Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Merindukan istri


__ADS_3

Ada yang merasa kebingungan dengan denah lokasi milik mantan istrinya, tak hentinya mengacak rambutnya yang tidak gatal.


"Sebaiknya aku tanya saja dengan warga sekitaran sini, siapa tahu aja dapat alamat yang benar." Gumam Ardi sambil celingukan mencari orang yang dapat di hampiri.


Sesekali melihat-lihat disekitarnya.


"Ah ya itu orangnya, aku coba tanya aja dulu. Siapa tahu aja, aku mendapatkan alamatnya Evana, semoga." Sambungnya lagi dengan bergumam.


Tidak sabar ingin menemukan alamat rumah mantan istrinya, Ardi memberanikan diri untuk bertanya.


"Permisi, Pak, saya mau izin bertanya." Ucap Ardi seramah mungkin, dan dengan sikapnya yang sopan.


"Ya, Nak, silakan, ada apa ya?"


"Begini, Pak, saya mau meminta izinnya untuk bertanya mengenai alamat seseorang warga kampung sini."


"Oh, silakan." Jawab seseorang yang tengah membersihkan halaman rumahnya.


"Alamat rumahnya Nenek Muna sama alamat rumahnya Evana, dimana ya Pak?" tanya Ardi merasa tidak yakin akan mendapatkan alamat yang benar, pikirnya.


Lebih lagi dirinya bukanlah warga kampung asli, tentunya warga kampung sangat hati-hati untuk memberi alamat rumah milik tetangganya.


Sejenak seseorang tersebut diam, berpikir lebih jernih lagi. Takutnya, akan ada niat tidak baik yang akan mencelakai Nenek Muna maupun nama yang disebutkan.


"Maaf ya, Den, Bapak gak bisa memberitahu alamatnya Nenek Muna. Jika ingin mengetahuinya, Den bagus boleh tanya ke Pak RT sini, atau Pak lurah. Soalnya kampung sini sangat ketat peraturannya. Selain berhati-hati dengan orang yang tidak di kenal, juga harus waspada."


"Tapi, Pak. Tadi saya mendapatkan alamatnya juga dari Pak RT, saya ini pendatang baru yang tadi pagi di bahas di balai desa, yakni rencana untuk membangun sebuah lapangan pekerjaan dengan beberapa patner kerja." Ucap Ardi menjelaskan, serta berterus terang.


"Oh, yang acaranya tadi pagi?"


"Ya, Pak. Saya orangnya yang bersama rekan kerja saya disini untuk tinggal beberapa waktu." Kata Ardi menjelaskan.


"Terus, Anda mau mencari rumahnya Nenek Muna, ada perlu apa?" tanya Bapak tersebut.


"Saya ada perlu dengan Beliau, Pak." Jawa Ardi beralasan, karena tidak mungkin untuk mengatakannya dengan jujur.

__ADS_1


Tidak disadari, ada Radit yang melintas di jalan yang sama. Tentu saja dapat melihat Ardi tengah berbicara dengan seseorang.


"Dit, Radit, sini." Panggil seseorang sambil melambaikan tangannya memanggil Radit yang jaraknya tidak jauh.


Radit yang merasa jika namanya dipanggil, segera mendekatinya.


"Ya, Pak Budi, ada apa?"


Radit tak lupa menoleh pada seseorang yang tidak begitu asing.


"Kak-kamu kan, yang tadi bersama Evana, 'kan?" tanya Ardi sambil mengingat Radit saat menggendong mantan istrinya.


"Ya, Pak, saya tadi yang menggendong Evana. Kalau boleh tahu, Bapak ini siapanya Evana?"


"Loh, kalian sudah saling kenal?" tanya Pak Budi.


"Belum, Pak. Tadi itu hanya kebetulan saja, soalnya Radit ini yang sempat bersama Evana." Jawab Ardi berterus terang.


Radit menghela napasnya, teringat akan perkataan Evana yang mengaku bahwa dirinya sudah menikah. Tentu saja, prasangkanya mengarah pada sosok laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Dit, jangan melamun." Panggil Pak Budi sambil menepuk punggung milik Radit.


"Ah ya, maaf. Kalau boleh tahu, ada perlu apa Anda mencari Evana? apakah saudaranya? suaminya? atau teman akrabnya."


