Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Jalan-jalan


__ADS_3

Evana yang tidak mau ambil pusing, akhirnya langsung menyambar tasnya.


"Aku sudah siap, Bos." Ucap Evana sambil menunjukkan penampilannya yang terlihat sederhana.


"Ingat ya, jangan bikin onar."


"Siap, Bos." Jawab Evana sambil meringis.


Tidak ada yang tertinggal, Rey segera keluar dari kamar, dan diikuti istrinya dari belakang. Sambil menuruni anak tangga, rupanya tangga sebelah sudah ada Gevando dan Aiwa yang juga menuruni anak tangga.


Rey yang tidak ingin adik laki-lakinya mengambil kesempatan, langsung menarik tangan istrinya dengan langkah kaki yang cukup gesit, hingga membuat Evana terburu-buru untuk mengimbangi suaminya yang berjalan cepat.


Setelah berpikir dengan segala idenya, Rey merogoh celana panjangnya untuk mengambil kunci mobilnya. Gevando yang baru saja keluar dari rumah, tiba-tiba sang kakak menghampirinya.


"Nih, kamu yang bawa mobilnya. Kamu akan ditemani Aiwa duduk di depan. Sedangkan aku akan duduk dibelakang bersama istriku, lakukan saja perintahku dan jangan banyak protes." Ucap Rey sambil menyodorkan kunci mobilnya.


Gevando yang tidak ingin satu mobil bersama kakaknya, langsung meraih tangan kanan sang kakak sambil menerima kunci mobilnya, lalu mengembalikannya lagi pada kakaknya.


Dengan serius menatap wajah kakaknya, Gevando tersenyum sinis.


"Nih, aku gak butuh. Lebih baik Kak Rey tuh, bawa mobil sendiri. Satu lagi, aku tidak akan berlibur bareng Kakak. Jadi, sana berangkat sendiri." Ucap Gevando dengan perasaan penuh kesal, dan juga dongkol.


Rey yang mendapat perlakuan dari adiknya, napasnya mendadak berubah terasa sesak. Bahkan, perasaannya berubah dengan penuh kekesalannya.


Mau bagaimanapun, Rey tidak mau masalah menjadi besar dan tentunya akan berurusan dengan ibunya maupun sang ayah. Sebisa mungkin, Rey tidak menunjukkan kekesalannya di hadapan adik laki-lakinya.


Ditambah lagi ada istri yang tengah memperhatikan dirinya, tentu saja akan menjadi bahan pertanyaan.


Rey yang males menjawab pertanyaan dari sang adik, langsung membalikkan badannya dan kembali menghampiri istrinya yang sudah siap untuk berangkat.


"Bos Rey kenapa? kok kelihatannya tidak bersemangat gitu. Dari pada kesehatan Bos Rey menurun, kita sudahi saja liburannya." Tanya Evana sedikit ada rasa khawatir dengan suaminya.


"Gak apa-apa, cepetan naik ke mobil." Jawab Rey sambil beralasan, Evana hanya bisa mengangguk, karena tidak ingin memberi banyak pertanyaan kepada sang suami, lantaran takut kena marah, pikir Evana yang hanya bisa nurut.


Saat dalam perjalanan entah kemana, akhirnya Evana memberanikan diri untuk bertanya, iseng-iseng membuka obrolan agar tidak mengantuk.


"Jadi, kita naik mobil sendiri-sendiri ya, Bos?" tanya Evana saat mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Rey menoleh pada istrinya.


"Biar gak berisik, ngerti."


"Oh, kirain." Ucap Evana dan tidak lagi kembali bertanya.

__ADS_1


Cukup lama dalam keheningan selama perjalanan, akhirnya sampai juga di tempat yang di tuju.


"Sudah sampai, ayo kita turun." Ucap Rey sambil melepaskan sabuk pengaman.


Evana masih celingukan ke arah kanan dan juga kiri untuk melihat di sekitarnya.


"Pantai ya, Bos?"


"Bukan, tapi kolam renang. Sudah tahu pantai, masih banyak tanya. Sudah cepetan turun, jangan membuang-buang waktuku." Jawab Rey yang hendak turun dari mobil.


Evana sendiri, pun segera turun dari mobil. Begitu indah saat pandangannya tertuju pada satu arah yang tembus begitu jauh.


Seketika, ingatannya harus kembali lagi dengan mantan suaminya. Kenangan yang begitu banyak yang ia lewati, hanya menjadi kenangan lalu semata.


'Andai saja Mas Ardi bukan menjadi seorang penghianat, mungkin tidak akan seperti ini. Tapi, semua ini sudah kamu goreskan sendiri luka padaku.' Batin Evana sambil melamun.


