
Setelah turun dari mobil, Evana tersenyum girang saat ditangannya ada beberapa lembaran kertas merah.
"Sering-sering aja menabrak aku, Bos. Dengan senang hati aku akan siap di tabrak sama Bos Rey, lumayan kan, ya. Setiap hari di tabrak, lima ratus ribu di kali satu bulan. Aih, gak usah kerja kalau gitu." Gumamnya sambil memandangi uang ratusan ribu di tangannya.
"Ah ya, aku kan, ada janji sama Mas Ardi." Sambungnya lagi, dan cepat-cepat membuka ponselnya.
Benar saja, rupanya ada pesan masuk. Saat itu juga, rupanya dirinya tengah dihubungi oleh lelaki yang masih berstatus suami.
"Gimana ya, aku tersesat. Aku lupa jalan pulangnya, jemput aku kenapa." Sahut Evana di seberang telpon.
"Baiklah, aku akan tunggu di perempatan lampu merah. Nanti aku kirimin foto lokasinya, agar kamu tidak kesulitan untuk menjemput aku." Jawab Evana beralasan, padahal begitu sayang jika harus mengeluarkan biaya ongkos.
Setelah panggilan terputus, Evana kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
"Maaf ya Mas Ardi, yang butuh kan, kamu. Jadi, aku ogah ngeluarin duit. Mau jemput aku, ya silakan. Gak mau, ya udah. Cukup bayar pengajuan perceraian, tapi tidak untuk pergi keluar hanya untuk bertemu dengan kamu. Rugi amat gue, ngeluarin duit buat bertemu dengan penjahat kela_min kek kamu, cih." Gerutunya sambil berjalan menuju lampu merah, tentunya untuk di ambil fotonya.
Setelah mengambil gambar di posisi lampu merah, Evana langsung mengirimkannya pada Ardi, suaminya sendiri.
"Berhasil." Ucapnya dengan lega.
Saat itu juga, rupanya ada kontak nomor ponsel yang masuk menghubungi dirinya.
"Neti, ah ya, aku sampai lupa sama dia." Gumamnya saat mendapatkan panggilan telpon dari Neti.
"Ya, Net, ada apa? maaf banget ya, aku tadi lagi dapat sial. Nanti kalau aku sudah sampai rumah kosan, bakal aku ceritain sama kamu. Saat ini, aku sedang menunggu Mas Ardi. Dia mengajakku untuk ketemuan, aku gak tahu apa maksudnya. Ya udah ya, nanti aku segera pulang. Pokoknya setelah pulang, aku bakal traktir kamu, aku dapat hoki barusan." Ucap Evana panjang lebar di seberang telpon.
Neti yang mendengarkannya, pun sudah pusing duluan.
Telpon pun segera dimatikan, Evana kembali memasukkan ponselnya kedalam tasnya.
Tidak menunggu lama, akhirnya datanglah mobil hitam menghampirinya.
"Cepetan masuk."
Evana langsung membusungkan badannya, melihat ada siapa di dalam mobil milik suaminya. Takut, ada pelakor tak bermerk, pikirnya.
"Tenang, gak ada siapa-siapa didalam mobil. Ayo, buruan masuk." Ajak Ardi pada Evana.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Evana langsung masuk ke mobil. Awalnya mau duduk di belakang, tetapi Ardi melarangnya.
"Duduklah di depan, aku bukan supir kamu." Ucap Ardi sambil membukakan pintu mobilnya.
Mau tidak mau, Evana dengan terpaksa masuk ke dalam mobil dan duduk di depan.
Setelah itu, Ardi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Entah ada angin apa, tiba-tiba Ardi meraih tangan Evana dan menggenggamnya. Dengan cepat kilat, Evana langsung menepis tangannya.
"Jangan sentuh aku, lepaskan." Ucap Evana yang merasa jijik saat Ardi menggenggam tangannya.
Ardi yang tidak ingin terjadi sesuatu dalam perjalanan, akhirnya melepaskan tangannya.
Selama perjalanan, tidak ada satupun yang bicara. Kedua-duanya sama diamnya.
Evana yang paham jalan kemana yang dituju oleh Ardi, langsung menoleh kanan kiri untuk memastikannya.
