
Happy Readingπ
Hari sudah sore, kini Brayn dan Vio sudah berada di kantor kembali. Vio sedang berusaha untuk konsentrasi dengan pekerjaan nya, tapi sekelebat bayangan dia dan Brayn berci..uman muncul kembali di otak nya.
Aaggghhh
Vio menggeram prustasi saat adegan itu melintas di pikiran nya. Vio memukul pelan kepala nya agar tak terus membayangkan adegan panas itu.
Sedangkan Brayn di dalam sana merasa heran, dia mengerutkan dahi nya melihat Vio memukul kepala nya dengan raut wajah prustasi. Kemudian Brayn menekan telpon ke meja Vio.
Dan dia menyuruh Vio untuk masuk kedalam ruangan nya.
Tok Tok Tok
Tak lama pintu ruangan di ketuk.
'' Masuk..'' ujar Brayn.
Vio pun masuk kedalam dengan wajah tertunduk, entah kenapa Vio merasa canggung berhadapan dengan Bos nya, setelah kejadian di dalam mobil beberapa jam yg lalu.
'' Ada apa Tuan?'' tanya Vio sambil menunduk.
Brayn berjalan menghampiri Vio, dia berdiri tepat di hadapan gadis cantik itu. Kemudian Brayn mengangkat wajah Vio dengan jari telunjuk di dagu nya.
'' Jika bicara jangan melihat lantai. Apa kamu pikir saya ada di lantai?'' ujar Brayn sambil menatap wajah cantik itu.
'' Ti-tidak Tu-an, saya hanya..... Saya...'' Vio bingung harus menjawab apa? Jujur saja saat ini jantung nya kembali berpacu dengan cepat saat berdekatan dengan Bos Muda nya itu.
'' Saya apa Hem.....'' tanya Brayn
'' Tu-tuan, sebenar nya ada apa?'' Vio mencoba menetrlakan degup jantung nya, dia berusaha untuk tak terlihat gugup di hadapan Brayn walaupun itu mustahil, sebab Brayn bisa melihat kegugupan di wajah Vio.
'' Saya memanggil kamu kesini, karena saya heran sama kamu! Kenapa kamu memukul kepala mu tadi? Apa kamu sedang sakit?'' tanya Brayn dengan cemas.
Vio menatap lekat manik mata Brayn, Vio melihat pancaran kecemasan di mata tajam nan tegas itu. Lalu Vio menggeleng dengan cepat.
'' Tidak Tuan, saya tadi....Saya, hanya sedang mencoba berkonsentrasi.'' bohong Vio
'' Yakin?'' Brayn menaikan satu alis nya dengan mata memicing memandang Vio.
'' Iya Tuan! Eum, Tuan ada apa manggil saya?''
'' Tidak ada! Saya hanya ingin menanyakan itu saja.'' jawab Brayn
Vio mebulatkan mata nya, mulut nya menganga mendengar ucapan Brayn, tapi sejurus kemudian Brayn mengusap wajah Vio membuat gadis itu mengatupkan bibir nya.
'' Jangan begitu, nanti ada lalat masuk.'' ledek Brayn.
Vio tak menjawab nya, dia segera pamit pada Brayn dan melangkah keluar ruangan.
' Sebenar nya aku masih bingung, kenapa Tuan Muda menciumku? Apa dia berpikir kalau aku ini perempuan murahan ya?' batin Vio dengan penasaran.
πππππππ
Hari sudah menjelang malam, jam menunjukan pukul 18:00. Vio sudah beberes meja dan akan pulang, tapi baru saja dia akan melangkah dari meja nya tiba tiba Brayn memanggil nya. Vio pun berhenti.
'' Iya Tuan..''
__ADS_1
'' Saya antar kamu pulang!''
'' Tidak usah Tuan Muda!''
'' Saya tak menerima penolakan.'' tegas Brayn
Vio pun tak punya pilihan, akhirnya dia pun pulang di antar oleh Brayn. Saat akan memasuki lift mereka berpapasan dengan Vino.
