
Semilir angin yang menerpa wajah terasa menenangkan, sekaligus menyapu hati membawa kenangan.
Dania menapaki jalan yang ada di hadapannya dengan tangan Nino yang terus menggandeng tangannya erat. Sesekali, Dania menurunkan kacamata yang bertengger di hidungnya hanya untuk sekedar melihat lebih jelas pemandangan indah di sekitarnya.
"Kita sudah sampai!" seru Nino seraya berbalik dan melihat Dania yang tersenyum manis padanya.
Kepala Dania sedikit di miringkan. Melihat bangunan indah yang pernah ia datangi sebelumnya. Wajah lelahnya seketika berganti menjadi ceria. "Wah, akhirnya kita kembali kesini!"
Nino menarik tangan Dania lembut. Sebenarnya, Nino ingin melakukan hal yang lebih dari sekedar menggandeng tangan istrinya. Namun, Nino belum siap jika harus menerima kemarahan Dania lagi. Susah payah ia membujuk Dania yang merajuk akibat insiden pagi pertama mereka karena ulah Ricky. Bukan hal yang mudah meredakan amarah wanita yang ia cintai itu.
"Om?" Dania memanggil Nino tanpa memandang wajah suaminya itu.
Mereka kini sudah sampai di pondok keluarga Nino. Teras yang nyaman dengan hamparan sawah hijau menjadi pemandangan yang tak pernah Dania lihat sebelumnya. Itu sebabnya wanita itu langsung menyetujui ketika Nino mengajaknya untuk datang ke tempat ini lagi.
"Kau butuh sesuatu, Moony?" tanya Nino lembut. Seulas senyum tipis tertarik di sudut bibirnya ketika melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Dania.
Dania menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku hanya berpikir, bagaimana jika kita tinggal disini saja?"
Pertanyaan yang sering terlintas dalam benak Nino, akhirnya di tanyakan juga oleh Dania.
Terdengar helaan nafas yang panjang sebelum Nino menjawab, "aku juga sempat memikirkan hal itu, tapi aku rasa tidak memungkinkan jika kita menetap disini untuk seterusnya."
"Kenapa?" desah Dania, kecewa dengan penolakan Nino yang sepertinya tanpa pertimbangan.
Meskipun Dania tidak menatap Nino secara langsung, tapi Nino bisa merasakan kekecewaan dari suara Dania. Hatinya sedikit tersayat. Bukan hanya Dania yang kecewa. Nino juga merasakan hal yang sama. Menjaga pondok ini sama dengan menjaga kenangan ibunya bagi Nino. Namun, beberapa hal terkadang tidak bisa berjalan sesuai dengan keinginan meski telah di paksakan.
Nino memiringkan tubuhnya untuk menghadap Dania yang masih menatap lurus ke depan. "Lihat aku!" Dania menoleh dan menatap Nino, tapi dengan wajah masamnya. Nino hanya terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. "Aku juga ingin tinggal disini ... Bersamamu! Tapi kau tahu kita ... Kau dan aku, punya tanggung jawab disana. Aku dengan pekerjaanku dan kau dengan tanggung jawabmu sebagai istriku."
Uraian Nino tentang tanggung jawab yang dimiliki oleh mereka berdua membuat Dania sedikit merasa bersalah.
"Maaf ... Aku tidak memikirkan hal itu," lirih Dania.
"Hei, kenapa kau meminta maaf, Moony? Tidak ada yang salah dalam hal ini." Nino menyentuh dagu Dania agar tatapan mereka bertemu.
Dania menatap tepat di bola mata Nino. Hangat. Tatapan Nino padanya selalu sama sejak mereka pertama bertemu.
__ADS_1
'Kenapa kau selalu bersikap lembut padaku meski aku sering menguji kesabaranmu?' Batin Dania, menyesal dengan sikapnya pada Nino selama ini.
Sapuan lembut tangan Nino di pipinya, menarik kembali kesadaran Dania. Wajahnya memerah dan sikapnya mulai gelagapan di hadapan Nino.
"Kau kenapa, Moony?" tanya Nino khawatir saat menyadari perubahan sikap Dania. "Apa kau sakit?" tanyanya lagi.
Dania menangkap tangan Nino yang menangkup wajahnya. "Tidak, Om! Aku hanya lelah dan ingin beristirahat."
"Kau yakin?" Nino memicingkan matanya, mencari kejujuran dari jawaban Dania. Dengan cepat Dania menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kalau begitu kita masuk dan istirahat di dalam!"
***
"Sayang ... Kenapa amarahmu belum reda juga?" rengek Ricky.
Sudah dua hari, terhitung sejak Nino mengungkapkan kejadian di malam itu dengan bantuan Shanum, sejak hari itu juga Deta mogok bicara pada Ricky. Jangankan untuk bicara, senyum Deta yang memabukkan saja tidak bisa Ricky lihat.
Hari pertama Ricky bahkan tidak di biarkan masuk ke dalam kamar mereka. Namun, karena tidak tega melihat suaminya yang tertidur di depan pintu kamar, Deta pun akhirnya terpaksa membiarkan Ricky tidur di kamar.
