Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
BARANG KOLEKSI


__ADS_3

Kasih sayang dan cinta yang melimpah, ternyata mampu dikalahkan oleh kenyataan yang begitu pahit dan sulit untuk di terima.


Dania masih termenung di bangku taman dekat asramanya. Ia memandang jauh ke depan. Hatinya hancur saat mengetahui alasan kedua kakaknya mengirim dirinya sangat jauh dari mereka.


"Nyonya Riady telah menerima lamaran dari tuan Nino Ferdinan dan kau boleh pulang saat kau sudah siap untuk menikah dengannya."


Kalimat Gibran begitu singkat, tapi juga begitu melukai hati Dania. Selama ini ia menantikan. Menantikan kedua kakaknya itu menjemputnya dan membawa Dania kembali ke tengah-tengah keluarga, sebagai putri bungsu tuan Riady. Namun, hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun hingga akhirnya Dania menunggu selama tujuh tahun dengan hasil yang menyakitkan. Ini tidak benar!


Dania sudah memutuskan. Ia akan tetap bertahan di asrama hingga pria tua itu menyerah dan memilih untuk mundur, karena Dania yakin. Keluarganya pasti akan mengikuti keinginan Dania. Lagipula, apa bagusnya pria tua itu hingga dirinya harus mengalah dan meninggalkan cintanya di sini.


Benar! Dania menunggu dan batas waktunya menunggu sudah tidak bisa di toleransi lagi. Ia sudah bersabar selama sepuluh tahun dan yang ia dapatkan masih sama seperti sebelumnya. Dania boleh kembali, jika ia bersedia menikah dengan pria pilihan keluarganya.


Lambat laun rasa rindu Dania mengalahkan kebenciannya terhadap pria tua itu. Setidaknya begitulah pikir Dania.


Dania akhirnya mengalah dan bersedia untuk melakukan apapun asalkan ia bisa kembali kepada keluarga yang begitu di rindukan. Namun, dalam hatinya Dania terus mengutuki pria tua yang telah membuatnya tidak berdaya seperti ini. Dania juga bersumpah akan terus membenci pria itu hingga seluruh hidupnya berjalan dengan semestinya.


***


"Kau salah tentang hatiku, Om pedofil ...."


Bukan hanya Nino yang terkejut dengan ucapan Dania, tapi Dania sendiri pun cukup terperangah dengan kata-kata yang meluncur dari mulutnya tanpa hambatan.


"Jadi, apa yang benar tentang hatimu, Moony?" tanya Nino, sedikit mengendurkan pegangannya agar Dania lebih leluasa.


Apa yang benar tentang hatinya, Dania sendiri juga tidak tahu pasti jawabannya. Yang Dania tahu, ia sedang berusaha untuk berkompromi dengan takdir yang membawanya ke sisi pria ini. Haruskah Dania mengatakan yang sejujurnya dan menerima kemungkinan Nino akan menjadi semakin besar kepala? Ataukah Dania harus berbohong dan membohongi hatinya sendiri?


"Aku tidak yakin," jawab Dania ragu, kemudian mengubah posisi duduknya yang tanpa ia sadari telah mengganggu sesuatu yang merupakan bagian dari Nino. "Tapi aku rasa aku juga sudah terbiasa berada di sisimu." lanjutnya.


Nino tidak ingat kata-kata Dania yang lain karena dirinya yang mulai kehilangan akal akibat ulah Dania. Ia hanya ingat jika Dania mengatakan sudah terbiasa berada di sisinya. Dan bukankah itu awal yang baik? Sepertinya Nino harus maju satu langkah demi perkembangan hubungan mereka.


Tanpa pikir panjang, Nino mengangkat tubuh Dania yang masih berada di atas pangkuannya.


"Aahh ...," pekik Dania. Terkejut dengan sikap Nino yang tiba-tiba saja menggendongnya. "Turunkan aku!" teriaknya.


Beruntung, mereka berdua sedang berada di tengah desa yang sepi hingga tidak akan ada yang terganggu dengan teriakan Dania.

__ADS_1


Nino tidak menjawab, melainkan hanya mengecup dahi Dania dengan lembut dan tetap melangkah masuk ke dalam pondok. Tepatnya, ke dalam kamar tidur Nino.


Dania panik bukan main menyadari dimana dirinya berada. Terlebih ketika Nino meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur yang beraroma tubuh Nino. Pria itu bahkan langsung menyusul dan mengukung tubuh Dania di bawahnya.


'Kakak, tolong aku!!!' Batin Dania panik.


Meskipun Dania ketakutan, tapi ia tidak bisa mengatakan atau melakukan apapun. Ia hanya diam dan menatap wajah Nino yang terlihat berbeda. Dania juga bisa merasakan suhu tubuh Nino yang meningkat ketika pria itu menelusuri lekuk leher Dania.


Tubuh Dania bergetar setiap Nino menyentuh setiap jengkal dari tubuhnya.


'Aneh!!!' Pikir Dania.


