Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Menyelesaikan masalah terlebih dulu


__ADS_3

Tuan Daro yang kehilangan jejak ayah Veria yang telah kabur, menendang angin dengan penuh geram.


"Si_al!" umpat Tuan Daro penuh kesal, lantaran telah gagal untuk mengejarnya.


Saat itu juga, Beliau segera menghubungi anak buahnya untuk menangkap Ayah Veria bersama anak dan istrinya.


Sedangkan Reyzan yang sudah dalam perjalanan untuk berangkat ke kampung bersama Doni, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sssttttttt


Penglihatannya langsung tertuju tiga orang yang hendak menyebrang jalanan, yakni hampir saja ia tabrak. Dengan reflek, Rey memukul setir mobilnya, tanda merasa sial.


Namun, tiba-tiba ia terkejut saat ketiganya menoleh sambil menahan silaunya karena sorot cahaya dari mobil yang begitu terang.


"Veria," ucapnya lirih saat melihatnya dengan jelas.


Sedangkan yang hampir saja ketabrak, ayah Veria langsung menariknya dengan paksa.


"Ayo kita kabur, waktu kita tidak banyak." Ucap ayahnya Veria yang takut dikejar oleh masa, lebih lagi mempunyai banyak anak buah, tentu saja semakin ketakutan.


Reyzan yang penasaran, langsung turun dari mobilnya, lantaran waktu menyebrang masih cukup lama untuk menegurnya.


"Veria!" teriak Rey memanggilnya.


Veria yang sudah di hantui perasaan takut, tak peduli siapa yang memanggilnya.


"Kelihatannya terburu-buru, ada apa dengan mereka?" gumamnya ingin tahu.


Karena penasaran, Rey mencoba untuk menghubungi orang tuanya. Takut, ada sesuatu yang terjadi di antara kedua orang tuanya bersama orang tua Veria.


"Ponselku." Ucapnya lirih sambil memeriksa saku celananya.


Tetap saja, tidak ditemukan ponselnya.


"Tunggu tunggu tunggu, perasaan sudah aku kantongi. Apa ya, ada di mobil." Gumamnya saat tidak mendapati ponselnya.


Karena sudah waktunya untuk melanjutkan perjalanannya, Rey bergegas segera masuk ke mobil.


Sambil menyetir, Rey sama sekali tidak menemukan ponselnya didalam mobilnya.


"Astaga! ada dikamar, kenapa juga mesti lupa segala." Gerutunya dengan kesal, ia juga tak lupa memukul setir mobilnya sendiri.


Karena ponselnya adalah hal yang sangat penting untuk dibawa bepergian, mau tidak mau harus mengambilnya, meski harus putar balik.

__ADS_1


Lain lagi dengan Tuan Daro bersama istrinya, kini tengah memberi laporan ke pihak kepolisian untuk menangkap ayahnya Veria bersama anak dan ibunya juga yang sudah kabur entah kemana.


Tidak hanya melapor kepada polisi saja, tetapi juga kepada semua anak buahnya yang sudah siap untuk menangkap tiga orang yang dijadikan tersangka.


"Pa, gimana ini? kalau sampai mereka bertiga tidak dapat ditemukan. Mama takut, Pa, kalau nanti menyimpan dendam dan menghabisi anak anak kita."


"Sabar dulu aja, Ma. Berdoalah, semoga semua akan baik-baik saja." Kata Tuan Daro mencoba untuk meyakinkannya.


Istri Tuan Daro yang tidak tenang akan perasaannya, juga benar-benar sangat khawatir kalau kalau keluarga Veria selamat dari kejaran anggota polisi, dan dapat melarikan diri dengan bebas.


Kekhawatiran yang dirasakan oleh istri Tuan Daro, yakni takut jika kedua putranya akan menjadi sasaran empuk oleh keluarganya Veria, pikirnya.


Sedangkan Reyzan, kini mempercepat laju kendaraannya untuk pulang ke rumah mengambil ponselnya.


Dengan kecepatan tinggi, Reyzan akhirnya sampai juga di rumahnya.


"Bi, Bibi."


Panggil Reyzan sambil berjalan menuju anak tangga, lantaran sepi tidak ada orang. Setau Reyzan, kedua orang tuanya tengah pergi keluar untuk makan malam bersama sesuai janjinya dengan keluarga Veria.


Dengan terburu-buru, asisten rumahnya segera menghampiri majikannya.


"Ya, Tuan, ada apa?"


