Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Di kantor


__ADS_3

Ketika mobil angkotnya berhenti, Neti mengajak Evana untuk segera naik ke mobil.


Evana yang tidak tahu menahu tentang mobil bus yang akan di tumpangi, dirinya hanya bisa nurut.


Saat hendak mau naik mobil, di dalamnya sudah di penuhi dengan ibu ibu yang akan berangkat ke pasar.


"Maaf sebelumnya, geser dikit ya, Bu." Ucap Neti saat mau duduk.


"Silakan," jawabnya.


Neti dan Evana akhirnya duduk bersebelahan dan terhimpit oleh ibu-ibu yang postur badannya lebih besar.


Evana yang memang mempunyai badan kecil, tentunya terasa terhimpit dan sulit untuk bernapas. Berbeda dengan Neti, badannya cukup berisi dan terlihat segar.


Selama dalam perjalanan, keduanya menahan beraneka parfum maupun yang lainnya yang menyengat untuk di hirup.


Cukup lama dalam perjalanan menuju tempat kerjaan, akhirnya sampai juga di kantor.


"Ini kantornya, Va. Gimana menurutmu, kamu sudah siap untuk bekerja di kantor ini, 'kan?" tanya Neti sambil menunjuk pada gedung yang menjulang tinggi.


"Gede juga ya, kantornya. Semoga aja aku diterima kerja disini, Net. Kalau sampai di tolak, bagaimana?"


"Tenang aja, gak bakal kamu di tolak. Secara nih ya, kamu ini pintar dan juga pekerja keras."


"Hem, pekerjaan keras. Baru aja kerja, aku sudah diajak nikah dan harus resign. Belum juga dapat penghasilan banyak, udah berhenti." Kata Evana kembali teringat saat mulai dalam karirnya yang mau naik jabatannya menjadi sekretaris, tiba-tiba Ardi memintanya untuk resign, lantaran tidak ingin Evana tergoda dengan Bosnya.


Tetapi kenyataannya, justru Ardi sendiri yang mudah tergoda dengan perempuan lain.


"Hei, melamun apaan. Pagi-pagi itu bukan untuk melamun, nanti otak kita bisa jadi eror, bahaya."


"Hem. Ya deh, ya." Kata Evana sambil membenarkan penampilannya.


"Ya udah yuk, kita masuk." Ajak Neti pada Evana untuk masuk ke dalam gedung kantor.


"Ya, Net." Jawab Evana dan ikut masuk ke dalam gedung yang begitu luas saat memasukinya.

__ADS_1


Semua karyawan yang sudah datang lebih awal, tertuju pandangannya pada Evana yang kelihatan asing di kantor.


"Net, siapa dia? kenalin ke kita dong." Ucap seseorang karyawan laki-laki yang tiba-tiba mengagetkan Neti maupun Evana yang tengah berjalan beriringan.


"Apaan sih kalian, gak akan aku kenalin pada kalian. Sudah sana kembali ke tempat kerja kalian, nanti juga bakal kenal sendiri." Sahut Evana sambil memperlambat jalannya.


"Awas, kamu Net."


Bukannya menjawab, justru Neti menoleh ke belakang dan menjulurkan lidahnya sambil mengejek penuh ledekan.


"Ah, payah Lu mah. Punya teman cantik gak di kenalin." Ucap laki-laki tersebut.


"Kaya gak tahu aja sama si Neti, itu anak kan emang gitu. Apalagi dia temannya sekretaris Gevando, pasti di perkenalkan sama tuh sekretaris." Kata karyawan perempuan yang saat itu mendengar percakapan.


"Bilang aja kalau kamu itu cemburu, Van. Lihat Neti bawa teman yang sangat cantik. Makanya, buruan deketin Gevando. Gak bisa dapetin Bosnya, dapetin sekretarisnya." Ucap salah satu karyawan perempuan yang tiba-tiba ikut bicara dan sengaja membuat api cinta agar meledak.


"Ya sih, aku harus selidiki itu anak. Siapa dia sebenarnya, lebih kaya dariku, atau justru lebih miskin." Ucap Vanny sambil memperhatikan Evana yang tengah berjalan beriringan dengan Neti.