"Kamu sedang mikirin siapa? pasti kamu sedang memikirkan mantan suami kamu, ya 'kan? sudah, ayo ikut aku ke sana."


Evana yang sedang melamun, rupanya dikagetkan suami sendiri. Rey yang tidak sabaran, langsung menarik tangan istrinya.


"Bos, pelan-pelan dong."


"Nanti keburu Gevando dan Aiwa datang, percuma kita liburan jika ada yang mengganggu." Kata Rey yang sebenarnya tidak ingin adik laki-lakinya menjadi pengganggu, karena tahu jika adiknya mempunyai rasa pada istrinya.


"Kak, ini beneran, Kak Rey dan istrinya liburan di pantai ini?" tanya Aiwa memastikan, takutnya salah tempat tujuan, pikirnya.


"Benar, itu mobilnya Kak Rey." Jawab Gevando yang kebetulan mobil yang ia parkir tidak jauh dengan mobil kakaknya.


"Oh ya, kalau gitu ayo kita turun." Ucap Aiwa merasa lega.


Sedangkan Evana dan Rey, kini sudah duduk santai di pinggiran pantai di temani minuman dari kelapa muda.


Suasana begitu ramai karena banyaknya pengunjung, hingga sulit untuk mengenalinya satu sama lain, karena memang tidak ada yang di kenali.


"Bos," panggil Evana sedikit gugup.


Rey langsung menoleh pada istrinya.


"Apa?"


"Gak jadi deh, Bos." Kata Evana yang tiba-tiba lupa dengan apa yang ingin ditanyakan.


"Hem. Makanya, jangan banyak pikiran, apalagi mikirin mantan."

__ADS_1


"Dih, siapa juga yang mikirin mantan. Yang ada tuh, aku lagi mikirin status kita. Aku merasa kurang bebas tinggal satu rumah dengan orang tuanya Bos Rey, juga ada Gevando sama Aiwa, tentu saja tidak membuatku bebas." Ucap Evana yang akhirnya mengutarakan keinginannya.


"Maksudnya kamu, apa?"


"Ya, maksudnya aku itu, kita pindah rumah."


"Hem. Setelah aku pikir-pikir, sepertinya kita gak perlu rumah. Kan, sudah aku bilang, Gevando akan pergi ke luar negri bareng Aiwa. Jadi, kamu hanya akan bermain drama di depan Mama dan Papa." Kata Rey menjelaskan.


"Serius, kamu Bos?"


Rey mengangguk, dan meraih minumannya. Evana yang bosan karena hanya duduk-duduk saja di tepi pantai, memilih untuk bangkit dari posisi duduknya.


"Kamu mau kemana?"


"Jalan-jalan di sekitaran pinggiran pantai sini aja kok, Bos. Gak apa-apa kan, Bos, kalau aku tinggal sendirian. Habisnya bosen lihatin orang orang ke sana kemari, bikin pusing kepala."


Bukannya menjawab, justru Rey langsung ikutan berdiri.


"Ya udah, aku temani kamu jalan-jalan. Sepertinya tempat itu cukup sepi dan juga tenang, kamu tidak lagi harus melihat banyak orang ke sana kemari." Kata Rey sambil menunjuk.


"Makasih ya, Bos."


"Jangan panggil aku dengan sebutan Bos. Ingat, kamu ini istriku. Apa kata orang, jika suami-istri tidak terlihat suami-istri. Jadi panggil sebutan yang lainnya saja, terserah kamu sebutan mana yang nyaman, tetapi bukan Bos."


"Terus, apa dong, Bos."


"Terserah kamu."


"Mas Rey. Dih, lucu banget. Panggil Abang, dikira abang tukang bakso. Panggil Ayang, dih! kek anak alay baru netas."


"Panggil sayang aja, lebih enak untuk di dengar."


Evana langsung bengong saat menatap wajah suaminya.


"Sa --- yang."


"Ya benar, sa-yang."


"Apa gak terlalu, gimana gitu."


"Ya udah, panggil aja Ayang."


"Dih, gak gak gak. Mau ditaruh dimana muka aku ini, panggil suami udah kek alay gitu. Ayang Bebeb, geli banget." Ucap Evana, sedangkan Rey tidak menanggapinya dan memilih berjalan menuju tempat akan dijadikan tempat istirahat.

__ADS_1


Saat itu juga, rupanya hujan pun turun lumayan deras. Rey langsung menarik tangan istrinya dan mengajak berlarian untuk mencari tempat berteduh.


__ADS_2