Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Harus berjaga-jaga


__ADS_3

Dua kakak beradik tengah memikirkan permintaan kedua orang tuanya, yang juga tak lupa untuk memberi ancaman.


Rasa kantuk yang lambat laun mulai mengganggu konsentrasinya untuk berpikir, akhirnya tidur juga dengan pulas.


Sama halnya dengan Neti dan juga Evana, keduanya sama-sama tengah tidur dengan nyenyak di kamar masing-masing.


Lain lagi dengan Ardi, justru dirinya tak dapat untuk memejamkan kedua matanya, lantaran merindukan istrinya.


Baru beberapa hari tak lagi satu rumah, ingatannya kembali dengan kenangan yang ditinggalkan oleh pemiliknya.


Sedangkan ibunya, terbangun dari tidurnya. Kemudian, ibunya Ardi memeriksa di dekatnya. Saat itu juga, tengah melihat putranya yang tengah duduk di sofa sambil melamun. Terlihat jelas jika putranya belum juga tidur.


"Ardi, kenapa kamu belum tidur?" tanya ibunya saat mendapati anak laki-lakinya yang masih terjaga kesadarannya.


Ardi yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh ke arah ibunya.


"Mama, ada apa?" tanya Ardi langsung mendekati ibunya.


"Kenapa kamu belum tidur, Nakr?" tanya sang ibu lagi.


"Gak apa-apa, Ma. Aku hanya belum bisa tidur aja, belum ngantuk." Jawab Ardi beralasan.


"Jangan bohongi Mama, kamu sedang memikirkan Evana, 'kan?"


"Gak, Ma. Aku cuma lagi gak bisa tidur aja, mungkin karena kebanyakan minum kopi. Mama kenapa bangun, mau minum?"


"Mama tahu, yang kamu hadapi ini sangat berat. Kamu harus terima konsekuensinya, karena masalah yang buat kamu sendiri. Jadi, kamu harus bisa bertanggung jawab dengan kesalahan yang sudah kamu perbuat. Percayalah sama Mama, kalau jodoh itu gak akan kemana." Kata sang ibu memberi nasehat kecil kepada putranya.


"Ya, Ma. Aku tau diri, karena ini semua murni kesalahanku sendiri. Mungkin ini teguran untukku, agar lebih berhati-hati dalam berumah tangga." Jawab Ardi sambil menunduk.


"Lebih baik sekarang kamu fokus dengan pekerjaanmu, setelah kamu sudah mantap untuk menentukan pilihan tentang hidupmu, kamu sudah mendapatkan pelajaran dan sebisa mungkin untuk berhati-hati dalam menjalani hubungan." Ucap ibunya menasehati.


"Ya, Ma. Aku akan fokus dengan pekerjaanku, soal kembali dengan Evana, itu hanya sebuah harapan. Oh ya, Mama mau ke kamar mandi, atau yang lainnya?"


"Mama cuma mau minum, itu saja. Soal Evana, kamu pasrahkan saja dengan takdir." Kata ibunya, Ardi segera mengambilkan air minum.

__ADS_1


Setelah itu, Ardi maupun ibunya segera tidur.


Di lain tempat, Evana yang terbangun karena merasa gerah, ia mengambil air minum. Dilihatnya jam yang sudah lewat tengah malam, dirinya kembali teringat dengan lelaki yang selalu menemaninya tidur.


Tiba-tiba, rasa sakitnya begitu kerasa sampai ke ulu hatinya.


"Kamu harus bisa melupakan kesedihanmu, Va. Ingat, masa depan kamu masih bisa untuk kamu kejar kembali, bersemangat lah." Ucapnya lirih setelah minum satu gelas air putih.


Kemudian, ia membuang napasnya dengan kasar. Seketika Evana teringat dengan uang lembaran ratusan.


"Untung saja, kemarin aku dapat hoki dari Bos Rey. Lumayan lah untuk stok makan, biar aku gak nambahin bebannya Neti. Kasihan dia, jika terus-menerus memenuhi kebutuhan aku." Gumamnya saat hendak masuk ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya.


.


.


.


Semalaman semua tidur dengan nyenyak, tidak terasa sudah pagi. Evana yang sudah bangun dari tidurnya, cepat-cepat untuk membereskan tempat tidurnya, serta membereskan isi dalam kamarnya yang terlihat berantakan.