Vino sempat terkejut saat melihat Bos muda nya jalan beriringan dengan Vio sekertaris nya.
'' Vin, kau pulang saja! Biar aku yg nyupir sendiri.'' ujar Brayn pada Bino asisten pribadi nya.
'' Tapi, Tuan!''
Brayn menatap tajam Vino, dan akhirnya Vino pun mengangguk. Dia tak mungkin melawan perintah Brayn. '' Baik Tuan. '' lalu Vino pun masuk kedalam Lift lagi di ikuti oleh Vio dan Brayn.
Setelah sampai lobi, Brayn berjalan bersama Vio menuju mobil nya. Dan Vino hanya menatap 2 manusia itu dengan raut wajah bingung.
Sebenar nya ada hubungan apa mereka? Ah, bodo amat lah. Bukan urusan ku juga.
Vino pun berjalan ke arah mobil nya dan pulang ke apartemen.
Di dalam mobil
Tak ada suara yg keluar dari mulut Brayn maupun Vio, keduanya sama sama terdiam dengan canggung. Sebenar nya Vio tak mau di antar oleh Brayn, tapi mau bagaimana lagi dia tak mau jika Brayn nanti akan marah dan malah memecat nya, sedangkan Vio sangat butuh pekerjaan itu.
Vio sebenar nya tak nyaman bila harus di posisi sekarang, di dalam mobil bersama Pria yg pertama kali mengambil kesucian bibir nya, ciuman pertama nya. Vio merasa berdebar setiap kali berdekatan dengan Brayn, entah kenapa dia pun tak tahu dan tak mengerti dengan jantung nya itu. Tapi Vio merasa nyaman setiap kali bersama Brayn.
Ekhm
'' Loh, Tuan! Ini bukan jalan ke kosan saya?'' tanya Vio dengan heran saat melihat arah jalan yg di ambil Brayn.
'' Saya memang bukan akan membawamu ke kosan, tapi saya akan membawamu ke suatu tempat.'' ujar Brayn
Vio mengerutkan dahi nya. '' Kemana?'' tanya Vio dengan heran
Brayn tak menjawab pertanyaan Vio, dia malah menyalakan musik dan ikut menyanyikan nya, membuat Vio mendengus dengan wajah yg kesal.
Nih orang kenapa sih? Kebiasaan banget deh, kalau di tanya pasti diam? Emang dasar tuh mulut kayak robot otomatis.
Vio memilih pura pura memejamkan mata nya, hingga mobil pun sampai di sebuah restoran.
'' Buka matamu, kita sudah sampai.'' ujar Brayn sambil membuka steatbelt.
Vio membuka mata nya, menatap sekeliling dan ternyata Bos nya membawa Vio ke restoran. '' Tuan, kenapa ke sini?'' tanya Vio
'' Mau memperkosa mu!'' ucap santai Brayn, membuat Vio mendelik tajam pada nya.
'' Jangan macam macam ya Tuan, kalau berani nanti saya tendang anu nya...'' ancam Vio dengan tatapan yg begitu tajam.
Brayn malah menyeringai mendengar ucapan Vio, dia mencondongkan badan nya ke arah Vio. '' Kau yakin? Aku tak yakin kau akan melakukan itu? Aku yakin nya, kalau kau akan ketagihan.'' ledek Brayn dengan senyum mengejek.
Awwhh
Vio mencubit perut sispack Brayn, hingga sang empu meringis. '' Tuan, saya tidak akan mau memberikan nya pada sembarang orang! Kecuali dia suami saya.'' tegas Vio dengan mata mendelik.
'' Yasudah, kalau gitu kita menikah saja!'' enteng Brayn.
__ADS_1
Vio menganga mendengar ucapan Bos Muda nya itu.
'' A-pa! Me-ni-kah...'' ucap Vio dengan tergagap kaget.
Brayn menganggukan kepala nya, tak lama Vio tertawa terbahak bahak. Membuat Brayn heran.
Apa ucapan gw ada yg salah?
