
"Evana, bangun, sayang. Evana, ini aku suami kamu. Sayang, bangun, sayang." Ucap Rey berulang-ulang memanggil istrinya sambil menepuk-nepuk salah satu pipinya dan memeluknya dalam pangkuannya.
Saat itu juga, Radit bagai tersambar petir saat mengetahui lelaki yang begitu khawatir dengan Evana adalah suaminya. Ditambah menyebutkan sebagai suaminya, membuat Radit sangat terkejut. Sungguh, semua kenyataan diluar dugaannya.
Sedangkan Ardi yang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap mantan istrinya, hanya bisa menyaksikan langsung di belakang Reyzan.
Perjalanan yang memakan waktu yang tidak begitu lama, akhirnya sampai juga di rumah sakit. Dengan larinya yang begitu cepat menuju ruang pemeriksaan, Reyzan cepat cepat memberi pertolongan kepada istrinya yang tidak sadarkan diri.
'Silakan untuk menunggunya di luar." Ucap seorang asisten dokter.
"Dok! saya suaminya, saya ingin tahu keadaannya, juga ingin menemaninya." Jawab Reyzan yang begitu khawatir dengan kondisi istrinya yang berbaring lemas tak berdaya.
Pintunya, pun langsung ditutup. Reyzan mengacak rambutnya yang tidak gatal.
'Aaaaaa!" teriak Rey yang merasa bersalah, hingga mengabaikan istrinya, lantaran mempercayai lewat kabar dari Neti, teman dekat istrinya.
Reyzan pun langsung menjatuhkan tubuhnya di atas lantai. Sedangkan Evana kini tengah ditangani oleh dokter.
Radit yang bingung untuk menenangkan kondisi Reyzan maupun Ardi yang keduanya seperti tengah menyalahkan diri masing-masing, tidak tahu harus berbuat apa.
Ardi yang juga cemas dengan kondisi mantan istrinya, kembali teringat akan kesalahan dirinya yang sudah menyia-nyiakannya.
'Andai saja aku tidak dibutakan dengan perempuan lain, mungkin aku tidak akan sekejam ini kepada istriku. Sungguh, aku lelaki yang bo_doh, lelaki yang tidak punya hati. Maafkan aku, Evana, maafkan aku yang sudah membuatmu seperti ini. Andai saja nyawaku yang harus menjadi taruhannya, aku rela menukar nyawaku untukmu.' Batin Ardi dengan segala penuh penyesalan dan juga merasa bersalah besar, karena sudah mengabaikannya.
Air matanya, pun lolos begitu saja. Lebih lagi dirinya mengetahui jika Evana tengah hamil, tentu saja kekhawatirannya lebih besar. Ditambah dengan kesalahan yang sudah ia perbuat, ucapan dari mendiang ibunya sendiri telah menampar hingga sampai ke ulu hatinya. Begitu sakit, juga menyayat hatinya sendiri.
Rey yang mendengar Ardi menangis sesenggukan, langsung mendongak dan melihat Ardi yang tengah menangis.
BUG!
Entah ada angin dari mana, Rey langsung meno_njok sudut bibir Ardi hingga mengenai rahangnya, meringis kesakitan saat mendapat ton_jokan dari Reyzan.
"Ini semua pasti karenamu! jawab!" Bentak Reyzan yang sudah hilang kendali, tak lupa juga langsung mencengkram kaos oblongnya.
"Gara-gara aku, kamu bilang, ha! kalau ya! kenapa? mau pukul aku? pukul!"
Tantang Ardi yang juga ikut merasa geram dengan suami mantan istrinya.
__ADS_1
Ardi pun tak kalah emosinya dengan Reyzan, ia juga tak lupa ikutan mencengkram kaos oblong milik suami mantan istrinya.
"Awalnya memang aku yang sudah membuat Evana seperti ini, puas! kalaupun aku tidak berselingkuh di depannya, Evana masih milikku! puas! kau." Bentak Ardi dengan emosinya yang sudah memuncak ke ubun ubun.
Dengan kuat, Ardi mendorong tubuh Reyzan hingga hampir saja terpental. Namun, dengan tubuhnya yang terbilang atletis, Reyzan masih bisa bertahan walaupun mendapat dorongan kuat dari Ardi, mantan suaminya sang istri.
Napas dari keduanya masih memburu bersamaan dengan emosinya yang sama-sama memuncak. Tentu saja rasa dongkolnya masih sulit untuk dikendalikan.
Radit yang tidak ingin terjadi keributan di rumah sakit, mencoba untuk melerai. Saat itu juga, Nenek Muna sudah datang dengan jalannya yang terburu-buru dari kejauhan.
