Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Diminta bantuan


__ADS_3

"Ma, Pa." Panggil Reyzan menyebut kedua orang tuanya yang tengah berdiri di sebelah sang dokter.


Saat itu pula, Tuan Daro mengkode istrinya untuk mendekati putranya yang masih terlihat pucat dan lemah dengan kondisi yang masih terbaring di atas ranjang pasien. Sedangkan Dokter sendiri memberi peluang waktu untuk pasiennya berbicara dengan kedua orang tuanya dalam jangka waktu yang sesuai anjuran dari sang dokter sendiri.


"Ya, Nak, apa yang kamu rasakan, sayang? katakan sama Mama dan Papa, Nak."


Reyzan mencoba mengamati disekelilingnya untuk mencari sosok istrinya yang sama sekali tidak ia temui keberadaannya.


"Ma,"


"Ya, Nak."


"Pa," panggil Reyzan yang kini mengarahkan pandangannya ke arah sang ayah dengan tatapan lesu.


"Ya, Rey, ada apa, Nak?"


Sahut ayahnya dan bertanya.


"Pa, Ma, istrinya Rey, mana?" tanya Reyzan yang mulai tidak terbata-bata saat berbicara dengan siapapun.


Kedua orang tuanya saling menatap satu sama lainnya saat mendapat pertanyaan dari Dokter.


Dokter sendiri tetap berusaha untuk tenang, lantaran harus bersabar untuk memberi peluang waktu kepada pasiennya.


"Apakah Mama dan Papa benar-benar mengusir Evana?" tanya Reyzan yang mulai sedikit demi sedikit ada perubahan dan tidak seperti awal saat mulai sadarkan diri dari komanya.


Tidak mungkin harus berkata bohong, pikir kedua orang tuanya Reyzan yang takut putranya akan menambah menjadi-jadi keadaannya.


"Ya, benar. Mama yang sudah mengusir istri kamu, dan juga memberi ancaman untuk Evana. Karena Mama tidak ingin kamu hanya akan dimanfaatkan saja." Jawab Sang ibu sambil menunduk karena malu, yakni atas perbuatannya yang sudah mengusir menantunya.


Reyzan langsung menoleh ke sembarang arah, merasa kesal itu sudah pasti.


Dokter yang menangani Reyzan, kini berjalan mendekati.


"Sudah cukup, nanti ngobrolnya dilanjutkan lagi. Tapi ingat ya, Bu, jangan sampai ada perdebatan antara pasien dengan siapapun. Disayangkan jika kesehatannya terganggu, yang rugi Bapak dan Ibu sendiri." Ucap Dokter saat hendak memeriksa kembali untuk melihat perubahan kondisi pasien.


Reyzan yang masih kepikiran istrinya yang entah dimana keberadaannya, begitu khawatir.


Sedangkan Veria yang sedari tadi menunggu di luar karena tidak diizinkan untuk berada di dalam, terpaksa menunggu.


Lain lagi di kampung, Evana dan Nenek Muna sudah siap untuk berangkatkan ke balai desa.


"Va, Nenek, tunggu." Seru Radit memanggil Nenek dan Eva saat berjalan lewat di depan rumah Radit yang baru.


Eva maupun Nenek Muna sama-sama menoleh ke sumber suara.


"Radit," ucap Nenek dan Evana sebut nama Radit bersamaan.


Dengan larinya yang cepat saat mengejar, akhirnya kesampaian juga.


"Ada apa, Dit?" tanya Evana. Sedangkan Radit masih ngos-ngosan, lantaran jarak rumah dengan jalan cukup jauh beberapa meter, hingga cukup melelahkan untuk berlari.


"Ya, Nam Adit, ada apa?" timpal Nenek Muna ikut bertanya.


Radit sendiri mengontrol pernapasannya terlebih dahulu, baru bisa bicara dengan tenang.


"Nenek sama Eva mau pergi ke balai desa kah?" Radit balik bertanya.

__ADS_1


"Ya, Nak Adit, memangnya kenapa? kamu gak ngojek?"


"Libur, Nek. Sama, Radit juga mau pergi ke balai desa, bareng ya Nek?"


"Nenek pikir ada apa, kenapa gak bareng sama Ibu kamu, Dit?" tanya Nenek Muna.