'' Kenapa ketawa..'' heran Brayn
'' Hahaaaa.... Ya habis Tuan, ada ada saja! Masa mau sama saya? Terus ngelamar nya, kayak orang mau beli permen lagi, ck ck ck...'' jelas Vio dengan kepala menggeleng.
'' Aku serius..'' ujar Brayn
'' Ya, ya, ya. Lebih baik kita makan dahulu Tuan! Sepertinya anda terlalu lapar.'' ujar vio sambil membuka pintu mobil.
Vio bukan tak deg degan saat Brayn mengucapkan kata yg begitu membahagiakan bagi kaum Hawa. Tapi, Vio sadar jika dirinya tak selevel dengan Brayn, Vio tak mau nanti akan sakit di kemudian hari. Sebagai perempuan, Vio tak menampik jika tadi dia begitu terkejut dan bahgia saat Brayn mengajak nya menikah. Memang siapa sih yg tak mau menjadi bagian dari keluarga YUNANDA. Tapi Vio cukup sadar diri, bahwa dia tak selevel dengan Brayn. Dia hanya takut jika Brayn hanya bercanda dan tak serius dengan ucapan nya itu.
Tak lama makanan pun datang, setelah Vio dan Brayn memesan. Brayn memesan ruangan Vvip untuk nya dan Vio.
'' Bagaimana dengan pertanyaan ku tadi?'' tanya Brayn mulai membuka suara.
'' Pertanyaan yg mana Tuan?''
'' Yg, kau mau menikah dengan ku.'' ulang Brayn lagi.
'' Eum, Tuan. Apa anda tak sedang demam?'' Vio meletakan telapak tangan nya di dahi Brayn.
''Aku sehat, kau pikir aku gila hah?'' ketus Brayn sambil menyingkirkan tangan Vio.
'' Bukan begitu Tuan! Saya pikir anda sedang bercanda....''
'' Apa kau melihat aku sedang bercanda?''
Vio menggeleng. '' Tapi Tuan, saya hanya orang miskin. Saya tak selevel dengan anda! Apa anda tak malu pada semua orang? Apa kata mereka Tuan, jika Tuan bersanding dengan saya? Seorang gadis yg berasal dari keluarga miskin dan....''
Brayn menaruh jari telunjuk nya di bibir Vio, membuat Vio menghentikan ucapan nya.
'' Aku yg punya hidup, aku yg menentukan siapa yg pantas bersanding dengan ku! Aku tak perduli jika kau orang miskin, atau bahkan termiskin sedunia pun! Aku tak pernah memandang orang dari kasta dan harta nya.'' jelas Brayn
Vio menunduk, air mata nya jatuh saat Brayn mengatakan itu. Vio sungguh terharu dengan jawaban Bos nya.
'' Tapi Tuan, bagaimana orang tua anda?''
'' Mama dan Papa akan merestui siapa saja yg menjadi pilihan ku! Mereka bukan lah tipe orang yg memandang rendah orang lain. Mereka pasti akan menerima mu! Sekali lagi ku tanya, apa kau mau....''
Vio tertegun dengan ucapan Brayn. Di terlihat berpikir sejenak, lalu sesaat kemudian dia menganggukan kepala nya. Membuat wajah Brayn bersinar bahagia, Brayn langsung memeluk tubuh langsing Vio.
'' Besok aku akan mengajakmu ke Mansion..'' ujar Brayn.
Vio mengangguk. Lalu mereka pun memakan makan malam nya dengan perasaan bahagia. Vio juga tak bisa membohongi hatinya, bukan karena Brayn orang yg sukses, tapi karena Vio juga sangat nyaman dekat dengan Brayn, begitu pula dengan Brayn.
Mereka maka dengan tatapan penuh cinta satu sama lain, bahkan Brayn sudah berani menyuapi Vio. Malam ini menjadi malam yg membahagiakan bagi kedua insan yg sedang di mabuk asamara itu.
Bersambung....
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK NYA GUYSππ
__ADS_1