Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
SALAH JATUH


__ADS_3

Cinta terkadang bisa merubah karakter dan prinsip seseorang. Tak jarang pula cinta bisa melemahkan dan menguatkan di saat yang bersamaan.


Hal itu terjadi pada Nino selama sepuluh tahun dirinya menunggu gadis kecil putri sahabatnya sendiri yang tak lain merupakan keponakan dari cinta pertamanya.


Nino sadar betul jika jalan yang ia ambil tidak akan mudah. Kemungkinan Dania akan jatuh cinta pada pria lain sudah masuk dalam daftar hitam catatan cintanya. Namun, Nino hanya bisa berusaha. Ia hanya ingin menjaga gadis yang ia cintai tanpa membuatnya merasa tertekan apalagi sampai tidak nyaman. Biarlah hatinya terluka! Nino bisa menanggung semua luka di dunia ini, tapi ia tidak bisa membiarkan gadis yang di cintainya merasa kecewa dan patah hati.


Berangkat dari pikirannya tentang hati dan masa depan Dania, serta dari pengamatannya selama sepuluh tahun ini. Nino akhirnya memutuskan untuk mencari keberadaan Gibran. Pria yang menjadi pelabuhan cinta bagi Dania sesaat sebelum dirinya benar-benar hadir dalam hidup gadis itu.


Saat Nino mengetahui fakta jika Gibran berada dalam pengawasan Ricky dan Dito, ia sempat terkejut dan ingin marah. Namun, Nino juga memahami ketakutan kedua kakak iparnya sehingga ia memutuskan untuk menyerahkan masa depan rumah tangganya pada takdir cintanya saja. Nino hanya berharap jika keyakinan cintanya cukup kuat untuk bisa membuat Dania bertahan di sisinya.


"Jangan bersembunyi lagi, Penguntit! Tunjukkan padaku cintamu yang besar dan tulus itu!!!" Dania sudah mengerucutkan bibirnya. Entah apa yang ada di pikirannya kali ini.


Nino ingin sekali melahap bibir menggoda Dania, jika saja mereka hanya berdua di ruangan itu. "Aku bukan penguntit, Moony. Aku hanya pengagum rahasia yang tak pernah kau sadari."


"Pengagum rahasia?" Dania mengucapkannya tanpa suara, tapi dengan kening yang berkerut cukup dalam. Tiba-tiba matanya membulat sempurna dan menatap tajam ke arah Gibran. "Ternyata aku sudah salah mengira. Maafkan aku, Kak! Aku tidak pernah mencintaimu dan selamanya tidak akan pernah mencintaimu. Bagiku kau teman yang luar biasa. Kau selalu ada di sisiku. Menemani aku. Memberikan aku semangat, tapi ... Kau tidak perlu melakukan hal itu lagi, Kak! Karena ...," Dania meraih tangan Nino dan menautkan jemarinya pada jemari Nino. "Sekarang sudah ada dirinya yang akan menggantikan tugasmu."


Tangan Gibran mengepal kuat hingga buku-buku jarinya terlihat. "Tidak, Dania! Aku mencintaimu. Maaf karena aku terlambat menyadarinya. Kau pasti marah karena lelah menunggu bukan? Kau benar-benar menyesal."


Hati Dania mencelos. Dulu, Dania selalu ingin Gibran mengatakan hal itu padanya. Namun, saat ini mendengar Gibran mengatakan semua isi hatinya membuat Dania merasa bersalah pada pria itu.


Dania bisa merasakan puncak kepalanya di usap lembut. Ia pun mendongak dan melihat Nino tengah menatapnya dengan sebuah senyuman seperti sedang memberikan dukungan.

__ADS_1


"Kau percaya padaku?" tanya Dania ragu. Jemarinya semakin erat menggenggam tangan Nino.


"Aku selalu percaya padamu, Moony ...."


***


Suasana pengap rumah sakit, rasanya tidak sepengap hati Dania saat ini. Meski keadaan di sekelilingnya cukup nyaman dan santai, tapi Dania merasa begitu sesak karena Gibran terus menatapnya tanpa berkedip.


Saat ini, Dania sedang berada di sebuah kafe outdoor yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit.


Setelah mendapatkan izin dari Nino dan juga melewati drama dari kedua kakaknya, akhirnya Dania bisa bicara berdua dengan Gibran dari hati ke hati.


