
Seperti barusan, saat mau makan siang, kini keduanya kembali berjalan beriringan sampai didalam ruang kerjanya.
"Bos," panggil Evana, dan kembali mengigit bibir bawahnya karena takut salah untuk berucap.
"Apa?" tanya Reyzan yang lagi-lagi seperti mendapatkan godaan dari Evana, meski hanya mengigit bibir bawahnya.
"Pulangnya jam berapa ya, Bos? maaf, soalnya saya ada janji. Takutnya salah jamnya, maka dari itu saya bertanya lebih dulu sama si Bos." Jawab Evana dan bertanya dengan gugup.
"Nanti jam tiga sore. Sekarang kamu lanjutkan pekerjaan kamu, karena masih banyak yang harus kamu kerjakan."
"Ya, Bos." Jawab Evana dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Cukup lama berkutat didepan layar komputer, Evana merasa sangat mengantuk. Kepalanya saja terasa berat untuk bertahan di depan komputer.
Berkali-kali Evana menguap, lantaran sudah ada dua tahun dirinya tidak bekerja di kantoran. Biasanya hanya aktivitas sebagai seorang istri, kini harus mengulangi masa mudanya.
Saat itu juga, tiba-tiba rasa kantuknya menghilang ketika dirinya ingat biaya untuk mengurus perceraiannya.
"Satu bulan lagi aku baru saja bisa mengajukan perceraian, ah! lama sekali." Gumamnya lirih sambil menguap.
Samar-samar, Reyzan dapat menangkap Evana berbicara sendiri sambil menguap.
"Siapa yang cerai?" tanya Reyzan dengan suara cukup jelas untuk di dengar.
Seketika, Evana langsung mengangkat wajahnya dan mengarahkan pandangannya ke arah Bosnya.
"Oh, itu teman saya, Bos. Tadi orangnya kirim pesan dan meminta saya untuk menemani dia untuk mengajukan perceraian." Jawab Evana beralasan, padahal dirinya sendiri yang akan mengajukan perceraian.
"Kirain kamu yang mau bercerai. Sudah cepetan selesaikan dulu pekerjaanmu itu."
"Gak, Bos. Eh! maksud saya, bukan saya." Jawabnya kembali beralasan, meski awalnya hampir keceplosan.
'Apa ya, dia sudah bersuami? ah ya, hampir saja aku lupa. Bukankah waktu itu ada seorang laki-laki yang mencegat mobilnya? ya, berarti benar jika dia sudah bersuami. Sebaiknya aku periksa identitasnya, bod_oh sekali akunya.' Batin Reyzan saat menatap layar komputernya.
Evana yang tidak mau membahas soal statusnya yang sudah bersuami, memilih untuk fokus dengan pekerjaannya.
'Ingat, Va, ingat. Kamu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupmu, dan jangan sampai kamu membuang kesempatan emas di kantor ini. Pertama, mengurus perceraian. Kedua, mencari kosan sendiri agar tidak menumpang. Ketiga, fokus kerja untuk beli rumah sendiri walau hanya sepetak sekalipun.' Batin Evana memikirkan masa depannya.
Sedangkan Reyzan sendiri tengah sibuk memeriksa identitasnya Evana yang membuatnya ingin tahu.
'Oh, namanya Evana Zeya. Tunggu tunggu tunggu, statusnya menikah.'
Reyzan membacanya dalam hati, ia langsung menoleh pada Evana.
__ADS_1
'Tadi dia tanpa sadar ngomongin soal cerai, apa ya, dia mau cerai. Ah, apa urusanku memikirkan dia mau cerai atau gaknya. Yang jelas aku sudah mengetahuinya, jika dia statusnya bersuami.' Batinnya yang masih mengarahkan pandangannya ke Evana yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Cukup lama keduanya berkutat di depan layar komputer masing-masing, akhirnya sudah waktunya untuk pulang.
Evana yang dapat melihat waktu di layar ponselnya, tersenyum lega.
"Akhirnya selesai juga pekerjaanku di jam yang tepat. Selanjutnya, tinggal pulang dan melakukan pertemuan dengan Mas Ardi. Setelah itu, aku baru bisa pulang ke kosannya Neti." Ucapnya bergeming, dan tak lagi dapat didengarkan oleh Bosnya.
Selesai membereskan meja kerjanya, Evana segera bersiap-siap untuk pulang. Begitu juga dengan Reyzan, dirinya juga tengah bersiap-siap.
"Bos, boleh pulang, 'kan?" tanya Evana tanpa canggung lagi.
"Mau tidur di sini juga boleh, tuh ada kamar." Jawab Reyzan dengan santai.
