
Evana yang tidak mempunyai pilihan, lantaran dengan kondisi fisiknya yang masih terasa lemas, akhirnya menyetujui saran dari mantan suaminya.
Ardi yang tidak ingin kehilangan mantan istrinya, sebisa mungkin untuk memberi perhatian yang lebih untuknya.
"Lepaskan, aku bisa berdiri sendiri." Ucap Evana sambil menepis tangan milik mantan suaminya.
"Kalau sampai kamu jatuh, itu sangat berbahaya. Katakan saja padaku, mau dirawat di rumah, atau di puskesmas sini? ingat, kondisi fisikmu jauh lebih penting dari apapun." Kata Ardi yang terus membujuknya.
"Tenang saja, aku masih bisa mengimbangi berat badanku." Ucap Evana.
Tidak lama kemudian, Evana mendapat tawaran dari Ibu Bidan.
"Bagaimana Mbak Eva? mau di rawat di puskesmas saja, atau di rumah Mbak Evana."
"Di rumah saja keknya, Bu. Soalnya saya lebih nyaman di rumah." Jawab Evana disertai dengan anggukan.
"Yakin? takutnya di rumah akan terganggu."
"Nggak kok, Bu. Justru saya lebih nyaman di rumah, karena bebas untuk bergerak. Selain merasa nyaman, juga tidak menambah repot untuk orang yang di rumah." Jawab Evana dengan senyumnya yang ramah, supaya tidak ada larangan jika dirinya di rawat di rumah.
"Baiklah, nanti siang Mbak Evana boleh pulang. Soalnya pagi ini gak ada mobil untuk mengantarkan pulang." Ucap Ibu bidan.
"Bu Bidan tenang aja, nanti saya akan pulang untuk mengambil mobil." Sahut Ardi ikut bicara.
"Oh, ya gak apa-apa kalau Bapak mau menggunakan fasilitas sendiri." Kata Ibu bidan.
"Ya, Bu Bidan." Jawab Ardi disertai anggukan.
"Ya udah kalau gitu, Saya permisi dulu. Sambil menunggu bersiap-siap, saya mau periksa pasien yang lainnya, permisi." Ucap Ibu bidan.
"Ya, Bu Bidan, silakan." Jawab Eva dan Ardi.
Kini, Evana bersama Ardi yang berada didalam ruangan, segera keluar dan pindah ke ruangan yang lain.
Dengan sangat hati-hati menuntun mantan istrinya, Ardi bersikap layaknya suami yang siaga kepada istrinya. Tapi kenyataannya, perempuan yang ia beri perhatian bukanlah istrinya lagi, melainkan mantan istri.
Radit yang melihat Ardi tengah menuntun Evana, hatinya berasa dibakar api cemburu. Tentu saja, ingin rasanya menyingkirkannya di dekat seseorang yang dicintainya itu.
Nenek Muna yang khawatirkan, segera mendekatinya.
"Nak Evana, kamu baik-baik saja kan, Nak?" tanya Nenek Muna penuh kekhawatiran.
Evana mengangguk.
"Ya, Nek, Eva baik-baik saja. Kita pindah ruangan dulu ya, Nek."
"Ya, Nak." Kata Nenek dan mengikuti Evana dari belakang, Radit sendiri menyimpan kecemburuannya yang terasa panas dihatinya.
__ADS_1
Ingin sekali menyingkirkan Ardi, tapi tidak mungkin juga untuk ia lakukan. Tetap saja, dirinya harus menjaga sikap.
Ketika sudah pindah ruangan, Evana duduk di tepi ranjang dengan selang infus yang masih terpasang. Kemudian, Nenek Muna ikut duduk di sebelahnya.
"Katakan pada Nenek, kamu sakit apa?" tanya Nenek Muna sambil meraih tangan Evana.
Belum bisa menjawab, justru menoleh pada Radit, lelaki yang diketahui suka pada dirinya. Lalu, dilanjut menoleh pada mantan suaminya yang sedari tadi mengakui suami sahnya.
"Em ... Evana seperti berat untuk mengatakannya dihadapan dia lelaki yang terlihat seperti ingin memberi perhatian untuknya, tapi itu semua tidak mungkin untuk diterima.
Evana sadar diri, jika dirinya masih mempunyai suami, juga masalah yang ia hadapi belum diselesaikan. Lebih lagi tengah hamil anak dari suaminya, tentu saja tidak mungkin untuk berpaling.
"Ada apa, Nak? katakan saja sama Nenek, kamu tidak perlu ragu untuk berkata jujur."
"Ya, Va, katakan saja. Siapa tahu, aku bisa memberimu pertolongan, perhatian pun akan aku berikan." Timpal Radit ikut bicara, ucapannya langsung mengena pada Ardi.
Tentu saja, bertambah kesal, geram, dan juga dongkol, yakni saat dirinya mendengar ucapan dari Radit yang begitu terang-terangan di hadapannya, juga dihadapan mantan istrinya.
Radit langsung menoleh pada Ardi, yakni dengan sengaja membuat geram padanya dan membuat cemburu tentunya.
