
Doni yang tidak bisa menghalangi kemauan Ardi yang menerima kenyataan pahitnya, mau tidak mau dia harus menerima kenyataan yang ia terima.
"Nanti aku nyusul." Sahut Doni saat melihat Ardi pulang dari acara mantan istrinya.
Hancur sudah harapannya untuk meminta kembali bersama mantan istrinya. Penyesalan tinggallah penyesalan, hanya itu yang dirasakan oleh sosok Ardi.
Sedangkan di sudut lain, Evana tengah ditemani suaminya juga ibu mertua dan Nenek Muna. Tidak hanya itu saja, teman-teman dimasa kecilnya ikut mengajaknya bernostalgia.
Tidak kerasa acaranya pun telah berakhir dengan baik, satu persatu mulai meninggalkan acara tersebut dengan membawa bingkisan yang sudah di persiapkan oleh pemilik acara.
Ketika acaranya benar-benar telah usai, Evana dan suami masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Begitu juga dengan kedua orang tuanya Reyzan, sama halnya seperti anak dan menantunya.
Evana yang terasa malu dan kaku karena belum terbiasa dalam satu kamar dengan suaminya yang sekarang, tentu saja ada perasaan gugup dan juga tidak karuan dengan apa yang ia rasakan.
Sambil menatap dirinya di depan cermin, Evana mengurai rambutnya.
Rey yang sudah melepaskan baju kemejanya, dan tinggal menyisakan kaos oblong dan celana kolornya saja, langsung mendekati istrinya. Kemudian, ia memeluknya dari belakang.
Evana benar-benar dikagetkan dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, yakni memeluknya dari belakang. Tidak hanya itu saja, Rey menyibakkan rambut istrinya yang terurai ke sebelah kanan.
Kerinduan yang sudah ia pendam selama di tinggal istrinya, Rey tidak lagi sanggup menahannya.
Saat itu juga, Rey menc_ium tengkuk leher istrinya dengan lembut dan berulang kali hingga Evana mengg_eliat dan tentu saja terpancing oleh sentuh_an yang diberikan oleh suaminya.
Setelah itu, Rey langsung memutarbalikkan badan istrinya hingga saling berhadapan. Rey menatap istrinya seperti tak lagi sabar untuk mengobati rasa rindunya itu yang sudah lama tertahan.
Dengan lembut, Rey menc_ium bibir milik istrinya. Lambat laun, keduanya semakin berna_fsu.
"Aku tidak akan memaksa kamu. Jangan memaksa diri jika kondisi fisikmu sedang tidak bisa melakukannya. Aku akan bersabar sampai fisikmu benar-benar sudah pulih." Ucap Rey yang tidak ingin membuat istrinya jatuh sakit hanya karena menuruti kemauannya, sedang hamil muda sangat beresiko jika fisiknya sedang tidak baik-baik saja, pikir Rey penuh khawatir.
Evana menggeleng, tentunya memberi jawaban mengiyakan.
"Benar kamu gak sedang bohongi aku?"
Evana mengangguk.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja." Jawab Evana dengan anggukan.
"Yakin? aku takut dengan kondisi fisikmu. Kamu harus ingat, ada calon anak kita di dalam rahimmu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, sayang. Aku tidak akan memaksamu, aku bisa bersabar menunggu." Ucap Reyzan yang masih dihantui dengan perasaan khawatir.
Evana tersenyum, dan kini mulai berani memancing suaminya hingga menginginkan yang lebih.
Entah karena bawaan dari hormon yang sering berubah ubah, atau memang keduanya sudah benar-benar ada tumbuh rasa cinta. Tanpa disadari, seperti tengah dimabuk asmara.
Evana yang sudah siap melayani suaminya dengan kondisi hamil muda, kedua melakukannya dengan sangat hati-hati.
Rey langsung mengangkat tubuh istrinya, dan menidurkannya di atas tempat tidur. Meski tempat tidurnya tidak semewah yang ada di kota, semua terlupa, yang diburu gejolak asmara yang sedang menguasai pikiran keduanya.
Dengan sangat hati-hati, Rey membantu istrinya untuk menanggalkan pakaiannya, juga dilanjut dengan pakaian Rey sendiri hingga keduanya sama-sama polosnya.
Tidak peduli mau dikata apa, kerinduannya yang sudah tidak mampu untuk ditahan lagi, Rey langsung menggasak istrinya hingga sesuatu yang tertahan dapat disalurkan hingga pada titik puncaknya.
Evana yang semakin agresif, tidak peduli dengan apa yang dilakukannya, baginya sesuatu yang juga ingin disalurkan, dapat terobati. Tidak munafik bagi Evana, ditambah lagi dengan kondisinya yang sedang hamil, tentu saja membutuhkan sentu_han dari suaminya.
