Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Kesialan


__ADS_3

Rasa lapar yang sudah mengundang perut keroncongan, keduanya tengah dikagetkan dengan suara ketukan pintu.


"Biar aku aja yang buka pintunya, kamu duduk saja disini." Ucap Neti yang sudah bangkit dari posisi duduknya, dan segera membukakan pintunya.


Evana yang tidak diizinkan untuk membuka pintunya, hanya bisa nurut dan duduk di ruang tengah sambil meraih gelas untuk diisi air minum karena tenggorokannya yang terasa kering.


"Nih, aku sudah pesankan makan malamnya untuk kamu dan aku. Sebelumnya kita makan dulu, habis ini kita bisa berbagi cerita, atau gak istirahat." Ucap Neti sambil meletakkan dua kotak yang berisi satu porsi makan malam untuk keduanya.


"Net, aku boleh tanya sesuatu gak? maksud aku minta tolong."


"Minta tolong apaan? kalau sifatnya mengandung hal positif sih, boleh boleh aja. Tapi, kalau sifatnya merugikan diri kamu, tentu saja aku tidak akan mengabulkan permintaan kamu." Jawab Neti sambil membuka kotak nasi.


"Aku mau pinjam uang sama kamu, untuk pegangan selama belum dapatkan gaji." Kata Evana berterus terang.


Neti menatapnya begitu serius.


"Kalau kamu keberatan, aku tidak akan memaksa kamu." Sambungnya lagi, merasa malu karena banyak merepotkan teman baiknya.


Neti tersenyum saat menatap wajah ayu milik Evana. Meski sudah bersuami, wajah Evana masih terlihat sangat muda, juga terlihat sangat cantik. Bahkan, jika harus disandingkan dengan Lely, sungguh jauh bedanya, dan masih cantikan Evana.


Tapi sayangnya, suami Evana telah dibutakan dengan cinta di usia pernikahan yang masih sangat muda. Hanya karena tak kunjung mempunyai anak dalam waktu dua tahun pernikahan, Ardi tak mampu untuk bersabar menanti penantian sang buah hati.


Sakit memang sakit, Evana tak punya kuasa untuk mempertahankan pernikahannya. Bagaimana mau mempertahankan pernikahannya, jika cintanya sudah dikotori dengan campur tangan pihak ketiga, tentunya sangat menyakitkan dan tak sudi jika dirinya diminta untuk kembali lagi.


"Hei! ngelamun aja, kamu ini. Aku akan meminjamkan uang sama kamu, tapi tidak banyak sih. Kalau kamu masih kurang, nanti aku bantu kamu untuk pinjam sama Gevando." Ucap Neti mengagetkan Evana yang tengah melamun.


"Kamu serius? aku gak butuh uang banyak, yang penting bisa buat pegangan. Takutnya aku membutuhkannya, jadi hanya untuk pegangan saja."


"Ya, aku serius lah. Besok pagi, bagaimana? ini sudah malam, jugaan kita mau makan malam dan lanjut istirahat." Kata Neti.

__ADS_1


"Aku butuhnya juga besok, bukan malam ini. Jadi, santai aja."


Neti mengangguk dan tersenyum.


"Ya udah, ayo kita makan dulu. Nanti kita lanjut lagi ngobrolnya."


"Ya, Net. Sebelumnya aku ucapkan makasih banyak, ya. Nanti kalau aku sudah punya gaji sendiri, aku bakal lunasi semua hutangku padamu."


"Ya, ya, ya, Va. Ya udah kalau gitu, kita makan dulu. Stop! jangan dilanjutkan lagi ngomongnya, nanti tersedak."


"Ya, Net, ya." Kata Evana dan melanjutkan untuk makan malam.


Selesai menikmati makan malam, Evana berpamitan dengan Neti untuk istirahat lebih dulu.


Sampainya di dalam kamar, Evana langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur untuk melepas lelah dan juga beban berat yang bertengger di atas kepalanya.


