Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Tidak disangka


__ADS_3

Saat dalam perjalanannya naik motor bersama tukang ojek, Evana benar-benar dapat menghirup udara segar. Sudah sekian lamanya tidak pernah pulang ke kampung mendiang orang tuanya, benar-benar rindu yang terobati.


"Maaf, Mbak, rumahnya yang sebelah mana, ya?" tanya tukang ojek sambil mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.


"Lurus aja dulu ya, Mas. Nanti kalau gak salah sih, belok kanan."


"Oh, ya, Mbak."


Sambil berpikir, Evana mencoba untuk mengingat kembali dengan arah jalan ke rumah orang tuanya dulu.


Tidak butuh waktu yang lama, si tukang ojek sudah berbelok kanan sesuai yang di arahkan oleh Evana.


"Kita sudah belok ini loh, Mbak. Kemana lagi, hampir aja tembus perempatan yang kedua kalinya ini." Kata si tukang ojek memperlambat lajunya kendaraannya.


"Sekarang belok kiri, nah, di situ nanti berhenti." Jawab Evana yang mulai teringat dengan kampung halamannya.


"Ya, Mbak."


Setelah belok kiri, si tukang ojek langsung menghentikan motornya.


"Yang sebelah mana, Mbak?" tanyanya lagi.


Seketika, Evana membulatkan kedua bola matanya saat melihat bangunan rumah yang tidak pernah berubah. Hanya saja, sudah kelihatan tua. Tapi, tetap saja, pekarangannya tetap terlihat rajin dan bersih, lantaran ditanami bermacam-macam jenis sayuran.


"Itu, Mas. Tapi ... yang menempati siapa, ya?" Jawabnya sambil bertanya-tanya.


Saat itu juga, si tukang ojek menjalankan motornya sampai di depan rumah yang dimaksudkan, sekaligus belok ke rumah tersebut. Dengan yakin, bahwa tebakannya tidak ada yang salah, pikirnya saat Evana menunjuk rumah yang dimaksudkan.


"Silakan turun," ucapnya dan langsung melepaskan helmnya.


Evana pun segera turun sambil melihat-lihat halaman rumah mendiang orang tuanya sambil melepaskan helmnya juga.


Saat menoleh ke arah si tukang ojek, Evana sangat terkejut melihatnya. Wajah yang tidak pernah berubah sejak dulu, tentu saja sangat mudah untuk dikenalinya.


"Kak-kamu Radit, 'kan?"


"Ya, aku Radit. Kamu Evana kah?" tanya Radit balik.


"Ya, aku Evana, teman kecil kamu." Jawab Evana.


"Gak salah lagi tebakanku tadi." Kata Radit saat bertemu di terminal, pikirnya.

__ADS_1


"Ya ampun, kamu sudah besar, dan juga."


"Juga apaan? kamu loh udah gede juga." Ucap Radit yang langsung menyambar.


"Juga udah gak ingusan lagi, kamunya." Ledek Evana yang teringat akan masa kecilnya.


"Sialan, itu kan dulu, belum kenal kerajinan." Kata si Radit.


"Dasar, kamu aja yang pemalas. Nyetrika aja nebeng sama aku, dih." Tuduh Evana.


"Tapi kan, kamu mau." Kata Radit yang tak mau kalah.


"Dih, gak, dulu aku terpaksa." Jawab Evana.


"Loh loh loh, ada apa ini Dit?" tanya seorang nenek yang baru saja datang karena mendengar suara yang kedengaran cukup keras.


Evana maupun Radit, keduanya segera menoleh ke sumber suara.


Saat melihatnya, sejenak Evana berpikir dan mengingat-ingat siapa yang ada dihadapannya itu.


"Ini lo Nek, dia ini Evana, pemilik rumah yang Nenek ditempati untuk tanam sayuran." Jawab Radit dan memberi penjelasan.


Saat itu juga, si Nenek sangat terkejut ketika Radit mengatakannya. Sedangkan Evana masih sulit mengingatnya, lantaran wajah yang sudah mulai dimakan usia.


Evana mengangguk, dan langsung mendapat pelukan dari si Nenek.


"Kemana aja kamu, Nak? kenapa kamu gak pernah pulang? ini, Nenek Muna." Kata si Nenek sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jadi telunjuknya dengan menyebut namanya.


Evana yang sudah teringat siapa yang ada dihadapannya itu, langsung memeluknya.


"Nenek, maafkan Eva, Nek. Sejak Bapak dan Ibu meninggal, Evana tidak pernah pulang lagi." Ucap Evana sambil menangis sesenggukan.


