Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Kejutan


__ADS_3

Tidak ada keluhan apapun dan yang lainnya atas kehamilan Evana, sudah diizinkan pulang setelah tiga hari berada di rumah sakit.


Didalam perjalanan, Evana merasa bahagia telah mendapatkan kejutan yang sangat berharga. Entah kenapa, Evana begitu ingin rasanya mendapat perhatian penuh dari Suaminya.


Begitu juga dengan Reyzan, bahagia yang berlipat-lipat atas bertemunya dengan istrinya, juga kabar yang membuatnya bahagia.


'Aku berjanji dengan diriku sendiri, bahwa aku akan bertanggung jawab atas istriku. Aku tidak akan membiarkannya bersedih, kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga. Begitu juga dengan kesedihannya, juga milikku.' Batin Reyzan sambil merangkul istrinya.


Evana yang sudah cukup lama tidak mendapat perhatian dari seorang suami, telah didapatkan oleh suaminya yang sekarang. Ingatannya kepada Ardi lambat laun mulai berkurang. Rasa sakit yang ia rasakan, mencobanya untuk melupakan dengan kehadiran suaminya yang kedua.


Cukup lama dalam perjalanan menuju rumah milik mendiang kedua orang tuanya Evana, akhirnya sampai juga. Sedangkan Nenek Muna ditemani kedua orang tua Reyzan tengah bersiap-siap untuk memberi kejutan.


Begitu banyak para warga di sekitar rumahnya telah datang untuk menyambut kehadiran Evana dan Reyzan yang belum di ketahui oleh para tetangga dengan hubungan pernikahannya.


Rumah yang awalnya sepi dan hanya adanya tanaman sayuran oleh Nenek Muna, kini telah berubah di payungi dengan tenda tenda megah yang menjadi acara yang cukup terbilang mewah dengan dekorasi yang elit.


Banyak di antara mereka tengah membicarakan Evana, ada yang bersifat positif, juga negatif. Namanya juga bertetangga, ada yang suka dan ada juga yang tidak suka.


Biasalah, namanya bergosip. Tidak terasa gurih jika tidak menggosip, seperti itulah perempuan yang asal.


Evana dan suami yang baru saja sampai di halaman rumahnya, alangkah terkejut saat sudah ramai banyak orang-orang yang berdatangan.


"Bos, ini ada apa? kok rumah aku rame? Nenek Muna! Nenek baik-baik saja, 'kan?"


Reyzan mengangguk dan tersenyum.


"Namanya kejutan untuk kamu, masa harus sepi." Jawab Rey sambil menatap istrinya dengan perasaan yang begitu bahagia.


"Kejutan untukku?" tanya Evana sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Bukan untukmu saja, tapi untuk calon bayi kita." Jawab Rey sambil mengusap perut istrinya yang belum terlihat besar.


"Bohong."


"Ngapain aku bohongi istriku sendiri." Ucap Reyzan sambil mendekati wajah istrinya begitu dekat jaraknya.


Evana yang belum terbiasa, ada sedikit gugup.


"Ayo kita turun, mereka sudah menunggu kita." Ajak suaminya, Evana segera melepaskan sabuk pengamannya.


Rey yang tidak mau istrinya kenapa-napa karena banyaknya orang yang hadir di rumahnya, memilih untuk menggendong.


"Bos, mau ngapain?"


"Gendong kamu, aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Sudah, jangan ngeyel."

__ADS_1


"I-i-ya, tapi kan."


"Gak ada tapi tapian, ayo." Kata Rey yang langsng mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya sampai di dalam rumah.


Semua menyambutnya dengan meriah, saat Evana dan suami memasuki rumah yang sudah lama tidak berpenghuni.


Ingatannya kembali di masa kecilnya, saat dirinya mendapat kejutan dari kedua orang tuanya ketika berulang tahun.


Kehadiran ibu mertua dan ayah mertua telah mengingatkan sosok kedua orang tuanya yang kini sudah tidak lagi bisa untuk bertemu.


"Selamat berbahagia ya, sayang. Maafkan Mama hanya bisa memberi kado yang seperti ini untuk menyambut hadirnya sang calon bayi yang sedang kamu kandung."


Evana mengangguk dan tersenyum.


"Ya, Ma. Terima kasih banyak atas kejutannya. Restu atas pernikahan kami saja, itu sudah membuat Evana sangat bahagia." Jawab Evana, ibu mertua langsung memeluknya. Bahagia masih diberi kesempatan untuk memiliki menantu yang diharapkan, baik dan terpenting putranya bahagia dengan pilihannya.


Setelah itu, satu persatu dari para tetangga dan juga teman masa kecilnya, memberi ucapan selamat untuknya.


Ada beberapa yang membicarakan sosok Reyzan, yang mana terlihat begitu sempurna.


"Evana beruntung banget ya, dapat suami tajir. Udah gitu ganteng banget, sempurna deh."


Bisik-bisik dari salah satu tetangga Evana saat membicarakannya tanpa mengetahui perjuangan Evana melewati masa-masa sulitnya dalam perjalanan hidupnya, yang harus gagal dalam pernikahan.


"Hus, gak baik bicara seperti itu. Kita jangan menilai seseorang dari sampulnya, tetapi perjuangannya. Mungkin memang rizki Evana bersuamikan orang kaya dan tampan. Tentu saja, semua itu berawal dari perjuangannya. Suami kita bukan berarti tidak memberi keberuntungan untuk kita, memang sudah menjadi takdir dan takaran untuk kita." Timpal tetangga satunya ikut bicara, tentunya mengingatkan untuk tidak merasa iri dan kekurangan.


"Ya juga sih. Ya udah yuk, kita ikutan makan bareng sama mereka." Jawabnya dan mengajak untuk ikutan makan bersama yang lainnya.


