Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
BAYI


__ADS_3

Jika ...


Sebuah kata yang selalu menjadi pelipur lara, di kala semua hal terjadi di luar kendali dan juga rencana yang telah di tetapkan. Hal itu juga yang tengah mengganggu pikiran Dania. Ada banyak jika dalam benaknya setiap kali mengingat apa yang telah ia lalui selama ini. Terlebih setelah Dania mengetahui bahwa Nino pernah menyimpan wanita lain di dalam hatinya.


"Aku memaafkanmu! Akan aku berikan semua maafku padamu. Jika ...." Dania sengaja menggantung kalimatnya. Ingin tahu apakah Nino benar-benar telah melupakan wanita itu, yang tak lain adalah adik dari ibu kandung Dania.


Kepala Nino menunduk untuk melihat tepat ke bola mata Dania yang tengah mendongakkan kepalanya. "Jika?"


Bibir Dania bergerak kesana-kemari, mencoba memilah kata yang tepat. "Jika ... Jika, kau bisa membuatku percaya bahwa hanya aku yang kau cintai!"


"Hanya itu?" Nino menaikkan sebelah alisnya di barengi dengan senyuman tipisnya yang membuat siapa saja terpesona, termasuk Dania.


Dania mengerjap. Menyembunyikan kekagumannya pada sosok yang tengah berdiri menjulang di hadapannya. "Sombong sekali dirimu, Om pedofil!"


Nino dapat merasakan kegugupan Dania dari sikapnya yang tiba-tiba berbalik, tapi tidak mengurangi jarak di antara mereka sedikitpun. Melihat hal itu, Nino langsung mendorong tubuh Dania menempel ke dinding hingga dinginnya dinding kamar mandi dapat Dania rasakan.


"Apa yang kau -" Dania tercekat saat merasakan kembali sentuhan Nino yang selalu bisa membuatnya terbang dan melayang.


"Sepertinya kau masih kurang merasakan cintaku, My sweet baby wife. So, let's make a baby now !"


***


Suara dentingan sendok mengisi keheningan di rumah besar Sanjaya pagi ini. Tak ada pembicaraan apapun di antara kedua insan yang biasanya selalu terlihat mesra dimana pun mereka berada.


"Ma? Pa?" Suara putri kecil, membuyarkan lamunan kedua insan tersebut.


Mata bulat yang sedikit sembab itu menoleh dan menatap putrinya. "Ada apa, Tary sayang? Kau butuh sesuatu?"


Sarah Lestary Sanjaya. Putri tunggal Deta dan Ricky. Telah menginjak usianya yang ke sepuluh tahun. Jelas ia mengerti jika telah terjadi sesuatu dengan kedua orang tuanya.


"Apa Mama dan papa bertengkar?" tanya Tary cemas, melihat sikap dingin sang ayah kepada ibunya.


Deta tersenyum simpul dan meletakkan sendoknya. "Tidak, Sayang! Mama dan papa baik-baik saja."


"Kalau baik, kenapa papa diam saja? Tidak seperti biasanya." Tary melirik ayahnya yang tidak bereaksi sedikitpun atas pertanyaannya.


"Ehem ...," Deta berdeham untuk menarik perhatian Ricky dan hal itu tak luput dari pengamatan putrinya. "Mama akan siapkan kotak makan siangmu, Sayang. Sekarang, kau habiskan sarapannya dulu! Ok?"

__ADS_1


Tary hanya menganggukkan kepalanya serta mengacungkan ibu jarinya ke arah Deta. Pandangannya bahkan tak lepas dari sosok sang ibu yang mulai menghilang di balik tembok dapur.


"Papa!!!" Tary menggebrak meja dengan pelan, tapi cukup mampu membuat Ricky untuk menatapnya.


Ricky menaikkan sebelah alisnya. "Apa yang kau lakukan, Tary? Tidak sopan bersikap seperti itu kepada orang tua."


Tary mendengus kecil dengan bibir mengerucut. "Papa yang lebih tidak sopan!"


"Apa maksudmu?" tanya Ricky bingung, belum paham kemana arah pembicaraan putrinya itu.


Kursi yang di duduki Tary bergerak ke belakang hingga tubuh kecil itu bisa berdiri dan menghampiri ayahnya. "Kenapa Papa bertengkar dengan mama?"


Ada kesedihan yang mendalam dari pertanyaan gadis kecil kebanggaan keluarga Sanjaya itu. Tentu saja hal itu Tary rasakan karena sejak kecil, dirinya selalu di perlihatkan kemesraan dan kekompakan kedua orang tuanya. Maka, baginya melihat keadaan orang tuanya seperti saat ini adalah sesuatu yang sangat menyakitkan.


Ricky mengangkat tubuh putrinya dan mendudukkannya di kursi yang sebelumnya di tempati Deta. Matanya menatap mata bulat sang anak yang di wariskan oleh Deta. Rasa bersalah seketika menghinggapi Ricky. Kenyataan bahwa semua ini berawal dari sikapnya yang tidak dewasa membuat Ricky seperti tertembak tepat di jantung hatinya.


"Sorry ...." Ricky tertunduk di hadapan putrinya.


