Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Jatuh Pingsan


__ADS_3

Saat sudah turun dari mobil dan juga sudah sempat bicara dengan Radit, Rey dibantu supirnya masuk kedalam rumah dengan membawa satu koper berisi pakaiannya.


"Oh ya, yang lain sedang keluar, mungkin nanti malam pulangnya. Kalau kamu capek, kamu bisa istirahat di kamar nomor enam. Untuk Pak Supir, bisa di kamar sebelah situ, dekat ruang tengah. Maaf, jika ruangannya agak sempit. Soalnya waktu itu mendadak, jadi gak ada persiapan untuk tempat tinggal." Ucap Ardi sebaik mungkin, karena tidak mungkin juga memperlakukan buruk kepada rekan kerjanya, meski Rey adalah suaminya mantan istrinya sendiri.


"Makasih banyak. Maaf, jika sudah merepotkan kamu." Jawab Reyzan sebaik mungkin, dan tidak menunjukkan rasa tidak sukanya dengan mantan suami istrinya.


"Sama-sama. Ya sudah, aku juga mau istirahat." Ucap Ardi yang entah kenapa tidak lagi berdebat seperti waktu di Pelabuhan.


Reyzan mengangguk.


"Selamat malam." Jawab Rey, dan bergegas masuk ke kamarnya.


Begitu juga dengan supirnya, yang juga masuk ke kamarnya.


Lain lagi di rumah Evana, yang baru saja meminta buah mangga muda di rumah tetangganya.


"Mangga asam gitu kamu suka?" tanya Nenek Muna merasa ngilu saat melihat Evana mengunyah buah mangga yang masih mentah.


Sedangkan Evana sendiri, justru tidak ada rasa masam sedikitpun. Justru, Evana menikmatinya. Tetapi tiba-tiba dirinya mendadak berhenti mengunyah buah mangganya, perasaannya ikut bersedih.


Nenek Muna yang melihat ekspresi Evana yang tiba-tiba mendadak bersedih, langsung ikutan duduk di sebelahnya.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Nenek Muna mengagetkan Evana.


Dengan reflek, Evana langsung menoleh pada Nenek Muna. Kemudian, ia menunduk sedih, kunyahan buah mangganya kini telah berubah rasanya menjadi hambar. Kedua matanya pun berkaca-kaca, dan secepatnya segera menyeka air matanya agar tidak membasahi kedua pipinya.


Nenek Muna langsung memeluk Evana, juga ikutan bersedih.


"Ceritakan sama Nenek, Nak. Jangan kamu pendam sendiri, keluarkan apa yang ingin kamu ungkapkan. Apakah kamu merindukan suami kamu? katakan pada Nenek."


Evana langsung melingkarkan kedua tangannya dan memeluk Nenek Muna dengan erat.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis? ceritakan keluh kesahmu sama Nenek, Nak.Kalau kamu merindukan suami kamu, kenapa kamu tidak hubungi saja suami kamu, Nak. Jangan sampai kamu jatuh sakit, kasihan calon bayimu." Kata si Nenek mencoba untuk menenangkan perasaan Evana yang tengah gundah dan bersedih.


"Gak tahu Nek, tiba-tiba perasaan Evana berubah sedih begini. Evana merasa sendirian, juga kangen sama Mama dan Papa. Evana merindukan masa kecil di kampung ini, Nek." Jawab Evana yang masih memeluk Nenek Muna.


"Nenek tahu perasaan kamu, juga posisi kamu saat ini. Kalau boleh kasih saran, coba kamu hubungi suami kamu. Mungkin saja sama yang sedang kamu rasakan, merasa sendirian juga merindukanmu."


Evana langsung melepaskan pelukannya.


"Gak mungkin lah Nek, suami Evana rindu. Lagi pula, pernikahan diantara kita hanyalah sandiwara semata. Demi ingin mempunyai rumah sendiri, Evana menerima syarat perjanjian. Tapi, kenyataannya tak sebanding dengan yang diharapkan, Nek." Jawab Evana dengan lesu.


"Kenapa gak, Nak? di dalam rahim kamu ini, sudah tumbuh janin yang nantinya akan menjadi seorang anak, yang tidak lain hasil pernikahan kamu dengan suami kamu."


Evana yang mendengar ucapan dari Nenek Muna, tiba-tiba ia merasakan sesuatu di bagian kepalanya. Pandangannya, pun ikut seperti kunang-kunang. Bahkan, wajahnya berubah menjadi pucat. Nenek Muna begitu khawatir saat melihat kondisi Evana.


