Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Tidak diizinkan


__ADS_3

Veria yang sudah memesan makanan serta minuman, ia segera menuju ruang yang ditempati oleh Bosnya dengan Evana, sekretarisnya.


"Aku ikutan gabung, boleh, 'kan?" tanya Veria sambil meletakkan piring yang berisi makanan dan satu gelas minumannya.


Reyzan yang tengah dikagetkan dengan adanya Veria, langsung menoleh pada Evana.


"Boleh, aku tidak melarang kamu untuk makan di tempat ini.


Sedangkan Evana sendiri merasa risih adanya Veria didekatnya, pasalnya semakin banyak obrolan, pikirnya.


'Bagaimana ini, apa sebaiknya aku angkat kaki dari tempat dudukku. Sepertinya perempuan ini menyukai Bos, tapi di acuhkan.' Batin Evana.


"Em ... kalau gitu, saya pindah tempat duduk saja ya, Bos. Sepertinya tidak cocok, jika makan barengnya tiga orang. Soalnya biasanya tuh, cuma dua orang. Takutnya, nanti yang satu dicuekin sama si Bos." Ucap Evana dengan pelan-pelan untuk berdiri sambil menggigit bibir bawahnya, tentu saja membuat Reyzan melototi Evana.


"Duduk! aku bilang."


"Aw! sakit, Bos." Pekik Evana saat lututnya mengenai kaki meja.


"Tapi, Bos."


"Tidak ada tapi tapian, duduk dan suapi aku sekarang juga."


"Apa!"


"Biasa aja itu mulutnya, cepat kamu suapi aku."


Evana membulatkan kedua bola matanya, sungguh di luar dugaan. Sedangkan Veria yang melihatnya, serasa terbakar oleh api cemburu.


"Cepetan suapi aku, jangan banyak tanya. Apa kamu tidak melihat, kalau aku sedang sibuk." Perintah Reyzan. Sedangkan Evana sendiri masih diam, melongo.


Reyzan langsung mengusap muka Evana dengan kuat. Kemudian, Evana menoleh pada Veria.


"Sini, biar aku saja yang akan menyuapi kamu, Bos." Ucap Veria dengan berani, karena sudah mengenal dekat karena orang tuanya yang sudah saling mengenal.


"Tidak usah, ada Evana yang akan menyuapi aku. Lebih baik kamu makan saja, karena ini tugas Evana menjadi sekretaris baruku." Jawab Reyzan menolak.


"Baiklah." Kata Veria merasa kecewa, lantaran Reyzan menolaknya.


"Cepat suapi, aku sudah lapar." Perintah Reyzan pada Evana.


"I-i-ya, Bos." Jawab Evana dan segera menyuapi Bosnya.

__ADS_1


Dengan santai dan tanpa canggung, Reyzan menerima suapan dari sekretarisnya.


Bahkan, Reyzan sendiri tidak peduli jika semua karyawannya akan bergosip tentang dirinya bersama sekretaris barunya. Tidak hanya karyawan lainnya saja, Neti sendiri pun melihatnya.


"Si Bos galak disuapi Evana? yang benar aja itu, gak lagi kena sangsi kan, itu anak?" gumamnya bertanya-tanya.


"Kenapa Net? kelihatannya kamu sedang memperhatikan sesuatu."


"Gak, tidak ada apa-apa. Yuk ah, kita makan di sana." Jawabnya dan mengajak ke tempat duduk yang tidak jauh dari ruangan khusus milik Bosnya.


Saat menikmati makan siang, teman Neti sendiri ikut memperhatikan ruangan yang ditempati oleh Bosnya.


"Net, Net, coba deh kamu lihat dengan teliti."


"Apanya yang harus dilihat dengan teliti, Wen?"


"Itu loh, ruang istirahat miliknya si Bos."


"Ya, kenapa emangnya?" tanya Neti pura-pura tidak tahu.


"Itu kan, si Bos kan, ya?"


"Ya, kenapa?"


"Mana aku tahu, Wen. Dah ah, gak usah mikirin yang aneh-aneh. Tau sendiri sama si Bos, banyak hal aneh pada Bos kita. Untuk soal Veria, no komen."


"Ya sih, no Komen. Tapi kan, penasaran aja gitu. Namanya juga Bos, ada yang bening langsung disikat."


