Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Kekhawatiran Evana


__ADS_3

Setelah mendapatkan persetujuan dari kedua belah pihak, akhirnya Evana maupun Rey, sama-sama menyetujuinya.


Tidak ada kendala bagi Rey, segera pindah ke tempat duduknya. Sedangkan Evana sendiri, menganggap persetujuan mengenai pernikahan bohongan, adalah bagian dari mimpinya untuk mendapatkan hoki.


'Bos Rey tidak sedang mengerjai aku, 'kan? awas saja kalau sampai bohong, bakalan aku jadikan adonan donat pokoknya.' Batin Evana sekilas memperhatikan Bosnya yang tengah fokus dengan layar komputernya.


Kemudian, Evana melanjutkan pekerjaannya yang masih banyak belum ia selesaikan. Cukup lama berkutat di depan layar komputernya masing-masing, akhirnya sudah waktunya untuk istirahat.


Evana langsung menguap lebar, sampai lupa menutup mulutnya. Seketika, Evana langsung menutupnya saat si Bos memandanginya.


Karena malu, Evana membereskan meja kerjanya sebelum keluar dari ruang kerjanya.


'Kamu pikir aku ini bo_doh, tidak. Selain mengeluarkan modal banyak untuk membayar dirimu, aku juga perlu menanam saham pada dirimu.' Batin Rey dengan seringainya saat dirinya memperhatikan Evana dengan sekilas.


Karena takut disangka memperhatikan Evana, Rey segera membereskan meja kerjanya dan keluar untuk makan siang.


Evana yang hendak berdiri, tiba-tiba niatnya diurungkan. Takut, jika harus keluar bareng sama Bosnya. Tentu saja, dirinya tidak ingin menambah gosip kepada karyawan yang lainnya.


"Cepat keluar, buruan." Perintah Bosnya.


"Bos Rey duluan aja, nanti aku menyusul." Sahut Evana pura-pura tengah sibuk membereskan meja kerjanya.


Rey yang mengetahui Evana tengah berpura-pura, ia segera mendekati dan untuk melihatnya sendiri.


Evana nyengir kuda.


"Apa perlu aku menggendong mu?"


"Gak perlu, Bos. Ya deh, ya. Aku akan segera keluar, tapi si Bos belakangan aja keluarnya. Takutnya, nanti akan menjadi gosip panas."


Rey mengernyit, tanda heran dengan alasan yang diucapkan oleh Evana, sekretarisnya.

__ADS_1


"Jangan banyak alasan, biarkan saja mereka bergosip tentang kita. Lagi pula kenyataannya kita akan menikah, bila perlu kita tunjukan di depan semua orang kalau kita punya hubungan." Kata Rey dengan entengnya.


"Gak bisa, Bos. Tunggu sampai aku benar-benar bercerai, setelah dinyatakan berpisah dan mendapatkan akta cerai, terserah Bos mau main drama seperti apa." Jawab Evana yang tidak ingin menyakiti perasaan ibu mertuanya.


Mau bagaimanapun, Evana tidak ingin melukai hati ibu mertuanya yang sudah banyak memberi perhatian layaknya anak sendiri.


Meski mendapatkan suami yang sudah menghancurkan pernikahan sendiri, tapi tidak seharusnya untuk menyakiti hati ibu mertua yang tidak bersalah, pikir Evana.


"Baiklah, aku turuti maunya kamu." Kata Rey.


Setelah itu, Rey akhirnya keluar lebih dulu. Kemudian, disusul oleh Evana. Hanya saja, Evana memilih untuk makan siang bersama temannya, yakni Neti dan karyawan lainnya.


Sedangkan Rey, memilih untuk makan siang sendirian tanpa ada yang menemaninya. Meski sendiri, rupanya tempat duduknya Evana setara dengan Rey. Hanya saja, terhalang oleh dinding kaca.


Evana yang tidak sengaja menoleh, rupanya Rey juga menoleh. Keduanya sama-sama menatapnya satu sama lain, dan Evana memilih untuk membuang muka dan menghadap ke lain arah.


Rey hanya tersenyum tipis melihatnya, dan menggelengkan kepalanya saat melihat ekspresi Evana yang terlihat menggemaskan.


"Hei, Bos. Sendirian nih, aku ikutan gabung ya." Ucap Veria dengan membawa porsi makannya, dan juga minumannya yang entah kenapa sama seperti yang di pesan oleh Bosnya.