Dania pikir ia membenci Nino, tapi kenapa tubuhnya sama sekali tidak menolak sentuhan dari pria itu. Dan hatinya yang bodoh ini, kenapa tidak mencoba melawan dan justru semakin terpesona dengan ketampanan Nino yang berada di atas tubuhnya?


'Sepertinya aku harus menemui psikiater.' Rutuk Dania dalam hati.


Pikiran Dania bergerilya dan mulai melupakan jika ia hampir ke tahap sempurna sebagai istri Nino. Mata Dania menatap hampa dan itu dapat di sadari Nino yang langsung menjauhi Dania dan merapihkan pakaiannya kembali.


Dania baru tersadar ketika mendengar suara Nino yang berat. "Maafkan aku yang telah lancang! Ayo, kita pulang sebelum aku tidak bisa lagi menahan!"


BRAK ...


Dania menatap pintu yang memutus tatapannya terhadap Nino dengan hampa. Tiba-tiba saja ada kekosongan yang melanda hatinya.


"Apa ini? Kenapa hatiku terluka saat dia meninggalkan aku seperti ini?"


***


Keesokan harinya, Dania dan Nino tiba di rumah besar Ferdinan. Keduanya masih tetap bungkam, bahkan sejak mereka meninggalkan pondok keluarga Nino.


Dania berjalan lebih dulu memasuki kamar untuk menyiapkan pakaian Nino. Sementara, Nino mencoba menghindari Dania dengan masuk ke ruang kerjanya.


Nino bersandar di kursi kerjanya dan menatap potret Dania kecil yang tersenyum manis. Tangannya terulur dan mengambil potret itu kemudian mengangkatnya ke udara seolah ia tengah mengangkat tubuh Dania kecil.


"Apa begitu sulit untuk menerimaku di hatimu?" tanya Nino lirih.

__ADS_1


Pikiran Nino kembali melayang pada kejadian semalam, dimana dirinya lepas kendali dan dengan beraninya menyentuh Dania tanpa persetujuan darinya. Awalnya Nino bahagia karena Dania tidak menolaknya, tapi setelah melihat mata Dania yang kosong membuat Nino merasa seperti di hantam baru besar yang menyadarkan dirinya jika Dania tidak menginginkan hal itu.


"****!!!" geram Nino, kemudian memukuli kepalanya sendiri dengan satu tangan. "Aku memang bodoh, Moony! Aku tidak bisa menahan diri dan hampir saja menyakitimu." cicitnya.


Di tengah penyesalan Nino, tiba-tiba ada yang masuk ke dalam ruang kerjanya. Dan ketika Nino berbalik, ia melihat Dania yang datang bersama segelas kopi di tangannya.


"Moony ...." Nino meletakkan kembali potret Dania ke atas meja.


Dania melirik sekilas ke arah Nino dengan ekor matanya. "Aku buatkan kopi untukmu. Silahkan!"


Sikap Dania yang seperti ini membuat Nino bingung karena meskipun sedang marah, Dania akan tetap melayaninya sebagai seorang istri yang baik.


Nino berdiri dan meraih tangan Dania, tapi karena terkejut Dania tanpa sadar menepis tangan Nino.


"Moony, apa kau marah?" tanya Nino kecewa.


Dania diam. Mencoba mencerna arah pembicaraan Nino.


Nino menarik nafas dalam. "Jika kau marah, katakan saja! Jangan kau simpan sendiri karena itu hanya akan melukaimu. Hukum saja aku agar rasa sakitmu berkurang!"


Sejujurnya, Dania sedang memilah bagian mana dari sikapnya yang terlihat sedang marah. Sebab sejak kembali dari pondok semalam, Dania berpikir jika Nino lah yang sedang marah padanya.


"Aku tidak marah dan aku juga sudah terbiasa menyimpan lukaku sendiri." Dania tersenyum kecut dan berbalik untuk meninggalkan Nino.


Tiba-tiba, tangan besar Nino melingkari bahu Dania dan menghentikan langkahnya.


"Aku mohon maafkan aku, tapi bisakah kau tetap tinggal di sisiku? Aku janji tidak akan menyentuhmu. Kau hanya perlu berada di sisiku dan tetap tersenyum menerima cinta dariku." Nino mengeratkan pelukannya.


Sekali lagi Dania terkejut dengan ungkapan hati Nino. Pria itu begitu mencintainya hingga rela menjanjikan sesuatu yang begitu besar dan sulit pastinya.


Dania tidak bisa melihat bagaimana raut wajah Nino saat ini karena pria itu tengah memeluknya dari belakang, tapi Dania bisa merasakan detak jantungnya Nino dan juga hembusan nafasnya yang hangat.


"Bukankah itu artinya aku hanya akan jadi sesuatu yang kau cintai tanpa bisa melakukan apapun. Lalu, apa bedanya aku dengan barang koleksi milikmu?"


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Terima kasih always stay buat Dania dan Om Nino 😘


❤ dari kalian sangat di nantikan oleh mereka lhoo😍


__ADS_2