"Udah dari tadi, Nek. Biasa, para Ibu-ibu sudah berbondong-bondong berangkat ke balai desa, Nek." Jawab Radit.


"Oh, ya udah kalau gitu, ayo kita jalan." Kata Nenek dan melanjutkan jalannya yang berjalan kaki, lantaran tidak mempunyai sepeda motor.


"Va, kamu seriusan mau menetap di kampung ini?" tanya Radit dengan lirih saat berjalan beriringan, takutnya akan di dengar oleh Nenek Muna yang ia kenali sangat galak dari dirinya masih kecil.


"Aku gak tahu, Dit. Entahlah, aku ikuti saja perjalanan hidupku. Entah menetap atau enggaknya, tidak begitu aku pikirkan." Jawab Evana sambil berjalan beriringan dengannya.


Karena jarak rumah dan balai desa tidak begitu jauh, akhirnya sampai juga di tempat tujuan yang rupanya sudah dipadati oleh banyaknya warga kampungnya.


"Va, Nek, aku ke sana ya, bareng bapak-bapak dan lainnya." Ucap Radit berpamitan untuk duduk bersama laki-laki yang lainnya, Evana dan Nenek mengangguk.


"Ya, Dit." Jawab Evana, Nenek Muna mengangguk.


"Nek, kita mau duduk dimana?" tanya Evana saat melihat tidak ada bangku yang kosong, semua sudah penuh dan banyak juga yang tidak kebagian tempat duduk.


"Gimana kalau kita ke depan saja, jugaan kalau dibelakang gak kedengaran, mau ya?"


"Tapi, Nek, apa gak malu berdiri di depan?"


"Kenapa mesti malu, niat kita datang ke balai desa ini kan, untuk mengetahui rencana apa yang akan di sampaikan kepada warga." Jawab Nenek Muna.


"Ya sih, Nek. Tapi kan, kasihan jika Nenek harus berdiri." Ucap Evana merasa bingung harus mencari tempat duduk dimana untuk Nenek Muna, pikirnya.


"Sudah, ayo ikut Nenek." Ajak Nenek Muna sambil menarik tangan Evana yang berjalan ke depan, yakni bersama warga yang lainnya untuk mendengarkan orang petinggi yang hendak menyampaikan apa yang sudah menghebohkan kampungnya.


"Nek, kita cari tempat duduk di belakang aja yuk, Nek."


"Di belakang sama aja, kita sudah gak kebagian tempat duduk. Sudah, kita berdiri di sini aja. Jugaan kita gak sendirian, banyak orang-orang yang berdiri seperti kita. Namanya juga satu kampung yang datang, tetap aja tempat duduknya kurang." Kata si Nenek.


Evana yang sebenarnya tidak tega melihat Nenek Muna yang terus-terusan berdiri, tidak tahu harus berbuat apa, lantaran dirinya sendiri tidak menemukan tempat duduk.


Saat balai desa sudah di padati oleh banyaknya pengunjung, datanglah satu mobil yang di kawal oleh anggota polisi, takutnya terjadi kericuhan yang tidak di inginkan.


Semua warga kampung rupanya dibuat kagum dengan datangnya satu mobil mewah di kampungnya.


Evana yang sudah berada di depan, sangat sulit untuk melihat mobil mewah yang datang memasuki halaman balai desa yang begitu luas.


"Eh, kalian penasaran gak sih, dengar dengar nih ya, yang mau buka lapangan pekerjaan tuh, orangnya ganteng ganteng loh." Bisik seorang gadis desa yang tengah membicarakan di tengah tengah kerumunan banyak orang.


"Ya nih, aku jadi penasaran. Siapa tahu aja ada yang nyantol di hati kita, kan kita gak tahu." Jawab teman yang satunya ikut membicarakannya.


Evana yang mendengarnya, pun hanya bisa senyum saat ketangkap basah, lantaran pas kebetulan menoleh pada mereka.


"Kak-kamu Evana, 'kan?" tanya salah satu yang baru saja ikutan ngumpul di kerumunan.


Sejenak Evana mengingatnya, sedangkan yang tadi bicara langsung bengong saat ada yang menyebut nama Evana.


"Ya, Aku Evana. Tunggu tunggu, kamu beneran Ratih?"


"Ya, aku Ratih. Wah, akhirnya kamu pulang kampung juga."

__ADS_1


"Ya, Rat. Oh ya, apa kabarnya?"