"Aduh, maaaf, sudah jatuhin kotak tissue." Ucap Veria.


"Oh, gak apa-apa. Lanjutkan saja makannya, biar aku yang akan mengambil kotak tissuenya." Jawab Rey dan berjongkok untuk mengambilnya.


"Lain kali hati-hati, jangan ceroboh." Sambungnya lagi, Veria tersenyum.


"Ya, maaf." Kata Veria.


"Tidak apa-apa, aku hanya mengingatkan kamu saja." Jawab Rey sambil mengunyah makanan, sikapnya masih saja dingin.


"Rey, kamu serius nih, gak mau menerima perjodohan kita? kasihan orang tua kita kalau mereka akhirnya kecewa."

__ADS_1


"Tenang saja, mereka gak bakalan kecewa. Karena aku sudah mempunyai pilihan sendiri, perempuan mana yang akan aku nikahi. Yang jelas, perempuan baik-baik." Jawab Rey dengan santai, Veria sendiri merasa kesal dibuatnya.


'Lihat saja, setelah ini kamu akan menjadi milikku selamanya. Aku tidak akan membiarkan kamu menjadi milik orang lain, ingat itu.' Batin Veria penuh yakin bahwa dirinya akan berhasil mendapatkan Rey untuk dijadikan suaminya.


Tidak ada obrolan lain, keduanya sama sibuknya untuk menikmati makan siangnya masing-masing hingga bersih dan tandas tidak tersisa, begitu juga dengan minumannya juga.


Tiba-tiba, Rey merasakan sesuatu pada bagian kepalanya yang terasa pusing. Bahkan, sesuatu terasa panas pada bagian anggota tubuhnya, apalagi pada bagian yang tertentu. Tentu saja, membuat Rey kelimpungan.


Veria mulai tersenyum penuh kemenangan, karena rencana yang dibuatnya akan berhasil.


Rey menahan bagian dadanya yang terasa panas, dan juga tidak karuan. Evana yang dapat melihatnya, pun langsung terkejut dan membulatkan kedua bola matanya saat Veria membantunya Bosnya berdiri.


Evana yang mengetahui kejahatan Veria yang sudah memb_unuh istri Bosnya, langsung mengejarnya. Tapi, niatnya di urungkan. Dirinya benar-benar harus hati-hati, agar dirinya tidak dijadikan tersangka.


Veria yang tidak mampu memapah Rey yang badannya terasa berat, meminta bantuan kepada karyawan laki-lakinya untuk membantunya sampai di ruang kerjanya.


Dengan senyum yang penuh kemenangan, Veria bersorak gembira dalam hatinya.


Saat sudah berada di dalam ruang istirahatnya, Rey terlentang dengan posisi yang tidak dapat mengendalikan diri sendiri.


Ketika pintunya sudah terkunci dari dalam dan tidak bisa untuk dibuka lagi, Veria tersenyum penuh kemenangan.


Satu persatu, Evana mulai melepaskan baju yang melekat pada tubuh Rey. Kini, Rey hanya menyisakan celana kolornya.


'Setelah ini, kita akan saling memiliki, sayang. Sekian lama aku menunggu penantian seperti ini, akhirnya aku akan mendapatkan kamu sepenuhnya. Kita akan sama-sama menikmatinya, tentu saja tidak akan terlupakan.' Batin Veria sambil melepas sesuatu yang melekat di kakinya, dan sedikit mulai membuka satu persatu kancing bajunya.


Sedangkan di depan pintu, Evana benar-benar kecolongan dan kebingungan saat pintunya tidak dapat untuk dibuka.


"Pak, ayo bantu buka pintunya. Bos Rey ada didalam sedang di jebak sama ular betina, buruan dobrak." Perintah Evana kepada beberapa pekerja kantor yang menangani kebersihan serta kerusakan di kantor.


Veria yang sudah siap untuk memangsa, mengusap bibir milik Bosnya, yang mana dirinya sudah tidak sabar untuk melakukan hubungan di luar jalur.

__ADS_1


Rey sendiri sudah di bawah kesadarannya, dan merasa menginginkan sesuatu yang sudah sekian lama tidak pernah di salurkan.


Veria yang sudah hilang akal dan tidak tahu malu, akhirnya melepaskan bajunya dengan percaya diri.


__ADS_2