
BRAK!
Pintu pun di dobrak oleh salah satu orang yang mendapat perintah dari Evana. Tak peduli jika pintunya rusak, yang terpenting keselamatan harga diri Bosnya.
Dengan cepat, Evana sendiri langsung menendang pintu kamar istirahat dengan tenaganya yang super extra miliknya. Sekali tendangan, terbukalah pintunya.
Alangkah terkejutnya saat melihat Veria yang sudah melepaskan bajunya, benar-benar hilang rasa malunya.
"Bawa keluar perempuan itu, bila perlu tahan sampai Bos Rey tersadar." Perintah Evana dengan tatapan sinis kepada Veria.
"Brengs_ek! kau Vana." Teriak Veria yang langsung mengenakan bajunya kembali. Kemudian, diantara dua orang tersebut membawanya ke ruang lain untuk di tahan.
Evana yang hanya berdua dengan Bosnya, saat itu juga, Rey langsung menyambar tangannya dan membuatnya jatuh di atas tempat tidur. Kini, posisi Evana di bawah kungkungan Bosnya.
"Bos, jangan. Lepaskan, aku minta jangan lakukan." Ucap Evana yang penuh ketakutan, jika dirinya yang akan menjadi sasaran oleh Bosnya.
"Aw!" pekik Evana saat mendapat sentilan dari Bosnya.
"Siapa juga yang mau melakukannya di sini, jangan mengkhayal. Dapat ilmu dari mana kamu, kuat juga kamu menendang pintu. Tenaga luar aja gini, apalagi kalau di atas tempat tidur. Gak kebayang aku, jadi penasaran."
Evana langsung menarik tengkuk lehernya si Bosnya, dan langsung menggigit daun telinganya.
"Aaa!" teriak Rey saat telinganya merasa kesakitan.
Rey langsung terperanjat, dan bangkit dari posisinya dengan kondisi hanya mengenakan celana kolor.
"Awas, kamu ya. Kalau bukan karena membutuhkanmu, sudah aku terkam kamunya." Kata Rey sambil menyambar celana panjangnya, dan juga baju kemejanya.
Evana sendiri masih berada di atas tempat tidur, perlahan ia turun.
'Jadi, si Bos sebenarnya hanya pura-pura. Si_al, rupanya dia sendiri bisa mengatasinya. Tau gini, aku biarin aja. Di terkam ulat bulu juga masa bod_oh.' Batin Evana berdecak kesal.
Kemudian, Rey menoleh kebelakang.
"Lanjutkan pekerjaan kamu, selesaikan hari ini juga. Karena besok kita tidak punya waktu di kantor ini, kita akan urus perceraian kamu."
"Bos, apa gak kecepatan?"
__ADS_1
"Apa kamu mau, jika aku terjebak lagi seperti tadi, dan gagal menikah denganmu."
"Ya sih, tapi tadi si Bos keknya udah sadar dari tadi deh, maksudnya Bos Rey hanya pura-pura mabok, ya, 'kan?"
"Ya, karena aku mengetahuinya. Kalau posisi aku tidak mengetahui apa yang direncanakan oleh Veria, apa kamu bisa jamin kalau aku baik-baik saja." Kata Reyzan sambil memasang kancing baju kemejanya.
"Kenapa gak laporin ke polisi saja, katanya seorang pemb_unuh istrinya si Bos."
"Gak semudah itu aku melakukannya. Dah, gak usah banyak tanya. Lebih baik sekarang ini, kamu kerjakan tugasmu." Perintah si Bos.
Evana mengangguk dan keluar dari kamar istirahat. Sedangkan Rey, keluar dari ruang kerjanya untuk menemui Veria yang sudah di tahan.
"Bos, hati-hati." Ucap seseorang yang bertugas menjaga Veria di depan pintu.
"Tenang saja, gak terjadi apa-apa." Jawab Rey karena didalam ruangan tersebut tidak ada benda apapun, sekalipun itu kursi saja, sama sekali tidak ada. Ruangan tersebut benar-benar kosong.
Sedangkan para karyawan lain tengah di hebohkan, termasuk Neti yang juga kaget saat mendengar cerita dari rekan satu ruangannya oleh kejadian yang sudah Evana lakukan, yakni meminta dua orang pekerja di kantor untuk mendobrak pintunya.
Saat sudah berada di dalam ruangan yang tak berpenghuni dan juga tidak ada benda apapun di dalamnya.
Veria yang berdiri di sudut ruangan, tepatnya di dekat jendela kaca. Veria langsung menoleh pada Rey yang baru saja masuk. Kemudian, Rey mengunci pintunya kembali.