Ricky berpikir, Deta sudah memaafkan dirinya. Sayangnya, Deta justru keluar dari kamar dan memilih untuk tidur di kamar tamu. Dan bukan Ricky namanya jika tidak terus mengganggu Deta meski dalam kemarahannya.
Saat ini, Ricky bersandar pada pintu kamar tamu. Mencoba mengetuknya berulang kali, tapi tidak ada jawaban. Beberapa saat yang lalu, Ricky masih bisa melihat senyuman di wajah istrinya itu saat mengantar putri semata wayang mereka untuk pergi ke sekolah. Namun, tiba-tiba saja yang sebaliknya terjadi saat Tary sudah tidak di rumah. Deta kembali dingin, bahkan terkesan tidak memperdulikan dirinya.
Wajah cantik Deta yang biasanya selalu di hiasi senyuman dan tawa, kini menatap Ricky dengan amarah juga kekecewaan. Terdengar Deta mendesah kesal sesaat sebelum mengalihkan pandangannya pada hal lain.
"Sayang, harus bagaimana lagi aku meminta maaf padamu?" tanya Ricky, tersirat keputusasaan dari pertanyaannya.
Deta berdecak kesal. "Mas tidak bersalah padaku! Jangan terus menerus meminta maaf padaku! Mas telah melakukan kesalahan pada Dania dan juga kak Nino. Kalau Mas ingin aku maafkan, maka Mas juga harus mendapatkan maaf dari mereka!"
BRAK ...
Pintu kamar tamu itu kembali tertutup rapat, bahkan sebelum Ricky sempat mengeluh apalagi melakukan negosiasi.
"Sayang, tapi Nino dan Dania sedang pergi berbulan madu. Aku akan mati jika harus menunggu mereka kembali ...."
***
__ADS_1
Hembusan angin menerbangkan ujung rok Dania. Rambutnya yang terurai dan tertiup angin menambah kadar kecantikan Dania. Tentu saja di mata Nino yang tak lepas menatapnya.
"Aku suka disini." Dania tersenyum pada Nino yang sedari tadi menatap wajahnya tanpa berkedip.
Pagi ini matahari bersinar sangat cerah. Secerah wajah Dania yang telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Sederhana memang. Dania hanya ingin membuka matanya di pagi hari dengan kehangatan yang di hadirkan oleh suaminya, dan itu semua telah ia dapatkan.
"Kalau kau tanya padaku, apakah aku suka disini? Aku akan menjawab, dimana pun aku suka selama itu bersamamu." Nino merentangkan tangannya dan memeluk bahu Dania yang langsung menyandarkan kepalanya di bahu lebar suaminya.
Indahnya sebuah hubungan yang di landasi rasa saling percaya dan juga kenyamanan mulai bisa di rasakan Dania. Walaupun pada awalnya Dania menolak perjodohan ini, tapi pada akhirnya Dania mengerti apa yang di lihat oleh kakaknya dari seorang Nino. Dania menyadari jika Nino adalah pilihan terbaik untuk hidupnya. Hati Dania mulai bertanya-tanya, apakah kini ia sudah mencintai suaminya itu? Benarkah seperti itu? Dania bahkan sudah tidak menolak kontak fisik apapun yang di lakukan Nino padanya. Mungkinkah sebaiknya Dania mengungkapkan isi hatinya pada Nino?
'Apakah ini tidak akan terlihat memalukan? Selama ini dia yang memohon cintaku dan aku selalu mengabaikannya. Dan sekarang, aku ingin mengatakan isi hatiku padanya. Bagaimana jika dia menertawakan aku? Aaargghh!!! Tidak! Tidak! Tunggu saja dia mengatakan cinta dan aku akan membalasnya. Iya! Benar seperti itu saja.' Batin Dania berkecamuk.
"Moony ...," Nino membelai rambut Dania dan mengecupi puncak kepalanya.
Dania mendongak dan menatap Nino penuh harap. "Iya, Om?"
'Ayo, katakan kalau kau mencintaiku!' Dania mulai tidak sabar.
Nino menautkan jemarinya pada jemari Dania dan mengecupi punggung tangan Dania dengan lembut, tanpa mengucapkan apapun lagi.
'Aaarrrgghh!!! Aku bisa gila kalau seperti ini. Kenapa dia tidak mengatakan cinta seperti biasanya?' Oceh Dania dalam hatinya yang mulai panas.
"Om?" Akhirnya, Dania memberanikan diri untuk mengambil langkah besar dalam kehidupan rumah tangganya.
"Aku disini, Moony." Nino mengusap tangan Dania yang masih di genggamnya.
"Om, aku -"
Dering ponsel Nino menghentikan Dania yang ingin mengatakan sesuatu.
"Ricky." Nino menunjukkan ponselnya pada Dania yang hanya di balas anggukan sekali oleh Dania. "Halo, Brother?" Nino langsung menghidupkan pengeras suara pada ponselnya agar Dania juga bisa mendengar percakapannya dengan Ricky.
"Hei, cepatlah pulang! Nyawaku ada di tangan kalian. Jika kalian terlalu lama berbulan madu, aku akan mati disini!"
"Apa?"
__ADS_1
Hallo semuanya 🤗
Keep healthy and happy 😘