
Happy Readingππ
Sudah 1 minggu sejak kejadian di dapur malam itu, Caca kini selalu menghindar dari Arthur. Setiap bertemu Arthur Caca pasti selalu menghindari nya. Bukan karena Caca marah pada pria itu, hanya saja Caca mau menjaga jarak antara dia dan Anak majikan nya.
Caca merasa dia sudah melampaui batas sehingga berani berci..uman dengan Arthur. Caca juga takut jika dia hanya di jadikan budak nafsu nya Arthur saja. Walaupun sebenarnya Caca tak menampik jika ia sangat merindukan belaian hangat bibir Arthur pada nya.
Tapi Caca tak mungkin melakukan itu lagi, seperti kemarin malam saat Caca mengambil air yg habis di kamar nya, Caca pergi ke dapur untuk mengisi teko. Tapi saat sampai di dapur, Caca melihat Arthur sedang makan malam sendirian.
Caca tahu jika Arthur pulang telat, dan dia pikir Arthur sudah makan di luar tapi ternyata Caca salah. Caca kembali ke kamar nya dan menunggu Arthur selesai makan. Sedangkan Arthur merasa heran dengan tingkah Caca, dia memang melihat Caca saat pergi dari dapur tadi
Arthur pun sebenar nya merasa uring uringan sebab Caca menghindari nya beberapa hari ini, hingga membuat Arthur tak bisa tidur dengan nyenyak setiap malam. Arthur pikir jika Caca marah kepadanya karena kejadian di dapur malam itu, padahal nyata nya Caca tak marah.
Pagi ini Arthur akan mengantar Momy, Dady dan kedua adik nya untuk ke bandara. Mereka akan melakukan perjalanan ke jerman, dimana Sang Oma tinggal di sana.
Mami Rosa memang sudah tak tinggal bersama Bayu lagi, dia tinggal di jerman di rumah peninggalan orang tua nya. Dan Mami akan pulang ke indonesia 3 bulan sekali, atau kadang Mawar dan Bayu yg kesana menengok sang Mami, seperti hal nya sekarang.
Bayu sengaja tak mengajak Arthur, sebab ia menitipkan kantor nya pada anak sulung nya itu. Bayu akan pergi selama 1 minggu, dan selama itu pula Arthur lah yg akan menghandle kantor Dady nya.
Setelah mengantar kedua orang tua dan adik adik nya, kini Arthur sedang di jalan dan langsung menuju kantor nya. Sebab 30 menit lagi akan ada meeting dengan klien.
πππππππ
Jam menunjukan pukul 12.00 siang, semua karyawan sudah keluar untuk makan siang, namun Arthur masih berkutik dengan laptop nya. Dia tadi di ajak Radit namun di tolak oleh nya, sebab masih banyak kerjaan yg harus Arthur kerjaan. Berkas berkas pun masih banyak dan menumpuk di meja nya.
Saat tengah memeriksa berkas, tiba tiba Arthur teringat dengan Caca.
'' Lagi apa ya cewek itu? Bagaimana supaya dia tak menghindariku lagi...'' gumam Arthur sambil memainkan pulpen nya di meja.
Otak nya sedang berpikir keras, bagaimana cara ia agar bisa bicara dengan Caca. Arthur berpikir jika Caca marah pada nya, dan Arthur di buat tak tenang dengan sifat Caca yg menghindari nya beberapa hari ini.
'' Aha... Aku ada ide.'' seru Arthur sambil menjentikan jari nya.
Kemudian dia mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang, Arthur yakin jika saat ini Caca gak akan menolak nya.
ππππππ
'' Ca, kamu antarkan makan siang ya buat Tian Muda di kantor.'' ucap kepala pelayan.
Caca yg sedang mengelap meja makan seketika menghentikan aktipitas nya, kemudian menatap Kepala pelayan dengan mulut menganga tak percaya.
'' Saya?'' tunjuk Caca pada dirinya, dan di balas anggukan oleh kepala pelayan itu.
