Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Tidak menyangka


__ADS_3

Sudah lewat hari yang ditentukan, Evana masih bermalas-malasan untuk menunggu hari pernikahannya.


Sedari tadi, Evana terus mondar-mandir di dalam kamar. Terasa malas untuk bertemu dengan calon mertuanya. Meski hanya berpura-pura semata, tetap saja tidak mudah untuk di sepelekan.


"Va, Lu sudah ditungguin tuh sama si Bos di depan rumah." Ucap Neti yang baru saja membuka pintu kamarnya.


Evana pun menoleh.


"Net, Lu aja ya yang gantiin aku. Serius, aku males banget mau nikah sama si Bos."


"Dih! gantiin, ogah. Pak Bos kan, pilihan kamu. Tapi serasi kok, kan sama sama janda ama duda, cocoklah." Kata Neti seakan menjadi kompor paling panas.


"Ye, ini kan demi dapetin rumah sama uang tunai. Kalaupun bukan karena rumah, mana mau akunya, Net."


"Ya udah, jalani aja sesuai drama yang kamu buat itu bareng si Bos. Awas tapi ya, gak ada kucing yang tergoda sama ikan asin. Apalagi ikan asinnya berada di dalam kandangnya sendiri, tak ada larangan apapun tentang pemilik kandang untuk menikmati ikan asin miliknya sendiri." Ucap Neti seakan tengah memberi perumpamaan.


Evana yang mendengarnya, pun susah payah untuk menelan ludahnya.


Saat itu juga, Evana teringat jika dirinya sama sekali belum pergi ke dokter kandungan.


"Astaga!"


"Apa, Va?"


"Aku belum mendatangi dokter kandungan, Net. Aduh, pokoknya besok kamu harus temani aku untuk konsultasi, ok. Ya udah, aku mau bersiap-siap dulu. Bilangin sama si Bos, suruh nunggu sebentar. Sudah sana keluar, temani si Bos." Jawab Evana yang langsung mendorong tubuh Neti agar segera keluar dari kamarnya.


"Payah Lu, Va." Ucap Neti sambil berjalan ke luar untuk menemui Bosnya.


Sedangkan Evana, kini tengah terburu-buru untuk bersiap-siap berangkat ke rumah calon mertuanya.


Sesuai permintaan, yakni memakai baju yang dibelikan oleh Bosnya. Meski memiliki body yang bagus, tetap saja, Evana merasa risih ketika mengenakan pakaian yang bukan seleranya.


"Yakin nih, aku harus pakai baju yang seperti ini? aih, yang benar aja." Gumamnya di depan cermin sambil melihat penampilannya seraya tidak percaya diri untuk mengenakannya.


Karena tidak mempunyai pilihan lain lagi untuk mengenai pakaian, mau tidak mau, Evana tetap mengenakan pakaian sesuai pilihan Bosnya.


Selesai bersiap-siap, Evana langsung bergegas untuk menemui Bosnya.


"Bos, aku sudah siap." Ucap Evana saat dirinya keluar dari dalam rumah kosannya.

__ADS_1


Seketika, Rey yang melihat penampilan Evana, telah membuatnya sama sekali tidak berkedip.


Neti yang melihat Bosnya terpesona, akhirnya berdehem.


"Ah ya, ayo kita berangkat. Dan untuk kamu Neti, kami tinggal dulu. Ini, aku belikan makanan untuk kamu, dan aku pinjam dulu teman kamu ini." Ucap Reyzan sebelum berangkat.


"Gak apa-apa kok, Bos. Gak usah dibalikin juga gak apa-apa itu teman saya, rela kok Bos. Sebelumnya, makasih ya Bos, udah dibawakan makanan untuk saya."


Evana yang mendengarnya, pun langsung melotot pada Neti. Sedangkan Neti sendiri, justru menjulurkan lidahnya seakan memancing kekesalannya.


"Sudah, ayo kita berangkat. Gak ada untungnya berdebat dengan teman kamu, waktu kita hanya sebentar." Ucap Rey yang langsung menarik tangan Evana.


Tidak bisa menolak, Evana nurut pada Bosnya.


Selama perjalanan, Evana masih diam sambil melihat jalanan yang ia lewati.


Berbeda dengan Bosnya, kini tengah fokus dengan setir mobilnya. Meski sekilas menoleh pada sekretarisnya, Rey sama sekali tidak menunjukkan bahwa dirinya tengah memperhatikannya.


Saat melihat jalanan, kenangan indah bersama mantan suaminya, pun melintas dalam ingatannya.


'Kemana perginya Mas Ardi, ya? sejak pesan itu masuk, sampai sekarang tidak pernah mengirimkan pesan padaku. Kenapa tiba-tiba aku merindukannya, sadar Va, sadar.' Batin Evana sambil melamun.