"Gak, aku gak perlu mendapat perhatian dari kamu dan juga, Mas Ardi. Aku ada Nenek yang dari dulu sudah memberi perhatian padaku yang sangat cukup aku terima." Jawab Evana, dan menoleh pada Nenek.
Sebelum berkata jujur, Evana menghela napasnya. Kedua tangannya memegangi kedua tangan milik Nenek Muna.
Pelan-pelan menarik tangan Nenek dan diarahkan di bagian perutnya, sedangkan Nenek Muna masih bingung.
Radit yang dapat mendengar ucapan dari Evana yang cukup jelas, sungguh seperti tidak menyangka.
Begitu juga dengan Nenek Muna, sungguh seperti mimpi ketika mendengar kabar dari Evana.
"Kamu hamil?" tanya Nenek Muna memastikan.
Evana mengangguk dengan senyumnya.
Saat itu juga, Nenek Muna langsung memeluk Evana dengan perasaan bahagia.
"Selamat ya, Nak Eva. Nenek ikut bahagia mendengarnya." Ucap Nenek Muna sambil memeluk, kemudian Evana melepaskan pelukan.
"Kamu gak sendirian sekarang, ada pengganti suami kamu yang menemani kamu, yaitu calon buah hatimu."
"Ya, Nek. Evana benar-benar sangat bahagia, akhirnya Evana gak lagi sendirian." Jawab Evana sampai lupa akan sosok mantan suaminya dan juga lelaki yang diketahui menyukainya.
Ardi dan Radit, keduanya sama-sama merasa cemburu saat mendengar kenyataan Evana hamil dan masih mempunyai suami, juga terlihat mengharapkan pertemuan dengan suaminya.
Lebih lagi dengan Ardi, penyesalan yang ia dapatkan atas kebodohannya itu, membuatnya merasa sakit saat mantan istrinya yang diketahui tidak bisa memberinya keturunan, justru kini dinyatakan hamil.
"Mulai sekarang kamu harus menjaga kesehatan kamu dengan baik."
__ADS_1
Evana mengangguk pelan.
Saat itu juga, Evana kembali teringat dengan bentakan dan hinaan dari ayah mertua maupun Ibu mertuanya.
"Selamat ya, Va, atas kehamilan kamu. Jangan lupa, jaga kesehatan kamu. Jika ada apa-apa, atau ada yang kamu butuhkan, bisa hubungi aku." Ucap Radit memberi ucapan selamat, juga sekaligus membuyarkan lamunannya.
"Ya, makasih banyak, Dit. Maaf, sudah merepotkan kamu." Jawab Evana sedikit malu atas kehamilannya, lantaran tidak ada suami di dekatnya.
Kemudian, Radit tersenyum mengejek pada Ardi.
"Katanya suaminya Evana, kok seperti mantan." Ejek Radit dengan berani.
Ardi langsung mengepal kuat pada kedua tangannya saat mendengar ucapan dari Radit, sorot matanya berubah menjadi tajam.
"Sudah, sudah. Kalian tidak perlu saling memanasi, Evana butuh istirahat yang cukup."
"Evana mau istirahat di rumah aja Nek, tadi udah bicara sama Ibu bidan, dan minta dirawat di rumah." Jawab Evana.
"Serius kah, kamu mau dirawat di rumah?"
Evana mengangguk.
"Terus, pulangnya bagaimana? tangan kamu saja masih terpasang dengan selang infus."
"Pulangnya naik mobil saya, Nek. Jadi, Nenek gak perlu khawatir, saya yang akan mengantarkan Evana pulang. Saya sudah meminta teman saya untuk datang ke sini, mungkin bentar lagi sampai." Sahut Ardi dengan sigap memberi kemudahan untuk mantan istrinya.
Radit yang mendengar Ardi memberi bantuan kepada Evana, hanya bisa menyimpan rasa cemburunya.
"Oh, gak ngerepotin nih?"
"Gak kok, Nek. Justru, saya sangat senang karena bisa memberi pertolongan pada Evana." Jawab Ardi.
"Gak apa-apa ya, Nak Eva. Jugaan hanya menolong kamu, jangan di tolak." Kata Nenek Muna, Evana hanya mengangguk pasrah.
Entah ada angin apa, Ardi mendekati Radit yang terlihat masih kesal.
"Aku yang menang," bisik Ardi dengan mengejek.
Radit membalasnya dengan senyum yang mengejek, dan memilih keluar untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, dan diikuti oleh Ardi.
Sambil berdiri dengan kedua tangannya yang bersembunyi didalam saku celananya, mengetahui jika Ardi dibelakangnya.
"Mantan suami aja bangga, seharusnya kamu itu ngaca diri kamu sendiri. Sebuah perceraian pasti ada api sebelumnya. Kalau Evana yang menyalakan api itu tidak akan mungkin, karena aku tahu betul siapa itu Evana. Jadi, aku gak merasa iri denganmu." Ucap Radit dengan berani.
"Kau!"
Radit langsung menangkis tangan milik Ardi yang hendak memukul dirinya. Kemudian, ia melintirkan tangannya dengan kuat. Tentu saja, Ardi kesakitan. Setelah itu, Radit mendorong tubuh Ardi hingga terpental.
__ADS_1