
"Kalau kamu butuh sesuatu, kamu hubungi aku saja. Aku selalu siap untuk membantumu, bahkan dari segi apapun." Ucap Ardi menawarkan diri.
Evana tersenyum mendengarnya.
"Terimakasih, sebisa mungkin untuk tidak meminta bantuan kepada siapapun. Maaf, aku tidak bisa mempersilakan kamu untuk mampir di rumah kosanku." Jawab Evana.
"Tidak apa-apa, lagian juga ini sudah malam. Lain waktu aku akan datang, selamat malam. Jaga diri kamu baik-baik, dan juga dijaga kesehatannya." Ucap Ardi berpamitan, tak lupa untuk mengingatkan Evana.
"Tentu saja, aku akan menjaga kesehatan aku dengan baik." Kata Evana, dan Ardi segera pulang dan meninggalkan Evana di rumah kosan.
Lambaian tangan mereka lakukan, tak terasa semakin jauh bayangan mobilnya.
"Kenapa baru sekarang kamu memberi perhatian padaku, selama ini kamu kemana aja, Mas? sampai-sampai rasaku seakan sudah mati ditelan bersama kebohongan yang sudah kamu berikan padaku." Gumamnya sambil melihat bayangan mobil menghilang jauh.
"Der! bengong aja, kamu."
"Apa-apaan sih, bikin jantungan aja kamu itu."
"Ye, aku cuma ingin bikin kamu kaget aja kok. Oh ya, siapa tadi yang mengantarkan kamu pula, Va? Ardi ya, apa jangan-jangan kamu sama Ardi mau balikan, ya?"
Evana segera menoleh pada Neti, dirinya menunjukkan senyumnya yang terasa getir itu.
"Hem. Nggak kok, tadi hanya ada kendala saja. Jadi, mau tidak mau, aku pulangnya diantar Mas Ardi. Ah, ngapain kamu membicarakan dia. Lebih baik kamu makan dulu. Nih, aku bawakan makanan untuk kamu."
"Makanan, siapa yang beli? dari Ardi ya?" tanya Neti sambil menerima kotak yang berisi satu porsi makan malam dan juga minumannya.
"Sudah lah, ayo kita masuk ke dalam rumah, kita lanjutkan lagi nanti obrolan kita."
"Ya deh, ya." Kata Evana.
__ADS_1
Kemudian, keduanya segera kembali masuk rumah. Sebelumnya, Neti celingukan dan memperhatikan disekelilingnya. Takut, jika ada orang yang mengikuti temannya saat pulang.
'Siapa tahu aja, ada orang suruhan buat ngikutin Evana.' Batinnya.
"Net, kamu ngapain celingukan gitu?"
"Tidak ada apa-apa, ayo kita masuk." Jawab Neti dan segera masuk ke dalam rumah kosannya, dan tak lupa untuk mengunci pintunya.
"Net, aku langsung ke kamar aja ya? aku capek banget, juga terasa pusing kepalaku." Ucap Evana ketika sudah berada di dalam rumah.
"Ya udah gak apa-apa, tapi kamu beneran sudah makan, 'kan? "
"Aku sudah makan, tadi sama Mas Ardi. Ya udah ya, aku masuk ke kamar duluan." Ucap Evana sambil menguap.
"Ya, gak apa-apa. Istirahat aja duluan, makasih ya, udah beliin aku makanan."
"Ya, Net." Jawab Evana sambil berjalan menuju kamarnya.
"Kasihan sekali Mas Ardi, harus menerima keputusan dariku. Maafkan aku, Mas. Jika keputusan yang aku pilih ini telah membuat kecewa, aku benar-benar tidak bisa kembali lagi seperti dulu. Rasa sakit hatiku mengalahkan percayaku terhadapmu, aku takut kamu akan mengulangi hal yang sama. Biarlah, keputusan yang aku ambil ini ku jadikan pelajaran ke depannya, untuk lebih hati-hati menjalani pernikahan." Gumamnya sambil menatap langit-langit kamarnya.
Rasa kantuk yang sudah tidak dapat untuk di tahan, Evana segera mengganti pakaiannya. Kemudian, setelah itu langsung istirahat.
Sedangkan di rumah lain, rupanya ada sosok Reyzan dan Gevando tengah duduk di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya.