Ardi yang mendapat pertanyaan yang penuh pilihan, bingung untuk memberi jawaban. Berkata jujur itu tidak mungkin, berbohong juga apa lagi, pikirnya.


"Em ... saya teman akrabnya." Jawab Ardi beralasan, tidak mungkin jika mengatakan jika dirinya adalah mantan suaminya.


Tentu saja, akan membuat dirinya sulit untuk bertemu. Mengaku sebagai suaminya juga tidak mungkin, sedangkan Evana mempunyai suami lain.


"Oh, terus ada perlu apa ingin bertemu dengannya?" tanya Radit yang seolah seperti detektif.


Ardi yang merasa ditahan, menaruh rasa curiga dengan laki-laki yang ada di hadapan nya.


'Jangan-jangan ini laki-laki juga menyukai Evana, terlihat jelas cara bicaranya. Wah, bakal ada persaingan sengit nantinya, si Reyzan suaminya, laki-laki ini yang cukup untuk menjadi pesaing, terus diriku.' Batinnya sambil memperhatikan Radit dari cara bicaranya yang seperti tidak rela untuk memberitahu alamat mantan istrinya.

__ADS_1


"Kok gantian yang bengong, minta anterin Radit saja untuk bertemu dengan Nenek Muna." Kata Pak Budi mengagetkan.


Radit yang mendengar ucapan dari Pak Budi, terasa berat untuk menjawabnya.


"Ah ya ya, Pak. Baiklah, kalau begitu saya mau minta bantuan kepada Radit untuk mengantarkan saya ke rumah Evana." Jawab Ardi merasa ada dukungan untuk bertemu dengan mantan istrinya.


Radit yang awalnya ingin menolak dan berlepas diri secepatnya, tapi Pak Budi yang lebih dulu memberi saran kepada Ardi.


"Ya, Pak Budi, saya akan mengantarkannya ke rumah Evana." Jawab Radit dengan terpaksa, Ardi justru senyum bahagia.


'Akhirnya aku tidak susah payah untuk mencari rumahnya Evana, lagi mujur nasibku. Entah sampai di rumahnya, bisa aja aku diusir. Setidaknya aku sudah mendapatkan izin oleh Pak RT. Jadi, aku gak pusing amat.' Batin Ardi dengan senyumnya yang penuh kelegaan.


"Makasih ya, Dit, sudah mau menolong saya." Ucap Ardi berterimakasih.


"Ya, Pak, sama-sama." Jawab Radit.


"Kalau begitu, saya permisi ya, Pak Budi. Terimakasih atas bantuannya, sudah di bantu lewat Radit." Ucap Ardi pada Pak Budi.


"Sama-sama.Kalau boleh tahu, siapa namanya?"


"Saya Ardi, Pak. Panggil saja Ardi, karena saya bukan orang penting dan juga tidak mempunyai jabatan apapun." Jawab Ardi merendah, tak ada gunanya jika dirinya dipanggil harus ada embel-embelnya, pikir Ardi.


"Ya, Nak Ardi. Ya sudah kalau mau berkunjung di rumah temannya Nak Ardi." Ucap Pak Budi, Ardi mengangguk dan tersenyum ramah.


"Ya, Pak Budi, kalau begitu saya permisi." Jawab Ardi berpamitan.


Setelah itu, Ardi ditemani Radit menuju rumahnya Evana. Keduanya tidak beriringan saat mengendarai motor, tetapi Radit yang jalan duluan, karena dijadikan petunjuk jalan menuju rumah Evana.


"Akhirnya aku akan menemukan rumah kamu, sayang. Rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Jujur, aku masih mencintai kamu. Aku ingin sekali kita rujuk dan menjalani rumah tangga seperti dulu, memberi perhatian untukmu, dan bermanja-manja denganmu." Gumamnya sambil mengendarai motornya.


Lain lagi dengan Reyzan yang masih di rawat di rumah sakit, pikirannya mulai tidak tenang memikirkan istrinya. Tidak hanya takut akan kekhawatiran keadaan istrinya, tetapi juga merindukannya.


Reyzan masih bengong saat Doni tidak lagi menemaninya, suasana kembali sepi, dan hanya ibunya yang menemani.


Saat itu juga, seorang dokter datang untuk memeriksa keadaan Reyzan.

__ADS_1


__ADS_2