"Makasih, tapi rumah kos-kosan saya jauh lebih nyaman dari pada ... di bawah jembatan."
"Terserah kamu, besok jangan sampai telat." Kata Reyzan dengan jutek.
"Kalau gitu, saya duluan ya, Bos." Ucap Evana berpamitan.
Tanpa menjawab, Reyzan hanya mengangguk.
Setelah Evana keluar duluan, Reyzan merogoh tas bawaannya untuk mengambil ponselnya. Kemudian, ia segera menghubungi nomor yang di tuju.
"Selidiki alamat dan orangnya sekaligus, jangan sampai ada yang lupa. Ingat, itu." Perintah Reyzan pada orang suruhannya.
Sambil berjalan sendirian, tiba-tiba Veria berjalan beriringan dengannya. Tentu saja, Reyzan merasa risih harus berjalan dengan seorang perempuan yang bukan kemauannya.
"Bos, aku boleh nebeng, 'kan? mobil aku ban nya bocor."
"Maaf, aku harus segera pulang. Kamu bisa naik taksi atau ojek, atau nebeng sama teman kantor." Jawab Reyzan, dan segera mempercepat jalannya.
"Aw!" pekik Evana yang tersungkur di lantai akibat ditabrak dari belakang.
Kemudian, Evana langsung mengangkat wajahnya.
"Bos Rey,"
Tanpa pikir panjang, Reyzan langsung menarik tangan Evana untuk membantunya berdiri.
"Ikut aku, ayo cepetan." Ucap Reyzan memaksa Evana untuk ikut dengannya.
Reyzan sengaja untuk membuat Veria kesal dan tidak lagi untuk mendekatinya. Entah apa motif sebelumnya, Reyzan begitu malas untuk berhadapan dengan perempuan yang bernama Veria.
__ADS_1
Reyzan yang terus menarik tangan Evana, tidak peduli jika harus mendapat amarah dari sekretarisnya itu, lantaran ia mengajaknya dengan paksaan.
"Masuk," kata Reyzan sambil mendorong tubuh Evana hingga masuk ke dalam mobilnya.
"Bos, aku mau dibawa kemana?" tanya Evana sambil berusaha untuk turun.
Tapi naas, Reyzan sudah duduk di sebelahnya.
"Ke hotel, diam saja kamu."
"Bos, jangan gila, kamu."
"Aku sudah gila, diam lah."
"Bos, sadar dong, Bos. Masa ya, kita mau itu apa, di jam gini. Eh maksudnya gimana sih, aduh. Bos, turunin saja aku disini. Aku mohon, Bos, jangan bawa aku ke hotel."
"Diam, apa perlu aku melakukannya di dalam mobil ini?"
"Bos, aku bisa teriak ini, Bos."
"Berteriak lah sekencangnya." Kata Reyzan sambil fokus dengan setirnya.
"Dimana alamat rumahmu, berikan padaku."
"Bos, sebenarnya ada apa sih? aku ada pertemuan dengan seseorang. Jadi, aku tidak pulang ke rumah."
"Kemana?" tanya Reyzan ingin tahu.
"Kemana ya, lupa."
Sssttt
"Aw!" pekik Evana saat keningnya terbentur.
"Bos ini gimana sih, keningku kan, jadi sakit." Ucap Evana sambil mengusap keningnya yang terasa sakit akibat terbentur.
'Bos Reyzan ini kenapa lah, sepertinya aneh gini. Seperti ingin meluapkan emosi, tapi tak sampai.' Batin Evana yang menjadi penasaran dengan sosok Bosnya itu.
Saat itu juga, Reyzan mengambil dompetnya dalam tasnya. Kemudian, ia mengambil beberapa lembar uang kertas.
"Turun, ini ada uang untuk naik taksi atau naik ojek. Aku tidak bisa mengantarkan kamu pulang, ambillah."
"Ini beneran, Bos. Soalnya jumlahnya kebanyakan, takutnya nanti di bilang perempuan gak bener, lagi." Jawab Evana.
__ADS_1
"Anggap saja ganti rugi karena sudah menabrak kamu sampai jatuh, dan juga membuatmu malu. Ambil saja, aku tidak keberatan." Ucap Reyzan, Evana tersenyum mengembang.
"Baiklah, aku akan menerimanya. Makasih banyak ya, Bos. Lumayan lah ini, bisa buat beli stok makanan. Bos baik-baik saja, 'kan? semoga sampai rumah dengan selamat ya, Bos." Kata Evana dengan girang dalam hatinya, lantaran sudah mendapatkan ganti rugi atas kesialannya.