"Hem, Veria juga bening, nyatanya di anggurin. Gak cuma bening aja, pintar juga orangnya."


"Ya seperti yang kamu bilang tadi, keberuntungan. Mana tahu siapa yang akan beruntung. Ya udah deh, ayo kita makan. Perutku udah minta diisi, tadi pagi aku juga belum sarapan." Ucap Weni.


Neti hanya menghembuskan napasnya dengan kasar, dan segera menikmati makan siangnya tanpa bareng Evana.


Sedangkan di ruang tertentu, Evana masih menyuapi Bosnya. Kemudian, ia juga menyuapi dirinya sendiri.


Veria yang melihat Evana tengah menyuapi Bosnya, hatinya terasa panas. Bahkan, otaknya saja terasa mendidih.


'Sialan, kenapa mesti ini anak yang beruntung. Memang sih cantikan dia dari pada aku, tapi aku tidak mau kalah darinya. Ah ya, sepertinya aku harus menjebak Evana atau Reyzan.' Batinnya sambil memikirkan sesuatu.


Berulang kali Evana menyuapi Bosnya, habis sudah makanan satu piring dengan lengkap antara sayur dan lauknya. Kemudian, Evana menyodorkan air minumnya.

__ADS_1


Setelah selesai, Evana merasa sangat lega, lantaran sudah tidak terus-menerus untuk menyuapi Bosnya.


Tinggal sedikit lagi, porsi makan siangnya Evana akan segera habis. Lain lagi punya Veria, sudah selesai lebih dulu.


Selesai makan siang, Reyzan mengajak untuk keluar dan kembali ke tempat kerjanya masing-masing.


"Bos, saya mau izin menemui teman saya yang bernama Neti, boleh kan, Bos?" tanya Evana, kemudian ia menggigit bibir bawahnya terlihat menggoda karena terlihat manis, semakin membuat Reyzan gereget sendiri.


Wajar saja jika Reyzan tergoda, lantaran selama menduda, dirinya sama sekali tidak mendapatkan sen_tu-han yang menggairahkan hasr_atnya, yakni sudah beberapa tahun lamanya.


'Sial_an, kenapa hanya melihat bibirnya saja, detak jantungku mendadak tidak karuan.' Batinnya yang sudah berada di ujung ubun-ubun untuk menahan keinginannya itu.


"Bos ini gimana sih, saya itu mau minta izin. Eee ... ngelamun." Ucap Evana membuyarkan lamunannya.


"Tugas kamu itu masih banyak, lebih baik kamu kirim pesan saja untuk melakukan pertemuan setelah pulang nanti. Beres, kan." Jawab Reyzan.


Veria yang sedari tadi tidak dihiraukan keberadaannya, memilih untuk pergi begitu saja tanpa berpamitan.


Sambil berjalan menuju ruang kerjanya, Veria berjalan setengah menghentakkan kedua kakinya karena kesal.


"Kasihan sekali, dicuekin sama si Bos nih." Celetuk seseorang yang tengah ngumpul dengan karyawan lainnya.


Veria yang mendengar ejekan, langsung menoleh.


"Awas ya, kalian. Bos Reyzan itu hanya menguji sekretaris barunya. Jadi, mereka berdua tidak mempunyai hubungan spesial apapun." Sahut Veria dengan geram.


"Baiklah, kita akan melihatnya." Ucap seseorang yang juga ikut bicara.


Veria yang semakin geram mendengarnya, ia langsung pergi begitu saja.


"Lihat tuh, jelas-jelas dianya cemburu, tapi gak mau mengaku." Ucapnya pada karyawan lainnya.


"Ya, sok cantikan sih. Gak tahunya ada yang lebih cantik lagi, benar-benar sial dianya." Timpal satunya ikut berkomentar.


Neti yang mendengarnya, pun mendekati beberapa teman kerjanya yang terdengar seperti tengah membicarakan sesuatu, alias membicarakan seseorang.


"Kalian sedang ngomongin siapa? kedengarannya seru."


"Itu, si Veria. Tadi kelihatan seperti cemburu, seru tahu."


"Hem, cuma itu. Kirain ada apaan, yuk ah kembali ke ruangan kerja." Ucap Neti dan mengajak teman-temannya untuk masuk ke ruang kerja.

__ADS_1


Dengan kompak, semua masuk ke ruang kerjanya masing-masing.


__ADS_2