"Ya, Tuan. Tadi Tuan Daro pamit untuk pergi sebentar, katanya. Tapi, saya gak tau juga, Tuan."


"Oh, ya udah. Bibi boleh ke belakang, saya pulang hanya mau ambil ponsel saja." Ucap Reyzan dan bergegas mengambil ponselnya di dalam kamar.


"Tuan, tunggu." Panggil dari seseorang kepercayaan ayahnya.


Reyzan langsung menoleh.


"Ya, ada apa?"


"Apakah Tuan Rey sudah diberi kabar oleh Tuan Daro?"


Reyzan menggelengkan kepalanya.


"Gak, memangnya ada apa?"


"Lebih baik Tuan Rey segera hubungi Tuan Daro, soalnya sangat penting." Jawabnya.


"Oh, ya. Nanti aku segera hubungi Mama atau Papa, ya udah kalau gitu, aku mau ambil dulu ponselku di kamar." Ucap Reyzan dan bergegas pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya.

__ADS_1


Karena penasaran, Rey segera masuk ke kamarnya.


"Dimana ponselku tadi aku taruh, aih! kenapa gak ada." Gerutunya sambil mencari ponselnya yang entah di mana ia lupa meletakkannya.


"Astaga! ada di kamar mandi." Ucapnya yang baru sadar saat meletakkan ponselnya ada dimana.


Tidak pakai lama, Rey langsung menghubungi orang tuanya untuk menanyakan ada hal apa, hingga meminta dirinya untuk menelpon.


Saat sambungan telepon terhubung, Rey membuang napasnya dengan kasar.


"Pa, ada apa sebenarnya? kata Papa, Rey diminta untuk menghubungi Papa."


Dengan serius, Rey mendengarkan ucapan dari ayahnya yang berada di seberang telpon.


"Apa! mereka menjadi kejaran polisi. Ok ok, aku akan segera menyusul kalian bersama beberapa anak buahku." Kata Rey dengan terkejut saat mendengar kebenaran yang sudah terkuak.


'Serapat rapatnya bangkai di sembunyikan, tetap saja akan ketahuan. Aku tidak bersusah payah untuk menjelaskannya pada Papa maupun Mama, karena mereka sudah mengetahuinya sendiri.' Batin Reyzan saat mendapat kabar dari orang tuanya.


"Ya, Pa, ya. Aku akan segera berangkat menyusul kalian, ya udah aku berangkat." Ucap Reyzan, dan langsung memutus panggilan telponnya.


Karena takut terjadi sesuatu kepada kedua orang tuanya, Rey segera menghubungi Doni untuk membatalkan keberangkatan ke kampung, lantaran harus menyelesaikan masalah untuk segera ditangani.


"Don, aku gagal ikut kamu ke kampung. Soalnya aku dapat masalah yang harus aku tangani, mungkin kalau semua udah beres, aku akan menyusul." Ucap Rey membatalkan janjinya untuk ikut bareng pergi ke kampung, yakni untuk mencari keberadaan istrinya.


Doni sendiri yang mendengar Rey telah membatalkan, pun merasa lega, karena dirinya juga ada halangan yang tidak bisa untuk di tunda.


"Apa! ya udah, nanti kalau urusan kita sudah selesai, kita berangkat ke kampung." Kata Rey, Doni pun menyetujuinya.


Merasa lega sudah bicara dengan Doni, Rey cepat-cepat untuk menyusul kedua orang tuanya.


Sedangkan di lain tempat, yakni keberadaan Veria bersama kedua orang tuanya kini tengah menjadi kejaran polisi.


"Pa, gimana ini. Kita mau kabur kemana? aku capek harus lari terus, kaki aku sakit."


Kata Veria yang kelelahan karena menghindari kejaran banyaknya anggota polisi.


"Mama juga capek, Papa sih, ceroboh. Dan kamu juga, kenapa punya mulut itu gak di jaga."


"Loh, kok aku sih Ma, yang harus disalahin. Mama juga ikutan ngomong, awalnya juga Mama sendiri yang buka obrolan." Tuduh Veria yang tidak terima karena disalahkan oleh ibunya.


"Sudah sudah, jangan berantem. Yang harus kita pikirkan itu, bagaimana kita bisa kabur ke tempat yang aman." Kata ayahnya Veria.


"Kenapa gak hubungi aja orang suruhan Papa, biar bisa menjemput kita. Kalau sampai kita ini ketangkap polisi, habislah nasib kita di penjara." Ucap ibunya Veria yang sudah tidak sabar untuk kabur di tempat yang aman, pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2