti penjelasan Dania yang sepertinya tidak ingin membuka mulutnya.


"Hah!" Nino bangkit dari kursinya dan menghampiri Dania, kemudian meraih pinggang ramping istrinya dengan cepat. "Katakan! Apa yang kau inginkan?" bisiknya, tepat di telinga Dania. Sengaja ingin menggoda istrinya. Berharap kemarahannya akan cepat menghilang.


Tubuh Dania terasa seperti tersengat aliran listrik karena ulah Nino. Cepat ia memejamkan matanya agar bisa bertahan dari godaan om pedofil kesayangannya itu.


Dengan cepat Dania menarik tubuhnya dari dekapan Nino hingga tercipta jarak di antara keduanya. "Berikan aku apa yang bisa kau berikan!"


Nino menatap lekat kedua bola mata Dania yang sialnya begitu mirip dengan milik Mikayla. Itu adalah salah satu hal yang tidak bisa Nino rubah, meskipun ia begitu ingin melakukannya. Namun, detik berikutnya hanya terdengar tawa Nino yang masih menatap intens wajah Dania hingga membuat Dania semakin kesal padanya.


"Kau hanya bisa memberikan aku tawamu saja? Heh!" Dania mencebik seraya memutar bola matanya, jengah dengan sikap Nino yang seperti ini.


Tiba-tiba saja Nino menghentikan tawanya dan meraih tengkuk Dania dengan cepat, bahkan Dania tidak sempat untuk mengelak. Awalnya Dania tidak merespon, tapi Nino tidak menyerah hingga Dania mau ikut ke dalam permainannya. Dan lambat laun mulai terbuai hingga melupakan sejenak amarahnya.

__ADS_1


"Ah, maaf!" Suara pekikan seseorang yang terkejut di ambang pintu membuat Dania dan Nino melepaskan pagutan bibir keduanya.


Dania panik bukan main hingga kakinya tersangkut pada kaki meja dan membuatnya hampir jatuh, jika saja Nino tidak menahannya. "Hati-hati, Istri kecilku yang manis."


Sejujurnya, berada dalam rengkuhan Nino seperti ini membuat Dania nyaman dan bahagia. Jika saja ia tidak sedang marah pada suaminya itu.


Amarah! Hah! Dania nyaris lupa dengan amarahnya. Dania langsung berdiri dan menjauh dari Nino.


"Liza!" Nino memanggil Liza yang memang hanya berdiri di ambang pintu sejak tadi.


Liza gemetar. Tahu jika dirinya akan di marahi karena telah melakukan hal yang ceroboh. Segera ia mendekati Nino setelah membungkuk hormat. "Iya, Tuan."


"Mulai besok, lepaskan semua pintu yang ada di ruanganku!" Nino merapihkan jasnya dan kembali ke mejanya.


Wajah Liza memucat. "Ta- Tapi, Tuan ...."


Nino menghembuskan nafasnya kasar. "Percuma bukan jika ada pintu, tapi siapapun bisa dengan mudah masuk kesini tanpa permisi?"


Sindiran halus Nino begitu menohok bagi Liza. Ia tahu benar jika Nino sedang marah padanya. Cara Nino marah memang berbeda dengan orang lain, tapi hal itu justru membuatnya terlihat lebih menakutkan.


Anggukkan singkat dari Nino melegakan sedikit perasaan Liza yang kini sudah meletakkan beberapa berkas di atas meja kerja Nino.


"Liza?" Dania mendekati Liza yang hendak membuka pintu.


Liza menoleh dengan kepala yang tertunduk. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"


Dania melirik sebentar kepada Nino yang terlihat tidak peduli padanya. "Huh! Baiklah, Liza. Aku ingin kau membelikan aku sebuah apartemen mewah yang ada di tengah kota hari ini juga!"


"Apartemen?" Liza menatap bingung pada Dania yang langsung menganggukkan kepalanya. Liza terlihat sempat melihat ke arah Nino sebelum menjawab, "sesuai keinginan anda, Nyonya."


Tanpa menunggu apapun lagi, Liza langsung keluar dari ruangan Nino. Menyisakan Dania yang termangu karena merasa ada yang tidak benar atau mungkin juga sedikit aneh baginya.


"Ada apa lagi? Hemm." Nino melingkarkan tangannya di pinggang Dania dan mendaratkan kepalanya di bahu kecil sang istri.

__ADS_1


Tangan Dania memegang kedua tangan Nino agar pelukannya terlepas, dengan begitu ia bisa berbalik dan menatap wajah tampan suaminya.


"Aku minta apartemen pada Liza." Dania mengulangi permintaannya kepada Nino.


Nino tampak biasa saja walaupun Dania sudah setengah mati kebingungan. Gemas melihat istrinya berpikir keras hingga kedua alisnya hampir menyatu. Dengan penuh cinta Nino menangkup wajah Dania dengan kedua tangannya.


CUP ...


CUP ...


CUP ...


Wajah Dania dihujani kecupan oleh Nino, tapi ia hanya diam dan menatap Nino dengan tatapan menuntut.


"Baiklah! Baiklah! Kau ini memang keras kepala, Istri kecilku yang pemarah." Satu kecupan terakhir mendarat di bibir Dania. "Aku tahu kau meminta Liza untuk membelikanmu apartemen. Dan kau tahu, aku tidak buta dan tuli."


Dania melipat kedua tangannya di dada dengan tubuh bersandar pada ujung meja. "Lalu, Kenapa kau diam saja?"


"Memang apa lagi yang harus aku lakukan, jika bos besar sudah memberikan perintah?" Nino kembali tertawa, tapi kali ini dengan tatapan hangat dan penuh perlindungan.


"Bos besar? Maksudmu ... Aku?" Dania menunjuk dirinya sendiri. "Jangan bercanda! Di rumah aku mungkin ratu, tapi di kantor aku hanya lebah pengganggu untukmu." sarkasnya.


Nino menjawil hidung Dania dengan gemas. "Apapun yang menjadi milikku juga menjadi milikmu, Moony. Lagipula, kau hanya meminta apartemen. Itu bukanlah hal yang sulit."


"Tapi -" Dania masih tampak berpikir, sementara Nino semakin di buat gemas dengan sikap Dania.


"Ingat ini, Moony! Semua hal yang saat ini aku miliki ... Semuanya adalah milikmu tanpa terkecuali!"


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2