Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Menerima permintaan


__ADS_3

"Maaf, kelamaan nunggu ya?"


"Nggak kok, paling beberapa menit aja. Kalian sudah siap untuk berangkat, 'kan?"


"Sudah, tapi kita mau beli sarapan pagi dulu. Soalnya aku sama Evana belum sarapan." Timpal Neti.


"Nanti aku beliin sarapan pagi di jalanan sana, aku juga belum sarapan." Kata Vando.


"Gak usah, kamu berangkat aja duluan. Lagian sekarang kan, kita gak satu kantor. Jadi, kamu berangkat duluan aja." Jawab Neti menolak.


"Justru itu, aku mau jemput kamu sama Evana, aku mau narik kalian untuk pindah di kantorku. Jadi, aku harus meminta izin sama Kak Rey." Kata Vando berterus terang.


Evana maupun Neti sama-sama menoleh.


"Pindah, untuk apa?" tanya Neti penasaran.


"Untuk memudahkan aku bertemu dengan kalian, gak gak, aku cuma bercanda. Pokoknya pindah aja ke kantor yang aku pimpin, bagaimana?"


"Sepertinya aku gak bisa pindah deh, udah merasa nyaman aja akunya. Ya aku tahu, si Bos galak banget. Tapi, entah kenapa aku merasa nyaman aja. Eh, tapi jangan salah paham dulu kalian. Aku cuma males harus beradaptasi lagi, gitu maksudnya aku." Sahut Evana menolak.


Neti langsung menyenggol Evana lewat sikutnya.


"Kamu gimana sih, kamu masuk ke kantor juga berkat Vando." Bisik Neti berbisik.


"Eh, ya ya." Kata Evana dengan lirih.


"Ya udah kalau kalian tidak mau, aku gak paksakan kalian. Ya udah yuk, aku antarkan kalian sampai di kantor."


"Tunggu tunggu, bukankah pacar kamu juga satu kantor dengan Vando? kenapa kamu gak pindah aja, Net. Tenang, aku akan rubah cara berpikirku ini, aku akan temani kamu pindah kalau kamu mau."


Saat itu juga, Vando langsung tersenyum saat Evana akhirnya mau menerima tawaran darinya.


"Pindah,"


"Ya lah, kalau kamu gak pindah, gimana mau tau tentang pacar kamu. Jangan terlalu polos dong, jadi cewek. Udah deh, pindah aja." Kata Evana membujuk.

__ADS_1


"Benar, Net. Mendingan ubah cara pikirmu, lebih baik kamu itu satu kantor." Kata Vando.


"Jangan bilang ke aku, kalau Raka punya perempuan simpanan di belakangku." Ucap Neti mencurigai.


"Hem, kamu ini. Sudah aku jelasin lewat pesan, mendingan sekarang ini kamu buka dulu pesan dariku, ok." Jawab Gevando dan meminta Neti untuk membuka pesan yang baru saja ia kirim.


"Awas ya, kalau sampai kamunya bohongi aku. Pokoknya aku gak akan beri ampun sama kamu, jika ternyata pacarku berselingkuh di belakang aku, titik." Kata Neti dengan tatapan sulit diartikan.


"Hem, terserah kamu saja." Kata Vando, sedangkan Evana sendiri memilih diam dan malas untuk mencerna ajakan dari Gevando.


Setelah setengah perjalanan menuju kantor, Vando menepikan mobilnya, tentu saja membelikan sarapan pagi untuk Evana dan Neti, juga untuk dirinya. Sedangkan Neti sendiri membuka pesan yang kata Gevando telah dikirim ke akun medianya.


"Bentar ya, aku turun dulu buat beli sarapan. Kalian berdua di dalam mobil saja, gak lama kok.


"Ya, jangan lama-lama, takutnya kita orang telat." Jawab Neti sambil membuka pesan dari Gevando sendiri.


"Gak kok, cuma bentar aja." Kata Gevando dan segera turun dari mobilnya.


Karena penasaran, Neti cepat-cepat untuk membacanya. Kalau untuk Evana, dirinya memilih untuk membuka ponselnya dan memeriksa akun media sosialnya. Alih alih sambil menunggu Gevando membelikan sarapan pagi untuk dirinya dan Neti.


Kemudian, Neti menoleh pada Evana.


