Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Mencoba untuk bertahan


__ADS_3

Selesai di make-up dan juga sudah mengganti pakaiannya, Evana menatap wajahnya di depan cermin. Sungguh, seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Sempurna, Nona sangat cantik." Ucap seseorang yang baru saja merias wajahnya.


Evana hanya tersenyum tipis mendengarnya.


'Mau sempurna apapun, tetap saja, pernikahan ini hanya sebuah drama semata.' Batin Evana saat melihat penampilannya sendiri.


Karena waktu akan segera dimulai untuk pengucapan kalimat sakral, Evana ditemani Neti sampai di tempat yang sudah disiapkan.


Saat keluar dari ruangan yang baru saja digunakan untuk merias wajahnya dan juga merubah penampilannya, Evana tercengang saat melihat banyak orang yang sudah pada datang.


"Ayo Va, maju sedikit. Duduklah di sebelah calon suami kamu, jangan takut." Bisik Neti didekat telinganya.


Evana mengangguk pelan, dan maju beberapa langkah. Kemudian, sampainya didekat calon suaminya, Evana duduk di sebelahnya.


Karena tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, acaranya pun segera dimulai. Awalnya sedikit ragu untuk menjalani drama yang dibuat oleh Bosnya, tetapi tidak ada pilihan lain selain mengikuti apa yang diperintahkan oleh Bosnya sendiri.


Acara pengucapan kalimat sakral, pun akan segera dimulai. Rey yang sudah siap untuk menikahi perempuan yang statusnya seorang janda, yakni sekretarisnya sendiri, dengan fokus dan yakin akan pernikahannya sendiri.


Kalimat demi kalimat, akhirnya lolos begitu saja saat pengucapan kalimat sakral. Sah, akhirnya Evana dan Rey telah menjadi suami istri yang sah, menurut hukum maupun agamanya.


Senyum bahagia akhirnya terlihat jelas pada kedua sudut bibir milik kedua orang tua mempelai pengantin laki-laki.


Satu persatu telah memberi ucapan selamat ketika acara acaranya selesai. Setelah itu, semua para tamu undangan menikmati hidangan yang sudah siap saji untuk makan-makan bersama yang lain.


Tetapi tidak untuk Veria dan Gevando, rupanya diantara keduanya sama-sama tengah patah hati. Seseorang yang ditaksirnya, ternyata jodoh tidak memihak kepada mereka berdua.


Sakit hati, kecewa, itu sudah pasti tengah dirasakan oleh Veria maupun Gevando. Dengan terpaksa, keduanya memberi ucapan selamat untuk kedua mempelai pengantin wanita maupun laki-laki, termasuk Neti dan juga Aiwa yang tak lupa untuk memberi ucapan selamat kepada Bosnya dan juga teman dekatnya, maupun orang terdekat Aiwa.

__ADS_1


Acaranya, pun berlangsung hingga sampai akhir acara. Semua menikmati kebersamaan yang jarang sekali dilakukan.


Cukup lama resepsi pernikahan di dalam gedung tersebut, rupanya sudah menandakan waktunya untuk pulang.


Evana yang merasa kecapekan, sudah tidak sabar untuk beristirahat. Begitu juga dengan Reyzan sendiri yang sudah ingin sekali pergi dari acara pernikahannya sendiri.


Karena lelah, Evana maupun suami sama-sama menguap karena rasa kantuk yang begitu sulit untuk ditahan. Semampunya, keduanya sama-sama menahan rasa kantuknya.


Sesuai jadwal, acara resepsi pernikahan, pun telah usai setelah ditutup kalimat perpisahan.


Evana yang merasa risih dengan penampilannya, cepat-cepat untuk mengganti pakaiannya.


"Va, aku mau pamit pulang, jaga diri kamu baik-baik ya. Sampai bertemu lagi dilain kesempatan, sampai jumpa." Ucap Neti yang langsung berpamitan sebelum Evana pulang lebih dulu.


Evana yang mendengar Neti berpamitan, seakan harus dipaksa untuk berpisah. Saat itu pula, Evana langsung memeluk Neti dengan tenaganya yang cukup erat.


Neti tersenyum mendengarnya.


"Bos, saya titipkan teman saya ini ya. Jangan disakiti, dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain Bos Rey." Ucap Neti tanpa canggung dihadapan Bosnya sendiri.


