Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Ketahuan


__ADS_3

Beberapa minggu setelah mengurus perceraian, tidak terasa, Evana sudah menerima akta perceraian dirinya dengan Ardi.


Perjalanan rumah tangga yang sudah dua tahun lamanya menjalani bersama dalam ikatan pernikahan, harus gugur begitu saja.


Kenangan demi kenangan indahnya, kini berubah menjadi sebuah pembelajaran untuk keduanya.


Begitu juga dengan Ardi, sungguh, dirinya tak pernah menyangkal, jika dirinya dan Evana sudah resmi bercerai. Ajakan darinya untuk kembali rujuk, tertolak oleh mantan istrinya.


Menyesal, serasa tiada guna lagi dirinya untuk hidup dengan penuh penyesalannya.


"Selama aku masih mampu untuk mencintaimu, aku tak akan menyingkirkan foto kita berdua. Aku akan terus bertahan, aku yakin kalau kita akan kembali dipersatukan lagi dengan cinta kita." Ucapnya lirih sambil memandangi foto pernikahannya bersama Evana.


Sedangkan Evana yang tengah duduk ditepi ranjang sambil memegangi akta perceraiannya, seperti mimpi yang sulit untuk ia terima.


Bayang-bayang pernikahan yang akan segera dimulai dramanya, Evana sedikit ragu. Tak henti-hentinya untuk melihat akta perceraiannya, sungguh seperti mimpi buruk, pikirnya.


Neti yang kebetulan melihat Evana yang tengah melamun, ia segera mendekatinya.


"Sini, aku pingin lihat." Ucap Neti yang langsung menyambar sesuatu yang ada di tangan Evana.


Kemudian, Neti ikutan duduk di sebelahnya.


"Apakah kamu menyesalinya, Vac hzahju?" tanya Neti sambil menunjukkan akta cerai milik Evana kepada pemiliknya.


"Aku gak tahu, Net. Entahlah, terkadang aku benci, terkadang juga, aku menyesalinya. Mungkin saja, aku yang terlalu buru-buru dan tidak mikir panjang sebelum memutuskannya." Jawab Evana sambil menunduk, dan juga dengan penuh dilema.


"Sudah menjadi keputusan kamu dari awal, jalani seperti air mengalir. Aku yakin bahwa kamu mampu untuk menjalani kehidupan yang baru, meski tak ada lagi yang singgah di hatimu. Percayalah, suatu saat nanti, akan kamu temui lelaki yang akan menerimamu dengan setulus hati." Ucap Neti menyemangati.


"Makasih banyak ya, Net. Kamu selalu memberiku saran dan juga semangat, saat aku sedang kesulitan."


"Sudahlah, ayo kita sarapan, nanti kita terlambat."


Evana mengangguk dan segera keluar dari kamarnya, sekalian dengan tas kerjanya, juga akta perceraian untuk diberikan langsung kepada Bosnya, yakni untuk bukti bahwa dirinya sudah benar-benar resmi bercerai.

__ADS_1


'Aku menjalani kehidupan yang baru lagi, semoga aku segera bebas dari perjanjian yang telah disepakati.' Batin Evana penuh berharap akan bebas dari perjanjian yang sudah disepakati bersama Bosnya.


Saat menikmati sarapan pagi, Evana mengunyah dengan melamun. Antara hati dan otaknya, tak lagi selaras. Bukannya merasa terbebas karena tidak lagi harus berurusan dengan mantan suaminya, justru dirinya merasa semakin dilema.


'Evana, kamu harus sadar, lelaki seperti Ardi tak perlu kamu rindukan. Ingat Evana, ada misi yang harus selesaikan untuk menjadi sukses.' Batin Evana sambil mengunyah makanannya, sampai tidak terasa sudah menghabiskan nasi goreng satu piring.


Setelah sadar jika dirinya sudah menghabiskan sarapannya, Evana kembali ke kamar untuk ke kamar mengecek kembali, takutnya masih ada yang tertinggal.


Dirasa sudah tidak ada yang perlu dibawa, Evana dan Neti segera bergegas untuk berangkat ke kantor.


Perjalanan yang tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya sampai juga di depan kantor.


Dengan langkah kakinya yang terburu-buru, Evana setengah berlari agar tidak keduluan Bosnya.


"Semoga saja si Bos belum berangkat." Gumamnya sambil mempercepat jalan kakinya.


Sampainya di depan pintu, Evana mengatur pernapasannya. Berharap, dirinya tidak keduluan Bosnya.


