
Tdak ingin berlama-lama, Evana segera pergi dari rumah sakit dengan terpaksa meninggalkan suaminya.
Saat dalam perjalanan pulang, Evana bersandar di jendela kaca mobil sambil melamun, juga memikirkan keadaan suaminya. Mau bagaimanapun, Evana adalah istrinya, tentu saja kepikiran akan keselamatannya.
'Andai saja aku tidak menerima tawaran dari Bos Rey, gak akan mungkin terjadi insiden seperti ini.' Batin Evana dengan kesedihannya.
"Va, bangun, kita sudah sampai." Ucap Neti membuyarkan lamunan Evana.
"Sudah sampai, benarkah?" tanya Evana seperti tidak percaya.
"Ya, kita sudah sampai. Ayo, kita turun." Jawab Neti dan mengajaknya untuk turun.
Evana segera memastikannya.
"Benar, kita sudah sampai. Oh ya, bayar berapa?"
"Sudah aku bayar, sudah ayo kita turun."
"Ya udah nanti aku ganti di dalam rumah." Ucap Evana segera turun, begitu juga dengan Neti.
"Ya, ya, ya, sudah ayo turun." Kata Neti, yang terpenting tidak main debat soal pembayaran, pikirnya.
Saat sudah masuk kedalam rumah kosan, Evana maupun Neti masuk ke kamarnya masing-masing untuk membersihkan diri.
Tapi, tidak untuk Evana. Justru dirinya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur untuk menenangkan pikirannya terlebih dahulu.
Rasa penat yang mulai menguasai pikirannya, tak tahu harus bagaimana. Awal pernikahan yang diharapkan baik-baik saja, tetapi tidak sesuai yang dibayangkan, yakni berjalan dengan mulus.
"Aku pergi aja apa, ya. Untuk apa aku masih di kota ini, yang ada hidupku akan penuh tekanan. Ditambah lagi kedua orang tuanya Bos Rey bukan orang biasa, dan ku yakin bahwa mereka bisa melakukan apa saja untuk anaknya. Sedangkan aku, aku punya apa." Gumamnya sambil menatap langit-langit kamarnya dan terakhir menghela napasnya.
Untuk menjernihkan pikiran, Evana bergegas untuk membersihkan diri. Setelah itu istirahat, agar tidak semakin penat dan juga setres. Namun, tetap saja terasa sulit untuk memejamkan kedua matanya, dan memilih untuk duduk-duduk saja.
Sedangkan Neti, dirinya juga ikut memikirkan. Rasa kasihan kepada sahabatnya, rasanya tidak tega melihat temannya kembali jatuh dalam masalah.
"Va, maafkan aku. Seandainya kamu tidak aku ajak kerja di kantor yang aku tempati untuk bekerja, mungkin kejadian gak akan seperti ini. Aku benar-benar bersalah besar denganmu, hingga harus jatuh ke dalam lubang yang sama. Mana baru menikah kemarin, sekarang harus berpisah lagi. Meski pernikahan bohongan, aku yakin diantara kalian baru merasa berat untuk kehilangan." Gumam Neti yang merasa bersalah.
__ADS_1
Di lain tempat, Gevando dan kedua orang tuanya kini tengah menunggu mendapatkan izin dari dokter untuk melihat Reyzan yang baru saja ditangani oleh Dokter.
Rasa penasarannya, langsung menemui Dokter.
"Bagaimana dengan keadaan putra saya, Dok?" tanya Tuan Daro penasaran dengan keadaan putranya.
"Keadannya ... putra Tuan mengalami koma, saya tidak bisa memastikan kapan akan sadarkan diri. Saya hanya bisa berusaha dan melakukan yang terbaik untuk pasien saya." Jawab Dokter memberi penjelasan.
"Apa Dok! anak saya koma? gak, ini gak mungkin." Sahut istrinya Tuan Daro menimpali.
"Tenang, Ma, tenang. Kita berdoa saja, semoga Reyzan segera sadarkan diri dari komanya." Ucap Tuan Daro mencoba untuk menenangkan pikirannya.
"Benar, kita harus berdoa untuk kesembuhan putri Tuan dan Nyonya. Untuk jadwal menemui pasien, sudah ada perawat yang akan memberi penjelasan. Maaf, saya harus melanjutkan pekerjaan saya untuk menangani pasien lainnya." Kata Dokter, sedangkan Tuan Daro mengangguk dan segera keluar.
