Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Mendapat nasehat kecil


__ADS_3

Di rumah sakit, Reyzan masih berbaring lemah, juga belum sadarkan diri dari komanya.


Kedua orang tuanya begitu menyayanginya, juga tidak pernah pulang ke rumah walau hanya sekedar beristirahat sejenak, dan memilih untuk tinggal di rumah sakit menemani putranya.


Gevando yang sudah di kantor, dirinya tengah memikirkan kemana perginya kakak ipar. Tetap saja, sama sekali tidak menemukan kabar mengenai kakak iparnya.


Saat itu juga, terdengar suara bel pintu. Gevando langsung menekannya. Pintu pun terbuka dengan sendirinya, juga orangnya segera masuk ke dalam.


"Veria, kamu, ada perlu apa kamu kemari?" tanya Gevando yang tidak menyangka jika yang masuk ke ruang kerja kakaknya si Veria.


"Itu, aku cuma mau tanya aja, gimana kabarnya Reyzan?"


"Masih sama, belum sadarkan diri dari komanya. Kenapa memangnya?"


"Gak kenapa-napa, Van. Aku boleh jenguk Reyzan di rumah sakit, 'kan?"


"Boleh, kenapa? bukannya kamu dekat sama orang tuaku, kenapa mesti minta izin padaku."


Veria justru tersenyum tipis mendengarnya.


"Ya, takut aja. Nanti berangkat ke rumah sakitnya bareng kamu ya, Van. Sekalian, satu arah."


"Maaf, aku gak bisa. Soalnya pulang nanti, aku masih banyak urusan. Kamu datang aja sendiri, atau gak, bareng sama orang tua kamu." Kata Gevando menolak, lantaran ada sesuatu yang lebih penting untuk ia lakukan, selain menemani Veria ke rumah sakit, pikirnya.


Veria yang mendapat penolakan dari Gevando, rasanya begitu geram, dan juga kesal. Tidak mau terlihat seperti orang pengemis, Veria pamit pergi.


Sedangkan di kampung halaman, Evana tengah membantu Nenek Muna yang sedang memanen ubi jalar.


"Nek, nanti ubinya di jual, ya?" tanya Evana disela-sela memasukkan ubinya kedalam karung.


"Ya, Nak. Nanti uangnya bisa buat beli lauk untuk makan, lumayan dan tidak menguras kantong." Jawab Nenek Muna sambil mengambil ubi jalar yang tertutup tanah.

__ADS_1


"Ternyata lebih enakan tinggal di kampung ya, Nek. Udara masih seger, makanan dari olahan yang masih baru, pasti sangat enak masakannya." Kata Evana yang kini mulai bisa tersenyum, meski terasa berat.


Tetap saja, dirinya tidak dapat dipungkiri, jika hatinya tengah bersedih dan juga memikirkan keadaan suaminya.


Selesai memanen ubi, Nenek Muna mengajak Evana masuk ke rumah. Kemudian, si Nenek sama Evana mencuci tangan dan juga kakinya.


"Nek, ini ubinya mau dijual ke mana?" tanya Evana sambil merapikan pakaiannya.


"Nanti kita jual di pangkalan sana, khusus penjual ubi dan sejenisnya, singkong, maupun yang lainnya. Sekarang kita istirahat dulu, setelah itu kita berangkat untuk jual ubinya."


"Ya, Nek. Evana mah, nurut aja sama Nenek. Oh ya Nek, nanti beneran main ke rumah Nani kan, Nek?"


"Ya, tenang aja, nanti setelah jual ubi, Nenek temani kamu main ke rumah Nani, teman kamu." Jawab si Nenek sambil membuat teh manis untuk Evana dan juga Nenek sendiri.


"Andai dulu Evana tidak tinggal di kota ya, Nek. Pasti kehidupannya Evana akan jauh lebih tenang, dan gak seperti ini." Ucap Evana yang merasa menyesal dengan pilihan hidupnya dulu, hidup di kota yang disangkakannya akan jauh lebih bahagia, pikirnya.


