Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Teringat sesuatu


__ADS_3

Tidak ada pilihan lain, Rey akhirnya tak peduli dengan adiknya yang ikutan duduk dan makan bareng dalam satu meja.


Ingin marah, tidak mungkin juga untuk Rey lakukan dengan adiknya sendiri.


Sambil menikmati makan malam, ketiganya sama-sama diamnya dan tidak ada yang bersuara. Hanya terdengar suara sendok yang tengah beradu dengan piringnya masing-masing.


Setelah selesai makan, Rey menoleh pada adiknya.


"Sudah, makannya?" tanya sang kakak saat melihat Gevando tengah mengelap mulutnya dengan tissue.


Gevando langsung menoleh.


"Ya, kenapa?"


"Ya udah, sana cepetan pulang." Kata Reyzan dengan terang-terangan mengusir adiknya.


"Pulang, bareng lah." Jawabnya.


"Kamu kan, kesininya bukan sama aku. Terus, kenapa pulangnya harus bareng." Kata Reyzan yang merasa terganggu.


"Hem. Ya kan, Neti ikut bareng pacarnya. Terus, masa ya, aku satu mobil lagi. Jangan gila dong, sumpek, tau." Ucap Gevando mencari pembenaran.


Tentunya, tidak ingin jika Evana pulangnya hanya berdua dengan sang kakak, pikirnya.


"Alasan aja, memangnya kamu gak bawa mobil? awas aja ya, kalau mobilmu ditinggal. Lihat aja, kamu bakal mendapatkan hukuman." Kata Reyzan, sedangkan Evana merasa pening sendiri saat mendengar kakak beradik terus berdebat.


"Udah deh, udah. Lebih baik aku pulangnya bareng Neti. Jugaan belum kemalaman, masih ada taksi." Ucap Evana karena tidak ingin ada keributan antara kakak-beradik, hanya karena dirinya.


Rey yang mendengarnya, pun langsung memegangi pergelangan tangannya Evana. Kemudian, ia menoleh padanya.


"Pergi bersamaku, pulang juga bersamaku. Soal Gevando, dia tidak ada urusannya dengan kita. Dia datang kesini bareng teman-temannya, pulang pun juga harus sama. Soal Neti, itu urusan pacarnya." Ucap Reyzan sambil menatap tajam pada adiknya, yakni Gevando yang terlihat merasa dongkol.


"Ya," jawab Gevando dan langsung pergi dari hadapan Evana dan kakaknya.


'Awas kamu, Kak.' Batinnya dengan penuh kekesalan.


Sedangkan Evana sendiri, dirinya merasa tidak enak hati saat adik dan kakak saling marah dan kesal.


Rey kembali menoleh pada Evana, dan melepaskan tangannya.


"Gak usah heran, kita berdua memang sering berdebat. Tetap saja, kita baik-baik saja. Ya udah, ayo kita pulang. Besok, kamu harus persiapkan semua yang akan kamu bawa untuk mengurus surat perceraian." Ucap Rey yang tak lupa untuk mengingatkan.


Evana yang tiba-tiba dilema, rasanya ingin menolak dengan perjanjian mengenai pernikahan.


'Aku batalin aja apa, ya?' batinnya sambil melamun.

__ADS_1


"Aw!" pekik Evana saat punggungnya di tepuk oleh Rey.


"Kamu sedang mikirin siapa? Gevando?"


Evana menggelengkan kepalanya.


"Bukan." Jawab Evana yang masih menimbang kembali akan keputusannya itu.


Soal perceraian, itu sudah jelas akan ia ajukan. Tetapi, soal pernikahan sandiwara, Evana mulai memikirkan ulang, takutnya dirinya tak sanggup untuk menjalani kebohongan di depan publik maupun lainnya.


"Terus, mikirin siapa? oh, suami kamu?"


"Bukan juga."


"Terus, kamu itu sedang mikirin siapa?"


"Gak tahu, lagi bingung aja."


"Bingung kenapa? perceraian? itu keputusan kamu, jika kamu masih berat untuk mengajukan perceraian, aku tidak memaksamu. Yang memiliki hubungan kan, kamu. Aku hanya memberi tawaran kepadamu. Kalau gak bisa untuk menjadi istri sandiwaraku juga, gak apa-apa."


"Bukan, bukan itu. Aku akan tetap mengajukan perceraianku, itu sudah menjadi keputusanku. Yang aku pikirkan, yaitu soal pernikahan."


"Kenapa dengan pernikahan? apa jangan jangan kamu itu jatuh cinta dengan adikku?"


"Gak, kenal juga baru kemarin. Aku hanya takut aja, jika kamu dan adikmu akan terus berdebat." Kata Evana yang akhirnya berterus terang.