'' Iya Caca, emang kamu pikir di sini siapa lagi yg nama nya Caca?''
'' Tapi, apa gak ada yg lain saja Bu? Caca belum ngelap ruang tamu.'' Alibi Caca, namun di balas gelengan kepala sama kepala pelayan.
__ADS_1
'' Nggak, Ca. Kalau bukan kamu sendiri, nanti Tuan Arthur marah dan kamu bakal di pecat! Tuan Arthur itu sama kayak Nyonya Mawar, gak bisa di bantah.'' jelas Kepala pelayan.
Caca membuang napas nya dengan kasar, lalu dia pun melangkah ke kamar nya untuk mengganti baju nya. Caca berpikir jika Arthur memang sengaja menyuruh nya untuk mengantarkan makan siang ke kantor WIJAYA GROUP.
'' Dasar es balok. Aku sudah cape cape menghindar, eh malah dia kembali mendekat? Duuuh, gimana nih? Gimana caraku menghindarinya lagi?'' bingung Caca
Tok Tok Tok
'' Ca, udah belum? Cepetan..'' teriak kepala pelayan di luar.
'' Iya, iya. Caca udah.'' jawab Caca
Lalu ia pun keluar dari kamar dengan setelan jeans dongker dan kemeja panjang berwarna merah dan rambut di kuncir kuda.
Setelah mengambil kotak makan itu, Caca pun pergi di antar supir pribadi keluarga Wijaya. Selama dalam perjalanan Caca terus memikirkan bagaimana caranya untuk menghindari Arthur.
35 menit mobil pun sampai di depan kantor, lalu Caca menuju tempat resepsionis untuk bertanya ruangan Arthur. Dan Caca pun masuk kedalam lift kelantai 15.
Ya ampun, ini kantor apa apartemen sih? Gede dan tinggi banget.
Caca terlihat sangat gelisah saat lift berhenti di lantai 15, lalu Caca keluar dari lift dan meoangkah dengan ragu. Tak ada ruangan lain di sana, kecuali ruangan Arthur.
Dia sudah berdiri di depan pintu ruangan Arthur, namun dia ragu untuk mengetuk dan masuk kedalam. Caca benar benar takut dan juga ragu. Bahkan jantung nya saja sekarang sudah berdebar kencang.
' Duh, ini jantung kenapa sih? Belum juga ketemu masa udah jedar jeder?' gerutu Caca dalam hati nya.
'' Kenapa lama sekali?'' bentak Arthur, sontak membuat Caca terjingkat kaget.
'' Tu-tuan...'' gugup Caca.
'' Masuk.'' titah Arthur sambil melangkah maduk.
Caca mengikuti langkah Arthur untuk masuk kedalam ruangan nya dengan ragu. Mata Caca menelisik setiap sudut ruangan itu, begitu luas dan nyaman.
''Duduk.'' titah Arthur, dan Caca pun duduk di sofa di hadapan Arthur dengan kepala menunduk, ia tak sanggup melihat wajah tampan di hadapan nya itu. Hatinya pasti akan kembali terpesona sekaligus sakit
'' Kenapa lama hah? Apa kamu tau, kalau aku udah lapar?'' ucap Arthur dengan nada dingin.
'' Maaf Tuan, lagian kan Tuan gak bilang kalau Tuan lapar? Jadi, Caca mana tahu..'' jawab Caca dengan cuek, namun mata nya masih menatap Ke arah lantai.
'' Tatap saya Caca, kalau saya lagi ngomong? Apa kamu pikir wajah saya ada di lantai?'' geram Arthur.
Caca pun dengam ragu mengangkat wajah nya, dan menatap Arthur dengan takut. Caca melihat kilat kekesalan di mata pria tampan itu.
'' Buka, saya mau makan!''