"Kalian berdua kapan nikahnya? Mama sama Papa sudah tidak sabar ingin mempunyai cucu, apa ya, kalian ini mau terus melajang?" tanya sang ibu membuka suara.
"Kalau aku sih, asalkan sudah punya calon, pasti nikah kok, Ma." Jawab Gevando.
"Kalau kamu, Rey?" tanya sang ayah ikut bertanya.
__ADS_1
"Sabar kenapa, Pa. Tenang saja, kalau pacar aku sudah siap, pasti nikah juga akunya, Ma, Pa." Jawab Reyzan beralasan, setidaknya tidak banyak pertanyaan dari kedua orang tuanya.
"Kelamaan, palingan juga gak punya pacar. Sudah lah Ma, nikahkan aja Kak Rey sama Veria. Lagi pula, Mama dan Papa kan, niatnya mau jodohin." Kata Gevando ikut bicara.
"Gak, aku gak mau di jodohin sama Veria. Perempuan penuh misteri dia mah, ogah. Sabar dikit kenapa sih, Ma. Lagi pula aku masih muda, belum tua juga." Sahut Reyzan menolak.
"Kata siapa kamu masih muda, usia kamu aja udah tiga puluh lebih. Pokoknya Mama akan memberimu waktu dalam satu minggu ini. Kalau kamu tidak segera menikah, atau mengenalkan pacar kamu, Mama dan Papa akan melangsungkan pernikahan kamu dengan perempuan pilihan kita berdua." Ucap sang ibu sedikit memberi ancaman kepada putra sulungnya.
"Satu minggu, apa gak terlalu cepat? satu bulan kek, dua bulan kek, satu minggu, udah ngalahin tagihan dari rentenir aja ini Mama." Kata Reyzan.
"Sudahlah, lebih baik kalian berdua kembali ke kamar masing-masing. Ingat pesan dari Mama, kalau Reyzan gak dapatkan calonnya juga, Gevando yang akan menikah." Ucap sang ibu sambil menatap kedua putranya satu persatu.
Tidak ada pilihan untuk melanjutkan perdebatan bersama kedua orang tuanya, Rey dan Vando segera kembali ke kamarnya untuk istirahat.
"Ancaman macam apa itu, kasih waktu cuma satu minggu. Yang benar aja itu Mama sama Papa, kek gak bisa sabaran dikit. Cari pacar dimana? dikira cari pacar itu cari tukang ojek, cih! bikin pusing aja. Lagi pula ada Vando, ngapain gak dia aja." Gerutunya sambil terle_ntang di atas tempat tidurnya.
Karena belum merasa ngantuk, Rey terus berpikir untuk bisa keluar dari zona perjodohan.
Seketika, otak cemerlangnya langsung bekerja.
"Ah ya, kenapa aku baru ingat sama dia. Baiklah, aku akan atur strategi. Siapa juga yang gak mau duit gede, bila perlu aku tawari rumah. Sip dah, mulai besok aku akan mencoba bernegosiasi dengannya." Ucapnya dengan senyum mengembang.
Setelah mendapatkan ide yang menurutnya cemerlang, Rey segera mengganti baju tidur dan mencuci muka serta gosok gigi. Kemudian, baru merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur.
Di lain kamar, Gevando ikutan gelisah, lantaran dirinya yang juga belum mempunyai calon istri, tentu saja membuatnya terus berpikir untuk mencari cara agar dirinya bisa menunjukkan kepada kedua orang tuanya, yakni mempunyai kekasih yang akan dijadikan istrinya.
"Perempuan seperti apa yang akan aku nikahi? haruskah aku berpura-pura di hadapan Mama dan Papa? tidak, aku tidak akan melakukannya. Bila perlu saling mencintai, dan tidak terlihat sedang berpura-pura." Gumamnya sambil menikmati udara malam hari di balkon.
Sambil menghirup udara malam, tiba-tiba ingatannya tertuju pada seseorang yang sudah membuatnya naksir.
__ADS_1
"Evana, perempuan itu, ya Evana. Tapi, bukankah dia masih bersuami? sadar Vando, kamu harus sadar, jangan menjadi duri di dalam rumah tangga orang. Apalagi masih diterpa masalah, jangan kamu ikut masuk di dalamnya." Ucapnya lirih dan mengingatkan diri sendiri.