Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
CEMBURU


__ADS_3

Kekecewaan selalu menjadi penghalang bagi sebuah rasa yang ingin terselip ke dalam hati yang telah terluka.


Sama halnya dengan Dania yang begitu sulit untuk menerima Nino karena rasa percayanya yang telah hilang akibat permainan konyol Nino sebelum pernikahan mereka. Begitu pun dengan Nino yang juga menyimpan kekecewaan pada Dania yang lebih mempercayai pria lain untuk mendengarkan isi hatinya, meskipun Nino tahu jika pria itu adalah Ricky. Pria yang dalam mimpi sekalipun tidak pernah berpikir untuk memiliki Dania. Namun, kecemburuan tetaplah kecemburuan. Nino tidak bisa menyembunyikan apalagi mengabaikan sikap Dania yang seperti ini.


"Apakah salah jika aku cemburu melihat istriku mengungkapkan keluh kesahnya pada pria lain, sementara aku disini dan selalu ada untuknya?" tanya Nino penuh penekanan.


DEG ...


Rasa bersalah seketika meliputi perasaan Dania hingga membuatnya menyesal dan ingin menangis, tapi sekuat tenaga ia mencoba untuk menutupinya.


"Kau berlebihan, Om!" sanggah Dania.


Nino sudah akan melangkah, tapi Ricky menahan bahunya. "Jangan biarkan kemarahan menguasai dirimu, Brothers!"


Anggukan samar Nino menjadi sebuah janji bagi dirinya sendiri untuk tidak menyakiti wanita yang sangat ia cintai, sekalipun ia begitu terluka dengan sikap Dania.


Melihat sedikit ketenangan di mata Nino, Ricky pun memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua di ruang kerjanya.


BRAK ...


Suara pintu tertutup membuat tubuh Dania terlonjak dan tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan mata Nino yang masih menatapnya penuh tanya.


"Apa?" tanya Dania ketus, tapi dengan bibir gemetar.


Nino menyeringai. "Menurutmu, Moony, siapakah di antara kita yang harus meminta maaf?"


"Yang pasti bukan aku!" sahut Dania cepat.


Mata sipit Nino seketika memicing mendengar jawaban Dania, sehingga seluruh matanya hampir tertutup sempurna.


"Kau yakin?" tanya Nino pelan, tapi dengan rahang yang menegang.


Dania mengangguk. "Wanita tidak pernah salah!"


"Ha ... Ha ... Ha ...," Tawa Nino terdengar menakutkan di tengah ruangan sunyi dan besar itu. "Dan kesalahan, selalu ada di atas kepala para pria. Benar begitu, Istri kecilku?" tanya Nino sinis.

__ADS_1


Meskipun ingin sekali tertawa, tapi Dania berhasil menguasai perasaannya dengan hanya diam dan tetap bungkam atas pertanyaan Nino.


"Baiklah, kalau begitu maafkan aku karena tak bisa menjadi seperti yang kau inginkan!" Nino menghembuskan nafasnya dengan kasar seraya tersenyum sinis. "Dan aku bahkan tidak tahu apa yang kau inginkan, Moony," lirihnya.


Kata-kata yang keluar dari mulut Nino perlahan memasuki hati Dania yang tertutup rapat dan mampu mengetuknya hingga sudi untuk sedikit terbuka bagi pria itu.


"Aku hanya ingin ... kejujuran!"


***


Keesokan harinya, rumah besar Sanjaya begitu ramai karena seluruh anggota keluarga berkumpul untuk sarapan bersama dan suasana pagi ini sangat berbeda dengan suasana malam sebelumnya.


Dania dengan wajah cerianya sangat bersemangat membantu Deta dan juga Shanum menyiapkan sarapan, sementara Nino masih belum terlihat batang hidungnya.


"Dimana suami "tua"-mu itu, Dania?" tanya Dito sinis, ketika tidak melihat Nino dimana pun.


Deta yang mendengar ucapan Dito pun langsung memukul bahu kekar adiknya itu. "Mulutmu itu, Dek!"


