Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Bercerita


__ADS_3

Di desa, alias di kampung halaman. Evana kini baru saja selesai mandi, dan menghampiri Nenek Muna yang sedang berada di pekarangan rumah milik orang tua Evana.


Disayangkan jika lahannya terbengkalai, Nenek Muna menjadikan untuk bercocok tanam berbagai macam tanaman sayuran. Bahkan, hasilnya dapat mencukupi kebutuhannya sehari-hari dan tidak mengeluarkan banyak uang, karena semua bisa diambil dari hasil tanamannya.


Tidak hanya itu saja, untuk tanaman padi, Nenek Muna memanfaatkan lahan persawahan milik orang tua Evana untuk dikelola. Hasilnya cukup lumayan, tetap saja disisihkan. Takutnya sewaktu waktu pewarisnya pulang dan meminta haknya, pikir Nenek Muna.


"Nek, rajin banget sih. Sampai gak ada rumputnya." Kata Evana memuji Nenek Muna yang begitu rajin.


"Rajin itu, harus. Apalagi untuk mendapatkan sesuatu, harus bekerja keras. Oh ya, bagaimana kalau sekarang ke rumah Nenek. Kamu pasti lapar, butuh energi untuk menjalani kesehariannya. Ya udah, ayo ikut Nenek." Jawab Nenek Muna, Evana pun tersenyum.


"Ya, Nek. Evana akan ikuti jejak Nenek yang rajin dan bekerja keras." Ucap Evana bersemangat.


Sambil berjalan beriringan, semua dibuat penasaran dengan sosok Evana yang tengah berjalan bareng Nenek Muna. Ditambah lagi dengan perubahan Evana yang semakin cantik, tentu saja membuat orang lain menjadi penasaran.


Namun tidak untuk Nenek Muna dan Radit, karena berhadapan langsung dan tidak dengan jarak jauh.


"Nek Muna, siapa itu?" tanya salah satu warga tetangganya Nenek Muna penasaran.


"Cucunya Nenek, masa kamu lupa." Sahut Nenek Muna berhenti sejenak.


"Siapa, Nek? sepertinya warga baru ya, Nek."


"Bukan, tapi warga lama." Sahut Nenek Muna sedikit mengeraskan suaranya.


"Ya lah, terserah Nenek saja." Ucapnya yang tidak begitu percaya dengan Nenek Muna.


Karena tahu betul, jika Nenek Muna orangnya suka bergurau. Tentu saja, ucapannya terkadang dianggapnya hanya candaan saja.


"Dia siapa sih, Nek? kok sepertinya kenal ya."


"Masa kamu sudah lupa, dia loh, Bang Homan." Jawab si Nenek.


"Homan yang dulu jualan siomay ya, Nek."

__ADS_1


"Ya, sekarang sudah gak lagi. Anaknya udah dua, istrinya teman kamu, si Nani."


"Oh, si Nani. Udah lama banget gak pernah bertemu dengan dia, Nek."


"Nanti sehabis sarapan pagi, Nenek temani kamu main ke rumahnya. Tapi nanti, sekarang kamu sarapan dulu. Kebetulan, Nenek mau panen ubi jalar, temani Nenek ya."


"Ya, Nek. Lagian juga, Evana gak ada kerjaan." Jawab Evana dengan senyum yang mengembang.


Saat sudah berada di dalam rumah, Nenek Muna mengajak Evana untuk pergi ke dapur mengambil makanan untuk sarapan pagi.


"Kamu makan aja dulu, Nenek mau panen ubi jalar di belakang rumah. Kalau sudah selesai makan, bisa nyusul Nenek di belakang rumah."


"Ya, Nek. Makasih banyak ya, Nek, sudah baik banget sama Evana."


"Sudah cepetan makan, yang harusnya berterima kasih itu Nenek. Karena berkat peninggalan kedua orang tuamu, Nenek mempunyai penghasilan. Ya udah ya, Nenek tinggal dulu. Lumayan, panen dikit-dikit bisa beli lauk untuk makan. Soal sayuran, Nenek tidak pernah beli. Yang banyak makannya, biar bertenaga." Kata si Nenek, Evang mengangguk.


"Ya, Nek." Jawab Evana dan segera mengambil nasi, juga sup ayamnya.