Sentuhan di kedua pipi Ricky memaksanya untuk mengangkat kepalanya. Kembali ia melihat mata bulat itu tengah menatapnya dengan penuh cinta, tapi juga rasa kecewa.


"Kau sudah menghabiskan sarapanmu, Sayang?" tanya Deta, mencoba mengalihkan perhatian Tary yang sepertinya masih penasaran dengan masalah yang sedang dihadapi kedua orang tuanya.


Tary tersenyum ceria. "Sudah, Ma!"


Deta sedikit terkejut karena Tary sudah kembali ceria. "Anak pintar! Kalau begitu, sekarang minum susumu atau kau akan terlambat ke sekolah nanti."


Dengan cepat Tary meneguk susu hangat yang telah di siapkan Deta dan berangkat ke sekolah seperti biasa.


Cup ... Cup ...


Tary mengecup pipi Deta dan Ricky bergantian. "Aku mencintai mama dan papa. Sangat ... Sangat ... Sangat mencintai! Jadi, aku mohon jangan pernah membuat hatiku hancur!"


Setelah mengatakan hal itu, Tary melenggang pergi dengan tangan yang melambai-lambai entah pada siapa.


"Hah!" Deta menghela nafas, seolah baru saja melepaskan beban berat di hatinya. Lalu, tanpa permisi ia beranjak kembali menuju dapur dengan tangan yang sibuk mengikat rambutnya. "Hei, apa ini?" Mata bulat Deta terbelalak ketika menoleh dan melihat Ricky baru saja menahan tangannya di atas kepalanya.


Ricky yang sudah dibutakan kerinduan, tanpa berpikir langsung mendorong tubuh Deta ke balik tembok dan memulai permainannya.

__ADS_1


"Mas ...," lirih Deta saat Ricky hendak membuka kancing pakaiannya.


Decitan suara Deta membuat Ricky sadar dan menatap istrinya yang entah mengapa terlihat tidak menikmati permainannya. "Ada apa, Sayang?"


Mata bulat Deta berkaca-kaca. "Mas ...."


Ricky tak tahan lagi. Segera ia merengkuh tubuh Deta dan membawanya ke dalam pelukannya. "Maaf, Sayang! Maafkan aku yang konyol ini. Maaf karena aku telah bersikap seperti anak kecil. Bahkan, anak kita saja bisa bersikap dewasa."


Deta bisa merasakan tubuh Ricky yang gemetar akibat menangis, meskipun ia tak melihat sendiri air mata suaminya. Namun, sepuluh tahun lebih hidup bersama Ricky membuat Deta sangat mengenal pewaris keluarga Sanjaya itu.


"Tidak, Mas! Ini bukan sepenuhnya salah Mas, tapi salahku juga. Seharusnya, aku bisa menjaga agar aku tidak mengan -" Bibir Deta di hentikan oleh gerakan tangan Ricky yang tiba-tiba menempel di sana.


Tangan besar Ricky menangkup kedua pipi Deta yang kini mulai berisi seperti dulu lagi. Satu persatu pipi Deta ia kecup dengan penuh kasih sayang.


"Aku mencintaimu." Ricky mengecup sekilas bibir mungil Deta. "Selalu mencintaimu."


Deta hanya tersenyum penuh haru. Melihat suaminya yang telah kembali bersikap hangat padanya.


Tiba-tiba Ricky berlutut dan membuat Deta panik. Namun, Ricky dengan cepat meraih tangan Deta yang ingin membantunya berdiri.


"Sayang, dengarkan aku!" Ricky sedikit menarik tangan Deta agar mau melihatnya. "Maaf karena aku sempat mengacuhkanmu, tapi sungguh aku tidak berniat untuk membuatmu sedih. Aku ... Aku hanya terkejut saat tahu ternyata ada buah cinta kita di dalam sini. Rasa takut itu seketika membayangiku, sampai aku lupa kebahagiaan yang akan kita dapatkan karena kehadirannya." Ricky mengusap lembut perut Deta yang mulai mengeras dengan sebelah tangannya.


Air mata Deta menetes tanpa bisa di tahan. Ia tahu, Ricky marah bukan karena tidak menginginkan anak yang ada di dalam kandungannya. Melainkan, pria itu hanya masih merasakan ketakutan setiap kali mengingat saat Deta melahirkan Tary ke dunia ini. Tapi melihat Ricky yang mengusap perutnya seperti ini, rasanya Deta sudah yakin jika Ricky akan bisa menghilangkan ketakutannya yang dulu.


"Sayang?" Ricky menghentikan usapannya dan menatap Deta yang baru saja menghapus air matanya.


Deta tersenyum tipis. "Iya, Mas?"


"Kali ini kau tidak boleh melahirkan secara normal! Aku ingin anak kita dilahirkan dengan cara operasi Caesar saja." Tuan Sanjaya sudah memberi perintah. Apa lagi yang bisa Deta lakukan?


"Itu pasti hanya alasannya saja agar kau tidak mencakarnya saat melahirkan nanti, Kakak ipar ...."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih masih setia menunggu author 😍


Di tunggu selalu cinta dan jejaknya 😘

__ADS_1


__ADS_2