Veria yang mendengarnya, pun begitu geram.
"Semakin kamu brutal, mana mungkin aku akan tertarik denganmu. Hari ini aku masih bisa memaafkan kamu, tapi tidak untuk masalah yang akan kamu buat nanti." Ucapnya lagi dan tak lupa memberi ancaman untuk Veria.
Veria yang sama sekali tidak menanggapi, hanya diam tak berselera untuk bicara. Rey yang malas berlama-lama berada di dalam ruangan tersebut, segera keluar.
Saat itu juga, Veria langsung memeluk Rey dari belakang. Tentu saja, menghentikan langkah kakinya Rey.
"Rey, aku tuh sangat cinta sama kamu. Aku ingin menjadi istrimu, dan kamu mau menerima perjodohan dari orang tua kita. Aku benar-benar jatuh cinta denganmu sejak pertama kali kita bertemu." Ucap Veria dengan posisi masih memeluk Reyzan.
Reyzan sendiri langsung melepaskan kedua tangan Veria yang melingkar di bagian pinggangnya.
Kemudian, Rey berbalik badan.
"Maaf, aku tidak pernah tertarik denganmu. Jangan untuk menerima perjodohan, untuk menikahimu saja aku tidak bisa. Sekalipun itu perempuan yang baru aku kenal dan aku tertarik dengannya, maka aku akan menikahinya. Begitu juga dengan sebaliknya, lebih baik kamu mencari laki-laki lain yang lebih bisa mencintaimu." Ucap Rey menolak.
__ADS_1
Veria mundur satu langkah.
"Apa kamu jatuh cinta dengan sekretarismu itu?" tanya Veria sekaligus menebak.
Reyzan menganggukkan kepalanya, sekalipun itu menjadi dramanya.
"Jadi, kamu mau menikahinya? tidak, Rey. Kamu belum mengenal perempuan itu, bisa saja kamu akan dimanfaatkan oleh Evana."
"Tapi aku merasa, bahwa dia tidak akan memanfaatkan aku. Jadi, sekarang kamu sudah tahu keputusanku. Bahwa aku menolak perjodohan karena aku sudah memiliki pilihan lain yang akan menjadi istriku, dan kamu lebih baik lupakan aku." Jawab Rey meyakinkannya.
Veria yang seakan tersingkir untuk mendapatkan lelaki yang dicintainya itu, perasaannya berubah menjadi dongkol.
Saat itu juga, Rey langsung keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Veria yang tengah berdiri mematung.
Veria yang sendirian, kedua tangannya mengepal kuat. Napasnya terasa panas, dan otaknya ikutan terasa mendidih saat mendapatkan penolakan dari Reyzan.
"Aku harus menyingkirkan Evana, dan aku harus menyelidikinya. Setelah itu, aku beritahu sama ibunya Rey." Gumamnya dengan sorot matanya yang tajam yang penuh kekesalannya.
Neti dan teman-temannya, kini tengah membicarakan Bosnya yang terjebak di dalam ruangan kerjanya. Evana yang kebetulan merasa dahaga dan kehabisan air minum di atas meja kerjanya, ia keluar untuk mengambil air minum.
Semua karyawan tengah memperhatikan dirinya saat berjalan untuk mengambil air minum. Saat itu juga, Neti langsung menarik Evana cukup kuat ke arah sudut yang jarang untuk dilewati.
"Neti, sakit, tau." Kata Evana saat tangannya ditarik oleh temannya.
"Kamu gak kenapa-napa, 'kan?" tanya Neti sambil memeriksa kondisi temannya.
Evana mengernyit.
"Kamu kenapa sih, khawatir gitu." Kata Evana heran dengan temannya sendiri.
"Ya takut aja, jika kamu diapa-apain sama si Bos."
"Hem, gak diapa-apain akunya kok, serius. Nih, lihat. Baik-baik saja, 'kan? dah lah, aku mau ambil air minum."
"Oh ya, Veria gimana?" tanya Neti ingin tahu.
"Mana aku tahu, itu urusannya sama si Bos. Sudah lah, ceritanya nanti aja kalau pulang." Jawab Evana dan segera pergi.
__ADS_1
Neti masih diam sambil melihat bayangan Evana pergi menjauh.
"Semoga kamu baik-baik saja, Va. Veria bukan orang sembarangan, dia bisa saja menyingkirkan kamu dari kantor ini, seperti karyawan dulu, yang nasibnya mengenaskan karena disangka dekat dengan si Bos." Gumamnya khawatir akan nasib temannya.