"Kabar aku sangat baik, kamu sendiri?"


"Aku juga baik, seperti yang kamu lihat." Jawab Evana saat bertemu dengan teman masa kecilnya dulu.


"Jadi, kamu Evana anaknya mendiang Pakde Sigit?"


Evana mengangguk.


"Kamu siapa ya? serius aku sedikit lupa."


"Aku Reta, Margaretha." Ucapnya menyebut namanya sesuai nama panggilan.


"Kalau aku Nana, gak nyangka ya, kita bisa bertemu lagi." Timpal Nana yang akhirnya dapat mengingat Evana.


"Ya, gak nyangka. Oh ya, gimana kabarnya kalian? sudah pada menikah atau belum?"


"Kabar kita baik, Va. Untuk soal menikah, cuma Reta yang sudah menikah. Terus, kamu sendiri bagaimana kabarnya? sudah menikah ya?"


Evana justru tersenyum.


"Ret, Na, lihat tuh orangnya sudah pada turun dari mobil. Wah ... cool banget mereka, pakai kaca mata hitam, lagi. Aduh ... ganteng ganteng semua mereka, andai saja di antara mereka nyantol di hatiku." Ucap Nana terkagum dengan pesona empat laki-laki yang baru saja turun dari mobil, dan duduk tempat yang sudah di khususkan.


Evana yang tidak bisa melihat, hanya membuang napasnya dengan kasar.


"Nek, kok gak kelihatan ya, penasaran loh Nek." Ucap Evana yang tengah berdesakan dengan yang lainnya demi ingin melihat sosok empat laki-laki yang membuat penasaran.


"Nak Eva, kemari." Panggil Pak RT pada Evana yang tengah berdesakan dalam kerumunan.


"Saya, Pak." Jawab Evana sambil menunjuk diri sendiri.


"Ya, cepetan sini." Kata Pak RT dengan anggukan.


"Sudah ayo ke sana temui Pak RT." Perintah Nenek Muna sambil menarik tangannya Evana.


Mau tidak mau, Evana nurut dan menghampiri Pak RT.


Lega rasanya saat napasnya tidak terasa sesak ketika berdesakan dengan para warga yang lainnya.


"Ada apa ya, Pak RT?" tanya Evana penasaran.


"Ini, Bapak mau minta bantuan sama kamu untuk menggantikan Ibu Hana. Soalnya Ibu Hana tadi meminta izin karena Beliau sedang di rawat di rumah sakit. Kamu kan, banyak pengalaman dan juga wawasan di kota, pasti kamu bisa menggantikan Ibu Hana. Sedangkan yang lainnya sudah ada tugasnya masing-masing dan gak bisa untuk diganti. Bagaimana, mau ya?"


"Tapi, Pak. Saya belum pernah terjun dalam acara seperti ini. Saya di kota juga hanya sebagai karyawan biasa." Kata Evana yang berusaha menolak dengan cara halus.


"Bapak Mohon, soalnya gak ada yang mau mengganti Ibu Hana. Kamu tenang saja, nanti kamu dapat komisi dari kami."


"Bukan masalah komisi atau enggaknya, tapi saya takut melakukan kesalahan, ini yang hadir satu kampung loh Pak."


"Sudah, terima aja. Nenek yakin bahwa kamu pasti bisa, Nak. Kamu anak pintar, juga cerdas. Tuh lihat, entar kamu masuk televisi. Dari ujung sampai ujung akan mendengar berita kampung kita ini, Nak."


Evana langsung melotot saat mendengar ucapan dari Nenek. Saat itu juga, dirinya teringat mengenai pernikahannya yang diselenggarakan secara live di gedung yang besar dengan dekorasi yang megah.


'Terus, kalau Mas Ardi lihat, Bos Rey lihat, Neti lihat, Gevando lihat, ah bagaimana ini, mana lagi kalau mertua lihat juga, bisa ketauan keberadaanku.' Batinnya yang penuh khawatir.


Saat itu juga, Evana langsung membisikkan sesuatu pada Nenek Muna.

__ADS_1


"Gak usah takut, percaya saja sama Nenek. Sudah cepetan terima aja ajakan Pak RT." Kata si Nenek setelah mendengar keluh kesah dari Evana.


Tidak ada pilihan lain selain mencoba dalam kesempatan emas, pikirnya.


__ADS_2