"Karena itu? aku pikir kenapa, itu urusan belakangan. Aku dan Gevando sudah biasa untuk berdebat, kamu tak perlu kaget." Ucap Reyzan.


"Ya, aku takut aja. Nanti takutnya aku yang disalahin, ketika kalian berdua berdebat." Ujar Evana yang tengah dihantui dengan perasaan takut.


"Gak akan, semua akan baik-baik saja, percaya saja sama aku." Ucap Rey meyakinkan.


"Baiklah, aku akan percaya sama Bos." Jawab Evana masih tetap ada keraguan pada dirinya sendiri.


"Ya udah, ayo kita pulang. Mau ajak Neti, atau mau membiarkan Neti pulang bareng pacarnya."


"Sepertinya aku tanyakan dulu deh, soalnya aku gak punya kunci serepnya. Percuma kalau aku yang pulang duluan, gak bisa masuk rumah kosan." Jawab Evana.


"Kalau gitu, kita samperin Neti dulu. Setelah itu, kita akan pulang." Kata Reyzan sambil bangkit dari posisi duduknya.


Evana mengangguk dan juga ikutan bangkit dari posisi duduknya.


"Net, mau ikutan pulang bareng, apa gak? kalau kamu mau bareng pacar kamu, aku minta kunci rumah kosan."


Tidak ingin membuat kesal pacarnya, Neti menoleh pada Raka, tentunya untuk meminta izin terlebih dahulu.

__ADS_1


"Pulang bareng aja sama teman kamu, biar aku pulangnya bareng yang lainnya. Jugaan ada Gevando, kamu pulang aja sama teman kamu dan Bos kamu." Ucap Raka.


"Yakin, serius?"


"Ya lah, serius." Jawab Raka meyakinkan.


"Baiklah, aku akan pulang bareng Evana. Kalau gitu, aku duluan. Sampai ketemu lagi besok, entah kapan waktunya." Ucap Neti sekaligus berpamitan.


Setelah meminta izin dan juga berpamitan, Neti ikut pulang bareng Evana dan juga Bosnya.


Selama dalam perjalanan, tidak ada yang bersuara sama sekali. Ketiganya sama-sama hening dalam mobil. Tidak terasa, rupanya sudah sampai di depan rumah kosan setelah Evana memberi petunjuk jalan.


"Sudah sampai, silakan turun." Ucap Rey dengan ekspresi datar.


Neti segera melepaskan sabuk pengamanannya, dan segera turun. Begitu juga dengan Evana, cepat-cepat untuk turun.


Sangat mengejutkan, tiba-tiba Rey menahan Evana dengan cara memegangi lengannya.


"Ingat, besok pagi aku jemput. Jadi, kamu tak perlu datang ke kantor. Bilang aja sama teman kamu, tidak diizinkan masuk ke kantor." Ucap Rey memberi saran, Evana mengangguk.


"Ya, Bos." Jawab Evana dengan anggukan, Neti yang sudah masuk rumah, rasa penasarannya, pun muncul.


Evana yang tidak ingin dicurigai oleh temannya, cepat-cepat masuk kedalam rumah.


"Neti, kamu."


"Ada hubungan apa, kamu sama si Bos?" tanya Neti menyelidiki.


Evana justru tersenyum saat mendapatkan pertanyaan dari Neti.


"Kok, senyum. Kamu sedang tidak menyembunyikan sesuatu dariku, 'kan?"


Evana menggeleng.


"Gak ada, serius. Nanti aja aku jelaskan semuanya sama kamu. Pokoknya kamu gak perlu curiga. Dah ah, aku mau mandi dulu. Badanku gerah, capek juga." Jawab Evana yang langsung masuk ke kamarnya.


Neti hanya geleng-geleng saat harus bersabar menunggu penjelasan dari Evana.


"Awas aja ya, kalau kamu sama Pak Bos diam-diam pacaran." Gumam Neti sambil berjalan menuju kamarnya.


Evana yang baru saja menutup pintunya, langsung merebahkan badannya di atas tempat tidur.


Ingatannya kembali di rumah ibu mertua, Evana menangis dan merasa sangat bersalah besar. Dihari terakhir untuk bertemu, Evana tak bisa ikut mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir ibu mertuanya.


Saat itu juga, Evana teringat dengan kalimat yang diucapkan oleh Lely, yakni tentang kehamilannya. Evana semakin terisak saat kenyataan pahit harus menyerang dirinya.

__ADS_1


Pernikahan yang diharapkan kebahagiaan, kini berujung dalam kehancuran. Perpisahan, bagi Evana adalah jalan yang terbaik.


__ADS_2