Lain lagi di rumah kosan, bukannya istirahat, Evana tengah mengemasi barang-barangnya untuk dibawa pergi entah kemana. Rasa kantuk yang sudah menguasai dirinya, masih dapat ditahan. Tetapi, rupanya lama-lama tidak dapat untuk ditahan rasa kantuknya.
Saat Neti untuk mengecek temannya sudah tidur atau belum, lantaran ia mendengar suara beberes di dalam kamar. Tentunya membuat Neti penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Evana.
Karena pintu kamar tidak dikunci, Neti dapat membukanya sendiri. Alangkah terkejutnya saat melihat Evana yang sudah mengemasi barang-barangnya. Kini, orangnya tengah duduk di tepi ranjang.
"Kenapa kamu membereskan barang-barang kamu, Va? memangnya kamu mau kemana."
Evana langsung menoleh.
"Aku mau pulang ke kampung orang tuaku, di kampung masih ada rumah usang milik orang tuaku yang masih bisa aku tempati." Jawab Evana.
"Pulang kampung, kamu serius, Va? terus, di sana sama siapa? kamu mau kerja apa?"
"Nanti juga ketemu jalannya, setiap orang mempunyai takaran rizkinya masing-masing. Yang terpenting kita berusaha dan tidak untuk bermalas-malasan." Kata Evana yang tetap yakin dengan pendiriannya.
"Tapi, Va. Aku khawatir, kamu sendirian."
Evana tersenyum pada Neti.
"Tenang aja, aku bisa mengatasi masalahku kok, Net. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, yang jelas di kampungku itu aman." Kata Evana meyakinkan.
__ADS_1
"Ya udah deh, terserah kamu. Aku gak punya hak untuk menahan kamu untuk tetap tinggal bersamaku. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu, semoga masalahmu segera selesai dan dapat menikmati hidup dengan baik." Ucap Neti, Evana mengangguk dan tersenyum.
"Makasih ya, Net, atas doanya. Ya udah, ini kan sudah malam, ayo tidur." Jawab Evana dan mengajak untuk tidur, Neti mengangguk, juga memeluk Evana yang merasa berat untuk berpisah.
Tidak ingin temannya kurang istirahat, Neti segera kembali ke kamarnya untuk memberi waktu kepada temannya beristirahat.
Malam pun semakin larut, Evana maupun Neti sama-sama tertidur dan entah kemana mimpinya, sampai tidak terasa, jika paginya kesiangan, Neti terperanjat dan langsung menyambar ponselnya untuk memastikan jamnya.
"Apa! jam tujuh, oh tidak."
Cepat-cepat segera bangun dan mandi, begitu juga dengan Evana yang baru saja bangun dari tidurnya lantaran yang kesiangan.
Neti yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya, dirinya teringat jika Evana akan pulang ke kampung.
"Va, kamu sedang apa?" tanya Evana setelah mengetuk pintunya.
Evana langsung membukanya.
"Aku sudah siap, Net. Pagi ini juga, aku mau berangkat ke terminal Bus." Jawab Evana saat pintu terbuka.
Neti menatap sedih pada temannya, terasa berat untuk berpisah. Lebih lagi berpisahnya karena suatu masalah, terasa tidak tega bagi Neti.
"Jangan menatapku begitu dong, Net. Jangan khawatir, nanti kalau kamu nikah dengan Raka, aku akan usahakan untuk datang ke acara pernikahan kamu. Jaga diri kamu baik-baik di sini ya, Net. Maafkan aku yang suda merepotkan kamu, makasih juga sudah memberi tumpangan untukku tinggal di rumah kosan kamu ini." Ucap Evana, Neti meneteskan air matanya.
"Sudah, jangan menangis." Sambungnya lagi sambil menyeka air matanya.
Neti yang merasa berat untuk berpisah, memeluknya lagi dengan erat.
"Kamu juga jaga diri kamu baik-baik ya, Va. Maafkan aku yang belum bisa membantumu dengan baik." Kata Neti, dan melepaskan pelukannya.
Kemudian, Neti mengambil sesuatu didalam tasnya.
"Ini, ada beberapa nominal untuk kamu. Maafkan aku yang bisa memberimu lebih, aku belum gajian." Ucap Neti sambil menyodorkan beberapa lembaran kertas uang kepada Evana.
Evana menggelengkan kepalanya, yakni untuk menolak pemberian dari Neti. Baginya sudah banyak membantunya, dan tidak ingin merepotkan lagi.
__ADS_1