Nenek Muna segera melepaskan pelukannya dan menatap Evana sambil menyeka air matanya.


"Semua sudah berlalu, dan kini kamu juga sudah pulang, itu sudah membuat Nenek lega. Oh ya, tidak baik ngobrol di depan rumah, ayo kita masuk. Dan kamu Radit, tolong bawakan tas bawaan Evana ke dalam." Kata si Nenek Muna, dan memberi perintah kepada Radit untuk membawakan tas bawaan milik Evana.


"Nek, Evana, pamit dulu ya, mau cari setoran dulu. Nanti kalau ada waktu, aku main ke rumah kamu." Ucap Radit berpamitan.


"Ya, sana, kalau mau nyari setoran." Jawab Nenek Muna, sedangkan Evana mengangguk dan tersenyum.


"Hati-hati ya, Dit. Eh, tunggu tunggu tunggu."

__ADS_1


"Ada apa, Va?" tanya Radit.


"Hampir saja aku lupa, aku belum bayar ongkos sama kamu." Jawab Evana yang tersadar jika dirinya belum membayar ongkos ojek.


"Hem. Seperti sama siapa saja, sudah, gak usah bayar. Anggap aja, aku beri gratisan sama kamu. Kita kan, sudah lama tidak saling traktir. Sudahlah, simpan aja uangnya untuk kebutuhan kamu. Ya udah ya, aku mau nyari setoran dulu." Ucap Radit.


"Makasih banyak ya, Dit. Kamu temanku yang paling baik." Kata Evana yang masih ingat sikap baik dan perhatian dari Radit, teman kecilnya.


Nenek Muna yang melihatnya, pun tersenyum.


"Bagaimana kabar kamu, Nak Eva? ini rumah masih Nenek rawat, hanya saja tidak ditempati oleh Nenek, soalnya Nenek gak terbiasa tinggal di rumah sebesar ini. Jadi, Nenek cuma bersihin saja satu minggu tiga kali. Cuma untuk pekarangan, setiap hari dibersihkan, soalnya Nenek tanami macam-macam sayuran."


"Nenek mah, dari dulu rajin. Evana benar-benar sangat kagum sama Nenek. Meski tinggal sendirian, Nenek gak pernah mengeluh."


"Ya kan, kesetiaan Nenek hanya buat Kakek Rustam."


"Ah, Nenek. Jadi pingin belajar dari Nenek, tapi ... apa Evana bisa ya, Nek."


"Hem, kenapa gak bisa? oh ya, kamu pasti belum makan, 'kan? sekarang lebih baik kamu mandi dulu, setelah itu ke rumah Nenek untuk makan. Kebetulan, tadi Nenek masak sup ayam."


"Tapi Nek, ntar ngerepotin Nenek."


"Kamu ini, dulu juga sering ke rumah Nenek bareng Radit, temani Nenek makan. Sudah, cepetan mandi. Rumah kamu gak ada yang berubah, semua masih rajin dan juga bersih. Jadi, jangan takut." Kata si Nenek, Evana mengangguk.


"Ya, Nek. Kalau gitu, Evana mandi dulu ya, Nek." Jawab Evana, dan bergegas pergi ke kamarnya dulu.


Nenek Muna yang tidak bisa diam untuk beraktivitas, memilih menyiangi rumput sambil menunggu Evana selesai mandi.


Sedangkan di tempat lain, yakni di rumah sakit, masih saja sama dan belum ada perubahan pada diri Reyzan, suami Evana.


Selain itu, Gevando sedang pusing untuk memecahkan permasalahan. Karena tidak ingin ibunya sakit, Gevando segera pergi ke rumah sakit.


"Loh, kamu gak ke kantor?" tanya Tuan Daro saat mendapati putranya yang baru saja datang.


"Ya, kamu kok gak ke kantor?"


"Justru itu, Mana dari kemarin belum juga pulang. Biar Vando aja yang menunggu Kak Rey, Mama sama Papa lebih baik pulang dan istirahat. Takutnya, nanti kalian berdua juga sakit, bagaimana?"


"Gak, Van, Mama akan tetap disini menunggu kakak kamu sampai sadar dari komanya. Dan kamu, lebih baik fokus dengan kantor." Kata sang ibu yang tetap bersikukuh.


"Ya, Van, lebih baik kamu berangkat ke kantor saja. Siapa lagi kalau bukan kamu yang menggantikan posisi kakak kamu. Sudahlah, lebih baik kamu pulang dan berangkat ke kantor." Perintah sang ayah, Gevando mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah, kalau gitu aku pulang lagi." Jawab Gevando, dan bergegas pulang dan berangkat ke kantor.


__ADS_2