'Aku gak yakin deh, kalau Evana akan jatuh cinta dengan Vando. Secara, Evana sedang berada dimasa sulitnya. Trauma karena diselingkuhi, akan sulit untuk percaya dengan laki-laki. Ditambah lagi, dia mempunyai cara pikir sendiri, yakni untuk mempunyai rumah sendiri dan usaha sendiri. Aku rasa Evana sangat sulit untuk jatuh cinta, dia akan fokus dengan masa depannya.' Batin Neti selesai membaca pesan dari Gevando.


"Net! ngelamun, dih. Masih kepagian untuk melamun, mikirin apaan sih. Oh, aku tahu, pasti lagi mikirin pacar kamu, ya 'kan?"


Neti nyengir kuda, tak mungkin juga jika berkata jujur. Jika dirinya tengah memikirkan Evana.


"Dih, nyengir. Oh ya, kamu mau menerima tawaran dari Gevando atau tidak, Net?"


"Ya, dong. Seperti yang kamu bilang tadi, aku harus dekat dengan Raka, pacarku. Kata kamu itu, aku gak boleh polos jadi cewek. Ya udah, aku ikutin saran darimu. Tapi, kamu beneran mau kan, bekerja satu kantor denganku?"


Evana mengangguk dan tersenyum.


"Untukmu, apa yang gak. Kamu sudah banyak membantuku, tentu saja aku akan menuruti permintaanmu." Jawab Evana tersenyum.

__ADS_1


"Ya udah, dil ya." Kata Neti sambil memberi tanda jadi sama Evana dengan jari kelingkingnya, Evana pun menerimanya.


'Apa salahnya jika aku mencobanya untuk mendekatkan Evana dengan Gevando, aku tahu seperti apa mereka berdua, sangat cocok.' Batin Neti dengan yakin.


"Nih, aku sudah belikan sarapan pagi untuk kalian berdua. Mau dimakan sekarang atau nanti, kalau mau sekarang, nanti aku carikan taman."


"Gak usah deh Van, kita makannya di kantor aja. Sebelumnya makasih ya, sudah belikan kami sarapan." Jawab Evana.


"Ya Van, kita sarapannya di kantor aja. Kamu tahu sendiri kan, gimana galaknya kakak kamu itu." Kata Neti ikut menimpali.


"Nah kan, Kak Rey itu galak, gitu kalian berdua kok masih bertahan."


"Justru itu, seru orangnya. Eh, aku gak lagi kena drama novel, 'kan?" kata Evana dengan tawa yang renyah.


Gevando yang mendengarnya, hanya menggelengkan kepalanya.


'Aku yang akan masuk dalam ceritamu, Evana. Entah kenapa, kamu membuatku jatuh cinta. Aku sendiri tidak tahu, awal bertemu denganmu, aku sudah jatuh hati denganmu. Entah ini salah atau benar, aku jatuh hati dengan perempuan yang sudah bersuami. Aku berharap, semoga perceraian kamu segera terselesaikan.' Batin Gevando sambil mengenakan sabuk pengaman.


"Hem, awas loh, ntar jatuh cinta baru tau rasa kamu."


"Ih, jangan. Dunia nyata sama novel itu, aku rasa berbanding terbalik. Jangan deh, cukup dunia novel saja yang terbilang aneh." Kata Evana sambil bergidik ngeri.


Saat itu juga, dirinya teringat akan perselingkuhan suaminya dengan teman dekatnya sendiri.


'Padahal kisahku sendiri sudah banyak di dunia novelan.' Batin Evana saat teringat dengan pernikahannya dengan Ardi.


Sedangkan Gevando, segera melanjutkan kembali mobilnya. Evana dan Neti sama-sama diam dan tak bersuara, keduanya sibuk melihat jalanan yang dilewatinya.


Sedangkan Rey yang sudah datang lebih dulu, sama sekali tidak mendapati sekretarisnya.


"Kamu sedang menunggu siapa, Bos?" tanya Veria yang sudah menghampiri Bosnya yang terlihat mondar-mandir didepan ruang kerjanya.


"Nunggu sekretaris baruku, kenapa?"


"Jam segini belum datang? wah wah wah, apa aku gak salah dengar. Rupanya Evana mulai berani dengan peraturan di kantor ini, pasti mentang-mentang dia pintar dan cerdas, seenaknya saja dia masuk." Kata Veria yang bersemangat untuk menjadi kompor Bosnya.

__ADS_1


__ADS_2