Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Sama-sama terkejut


__ADS_3

Saat membuka pintunya, Evana tengah berdiri sambil melihat sesuatu ke sembarangan arah.


"Va, ayo masuk." Ajak Gevando sambil menepuk punggungnya.


Terkesiap, Evana langsung menoleh pada Gevando.


"Yakin?" tanya Evana sedikit gugup.


Gevando menganggukkan.


"Ya lah, ngapain aku bohongi kamu. Ayo cepetan masuk, sebelum si Bos jutek itu marah." Jawab Gevando menakut-nakuti.


"Kan, kamu udah nakutin duluan. Gak ah, aku pulang aja kalau gitu." Kata Evana merasa takut, jika si Bos yang ia bayangkan tak seperti yang diharapkan, yakni cukup baik saja dan tidak suka marah-marah, pikirnya.


Gevando justru tertawa kecil mendengar dan melihat ekspresi Evana yang cukup membuatnya gemas.


Tak ingin membuatnya sang kakak menunggu lama, Gevando langsung menarik tangan milik Evana untuk mengajaknya masuk kedalam ruang kerja seorang Bos.


Saat itu juga, Evana sama sekali tidak melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan milik calon Bosnya. Pandangannya tertuju pada tangan Gevando yang tengah memegangi tangan kanan miliknya.


"Maaf, aku tidak sengaja." Kata Gevando meminta maaf.


"Tidak apa-apa, maaf." Jawab Evana dengan senyumnya yang merasa malu.


"Jangan takut, tadi aku cuma bercanda." Ucap Gevando dengan senyuman, agar Evana tidak semakin tegang.


Evana tak menyahut, hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, Gevando masuk ke dalam dan diikuti oleh Evana. Kemudian, Evana sendiri memilih untuk bersembunyi dibalik punggung Gevando karena rasa takutnya jika Bosnya nanti adalah seorang yang galak, pikirnya.


Saat sudah berada di dalam ruang kerja milik Bos Reyzan, Evana masih tetap berdiri dibalik punggung milik Gevando.


Evana yang benar-benar merasa takut, hanya menundukkan pandangannya dan sana sekali tidak berani mendongakkan pandangannya.


"Mana orangnya, Van?" tanya sang kakak sambil menyimpan rasa penasaran.

__ADS_1


"Bentar." Jawab Gevando dan membalikkan badannya.


"Va, ayo tunjukkin jati diri kamu, dan memperkenalkan diri di hadapan kakakku. Jangan takut, aku akan temani kamu sampai diterimanya menjadi sekretaris kakakku." Ucap Gevando sambil membelakangi sang kakak yang tengah duduk di kursi kerjanya.


Evana mengangguk, pertanda menyetujui. Kemudian, Evana memberanikan diri untuk berhadapan dengan calon Bosnya.


Seketika, Evana sangat terkejut melihat siapa orangnya yang tengah duduk di hadapannya. Sungguh, ingatannya langsung muncul begitu saja di memori ingatan yang sempat dilupakan.


Begitu juga dengan Reyzan, sama halnya seperti Evana yang juga sama-sama kagetnya.


"Kak-kamu!" ucap keduanya secara bersamaan dan juga sangat terkejut saat telah sadar dengan ingatannya.


Gevando yang melihat serta mendengarnya langsung, pun benar-benar dibuatnya kaget.


"Tunggu tunggu tunggu, kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Gevando memastikan, seperti tidak percaya dengan apa yang ia ketahui saat ini.


Reyzan sebagai kakaknya, menggelengkan kepalanya karena memang tidak kenal dengan Evana. Hanya kebetulan saja, jika. Evana dan Reyzan dipertemukan di lain tempat.


"Aku sama sekali tidak mengenalinya, dan juga memang benar tidak mengetahui siapa namanya, serta statusnya." Sahut Reyzan dengan santai.


"Kau!"


"Apa! perusuh dan bikin onar, ya 'kan?"


Saat itu juga, Reyzan langsung bangkit dari posisi duduknya. Sedangkan Evana masih berdiri di sebelah Gevando sambil memegangi ujung lengan kemeja miliknya Gevando.


"Hei, enak saja mengatai diriku perusuh da bikin onar. Kalau bukan karena aku yang menyelamatkan kamu dari kejaran lelaki itu, sudah dapat dipastikan kamu menjadi tahanan itu orang." Kata Reyzan yang tak mau kalah untuk berdebat, Evana segera berpindah di belakang Gevando.