Sedangkan Nenek Muna, pergi ke belakang rumah untuk memanen ubi jalar.


Bahkan, Evana meneteskan air matanya. Begitu berat beban yang harus dipikulnya, benar-benar seperti menelan pil pahit yang sulit untuk ditelan.


Nenek Muna yang kebetulan lupa membawa wadah untuk memanen ubi jalar, kembali masuk ke rumah. Saat itu juga, melihat Evana yang tengah menangis saat sarapan pagi.


Terlihat jelas kesedihannya, Nenek Muna segera mendekatinya.


"Kamu menangis? ada masalah apa, Nak?" tanya Nenek Muna sambil menarik kursi dan duduk di sebelah Evana.


Evana langsung menghapus air matanya, dan menoleh pada Nenek Muna.


"Em ... gak ada apa-apa kok, Nek. Evana cuma kangen aja sama Ayah dan Ibu, teringat masa-masa dulu." Jawab Evana beralasan.


Tetap saja, Nenek Muna tidak mudah percaya begitu saja dengan jawaban yang dikatakan oleh Evana.

__ADS_1


Nenek Muna menggelengkan kepalanya.


"Nenek gak percaya sama kamu, pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Karena kedatangan kamu ke kampung ini, Nenek yakin ada sesuatu yang kamu tutup tutupi. Katakan pada Nenek, kamu sedang memikirkan siapa?"


"Gak ada kok, Nek. Evana gak bohong, hanya rindu sama Ayah dan Ibu." Kata Evana yang tidak mau berkata jujur, dan memilih untuk memberi alasan.


"Apakah kamu sudah menikah?" tanya Nenek mencoba untuk menebak.


Evana yang mendapat pertanyaan dari Nenek Muna, bingung untuk menjawabnya.


"Em ..."


"Benar kan, kalau kamu sudah menikah."


"Em ... ya, Nek. Saya sudah menikah, dan kepulangan saya ke kampung ini, semata untuk menghindar. Maafkan Evana, Nek."


"Memang seberat apa masalah kamu, Nak? sampai-sampai kamu harus pulang ke kampung halaman. Apakah suami kamu ringan tangan? suami kamu tidak bertanggung jawab? atau sesuatu hal lainnya? maaf, bukan niat Nenek untuk ikut campur."


Karena tidak mau menyembunyikan sesuatu masalah, dan juga percaya dengan Nenek Muna, akhirnya Evana menceritakan semuanya dari awal pernikahan dengan Ardi, dan juga skan_dal suaminya yang pertama, juga perjalan pernikahannya dengan suami yang kedua tentang drama pernikahan.


Nenek Muna yang mendengarnya dari awal cerita, terasa sedih dengan cerita perjalanan hiruk biduk rumah tangganya. Kemudian, Nenek Muna memeluk Evana.


"Kamu yang sabar ya, Nak. Nenek yakin kalau kamu pasti bisa untuk melewatinya. Percayalah sama Nenek." Ucap Nenek Muna untuk meyakinkan Evana agar tidak putus asa.


Kemudian, Nenek Muna melepaskan pelukannya.


"Makasih ya, Nek. Evana akan sabar menjalani ini semua, juga tidak akan mudah untuk mengulangi kesalahan lagi. Cukuplah mereka yang sudah memberi pelajaran berharga, dan ke depannya untuk berhati-hati." Jawab Evana untuk menyemangati dirinya sendiri.


Begitu beruntungnya saat kembali di pertemukan dengan Nenek Muna, sebagai pengganti Ibunya.


Perjalanan hidup yang tidak selalu mulus, juga tidak selamanya akan berjalan dengan lancar. Ada kalanya akan mendapatkan pelajaran yang berharga, apapun itu permasalahannya.


"Ya sudah, sekarang kamu habiskan dulu makanannya. Biar gak jenuh, kamu bisa temani Nenek di belakang rumah. Kalau pikiran kamu masih terasa pusing dan tidak bersemangat, kamu bisa istirahat di kamar depan." Kata Nenek Muna.

__ADS_1


"Ya, Nek, makasih banyak." Jawab Evana dengan anggukan.


Nenek Muna yang tidak ingin waktunya berkurang, segera ke belakang untuk memanen ubi jalarnya untuk dijual.


__ADS_2