Dengan hati-hati, Evana membuka pintunya. Naas, si Bos sudah berdiri tegak di depannya saat baru saja pintunya terbuka.


"Cepat masuk, segera kerjakan pekerjaanmu. Bagaimana dengan aktanya? apa sudah dikirim ke alamat rumah kosan kamu?"


"Sudah Bos, bentar." Jawab Evana yang langsung merogoh tas bawaannya.


"Berikan padaku." Pinta Bosnya.


"Ini, Bos." Jawab Evana sambil menyerahkan akta perceraiannya dengan Ardi.


"Ya udah, kembali ke tempat kerjamu." Perintah Rey, dan ia juga kembali duduk di tempat semula.


Sedangkan di luaran sana, Ardi tengah bersiap-siap untuk pergi dari rumah. Entah kemana tujuannya, ingin mencari suasana yang baru, pikirnya.


"Kamu serius, mau pergi dari rumah ini?" tanya si abang Yuda pada adiknya.

__ADS_1


"Untuk apa aku bertahan di rumah ini, Kak. Hidupku sudah hancur, dan semuanya tidak bisa untuk di perbaiki lagi." Jawab Ardi penuh penyesalan.


"Kakak gak bisa berbuat apa-apa, karena kamu yang menjalaninya. Kakak hanya bisa memberimu doa, semoga di luaran sana, kamu segera temukan bahagia. Ingat, sesulit apapun keadaan kamu, mencobalah untuk bertahan, sekalipun banyak orang yang akan menghujat dirimu." Ucap sang kakak tak lupa memberi nasehat kecil untuk adiknya.


"Akan aku ingat pesan darimu, Kak. Cukup sudah hancurnya rumah tanggaku karena wanita, dan selanjutnya aku tidak akan mengulanginya lagi." Kata Ardi, sang kakak menepuk pundaknya, tanda memberi semangat untuk adiknya.


"Kakak yakin, kamu pasti bisa." Ucap sang kakak.


"Semoga saja, Kak. Oh ya, sebelumnya aku mau ucapkan banyak terimakasih sama Kakak, yakni atas bantuan dari Kakak, karena Lely akhirnya masuk dalam penjara atas perbuatannya."


"Sudah menjadi kewajiban Kakak untuk membantumu, agar tidak mudah untuk dikelabui oleh perempuan. Ya udah, hati-hati di jalan. Jaga diri kamu dengan baik, jaga kesehatannya juga."


"Ya, Kak. Kalau gitu, aku pamit." Ucap Ardi sekaligus berpamitan.


Setelah berpamitan untuk pergi, Ardi bergegas untuk berangkat entah kemana perginya.


Sedangkan Evana, masih berkutat di depan layar komputernya. Cukup lama mengerjakan tugasnya, ternyata sudah waktunya untuk istirahat.


"Akhirnya sudah jam istirahat." Gumamnya saat melihat waktu di ponselnya.


Karena bukan lagi waktunya untuk bekerja, Evana membuka layar ponselnya. Berharap, akan ada pesan masuk ke nomornya.


Benar saja, Evana dibuatnya kaget saat ada pesan masuk ke nomor ponselnya.


"Mas Ardi." Gumamnya sangat lirih.


Karena penasaran, Evana membukanya.


'Evana, apa kabarmu? semoga baik-baik saja, dan juga dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun. Aku tahu, sekarang ini aku bukan lah siapa-siapa kamu lagi. Tapi, hadirnya pesanku ini, aku mau meminta maaf, jika sudah menorehkan luka padamu. Aku yang menyesal, dan mungkin tak akan bisa bersatu lagi denganmu, aku pamit, aku harus pergi jauh. Jaga diri kamu baik-baik, semoga disegerakan kebahagiaan untukmu. Ardi, yang masih mencintaimu.'


Ucap Evana saat membacanya dalam hati.


'Kamu bilang masih mencintaiku, tapi kenapa kamu berselingkuh, Mas? kamu benar-benar jahat.' Batin Evana dengan penuh kekesalannya.

__ADS_1


Rey yang juga mendapatkan pesan yang sama, sekilas mengarahkan pandangannya pada Evana yang terlihat tengah tertunduk sedih. Terlihat jelas, jika Evana masih mencintai mantan suaminya, pikir Rey yang diam-diam telah menyadap nomor Evana tanpa sepengetahuan pemiliknya.


__ADS_2