Gevando yang menyaksikan sendiri, pun bingung dibuatnya. Awalnya ditanya tak mengenalinya, baru beberapa detik saja sudah berdebat.


"Hentikan dulu, hentikan perdebatan diantara kalian berdua. Ingat, ini kantor. Kita ada tujuan lain selain berdebat. Kata kalian berdua tidak saling kenal, lantas kenapa kalian berdus seperti tommy and jerry? apakah kalian berdua ini awaknya dahulu kala sepasang kekasih? atau ada sesuatu yang lain?"


"Intinya kita berdua gak kenal, titik." Kata Reyzan, dan mengarahkan pandangannya ke arah Evana.


"Sudah, cukup. Aku tidak mau ikut campur dengan urusan kalian berdua. Yang akan kita bahas ini mengenai kerjaan, bukan untuk berdebat. Jadi, perkenalkan, perempuan yang ada didekatku ini, namanya Evana yang mendaftarkan diri untuk bekerja di kantor ini. Terus, keputusannya bagaimana? apakah akan di terima menjadi sekretaris kakak?"

__ADS_1


Evana yang ingin rasanya mengundurkan diri, tapi dirinya sangat membutuhkan pekerjaan.


'Diterima atau enggaknya, urusan belakang. Lagi pula, yang ada hanya akan selalu berdebat dengannya.' Batin Evana.


Reyzan sebagai Bos di kantor orang tuanya, mencoba untuk menimbang kembali dengan keputusan yang akan dia ambil.


'Boleh juga dia ku jadikan sekretaris baru, setidaknya aku ada permainan baru untuk menjadi penghibur di kantor ini. Cantik sih, tapi tidak tahu untuk soal kepintarannya. Yang terpenting, aku dapat mengerjai dirinya dengan sepuasnya.' Batin Reyzan sambil membayangkan sesuatu hal konyol yang entah seperti apa.


"Kak, bagaimana keputusannya, mau diterima atau gak?" tanya Gevando yang tidak sabar ingin mendengar keputusan dari sang kakak.


"Ya, aku menerimanya untuk menjadi sekretaris. Ruang kerja untuknya akan satu ruangan bersamaku, mulai detik ini juga."


"Apa? satu ruangan?"


"Ya lah, gak mau? daftar kerjanya di kantor lain saja. Silakan keluar kalau kamu tidak ingin serius dalam bekerja. Kantor ini tidak ada syarat apapun untuk menuruti kemauan karyawan." Jawab Reyzan dengan santai.


"Sudah terima saja, Va. Nanti kalau kamu tidak betah bekerja di kantor ini, kamu bisa pindah kantor." Ucap Gevando memberi saran kepada Evana.


Karena memang tidak punya pilihan lain dan dirinya sangat membutuhkan pekerjaan, apapun resikonya, tetap diterima.


"Ya, aku terima." Jawab Evana yang akhirnya menyetujui permintaan dari Bosnya.


"Baguslah kalau gitu, kamu harus patuhi ketentuan di kantor ini." Kata Reyzan, sedangkan Evana mengangguk.


"Kalau gitu, aku pamit untuk keluar. Hari ini juga, aku akan membereskan ruang kerjaku untuk memindahkan beberapa berkas maupun hal penting lainnya aku pindahkan ke ruangan ini." Ucap Gevando.


"Dan kamu, bantu dia membereskan ruangan kerjanya." Perintah Reyzan pada sekretaris barunya.


"Ya, Bos." Jawab Evana dan segera membantu Gevando untuk membereskan ruang kerjanya.


Saat keduanya tengah membereskan ruang kerja, Gevando merasa tidak tega jika Evana menjadi sekretaris kakaknya.


"Kamu tidak perlu takut dengan kakakku, dia galak ada sebabnya. Jadi, buat santai aja. Orangnya memang begitu, aslinya baik. Terlihat keras dan menakutkan, itu sudah melekat pada dirinya." Ucap Gevando mencoba untuk meyakinkan Evana, agar dapat bertahan menjadi sekretaris kakaknya untuk sementara waktu.


Gevando sudah mempunyai pilihan, yakni untuk memindahkan Evana ke tempat kerjanya nanti. Tentu saja, menjadikan Evana sebagai sekretarisnya.

__ADS_1


__ADS_2