
Sambil berjalan, Evana sama sekali tidak menengok ke kiri maupun kanan. Dirinya begitu fokus menatap lurus ke depan, dan tak peduli dengan Ardi, suaminya.
Saat sudah berada di depan pintu ruangan ibunya Ardi di rawat, Evana terasa malu untuk masuk ke dalam. Mau bagaimanapun, beliau begitu sayang padanya. Bahkan, kasih sayangnya sudah seperti ibu kandungnya sendiri.
Sejak ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya, Evana sudah menjadi tanggung jawab ibu mertua sesuai perjanjian sebelum menikah. Tapi kini, semua telah berakhir begitu saja. Sakit, sangatlah sakit saat cintanya dibalas dengan pengkhianatan.
Pernikahan yang dianggap baik-baik saja, justru harus hancur dengan sesuatu yang tak pernah disangkanya.
Lelaki yang dianggap sempurna dalam menjalin hubungan pernikahan, rupanya bagai cambuk untuk dirinya. Evana masih diam mematung di depan pintu, serasa tak mampu untuk bertemu.
"Va, ayo kita masuk." Ajak Ardi.
Evana yang sudah merasa sakit hati pada lelaki yang berada disebelahnya, sulit untuk kembali. Keputusan tetaplah keputusan yang tidak bisa untuk diganggu gugat, termasuk perceraian.
Meski berat, Evana berusaha untuk tetap terlihat tegar walau sangat menyakitkan. Kesalahan fatal tidak mudah untuk dibenarkan, yakni untuk ditinggalkan.
"Va, mau ikut masuk atau tidak?"
Evana langsung mendongak, dan menatap pada lelaki di dekatnya.
Tidak ada pilihan lain, Evana mengangguk. Kemudian, keduanya segera masuk ke dalam untuk melihat kondisi ibu mertuanya.
Pelannya langkah kaki Evana, seakan dirinya tak mampu untuk menyangga berat badannya sendiri.
Perasaan sedih tengah menguasai suasana hatinya. Pernikahan yang hancur, dan kondisi seorang ibu mertua yang dinyatakan kritis.
Saat sudah berada di sebelah ranjang pasien, Evana di persilakan duduk oleh putra sulung ibu mertuanya, yakni kakak iparnya sendiri.
Kemudian, Evana duduk dan meraih tangan ibu mertuanya, serta mencium punggung tangannya.
Saat itu juga, ibu mertua menggerakkan jari-jemarinya. Kemudian, dengan pelan membuka kedua matanya.
Dilihatnya sisi kanan maupun sisi kiri, ibunya Ardi akhirnya dapat melihat Evana dan Ardi. Saat itu pun, sang kakak dari Ardi langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.
__ADS_1
Saat itu juga, dokter telah datang dan memeriksa kondisi ibunya Ardi.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Ardi dengan khawatir.
"Baik, tidak ada kendala apapun. Semua sudah kembali normal, mungkin karena banyak pikiran. Lain kali diperhatikan kesehatannya, semakin tua, semakin menurun saya tubuhnya." Jawab sang dokter.
"Baik, Dok." Jawab kakaknya Ardi bersamaan dengan sang istri.
Setelah itu, Evana kembali mendekati ibu mertua saat sang dokter keluar dari ruang rawat ibu mertuanya.
"Ma, Mama sudah sadar. Ma, aku membawa Evana, Ma." Panggil Ardi menyebut ibunya.
Sang ibu mengangguk, pandangannya mengarah pada Evana.
"Eva-na, kamu Nak?"
"Ya, Ma, ini aku Evana. Kenapa Mama masuk rumah sakit, karena Evana ya, Ma?"
Sambil menangis, Evana menc_ium punggung tangan milik ibu mertua. Beliau menggelengkan kepalanya.
Kata ibu mertua yang begitu khawatir dengan kondisinya, sungguh menyayat hati pertanyaan yang di berikan oleh ibu mertua untuknya.
"Ma, maafkan Evana yang sudah mengecewakan Mama. Evana sayang sama Mama, maafin Evana yang tidak bisa menjadi menantu yang baik, juga istri yang baik." Ucapnya sambil menangis bersedih, lantaran sudah memberitahu kebenarannya bahwa dirinya akan segera bercerai.
