
Evana maupun Rey menoleh ke sumber suara. Keduanya sama-sama tekejut dengan hadirnya kedua orang tuanya Reyzan.
Sedangkan Evana langsung mengalihkan pandangannya ke lain arah. Takut, jika dirinya akan mendapatkan bentakan dari ibu mertuanya maupun ayah mertua yang pernah mengusirnya.
Siapa yang gak merasa sakit hatinya, ketika dipermalukan dan hina oleh mertuanya sendiri. Ditambah lagi tengah hamil muda, yang sering berubah-ubah hormonnya.
Yang seharusnya bahagia bisa menjadi bersedih, apa lagi yang sudah terlanjur sakit hati dan bersedih. Tentu saja perasaannya yang sensitif akan mudah bersedih.
Saat itu juga, kedua orang tuanya Rey berjalan mendekati menantu dan putranya. Kemudian, disusul oleh Nenek Muna dari belakang.
"Evana, maafkan Mama sama Papa ya, Nak. Kami berdua gak tahu kebenaran yang sesungguhnya, kalau Veria lah yang sudah memprovokasi Mama dan juga Papa. Tidak hanya itu saja, ternyata keluarga mereka adalah dalang dari semuanya, termasuk yang sudah mencelakai mendiang istri pertama Reyzan. Bahkan, yang sudah menabrak Reyzan, juga mereka dalang dari semuanya. Kami benar-benar menyesalinya, dan meminta maaf sama kamu." Ucap Ibu mertua meminta maaf.
"Ya, Nak Eva. Papa meminta maaf, sudah berbuat jahat sama kamu. Juga, sudah mengusir kamu dari rumah. Sekarang Mama dan Papa tidak ada hak untuk menghalangi hubungan kalian berdua. Kami berdua sudah merestui hubungan kalian." Timpal ayah mertua ikut bicara.
Evana yang melihat kesungguhan dari ibu mertua dan ayah mertuanya, pun mengangguk pelan, pertanda mengiyakan. Saat itu pun, ibu mertua langsung menc_ium pipi kedua menantunya secara bergantian.
"Maafkan Evana juga ya, Ma, sudah membohongi Mama dan Papa atas pernikahan kami yang dibuat sandiwara." Jawab Evana yang juga merasa bersalah karena sudah membohongi ayah mertua dan ibu mertuanya mengenai pernikahan sandiwara yang sudah disepakati bersama dengan Bosnya.
Ibu mertua tersenyum mendengarnya.
"Rey sekaligus mau memberi kabar bahagia untuk Mama dan Papa." Ucap Rey mengubah suasana agar tidak bersedih.
"Kabar gembira, apa itu?" tanya sang ibu penasaran.
Rey langsung meraih tangan kanan ibunya, dan meletakkannya di bagian perut milik istrinya.
"Evana hamil, Ma. Sebentar lagi kalian berdua akan menjadi Nenek sama Kakek." Jawab Rey dengan senyum berbinar.
Kedua orang tuanya saling menatap satu sama lain, dan mengarah pandangannya pada Evana.
"Kamu hamil, Nak?" tanya ibu mertua memastikan.
Evana tersenyum, dan mengangguk pelan.
Ibu mertua langsung membusungkan badannya dan memeluk menantunya yang tengah berbaring di atas ranjang pasien, tak lupa kembali menc_ium keningnya.
__ADS_1
"Selamat ya, sayang. Sebentar lagi kalian berdua akan menjadi ayah dan ibu. Mama sangat bahagia mendengar kabar bahagia dari kalian. Terimakasih banyak, sayang. Kamu memberikan kami penerus keluarga Halilintar." Ucap ibu mertua dengan perasaan penuh bahagia.
Kemudian, ibu mertuanya Evana menoleh pada Nenek Muna. Lalu memutarbalikkan badannya.
"Nek, terimakasih banyak karena sudah menyelamatkan janin yang ada di kandungan menantu saya. Maafkan saya yang sudah merepotkan Nenek. Seharusnya Evana sudah menjadi tanggung jawab kami, tapi ternyata kami telah dibutakan dengan ucapan yang tidak seharusnya kami lontarkan kepada Evana." Ucap ibunya Reyzan.
"Sudah manusiawi, sebagaimana kita menjalani kehidupan kita yang berliku-liku dalam melewati perjalanan hidup kita." Jawab Nenek Muna.
"Terimakasih banyak, Nek. Kalau bukan kebaikan dari Nenek, saya tidak tahu bagaimana keadaan menantu saya." Ucap ibunya Reyzan.
"Evana sudah saya anggap bagian keluarga saya. Karena sebuah amanah, saya harus menjalankannya." Kata Nenek Muna.
Ibunya Reyzan merasa lega, semua yang dilakukannya telah pergi.