'"Benarkah aku akan bercerai dengan Mas Ardi? aku masih seperti tidak percaya, jika aku akan berpisah dengan hubungan pernikahan yang sudah dijalani lebih dari dua tahun." Gumamnya sambil menatap langit-langit kamar.


Rasa kantuk yang sudah menguasai kedua matanya yang sudah terasa lengket, Evana langsung tertidur pulas tanpa mengenakan selimut.


Berbeda dengan Ardi, keduanya justru tengah menikmati malamnya bersama Lely, perempuan yang dijadikan selingkuhannya. Kini, keduanya tengah bercu_mbu mesra di rumah perempuan yang sudah menjadi penghancur rumah tangganya tanpa Ardi sadari.


Karena ejekan dan nafsu yang mudah tergoda, Ardi mulai terbuai dengan segala rayuannya. Bahkan, tanpa rasa bersalah, Ardi menyalahkan sepenuhnya pada sang istri.


"Sayang, kapan kamu akan bercerai dengan Evana?" tanya Lely sambil bermain manja dengan Ardi.


Ardi sama sekali tak menanggapinya, justru mengalihkan pertanyaan dari Lely dengan segala cumb_uannya.


Lely yang tahu apa yang diinginkan oleh Ardi di saat sedang menikmati ritualnya, memilih untuk membuatnya semakin puas dengan pelayanannya.

__ADS_1


Selesai ritual, Ardi dan Lely masih berada dalam satu selimut yang sama.


"Kamu tenang saja, aku sudah meminta Evana untuk secepatnya mengurus perceraian. Lebih baik kamu fokus dengan tujuan kita, mempunyai anak sebagai penerus keluargaku. Setidaknya aku tidak terus-menerus mendapat ejekan dari rekan kerjaku." Ucap Ardi sambil membelai rambut panjang milik Lely.


"Ya, aku akan bersabar untuk menunggu perceraian kamu dengan Evana. Coba dari dulu kamu menikahnya denganku, mungkin aku tidak menjadi nomor dua." Jawab Neti yang seolah-olah sama sekali tidak bersalah.


"Mana aku tahu, jika Evana yang cantik itu tidak bisa memberiku keturunan. Andai saja aku tahu dari dulu, jelas aku menikahi kamu." Kata Ardi yang juga tidak merasa bersalah sama sekali.


"Ya sudahlah, yang penting sekarang kamu sudah menjadi milikku. Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menjadi istri sah kamu, dan menyambut mu ketika pulang kerja." Jawab Lely tanpa bersalah, justru merasa bangga karena dirinya berhasil mendapatkan lelaki yang diincarnya.


Ardi langsung menc_ium keningnya dan kembali melanjutkan ritualnya tanpa lelah. Tentu saja semakin bersemangat, karena tujuannya ingin mendapatkan keturunan tanpa harus berpikir jernih dan main lahap begitu saja.


Sedangkan di rumah kos-kosan, Evana terbangun dari mimpinya. Kemudian, diraihnya satu gelas air minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering.


"Yah, habis. Mana panas banget, lagi." Ucapnya lirih sambil berjalan untuk menyalakan kipas angin yang menempel pada dinding.


"Mana kipasnya pakai mati segala, aih. Kalau panas gini terus sampai pagi, apa aku tahan dengan keadaan panas seperti ini." Gumamnya lagi saat mendapati kipas angin yang tidak mau bersahabat dengannya.


Karena tidak ada cara lain, akhirnya Evana pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


Badan yang terasa gerah dan juga panas, Evana minum air putihnya hingga tandas sampai tiga gelas air minum.


Kemudian, Evana kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil bantal tidurnya dan juga tikar untuk dijadikan alas tidur.


Neti yang juga merasakan gerah pada bagian tubuhnya, dirinya memilih untuk menyalakan kipas anginnya.


Rupanya eh rupanya, Neti tiba-tiba menjadi bingung ketika dirinya harus mendapatkan sialnya, seperti yang dialami oleh Evana yang terjebak dalam kamar dengan suhu yang cukup tinggi panasnya.


"Aku tidur bareng sama Evana aja apa, ya?" gumamnya yang sudah merasa gerah.

__ADS_1


__ADS_2