"Namanya juga pilihan, mana kita tahu. Kalaupun Nenek tahu akan nasibmu, tak 'kan Nenek izinkan pergi ke kota. Justru, Nenek akan jodohkan kamu sama Radit. Sudah tampan, dia juga pekerja keras. Meski Radit anaknya orang kaya di desa ini, tapi gak pernah gengsi untuk menjadi tukang ojek." Kata si Nenek, sedangkan Evana hanya tersenyum.


Lagi-lagi Evana teringat akan kenangan masa lalunya di waktu kecilnya, berteman dekat dengan Radit.


"Kok senyum gitu, Jangan-jangan kamu dari dulu sudah naksir sama Radit ya? tapi gak kesampaian." Ledek Nenek Muna untuk mengubah suasana yang tadinya tegang, kini berubah tidak lagi tegang.


"Nenek, tau aja. Gak ah, Evana gak pernah naksir sama Radit. Lagi pula ya Nek, Radit dekat sama Eva itu, ya karena teman aja. Lagi pula derajat kita berdua sangat jauh, bagai langit dan bumi." Ucap Evana.


"Langit dan bumi, itu kan, kata kamu. Asal Nak Evana tahu nih ya, Radit itu suka sama kamu. Tidak hanya itu saja, itu anak juga masih berharap bahwa kamu akan kembali ke kampung ini." Kata si Nenek.


"Udah deh Nek, jangan bikin kompor. Nanti bisa meledak, Evana kan, takut. Lagian juga, Evana sudah bersuami, juga sudah gagal dalam pernikahan. Bahkan, bisa dikatakan sudah kotor." Ucap Evana yang sadar diri akan statusnya.


"Gak baik bicara seperti itu, mendingan diminum dulu tehnya. Setelah ini, kita berangkat untuk jual ubi." Kata si Nenek.


"Ya, Nek. Makasih banyak ya Nek, sudah buatkan teh manis buat Evana."

__ADS_1


Nenek Muna tersenyum, juga dibarengi dengan anggukan.


Setelah minumannya tandas, Nenek Muna mengajak Evana pergi ke tempat tujuan. Ketika sudah dijual, Nenek Muna menerima bayaran dari hasil panenannya.


"Jadi nih, mau ke rumah Nani?" tanya Nenek Muna memastikannya.


"Ya, Nek. Soalnya temannya Evana cuma Nani doang yang paling deket, semoga saja masih baik dan juga mau menerima Evana dengan segala kekurangannya." Jawab Evana.


"Ya sudah, ayo kita berangkat. Gak apa-apa kan, jalan kaki." Ucap si Nenek sambil menuntun sepedanya, Evana mengangguk dan tersenyum.


Tidak begitu jauh jaraknya rumah Evana dengan pangkalan penjual ubi, akhirnya sampai juga di depan rumah milik Nani.


Homan yang selaku kepala keluarga, segera membuka pintunya saat terdengar suara ketukan pintu.


Belum belum Evana tersenyum sebagai tanda sapaannya. Sedangkan Homan, justru benar-benar sangat terkejut saat melihat siapa orangnya yang ada di hadapannya itu.


"Ev--Eva-na!"


Dengan terbata-bata, Homan menyebut nama Evana dengan gerogi, takutnya hanya sebuah mimpi semata, pikirnya.


"Benar, aku Evana. Kamu bukannya Homan, kan, ya?"


Jawab Evana dan balik bertanya kepada Homan.


"Wah, rupanya kamu, tamu dari kota. Ngomong-ngomong, bagaimana kabarnya?kamu seriusan balik kampung atau hanya liburan saja, Va?"


"Mungkin menetap, tapi gak tahu juga." Jawab Evana.


"Man, kamu tega apa. Masa membiarkan Nenek di depan pintu, gak diizinkan masuk nih."


Homan yang tersadar jika dirinya masih membiarkan Nenek dan Evana yang tengah berdiri di depan pintu, segera mempersilakannya untuk masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Saat itu juga, rupanya istri si pemilik rumah telah keluar dari kamarnya, dan segera menemui tamu suaminya, pikir istrinya Homan.


Namun, tiba-tiba dikagetkan dengan sosok yang tidak asing baginya.


__ADS_2