Cukup lama dengan kegiatan panasnya di kala waktu masih suasana yang cukup gerah, tidak membuat keduanya merasa tidak nyaman. Justru seakan membuatnya menginginkannya.
Setelah selesai melakukan ritualnya, Evana dan Reyzan masih dalam satu balutan selimut. Rey menyalakan kipas angin, agar tidak terlalu gerah. Maklum saja dengan kondisi rumah Evana yang sederhana, tidak ada fasilitas yang seperti milik suaminya.
"Maafkan aku ya, sayang. Dulu aku sudah melakukannya tanpa permisi, kala itu aku sedang tidak bisa dikendalikan. Terimakasih banyak, kamu sudah memberiku sesuatu yang sangat berharga Aku janji, aku akan menjagamu dan calon buah hati kita dengan sebaik mungkin, aku mencintaimu." Ucap Rey sambil memeluk istrinya.
Evana mengangguk, dan mendongak.
"Aku juga mencintaimu, Bos." Jawab Evana dengan senyum mereka.
Saat itu juga, Rey menjepit hidung mancung milik istrinya.
"Aw! sakit, Bos."
"Kamu panggil aku apa tadi, Bos? aku ini suami kamu, bukan Bos kamu. Yang harus kamu panggil itu, dengan nama kesayangan, bukan antara atasan dan bawahan."
Evana meringis saat mendengar ucapan dari suaminya.
__ADS_1
"Tapi aku lebih suka dengan panggilan yang seperti itu, Bos."
Rey menunjukkan muka masamnya, dan membuang muka ke sembarangan arah.
"Ya ya ya deh, sayangku, cintaku, my darling, my dadar telur, eh salah, bukan. Tapi, suamiku tersayang." Kata Evana sambil meraih dagu suaminya dan di hadapkan di hadapannya. Lalu, Evana sedikit mengangkat tubuhnya untuk mengambil ciu_man pada bibir milik suaminya.
Saat itu juga, Rey langsung menye_sapnya dengan rakus, hingga Evana kualahan untuk membalasnya.
"Aw! kamu." Pekik Rey saat mendapat gigitan kecil dari istrinya.
Evana menjulurkan lidahnya seakan menambah membuat has_rat suaminya menjadi bangkit.
Karena tidak ingin istrinya kenapa-napa, Rey menahannya untuk mempersiapkan nanti malam, pikirnya.
"Jangan memancingku lagi, lebih baik sekarang kita mandi. Setelah itu, kita berkumpul di ruang keluarga bersama yang lainnya." Ucap Reyzan.
"Ya, Bos. Eh, sayangku."
"Hem, sudah ayo buruan mandi."
"Tapi,"
"Tapi kenapa?" tanya Rey sambil melihat istrinya yang tengah menunjukkan sesuatu.
"Ini kamar, bukan ruang tamu, ngapain malu. Lagi pula aku sudah menikmati sekujur tubu_hmu dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, bahkan aku sudah melihatnya semua. Sudah, ayo kita mandi." Ucap Reyzan dan langsung menggendong istrinya sampai di kamar mandi.
Kemudian, keduanya segera membersihkan diri hingga terjadi sesuatu yang entah yang dilakukan oleh keduanya. Tidak mungkin jika hanya sekedar mandi, keduanya bukan lagi anak polos, juga bukan pertama kalinya menikah. Tentu saja, yang diharapkan tidak ada apa-apa, tetap saja terjadi yang tidak terlihat.
Sedangkan di tempat lain, Ardi membuang napasnya kasar sambil duduk dengan melihat sekitar area tempat tinggalnya.
"Sudah lah, Di. Ngapain kamu masih terus memikirkan mantan istri kamu. Semua berawal dari sebuah keputusan, entah siapa yang salah. Intinya kamu harus siap menerima segala resikonya. Satu lagi, perjalanan hidupmu masih panjang. Kamu masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri, juga mencari penggantinya. Tidak cuma kamu saja, ada banyak orang yang senasib denganmu. Jadi, lapangkan hatimu untuk merelakan mantan istrimu dengan pasangannya." Ucap Doni sebagai teman dekatnya juga selain Reyzan.
Ardi langsung menoleh.
"Benar yang kamu ucapkan, Don. Terimakasih banyak atas nasehat yang sudah kamu berikan untukku, aku akan mencobanya untuk melupakannya. Mungkin benar, Evana bukan jodohku, tetapi jodohnya Reyzan." Jawab Ardi berusaha untuk tegar.
__ADS_1
"Nah, gitu dong. Itu baru namanya lelaki sejati, tidak egois dan menang sendiri. Aku doakan, semoga kamu segera menemukan penawar luka hatimu." Ucap Doni menyemangati.
Ardi mengangguk dan tersenyum.