"Kau yakin dengan keputusanmu, Dania?" Gibran masih mencoba membujuk Dania yang menurutnya masih bisa di goyahkan.


Gibran mendengus kesal. "Tapi kau tidak pernah mencintainya. Kau mengatakan bahwa dia tua, tidak pantas untukmu, sangat memalukan dan masih banyak lagi hal yang tidak kau sukai dari dirinya. Lalu, kenapa?"


Wajah Dania memerah. Malu? Ya! Marah? Tentu saja! Bagaimana Dania tidak malu? Gibran baru saja mengingatkan Dania dengan sikap buruknya yang menilai seseorang hanya dari luarnya saja dan itu pun tanpa melihat. Dan yang pasti Dania juga marah karena entah sadar atau tidak, Gibran telah menghina suaminya.


"Kau ingin tahu kenapa?" Dania tersenyum miring. "Karena dulu, aku hanya melihat dirimu di depan mataku. Bayanganmu menghalangi mataku untuk melihat dirinya. Aku pikir, selama ini hanya kau yang berada di sisiku. Ternyata aku salah! Pria yang aku anggap buruk, nyatanya dia selalu menjadi yang pertama dalam hidupku."


"Kau pasti keliru!" Gibran menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan putus asa.

__ADS_1


Dania menghela nafasnya. "Selama sepuluh tahun aku memang telah keliru, Kak. Aku mengejar cintamu karena aku berpikir hanya kau yang peduli padaku. Kenyataannya adalah aku telah salah menjatuhkan hatiku karena aku melihatmu terlalu besar di depan mataku."


Gibran menundukkan kepalanya. Sementara, tangannya mengepal di bawah meja. Menahan amarahnya sebisa mungkin karena tak ingin membuat Dania semakin menjauh darinya. "Aku sudah mengorbankan banyak hal untukmu, Dania. Apakah itu tidak bisa menjadi pertimbangan untukmu?"


Harapan di mata Gibran begitu besar hingga rasanya Dania tidak tega untuk menghancurkannya, tapi lagi-lagi Dania kembali pada pikirannya saat melihat sosok yang sudah di kenalnya berada di salah satu sudut kafe. Andai Dania juga menyadari kehadirannya dulu seperti Dania menyadari kehadirannya hari ini, semuanya pasti tidak akan serumit ini. Setidaknya, tidak akan ada hati yang menaruh harapan dan tidak ada yang harus berkorban banyak hal. Hah! Sudahlah!


"Kak ...," Dania mengelus perutnya yang masih rata. "Aku menyayangimu sama seperti aku menyayangi keluargaku. Bagiku kau sama pentingnya dengan mereka, tapi aku tidak bisa kembali padamu karena sekarang aku sudah bukan Dania yang dulu lagi. Aku seorang wanita yang sudah menikah dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu."


Mata Dania berkaca-kaca saat tatapannya menyelami tatapan Gibran. Sejak dulu, pria itu tidak pernah menyakiti hatinya atau hati siapapun. Pada dasarnya Gibran adalah pria yang baik. Mungkin sebenarnya Dania sendirilah yang telah memaksa Gibran untuk berjalan menuju ke sisi gelap karena terpengaruh akan cinta semunya. Tanpa sadar, air mata Dania meleleh. Rasa bersalahnya terasa semakin besar dan berat hingga Dania tidak sanggup menanggungnya.


"Kak, berbahagialah!" Dania mulai terisak. Di tatapnya Gibran yang masih menatap lekat dirinya. "Sekali lagi maafkan aku karena telah membuatmu merasakan patah hati dan penghinaan seperti ini! Dan aku juga ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga karena selama ini kau sudah mengabdikan sebagian besar waktumu untuk menjagaku."


Melihat Dania yang menangis di hadapannya membuat Gibran ingin berlari dan memeluk wanita yang tumbuh besar di hadapannya itu. "Apa kau sungguh bahagia bersama tuan Ferdinan? Kau tidak akan menyesal?"


Dania menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Di tambah seulas senyuman tipis di wajah cantiknya yang bersinar karena kehamilannya.


"Aku akan lebih bahagia jika kau dan tante Mikayla berhenti mengganggu rumah tanggaku ...."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2