Entah ada angin apa, tiba-tiba Evana maupun Reyzan dikagetkan dengan hadirnya seseorang yang tidak begitu asing. Semua yang sudah ada yang mengenalinya, hanya merasa penasaran. Selain itu, terkagum dengan penampilannya yang tidak begitu berbeda dengan Rezan.


Lelaki yang berstatus duda ini, tengah datang meski tidak mendapatkan undangan dari Evana maupun Reyzan. Dengan nekad, ia datang.


"Itu kan, Pak Ardi yang waktu itu berada di atas panggung dulu itu kan ya. Waktu itu bukannya pernah mengejar Evana, siapa dia. Jangan-jangan lelaki ini dulu pernah pacaran dengan Evana kali ya." Bisik dari tetangga kepada temannya yang penasaran.


"Mungkin saja, sepertinya ya sih." Sahutnya.


"Sudah, jangan keseringan membicarakan orang lain, gak baik." Timpal yang satunya.


Sedangkan Evana merasa tidak nyaman, takutnya sang suami akan salah paham.


"Kenapa dia datang ke sini? apa kamu mengundang dia?"


"Nggak, sayang. Aku juga gak tahu, kenapa dianya bisa datang ke sini."


"Papa yang mengundang semua rekan kerja kamu, tuh lihat di belakangnya." Jawab Tuan Daro sambil menunjuk pada beberapa orang rekan kerja putranya yang baru saja datang.

__ADS_1


"Oh, kirain." Ucap Reyzan sambil melihat rekan kerjanya datang menghampiri.


Saat itu juga, banyak tamu undangan dari para tetangga yang terkagum dengan Evana. Rupanya rumahnya didatangi orang-orang penting, pikir beberapa warga sekitar yang mendapat undangan juga jamuan yang mewah.


Ardi yang sudah berhadapan dengan mantan istrinya juga suami barunya Evana, susah payah untuk mengatur napasnya. Cemburu, itu sudah pasti. Tapi, apa datanya yang tidak mempunyai hak apapun padanya.


"Selamat ya, Va. Semoga kalian berdua dilimpahkan kebahagiaan. Maafkan aku yang sudah pernah mengabaikan kamu, sekali lagi maafkan aku." Ucap Ardi sekuat hati untuk berlapang dada menerima kenyataan yang harus ia terima.


"Ya, Mas. Maafkan aku juga, sudah pernah gagal mengarungi bahtera bersamamu. Aku doakan, semoga kamu dipertemukan dengan perempuan yang lebih baik lagi dariku." Jawab Evana sebaik mungkin untuk tidak membuat suaminya cemburu.


"Semoga saja. Dan buat kamu Rey, selamat ya, kamu sudah memenangkan hatinya Evana. Mungkin memang benar, jika Evana jodoh kamu. Bahagia selalu untuk kalian berdua, dan maafkan aku yang sudah pernah emosi denganmu." Ucap Ardi pada Reyzan.


"Makasih ya, Di. Aku doakan kamu, semoga kamu segera mendapat penggantinya. Aku janji, aku akan bahagiakan Evana, dan akan selalu menjaganya. Tidak hanya itu saja, Evana bagian tanggung jawabku, apapun itu." Jawab Reyzan sebijak mungkin, meski ia tahu sehancur apa perasaan mantan suaminya sang istri.


"Ya, makasih." Ucap Ardi dan mencari tempat lain.


Setelah itu, beberapa rekan kerjanya telah datang dan memberi ucapan selamat untuknya.


"Doni, Elu."


"Ya, ini Gue. Maaf ya, baru bisa nyusul. Sebelumnya selamat untuk kalian berdua, bahagia selalu. Selamat juga, bentar lagi jadi ayah."


"Elu mah bisa aja, makasih ya ucapannya, serta doanya." Ucap Doni sebagai teman akrabnya.


Setelah itu dilanjutkan oleh rekan kerja lainnya memberi ucapan selamat untuknya.


Ketika semua tengah menikmati acaranya, datanglah Radit sendirian. Kemudian, menghampiri Evana dan Rey yang tengah duduk bersama. Saat itu juga, keduanya segera bangkit dari posisinya.


"Pak Rey, Evana, selamat ya. Maaf, datangnya terlambat." Ucap Radit setegar mungkin, meski hatinya menyimpan rasa cemburu. Tapi, apa haknya untuk merebutnya, pikir Radit.


"Makasih ya, ini semua berkat bantuan darimu. Kalau bukan kamu yang ikutan menjemput, entah apa nasibku." Jawab Rey yang teringat ketika harus berdebat dengan Ardi, pikirnya.


Radit yang mendengarnya, pun tersenyum.


"Bisa aja mah si Pak Rey. Ya udah ya, saya gak mau ganggu acara Bapak. Kalau gitu saya pamit mau kumpul bersama yang lainnya." Ucap Radit sebijak mungkin, dirinya juga sadar diri dengan statusnya dan juga statusnya Evana.


Ardi yang tengah duduk sambil mengobrol, Doni menghampiri bersama Deden.


"Hei! ngelamun aja, nih aku bawain minuman untuk kamu."


"Si_al, kamu Don. Ngagetin aku aja kamu ini." Ucap Ardi yang baru saja dikagetkan.


"Elu mikirin apa, Bro? wanita itu tidak hanya itu saja. Kamu masih bisa dapatkan istri yang sama seperti mantan istrimu."


"Apa-apaan sih Elu itu, aku tidak sedang memikirkannya. Sudahlah, aku mau pulang aja. Kalian kalau masih mau disini, terserah kalian." Kata Ardi yang kepalanya terasa penat.

__ADS_1


__ADS_2