"Oh ya, Mama kok tahu kalau kita ada di sini?" tanya Rey yang tiba-tiba aneh dengan kehadiran ibu dan ayahnya. Padahal, dirinya tidak mengajaknya pergi ke kampung pikirnya.
"Hem. Papa sudah kerahkan ke beberapa anak buah Papa untuk meminta mengawasi kamu. Sekaligus, ikut menyusul kamu dari belakang." Jawab ayahnya.
"Kok aku gak tahu kalau Papa ngikutin kita."
"Hem, jadi saat aku sedang bertengkar di pelabuhan, Mama dan Papa tahu?"
"Tentu saja, karena Papa dan Mama ada di lokasi itu. Sudahlah, kamu gak perlu memikirkan hal itu, fokus dengan istrimu dan calon buah hati kalian." Kata sang ayah, sedangkan Rey merasa tersindir oleh ucapan ayahnya yang mengatakan sang buah hati.
'Buah hati dari mana, kita melakukannya saja entah ada angin ribut apa juga nggak tahu. Ah, kenapa aku mesti mengingat kejadian yang konyol itu. Eh, kalau gak gitu, mana mungkin akan seromantis ini akhir ceritaku yang berakhir bahagia. Bahkan, aku dapatkan bahwa istriku hamil. Ternyata eh, masih top cair akunya.' Batin Reyzan sambil melamun dengan senyum senyumnya yang terlihat orang lain tidak jelas.
"Aw!" pekik Reyzan meringis kesakitan saat daun telinganya mendapatkan jeweran dari ibunya karena tersenyum tidak jelas.
"Kamu sedang membayangkan apa, Rey?"
"Aw! ya ya ya, Ma. Ih, Mama, gangguin Rey aja yang lagi memberi perhatian pada Evana."
"Bohong."
Rey langsung melotot.
__ADS_1
"Terus ..."
"Pikiran kamu lagi ngeres, ya 'kan?"
"Dih, Mama kek bisa aja baca pikirannya Rey. Salah, Rey lagi bayangin kalau jadi Daddy."
"Ya ya ya ya, Mama percaya sama kamu." Kata sang ibu yang gak mau membuat suana yang hanya dijadikan perdebatan pada putranya.
Karena tidak ingin mengganggu Evana dan Rey, kedua orang tuanya Reyzan bersama Nenek Muna segera keluar. Tentu saja, memberi waktu yang luang untuk sepasang suami-istri yang sempat berpisah.
Kemudian, Rey menghadap kepada isterinya. Sambil memandangi wajah istrinya,
"Oh ya, Bos Rey tahu dari mana kalau aku tinggal di kampung sini?" tanya Evana membuka obrolan.
"Suami kamu ini apa yang gak bisa, sayang. Maafkan aku ya, sayang. Waktu itu aku koma cukup lama, dan aku butuh perawatan. Saat aku sudah sehat kembali, aku ada tanggung jawab di kantor sambil mencari keberadaan kamu. Bahkan, aku selalu bertanya kabar kamu dari Neti. Jadi, aku percayakan kamu padanya. Setelah urusan kantor beres, aku memaksa Neti untuk berkata jujur. Neti memberi nomor ponselmu, lalu aku meminta orang suruhan aku untuk melacak."
"Oh, jadi Neti yang sudah memberi awal kesempatan Bos Rey mencari keberadaanku?"
"Gak juga, aku juga di ajak bekerja sama dengan temanku bernama Doni. Gak tahunya, ada mantan suami kamu yang juga dalam satu naungan kerja sama."
"Jadi, Bos Rey ikut andil dalam memberi lapangan pekerjaan di kampung sini?"
Rey mengangguk.
"Tapi aku akan tetap membawamu pulang ke kota secepatnya. Aku gak mau kalau kamu akan bertemu terus dengan mantan suami kamu. Karena apa, karena kamu sudah menjadi milikku. Kamu bukan lagi milik orang lain yang seenaknya mau memperhatikan kamu."
Bukannya berucap, justru tertawa kecil.
"Kok ketawa, suami kamu ini gak lagi melucu, sayang."
"Justru aku maunya lahiran di kampung sini, Bos." Jawab Evana dengan kedua matanya yang terlihat menggoda dengan senyumnya.
Reyzan yang mendengarnya, pun melotot pada istrinya.
Lagi-lagi Evana terkekeh geli saat melihat suaminya menatapnya serasa aneh, pikirnya. Saat itu juga, Rey langsung bangkit dari posisi duduknya, dan menyambar bibir milik istrinya. Kemudian, ia langsung menci_umnya hingga rakus, lantaran kerinduannya yang sudah meluber. Sampai-sampai istrinya kesulitan untuk bernapas.
__ADS_1