"Kamu mau membawaku kemana, Mas?" tanya Evana, Ardi segera menepikan mobilnya.
Dengan nekad, Ardi kembali meraih tangan Evana, perempuan yang sudah menemani hidupnya kisaran dua tahun lamanya.
Evana yang takut terbawa suasana, susah payah untuk melepaskan tangan milik Ardi.
"Va, aku mau meminta maaf sama kamu. Kalau aku menyesal sudah berselingkuh di belakang kamu, dan aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku sadar diri, rupanya Lely hanya memanfaatkan aku untuk menghancurkan rumah tangga kita."
"Terus ..."
"Aku mau meminta sama kamu untuk balikan, kita rujuk. Va, aku mengetahui semuanya, bahwa kamu itu sehat dan tidak ada kendala apapun, karena bukti itu palsu dan hanya rekayasa Lely. Kita balikan lagi ya, Va. Jujur, aku menyesali semuanya. Kamu tahu, Mama jatuh sakit, sekarang keadaannya kritis di rumah sakit, makanya aku mengajakmu bertemu." Ucap Ardi panjang lebar untuk meminta maaf dan mengajak istrinya untuk balikan.
"Mama sakit, kamu sedang tidak berbohong di depanku, 'kan?"
Ardi menggelengkan kepalanya.
"Benar, Mama sakit dengan keadaan kritis. Aku mohon, demi Mama kita balikan." Jawab Ardi penuh memohon.
"Aku tidak tahu, Mas. Kamu sendiri yang menginginkan untuk bercerai, dan sekarang kamu memintaku untuk kembali."
__ADS_1
Ardi langsung memeluknya erat.
"Va, aku benar-benar meminta maaf. Aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, Va." Kata Ardi sambil memeluk Evana.
"Lepaskan, aku harus menemui Mama. Aku ingin melihat kondisi Mama, antarkan aku sekarang juga."
"Va, kamu mau kan, melakukannya demi Mama?"
"Aku tidak tahu, otakku benar-benar tidak bisa untuk berpikir. Yang aku pikirkan sekarang, antar aku ke rumah sakit, cepat." Ucap Evana sambil melepaskan pelukan dari Ardi.
Ardi yang tidak berkuasa untuk menentukan kemauannya, memilih untuk mengalah dan nurut apa maunya Evana.
'Selama ini kamu mikirnya dimana, Mas. Setelah kamu di bohongi, kamu memintaku untuk balikan. Maaf, aku sudah terlalu sakit untuk diminta kembali lagi dalam pernikahan yang sudah kamu hancurkan sendiri atas kesetiaan ku selama ini.' Batin Evana sambil menatap lurus ke depan.
Ardi yang penuh penyesalan, berkali-kali menoleh pada Evana, perempuan yang pernah menemani hidupnya sudah dua tahun lamanya.
Tidak lama kemudian, Ardi telah sampai mengajak Evana ke rumah sakit. Tempat dimana ibunya Ardi tengah di rawat.
"Ayo kita turun." Ajak Ardi sambil melepas sabuk pengamannya, begitu juga dengan Evana.
Saat sudah turun dari mobil, Ardi mendekatinya. Kemudian, ia meraih tangannya.
"Gak perlu, aku bisa jalan sendiri tanpa harus kamu gandeng tanganku." Kata Evana sambil melepaskan tangan milik Ardi.
"Va, setidaknya kita menunjukkan kepada Mama, kalau kita baik-baik saja."
"Gak, aku gak bisa. Aku tidak mau membohongi Mama, lebih baik jujur." Kata Evana yang tidak mau mengikuti ajakan dari Ardi.
"Va,"
"Nggak, ya gak." Kata Evana pada pendiriannya.
"Baiklah, terserah kamu." Ucap Ardi dengan pasrah, dan segera masuk ke dalam rumah sakit bersama Evana.
Sambil berjalan iringan, Evana masih terasa sakit jika mengingat perbuatan suaminya yang begitu menyakitkan. Mau bagaimana lagi, dirinya tak bisa menghindar, lantaran ibu mertua yang tengah dirawat di rumah sakit.
Sambil berjalan beriringan, Evana tetap diam tanpa bersuara. Begitu juga dengan Ardi, sama diamnya.
__ADS_1