"Nak Eva, wajah kamu pucat sekali, Nak. Kita pergi berobat ya, Nak."


"Nggak apa-apa kok, Nek. Mungkin bawaan bayi yang merasa sedih aja. Jadi, wajahnya Evana kelihatan pucat." Jawab Evana menolak.


"Kamu jangan bandel, sekarang juga, Nenek mau panggil Radit buat anterin kamu berobat."


"Kamu jangan ngeyel sama Nenek, kamu tunggu bentar saja. Nenek mau ke rumah Radit untuk meminta tolong, ya."


Saat itu juga, Evana tak kuasa menahan rasa pusing yang menjalar di kepalanya. Bahkan, yang ia lihat seperti memutar terus menerus.


"Eva! Va, Nak Eva, bangun. Tolong! tolong! tolong." Teriak Nenek Muna dengan histeris saat melihat Evana tidak sadarkan diri.


Saat itu juga, kebetulan Radit pun lewat dan segera berlarian menuju rumah Evana bersama warga setempat.


"Nek, ada apa Nek?" tanya Radit saat melihat Nenek Muna terlihat ketakutan.


"Eva, Evana, Evana pingsan, cepat carikan mobil, dan antarkan ke rumah sakit." Jawab Nenek Muna dengan gemetaran.

__ADS_1


"Ya, Nek, ya. Aku akan mencari mobil, Nenek jagain Evana dulu." Ucap Radit, dan meminta Nenek Muna untuk memberi pertolongan dengan alternatif lain, dan dibantu oleh ibu ibu ikut mencoba untuk menolong Evana agar tersadar dari pingsannya.


Radit yang teringat saat menjemput tekan kerjanya mantan suaminya Evana yang datang membawa mobil, tidak ada salahnya jika meminjam mobilnya.


"Kamu kenapa Dit?" tanya Ardi saat mendapati Radit yang terlihat mengkhawatirkan sesuatu dengan napasnya yang ngos-ngosan.


"Aku mau pinjam mobilnya Pak Reyzan, mantan istrimu, Evana, Evana pingsan di rumah."


"Apa! Evana pingsan." Sahut Reyzan yang saat itu juga mendengarkannya begitu jelas.


Tentu saja dirinya dapat menangkap percakapan Radit dan Ardi yang menyebutkan nama istrinya.


"Pak Reyzan, tolong pinjamkan saya mobil. Ini sangat darurat, berikan kunci mobilnya, saya mohon." Ucap Radit meminta tolong.


Rey langsung masuk ke kamar supirnya yang tengah beristirahat, langsung menyambar kunci mobilnya dan segera memberikannya kepada Radit.


Radit yang sudah khawatir dengan kondisi Evana, langsung menyambar kunci mobilnya di tangan Reyzan, dan segera mengendarai mobilnya.


Ardi yang khawatir dengan kondisi mantan istrinya, ikut naik ke mobil milik Reyzan dan tidak peduli dengan rasa malunya.


'Evana, kenapa dengan istriku. Kenapa dia bisa pingsan, ini semua pasti salahku, yang tidak berpikir panjang. Maafkan aku, Evana, maafkan aku.' Batin Rey yang begitu khawatir dengan kondisi istrinya.


"Dit! cepat dikit kenapa jalannya. Sini, biar aku saja yang menyetir." Bentak Ardi yang tidak sabar, lantaran Radit yang baru menggunakan mobil yang begitu mewah. Tentu saja, butuh kehati-hatian.


Saat itu juga, Radit langsung menancapkan gasnya dan melaju begitu cepat. Dan sampailah di halaman rumah Evana.


Rey maupun Ardi langsung turun dari mobil. Radit merasa heran dengan Reyzan yang terlihat lebih khawatir dari Ardi.


Cepat cepat, Radit langsung menyusul kedalam. Takutnya bukannya segera menolong Evana, justru berdebat, pikir Radit.


"Evana! Eva!" teriak Ardi dan Rey berlari bersamaan masuk ke rumah Evana.

__ADS_1


Sedangkan Nenek Muna masih terus mencoba untuk menyadarkan Evana dari pingsannya dan dibantu oleh ibu ibu para tetangga.


Rey yang melihat istrinya tak sadarkan diri, ia langsung mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya sambil berlari ke mobil. Kemudian meneriaki Radit untuk membawa ke rumah sakit.


__ADS_2