"Kau!"
"Cukup! hentikan perdebatan kalian berdua. Apa kalian ini tidak punya rasa malu, berdebat di muka umum. Evana sedang ditangani dokter, seharusnya kalian berdua itu mendoakannya, bukan berantem dan unjuk kegagahan, norak! kalian." Ucap Radit yang suaranya cukup keras, yakni untuk memberi peringatan kepada Rey maupun Ardi agar tidak kembali berantem.
"Ada apa dengan kalian? dimana Evana?" tanya Nenek Muna menatap satu persatu diantara keduanya, Rey maupun Ardi.
"Masih dilakukan pemeriksaan, Nek." Jawab keduanya serempak.
Nenek Muna yang sudah dapat menebak siapa laki-laki yang ada di sebelah Ardi, menatapnya seperti ingin memarahinya.
"Keluarga pasien, atau suami pasien, mana?"
"Mana ada punya dua suami, yang mana suaminya?"
"Saya, Dok. Saya suami sahnya." Jawab keduanya lagi secara bersamaan.
Yang menjadi asisten Dokter, pun geram dibuatnya.
"Saya tanya dengan benar, kalau masih sama, diantara kalian tidak saya izinkan untuk menemui pasien. Nek, mari ikut saya."
"Tunggu tunggu tunggu, saya punya buktinya kalau saya ini benar suaminya." Ucap Ardi yang tidak peduli jika dirinya akan dianggap tak tahu malu.
"Mana buktinya kalau anda ini suaminya pasien."
Rey langsung menoleh pada Ardi, merasa penasaran dengan bukti apa yang akan ditunjukkan oleh dirinya.
"Ini, buktinya." Ucap Ardi dan menunjukkan lembaran kecil yang baru saja ia ambil dari dompetnya.
__ADS_1
Setelah itu, dilihatnya foto tersebut yang berukuran kecil. Rey yang penasaran, memintanya untuk dilihat.
Saat melihat foto istrinya bersama Ardi, langsung menoleh lagi ke mantan suami istrinya.
"Ini foto lama. Tanyakan saja kepada pasien, siapa nama suami dari pasien. Saya yakin, itu jawaban yang tepat." Ucap Reyzan.
"Benar.Tanyakan saja kepada pasien, nanti akan ada jawabannya." Timpal Radit ikut bicara.
"Yang dikatakan pasien, cucu saya, lelaki yang bernama Ardi ini adalah mantan suaminya." Ucap Nenek Muna ikut berkomentar.
"Baiklah, dan anda silakan masuk untuk menemui pasien."
BUG!
Ardi langsung mendaratkan sebuah pu_kulan mengenai rahang milik Reyzan.
"Kalau kau memang benar suaminya. Lantas, kamu ini suami macam apa? ha!"
Saat itu juga, Radit langsung melerai perdebatan diantara keduanya.
"Hentikan! tidak ada untungnya untuk berdebat." Ucap Ardi dan langsung menarik kuat tangan Ardi, tak peduli jika Ardi yang mempunyai kedudukan tinggi dibandingkan dirinya.
Rey yangs sudah mendapatkan izin, ikut masuk ke ruangan pasien pemeriksaan.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Reyzan seperti bermimpi saat diri masih mendapat kesempatan untuk bertemu dengan istrinya.
Langkah kakinya kini tepat sudah masuk ke dalam ruangan. Arah pandangannya, pun langsung tertuju dengan sosok perempuan yang berstatus istrinya. Baru saja menikah, tetapi hubungan pernikahannya harus diterpa musibah yang cukup besar, hingga harus berpisah.
Rey yang melihat kondisi istrinya yang belum juga sadarkan diri, hatinya kecilnya merasa bersalah besar. Lantaran dirinya merasa tidak bertanggung jawab.
'Maafkan aku, Evana, maafkan aku.' Batin Reyzan penuh sesal, dan meneteskan air matanya karena merasa bersalah atas perbuatannya yang tidak memberi penjagaan ketat untuknya.
"Apakah anda suaminya?"
Reyzan mengangguk.
"Ya, Dok."
__ADS_1
"Selamat, ya, istri anda hamil." Ucap Ibu Dokter.
Rey bagai mimpi yang sulit untuk di cerna, sampai dirinya bingung bahwa istrinya hamil dengan siapa, pikirnya. Lebih lagi si Ardi yang begitu ngotot mengakui bahwa dirinya adalah suaminya. Tentu saja ada rasa curiga dan juga bingung.