Sedangkan Neti dan Evana, keduanya masih menjadi pusat perhatian oleh karyawan lainnya. Tidak peduli jika harus menjadi pusat perhatian, keduanya terus berjalan menuju ruang sekretaris untuk mendaftarkan Evana menjadi karyawan baru.


"Net, kok semua karyawan banyak yang perhatiin kita, ya."


Tidak jauh dari ruang kerjanya, Neti dan Evana sudah berada di depan ruangan sekretaris.


"Net, aku takut. Kamu beneran serius gak nih, kalau aku gak bakalan di tolak kerja di sini."


"Kamu gimana sih, jangan gugup gitu kenapa. Lagi pula yang ngurus itu Gevando, jangan takut." Jawab Neti meyakinkan.


"Tetap aja gugup, soalnya sudah lama juga aku gak pernah menginjakkan kakiku ini di kantoran."


"Sudah, diam. Aku mau tekan belnya dulu, mau mastikan si Gevando beneran udah berangkat atau belum."


Baru aja tekan bel, pandangannya Neti tertuju pada sosok laki-laki yang tidak lain sekretaris Gevando. Yang statusnya tidak diketahui oleh semua karyawan, jika Gevando adalah anak dari pemilik perusahaan yang di pimpin oleh kakaknya sendiri.


Demi untuk tidak di kejar para wanita, Gevando dari kecil tidak pernah menunjukkan jati dirinya.

__ADS_1


"Itu dia orangnya baru datang." Ucap Neti sambil menunjuk pada Gevando yang tengah berjalan mendekati.


Senyum ramah telah ditunjukkan pada Evana dan Neti.


"Sudah datang juga kalian berdua, lama ya nunggunya. Maaf, tadi aku kena macet di jalan."


"Gak kok, kita berdua juga baru saja sampai. Oh ya, masih ada lowongan kerja untuk temanku ini, 'kan?"


"Masih, ayo kita masuk dulu, nanti aku jelaskan di dalam ruang kerjaku." Jawab Gevando mengajak keduanya masuk ke ruang kerjanya.


Saat berada di dalam ruang kerjanya, Gevando mempersilakan duduk kepada Evana dan Neti.


Saat ketiganya duduk saling berhadapan, Gevando mulai bicara.


"Begini, kebetulan juga kantor ini sedang membutuhkan sekretaris baru. Jadi, kalau teman kamu ini bisa jadi sekretaris, nanti aku usulkan sama kakak aku. Soalnya aku harus pindah tempat, dan aku tidak bisa berada di sini lagi." Ucap Gevando.


Tentu saja, Neti yang mendengarnya berubah menjadi terkejut.


"Kamu mau pindah tempat, kemana?" tanya Neti yang benar-benar penasaran.


"Ke anak cabang perusahaan, dan aku yang harus menggantikan ayahku. Jadi, dengan terpaksa aku harus meninggalkan kantor ini." Kata Gevando menjelaskan.


"Yah! gak seru dong, kalau kamu pindah. Terus, nasib aku sama Evana gimana? yah! jadi sepi jadinya kalau gak ada kamu."


"Tenang aja, nanti aku akan sering-sering main ke rumah kosan kamu. Lagi pula, aku satu kantor dengan pacar kamu, gimana sih. Jadi, kamu tidak perlu bingung, ok."


"Bukan gitu, kakak kamu galak banget. Apalagi kalau marah, satu kantor kek ada gempa."


Bukannya langsung menjawab, Gevando justru tertawa lepas mendengar keluhannya.


"Salah kamu sendiri, diajak satu kantor sama Raka tidak mau."


"Bukannya gak mau, tapi males aja satu kantor. Soalnya bakal dapat gosip dan aneh aneh deh pokoknya, jadi males aja akunya."


"Hem, gitu ya."

__ADS_1


"Ya lah, kamu kan tahu sendiri bagaimana Raka. Dia kalau udah cemburu tuh, bikin pusing tujuh keliling. Makanya, mendingan tidak satu kantor. Yang penting kita berdua sama saling pengertiannya, lagi pula ada kamu yang bisa bantu aku untuk memata-matai dia."


Bukannya mendengarkan ucapan dari Neti, Gevando sibuk memperhatikan Evana yang sedang memperhatikan sesuatu di sudut ruangan.


__ADS_2