"Va, kita sarapannya beli di seberang jalan sana aja ya?"


"Ya Net, gak apa-apa. Tunggu bentar ya, aku lagi siap-siap."


"Ya Va, santai aja." Sahut Neti yang juga tengah bersiap-siap.


Setelah keduanya hendak mau berangkat, tiba-tiba dikagetkan dengan suara mobil yang berhenti di depan rumah kosannya.


"Net, kamu ada janji ya?" tanya Evana saat mendengar suara mobil tengah berhenti di depan.


"Gak, janji sama siapa? orang aku aja ngajak kamu buat beli sarapan di seberang jalan sana, mungkin aja kamu sendiri yang mendapat jemputan dari Ardi."


"Gak juga, orang aku sudah putuskan untuk bercerai dengan mas Ardi. Semalam aku putuskan untuk berpisah, serius." Kata Evana berterus terang.


"Bener ya, awas loh kalau sampai bohongi aku."

__ADS_1


"Buat apa aku bohongi kamu, dih. Mendingan juga kita lihat aja, siapa tahu aja orang nyasar." Jawab Evana.


Saat itu juga, ponsel milik Neti tengah berdering dan menimbulkan suara yang cukup kerasa, cepat-cepat merogoh dalam tasnya.


"Gevando," gumamnya sangat lirih. Tetap saja masih bisa untuk didengarkan oleh Evana yang tengah berada di dekatnya.


Tidak pakai lama, Neti langsung menerima panggilan dari Gevando. Kemungkinan, ia mendekatkan ponselnya tudak jauh dari daun telinganya.


"Ada apa, Vando?" tanya Neti ingin tahu.


Dengan serius, Neti mendengarnya.


"Oh, kamu rupanya. Baiklah, aku akan segera keluar." Jawab Neti, dan langsung memutuskan panggilan telponnya.


"Gevando adiknya Bos Rey?" tanya Evana untuk memastikannya.


Neti mengangguk pelan.


"Ya, Gevando adiknya si Bos. Benar-benar hari keberuntungan kamu, Va. Cie ... sepertinya suka sama kamu deh, soalnya tumben tumben nya aja dia datang ke rumah. Biasanya juga gak, ke rumah aja sama pacarku."


"Apaan sih kamu, jangan aneh-aneh. Ngurusin perceraian saja belum, udah kau goda. Jangan macam-macam, aku gak ingin nambah masalah." Kata Evana sambil menyenggol Neti dengan sikutnya.


"Sudah ah, jalani aja kehidupan kita ini dengan enjoy. Tidak perlu dibuat pusing, apa lagi untuk memikirkan laki-laki. Kamu tahu, tujuan hidupku masih panjang. Tau gak, aku pingin punya rumah sendiri dan usaha sendiri dan tidak lagi kerja di kantoran." Ucap Evana dengan tujuan hidup selanjutnya setelah bercerai.


"Ngapain harus punya rumah sendiri, Gevando tajir, Bos lagi."


"Gak! aku lebih suka dengan kerja kerasku sendiri, dan aku tidak ingin bodoh seperti dulu. Meninggalkan karirku demi laki-laki, setelah itu aku di tendang. Dan lihatlah aku yang sekarang ini, kamu lihat sendiri kan, aku tidak punya apa-apa setelah rumah tanggaku hancur. Bahkan, untuk tidur saja tidak punya tempat tinggal." Kata Evana panjang lebar.


Neti yang mendengarnya, pun mencoba untuk berpikir.


"Benar juga yang kamu katakan barusan, Va. Kita harus punya tabungan privat milik diri kita sendiri. Aku akan ikuti jejakmu, setidaknya aku sudah berjaga-jaga. Andai dapat suami yang baik dan bertanggung jawab, itu bonus." Ucap Neti, Evana mengangguk.


"Nah, gitu dong. Ya udah yuk, kita keluar. Kasihan Gevando, sudah nunggu kita."


"Ya udah, ayuk." Jawab Neti dan segera keluar dari rumah.

__ADS_1


Saat membuka pintu, ternyata Gevando sudah berdiri di hadapannya. Evana sendiri dibuatnya kaget, dan hanya bisa nyengir kuda.


__ADS_2