__ADS_1
Caca pun membuka kotak makan itu, lalu menyerahkan nya pada Arthur. Pria tampan itu langsung memakan makanan itu, sebab ia memang sudah sangat lapar sejak tadi.
Caca menatap ragu Arthur yg sedang makan begitu lahap. Caca menarik sudut bibir nya saat melihat pria itu makan dengan lahap, dan tanpa gadis itu sadari Arthur melihat tatapan nya.
'' Kenapa melihatku seperti itu? Aku tahu aku tampan, gak usah mengagumiku seperti itu?'' ucap Arthur sambil menyugar rambut nya ke belakang.
Caca tersadar dari terpesona nya. Lalu ia mencoba menyembunyikan rasa salah tingkah nya. '' Dih, apaan sih Tuan! Siapa juga yg terpesona, Geer banget? Caca gak terpesona sama sekali sama Tuan?'' jelas Caca dengan wajah memerah.
'' Yakin?'' tekan Arthur sambil mencondongkan badan nya.
'' Sudah ah, Caca mau pulang dulu! Lagian kan tugas Caca sudah selesai.'' ucap Caca lalu bangkit dan hendak pergi dari sana.
Arthur yg melihat Caca berdiri dan hendak pergi, kemudian menarik tangan Caca sehingga Caca tertarik kedalam pelukan nya. Arthur segera melingkarkan tangan nya di pinggang Caca, dan tak membiarkan gadis itu keluar.
Caca berusaha berontak dan mendorong tubuh Pria itu, tapi tubuh Arthur sama sekali tak bergeser sedikitpun. Malah Arthur semakin mengeratkan pelukan nya.
'' Tuan, apaan sih! Lepasin...'' pinta Caca dengan nada kesal.
'' Gak, aku gak akan lepasin kamu! Kecuali, jika kamu mau bicara soal kenapa kamu menghindari aku?'' geleng Arthur dengan tatapan yg begitu tajam.
Caca membuang wajah nya ke samping.
'' Untuk apa Tuan? Apa itu penting?'' tanya balik Caca.
'' Iya, itu penting.''
'' Ck, apa yg penting Tuan? Tuan tahu, kita itu harusnya tak seperti ini? Tuan benar, anggap saja jika ciuman kita beberapakali itu, hanya sebuah kecelakaan saja! Dan Tuan, anda seharusnya jangan bersikap seperti ini? Saya ini pelayan Tuan, PELAYAN.'' tekan Caca dengan nada mencebik dan sorot mata yg begitu tajam.
'' Lalu...'' Arthur masih cuek menanggapi ucapan Caca.
''Anda bilang, Lalu? Hellow, Tuan Arthur yg terhormat, apa anda sadar hah? Kita ini hanya atasan dan bawahan, dan tak sepantasnya kita seperti ini! Dan jangan pernah anda berniat mencium saya lagi?'' ujar Caca sambil menginjak kaki Arthur dan melepaskan pelukan pria itu.
''Kau, berani kau menginjak kaki ku? Lagi pula kenapa harus ada batasan Hah? Kau kan bawahan ku, dan aku bos mu?'' geram Arthur.
'' Jangan anda pikir saya pelayan, jadi anda bisa seenak nya mencium saya? Saya bukan jal*ng yg bisa seenak nya anda sosor kayak bebek!'' kesal Caca dan langsung pergi dari ruangan Arthur.
Namun Caca tak menaiki lift, dia melewati tangga darurat. Sedangkan Arthur masih terbengong dengan ucapan Caca barusan, dia masih mencerna ucapan Caca yg begitu tajam.
Arthur yg tersadar jika Caca pergi, lalu mengejar nya keluar. Namun Caca sudah pergi dan Arthur terlambat, kemudian dia masuk kembali ke ruangan nya dengan wajah prustasi.
'' Aaaghhh, kenapa jadi gini sih?'' geram Arthur sambil menonjok tembok.
Sebaiknya aku akan bicarakan nanti di Mansion.
Bersambung.....
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN FAV NYA GUYSππ