Rey mengangguk.


"Tenang saja, aku bertanggung jawab atas teman kamu." Jawab Reyzan meyakinkan.


Setelah itu, Neti segera berpamitan untuk pulang. Begitu juga dengan Evana maupun suami yang juga bergegas untuk bersiap-siap.


Sedangkan di tempat lain, ternyata ada Ardi yang sedang menyaksikan langsung acara live di chanel televisi tentang pernikahan Evana, mantan istrinya.


"Secepat itukah kamu menikah, Va. Sepertinya aku kurang yakin, terlihat jelas bahwa ada rasa terpaksa dalam pernikahan kamu itu. Tapi, aku sudah tidak mempunyai hak lagi atas diri kamu. Aku hanya bisa berdoa untukmu, semoga kamu bahagia bersama pernikahanmu." Ucapnya lirih dengan perasaan sedihnya.

__ADS_1


"Hei Bro, kamu kenapa? nonton acara live itu? memangnya kamu kenal, sama mereka? atau ... jangan-jangan kamu merindukan mantan istrimu ya? ngaku aja."


"Sok tahu kamu, aku cuma terharu aja. Padahal perempuan itu hanya orang sederhana, tapi diterima oleh keluarga suaminya."


"Hem. Gak percaya akunya Bro, semua itu modus. Kita tinggal lihat saja, mau sampai dimana rumah tangga mereka? palingan umur jagung lebih lama dari pada umur pernikahan mereka orang kaya itu."


"Hus! gak baik bicara seperti itu, Bro. Kita ikut mendoakan, semoga tanggapan orang awam seperti kita ini, gak seperti yang kamu ucapkan tadi." Kata Ardi.


"Heleh! tetap aja, aku gak jamin, Bro. Orang yang sama kek kita ini aja, gak bisa nebak. Noh kamu sendiri kenapa jadi duda, apa lagi yang banyak uang, mungkin hanya mau menaikan pamornya aja. Sudahlah, ngapain bahas orang lain, mendingan kita fokus sesuai rencana kita di kampung sini, memberi lapangan pekerjaan untuk mereka. Kalau kita sukses, ntar juga kek orang kaya itu, banyak perempuan yang ngantri. Untuk soal masa lalu, dijadikan pelajaran." Ucapnya sedikit memberi masukan dan nasehat untuk Ardi.


"Benar juga kata kamu, masa lalu untuk dijadikan pelajaran." Kata Ardi, dan memulai pekerjaannya.


'Aku akan tetap menunggu kamu, Va. Sampai aku ini benar-benar lelah dan menyerah. Meski kamu sudah menjadi miliknya orang lain, tidak ada salahnya jika aku menunggumu. Aku siap walaupun akhirnya kamu bahagia bersama lelaki yang menjadi suami kamu yang sekarang, aku akan tetap mencintaimu dari jauh sini.' Batinnya penuh harap, meski tidak akan sesuai yang diharapkannya.


Karena tidak ingin pekerjaannya terbengkalai, Ardi dengan giat, melakukan pekerjaannya bersama teman dan yang lainnya.


Dilain tempat, Evana tengah dalam perjalanan menuju rumah utama milik suaminya.


"Untuk sementara ini, kita tinggal bersama kedua orang tuaku. Tidak apa-apa, 'kan? secepatnya, aku akan mengajakmu pindah rumah." Ucap Ardi sambil duduk bersandar, sedangkan Evana hanya bisa nurut, karena dirinya sadar diri akan siapa statusnya yang sekarang, hanya istri sandiwara, pikirnya.


Sambil bersandar di jendela kaca, Evana melihat jalanan dengan melamun. Sampai-sampai dirinya tidak menyadari jika sudah sampai di depan rumah.


"Kita sudah sampai, ayo turun." Ucap Rey membuyarkan lamunan istrinya.


Evana yang dikagetkan, langsung menoleh.


"Sudah sampai ya, Bos."


"Masih tanya lagi, sudah cepetan turun. Satu lagi, jangan panggil aku, Bos. Tetapi panggil yang bisa membuat orang lain lebih percaya lagi dengan hubungan kita." Kata Rey yang tiba-tiba teringat jika statusnya sudah menikah dengan pilihannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2