"Apa?" tanya Dito, dengan wajah polos tanpa dosa. "Memangnya aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanyanya lagi.


"Shan, apakah hatimu terbuat dari sutra?" sindir Deta seraya melirik tajam Dito yang berdiri di hadapannya.


Shanum mengerutkan dahinya sebelum menyadari maksud pertanyaan Deta hingga ia dapat memahami situasinya dan berkata, "hatiku harus selembut sutra, Kak, agar aku bisa menahan kerasnya batu dan tidak mudah hancur saat batu itu menghujam hatiku."


Deta dan Shanum saling berpandangan dan tersenyum penuh arti. Begitu juga dengan Dito yang akhirnya tertawa karena merasa ia telah kalah oleh kedua wanita yang sangat ia sayangi.


"Astaga!!!" keluh Dito, kemudian merentangkan tangannya agar Deta dan Shanum mendekat. "Kemarilah kalian, Wahai para pemilik hatiku!" serunya.


Kedua wanita itu segera masuk ke dalam pelukan Dito dan tertawa bersama.


"Dania, kemarilah!" panggil Dito kemudian, saat melihat Dania tampak ragu untuk mendekat.


Kini, Dania tidak ragu lagi dan berhambur memeluk kakak laki-lakinya yang selama ini sudah menjaganya.


Dalam dekapan Dito, ketiga wanita itu merasa begitu aman dan nyaman. Meskipun bagi ketiganya, Dito memiliki arti yang berbeda-beda. Namun, bagi mereka Dito adalah sang pelindung dan juga tempat bergantung.

__ADS_1


"Wah, aku sangat iri padamu, Kakak ipar!" seru seseorang yang langsung membuat semua mata tertuju kepadanya.


Di atas anak tangga, Nino sedang berdiri dan melihat ke arah Dito yang sedang memeluk tiga wanita cantik sekaligus.


Dito tahu benar maksud dari ucapan Nino. Melihat dari tatapannya, ia pasti membayangkan untuk bisa memeluk Dania seperti yang sedang Dito lakukan.


"Itu memang yang aku inginkan!" sahut Dito seraya semakin mengeratkan pelukannya k pada Dania.


Dania mendongakkan kepalanya untuk melihat seperti apa ekspresi wajah kakaknya yang dingin itu.


'Ck! Aku tidak bisa membaca raut wajah kak Dito yang datar seperti itu.' Batin Dania geram.


Sementara, tanpa Dania sadari Nino sudah berada di dekatnya dan langsung menarik tangan Dania agar terlepas dari pelukan Dito.


"Ah!!!" pekik Dania terkejut.


Bukan hanya Dania, semua orang pun terkejut dengan sikap Nino yang tiba-tiba saja menjadi posesif seperti itu.


"Hei, dasar pria tua pencemburu!" sergah Dito, di barengi dengan jari telunjuknya yang mengarah kepada Nino.


Nino melingkarkan tangannya di pinggang Dania dan menarik tubuh Dania untuk semakin mendekat padanya.


"Apakah kau merasa jika aku seperti yang di katakan oleh kakakmu, Moony?" tanya Nino, tepat di depan wajah Dania yang tengah mendongak ke arahnya.


Dania bisa merasakan kehangatan dari hembusan nafas Nino yang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya dan situasi seperti ini membuat detak jantung Dania berpacu semakin cepat. Beruntung, ia sadar jika dirinya sedang berada di tengah-tengah keluarga besar Sanjaya sehingga Dania pun langsung mengalihkan perhatiannya dari Nino yang entah mengapa mulai mengusik akal sehatnya.


"Ti- Tidak!" jawab Dania gugup seraya memalingkan wajahnya.


Sebuah senyuman mempertegas garis ketampanan di wajah Nino. "Kau sudah dengar, Kakak ipar? Aku bukan pencemburu, tapi aku hanya menjaga apa yang telah menjadi milikku. Namun, jika kata cemburu itu bisa mewakilkan betapa besar cintaku untuk istriku, maka biarlah seluruh dunia menyebutku pria pencemburu."


Hallo semuanya🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2