"Aw!" pekik Evana saat Bosnya tiba-tiba mengerem mendadak.


Seketika, Evana celingukan di sekitarnya, antara beneran atau hanya halusinasi saja, pikirnya.


Pasalnya, rumah yang ia lihat, seperti dalam mimpi. Untuk memastikannya, Evana berulang kali menepuk-nepuk kedua pipinya.


"Kamu sedang tidak bermimpi, ini beneran nyata. Jadi, ayo kita turun. Kedua orang tuaku sudah menunggu, ayo turun."


Evana langsung menoleh pada Bosnya.


"Ntar, ntar, keknya aku pernah masuk ke rumah ini deh." Jawab Evana mencoba untuk mengingat kembali ingatannya yang sudah lama itu.


"Hem. Kamu kebanyakan melamun tadi, wajar saja jika isi kepala kamu isinya ngelantur. Sudah, ayo buruan turun." Ucap Reyzan yang tidak mudah untuk percaya.


"Serius, Bos. Aku tidak bohong, pasalnya udah dua tahun yang lalu. Aku tuh bertemu sama Ibu-ibu yang udah paruh baya, cantik lagi."


"Ngomong apaan lah kamu ini, sudah cepetan ayo kita turun." Ucap Rey yang sudah tidak sabar.

__ADS_1


Evana yang malas berdebat dengan Bosnya, akhirnya nurut dengan ajakannya. Setelah melepaskan sabuk pengamannya, ia bergegas turun.


Sesuai janji dan kesepakatan, Evana maupun Bosnya sendiri, harus menampakkan diri bahwa keduanya memanglah pasangan yang amat serasi.


"Ingat, kamu harus menunjukkan di hadapan kedua orang tuaku untuk seromantis mungkin." Ucap Rey mengingatkan, Evana mengangguk pasrah.


Setelah keduanya bersepakat, Rey menggandeng tangan milik Evana layaknya kekasih sendiri. Saat sudah masuk kedalam rumah, detak jantung Evana mulai tidak karuan. Gugup, takut, malu, itu sudah pasti. Ditambah lagi dengan statusnya yang janda, membuat nyalinya mulai kendor.


"Selamat malam, Ma, Pa." Sapa Rey kepada kedua orang tuanya.


Evana yang mengetahui siapa pemilik rumah, langsung menundukkan pandangannya kembali.


'Aku sedang tidak bermimpi, 'kan? kalau aku berada di rumah Ibu Luviana. Oh, tidak mungkin. Aku yakin, Beliau hanya orang yang mirip, juga rumahnya yang kebetulan sama.' Batinnya sambil menunduk ke bawah dan menggigit bibir bawahnya karena malu.


"A-Ana, benarkah nama kamu Ana?"


Beliau langsung beranjak berdiri dan menghampiri Evana yang sama sekali tidak berani menampakkan wajahnya.


Sedangkan Gevando sama Aiwa merasa bingung dibuatnya.


Kemudian, ibunya Reyzan segera memutar posisi Evana untuk menghadap pada Beliau.


Setelah itu, diangkat dagunya. Terpaksa, Evana akhirnya mendongak dan menatap calon ibu mertuanya.


Beliau langsung memeluk Evana cukup erat, sampai kesulitan untuk bernapas.


"Kamu ini, kenapa tidak mau menyapa Ibu, ha? kemana saja selama ini, kamu. Katanya mau menghubungi Ibu, sampai sekarang kamu tidak menghubungi Ibu. Jangankan untuk menelpon, datang ke rumah saja, tidak."


Evana tersenyum lebar saat Beliau mencubit gemas padanya.


"Maaf, Bu. Waktu itu, Evana kehilangan ponsel. Jadi, merasa malu dan juga enggan untuk datang ke rumah Ibu. Maafkan Evana ya, Bu." Jawab Evana merasa malu, kenyatannya calon ibu mertuanya sudah ia kenali, meski hanya sekali untuk bertemu.


"Tunggu, Mama sudah kenal?"


"Ya, Nak. Mama sudah mengenal calon istri kamu, yang pernah Mama ceritakan sama kamu sebelum kamu menikah dengan mendiang istrimu." Jawab sang Ibu, ingatannya Rey pun kembali beberapa tahun yang lalu.


"Jadi, yang menyelamatkan Ibu dalam insiden kecelakaan itu, Evana kah?"


Ibunya pun mengangguk.

__ADS_1


"Oh, jadi kamu yang sudah menyelamatkan ibunya Rey dan Gevando. Gak salah pilih lagi, Papa merestui hubungan kalian berdua."


Evana yang mengira akan mendapatkan hinaan, cacian, hujatan, dan sumpah serapah lainnya, justru berbanding terbalik dengan apa yang ia bayangkan sebelumnya. Justru, calon Ibu mertuanya adalah orang yang ia kenal dan pernah ditolong.


__ADS_2