Ardi yang posisinya berada di dekat Evana, mengusap bagian punggung milik istrinya.
"Maafkan Ardi juga ya, Ma. Jika Ardi sudah berbuat nekad, dan tentunya mengecewakan Mama. Ardi janji, tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Ardi yang merasa penuh dengan penyesalan, lantaran sudah menyakiti istri dan ibunya.
"Kalian berdua sudah sama dewasanya, kalian menikah tidak hanya satu bulan, lebih. Mama hanya menyayangkan sama kamu, Ardi. Seharusnya kamu tidak menyakiti istri kamu, lihatlah Evana sekarang. Apa kamu tidak kepikiran dimana dia tinggal, sudah makan atau belum, berapa uang yang dia bawa." Ucap sang ibu kepada putranya.
Ardi tertunduk sedih, tinggal penyesalan yang kini dirasakannya.
"Ya, Ma, aku sangat bo_doh karena sudah menyakiti Evana. Saat ini juga, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku siap menerima hukuman darinya, aku akan terima." Jawab Ardi penuh penyesalan.
__ADS_1
Kemudian, Ardi menoleh pada Evana. Lalu, meraih tangannya.
Evana sendiri tak bisa berbuat apa-apa, lebih lagi di depan ibu mertua, tentu saja bingung untuk bersikap yang bagaimana.
"Va, mau kan, kita kembali lagi? maksud aku, kita rujuk. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Va." Ucapnya pada Evana didepan ibunya.
Evana masih menghadap ke arah ibu mertua.
"Mama tidak akan ikut campur dengan keputusan kamu, karena kamu sudah dewasa dan bisa menentukan keputusan yang baik untuk dirimu. Baik untuk Ardi, belum tentu untukmu, begitu juga sebaliknya. Jadi, jangan karena Mama, kamu korbankan perasaan kamu yang sakit karena Ardi. Pikirkan baik-baik untuk memberi keputusan, buang saja pikiran yang dapat mengganggu masa depanmu." Kata sang ibu mertua mengingatkan, Evana masih diam.
Begitu juga dengan Ardi, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pasrah, hanya itu yang bisa Ardi terima. Meski ingin sekali untuk kembali bersama Evana, keputusan ada padanya.
Penyesalan yang tengah Ardi rasakan, dan sulit untuk diterima, jika Evana akan memilih bercerai daripada untuk kembali bertahan dengan pernikahannya.
Ardi masih menggenggam tangan milik Evana, serasa tak ingin untuk berpisah. Tapi, mau bagaimana lagi jika Evana tetap meminta untuk mengakhiri semuanya.
Tidak ingin masalah semakin bertambah panjang urus urusannya, Evana mencoba melepaskan tangan milik suaminya.
Ardi sendiri tidak melakukan penolakan apapun, pasrah.
Meski berat, Evana harus berkata jujur. Kemudian, ia meraih tangan ibu mertua dan menggenggamnya.
"Maafkan Evana ya, Ma. Jika keputusan Evana akan membuat Mama kecewa." Ucapnya serasa tidak tega untuk berkata.
Ardi hanya menunduk penuh penyesalan, seakan dunianya akan runtuh.
"Mama tidak akan kecewa, karena Mama tahu, mana yang salah dan mana yang benar. Mama tidak akan menghakimi kamu dengan pilihan yang akan kamu putuskan. Jangan takut, Mama tidak akan marah padamu. Mungkin saja, permasalahan ini ujian kamu dan Ardi. Kalian berdua harus bisa mengambil pelajaran dari masalah ini, jangan mengabaikan dan juga untuk tidak merasa paling benar." Ucap ibunya Ardi panjang lebar memberi nasehat kecil.
"Ya, Ma. Mama sudah makan? Evana suapin ya, Ma."
Evana yang melihat porsi makan yang belum juga tersentuh, akhirnya menawarkan diri untuk menyuapi ibu mertua.
"Boleh, kebetulan Mama sudah lapar." Jawab ibu mertua, Ardi dan sang kakak membantu ibunya untuk duduk dan bersandar.
__ADS_1
Kemudian, Evana menyuapi ibu mertuanya dengan telaten. Ardi yang melihat Evana begitu perhatian dengan ibunya, hatinya terasa sakit, lantaran sudah menyia-nyiakan perempuan sebaik Evana.