
Sambil celingukan, Neti tidak mendapati temannya.
"Bos Rey, maaf, jika sudah lancang untuk masuk ke ruangan ini." Ucap Neti dengan reflek, saat dirinya mendapati si Bos yang baru saja keluar dari dalam ruangan privasinya.
Kemudian, disusul oleh Evana sambil berjalan, Evana membenarkan pakaiannya.
Neti benar-benar terkejut saat melihat temannya yang baru saja keluar dari ruang privasi Bosnya.
"Kak-kalian,"
"Jangan me_sum, Evana baru aja pingsan setelah mendengar kabar, bahwa ibu mertuanya meninggal dunia." Sahut Reyzan segera mengatakan yang sebenarnya.
Takut, jika temannya akan disangka perempuan yang tidak tidak, pikirnya.
"Apa! ibunya Ardi meninggal?" tanya Neti dengan suara yang cukup keras, lantaran sangat terkejut mendengarnya.
Evana mengangguk pelan.
"Benar, Net. Ibunya Mas Ardi meninggal dunia, barusan aku mendapatkan pesan darinya. Terus, aku pingsan. Makanya, Bos Rey memanggilmu untuk menemani aku datang ke rumahnya." Jawab Evana, Neti langsung mendekatinya dan memeluk sahabatnya.
"Kamu yang sabar ya, Va. Aku turut berduka cita atas meninggalnya Ibu mertua kamu." Ucap Neti mengucapkan bela sungkawa kepada sahabatnya.
Evana mengangguk dan melepaskan pelukan dari Neti.
"Ya udah, ayo kita berangkat. Aku akan mengantarkan kalian berdua sampai di rumahnya, aku pun akan ikut dengan kalian. Mau bagaimanapun, aku sudah mengenalinya, walau kebetulan." Ucap Rey.
Neti maupun Evana, pun mengiyakan atas apa yang diucapkan oleh Bosnya.
Karena tidak ingin datang terlambat, ketiganya segera bergegas meninggalkan kantor. Semua karyawan dibuatnya penasaran, lantaran si Bos tengah berjalan beriringan dengan kedua karyawannya, satu karyawan biasa, dan satunya sekretarisnya.
Tetapi, tiba-tiba pandangan beberapa karyawan, tertuju pada Evana yang berjalan disebelah Bosnya, terlihat serasi, bisik para karyawan yang tengah membicarakan Bosnya dengan sekretarisnya.
"Cocokan sama Evana, ya, ketimbang sama Veria. Mana sok cantik, kepedean saat mendekati si Bos. Tidak sama Evana, justru mereka berdua sangat cocok dan serasi." Bisik salah satu karyawan.
"Ya, benar. Mana si Veria galak banget, cerewet, gak ada bagus-bagusnya dah pokoknya. Lihat tuh, si Evana senyum ramah." Timpal yang satunya.
Cukup lama berbisik, rupanya Veria baru saja keluar. Tentunya, semua memperhatikannya dengan tatapan yang tidak suka.
__ADS_1
Veria sendiri tidak peduli, dan terus berjalan tanpa menoleh ke kiri maupun ke kanan.
Sedangkan dalam perjalanan, Evana duduk di depan bersama Rey yang mengemudikan mobilnya.
Neti yang di belakang, merasa curiga dengan Bosnya sendiri.
'Apakah mereka sedang melakukan pendekatan? pakai alasan gak mau disangka supir segala.' Batin Neti dengan penuh rasa penasaran.
Evana dengan posisi duduk di depan, merasa tidak enak hati dengan temannya. Saat itu juga, Evana mengirimkan sebuah pesan kepada Neti.
Neti yang kebetulan lagi sibuk dengan ponselnya, langsung membuka pesan dari Evana.
'Jangan prasangka dulu ya, Net. Nanti akan aku jelaskan semuanya padamu, dan kamu tidak perlu mencurigai aku.'
Neti membacanya dalam hati, dan sama sekali tidak membalas pesan dari Evana.
Evana sendiri yang tidak mendapat balasan dari Neti, langsung menoleh ke belakang.
"Ada apa, Va?" tanya Neti membuka suara.
"Aku sariawan, makanya banyak diam." Kata Neti yang juga beralasan.
'Aku gak akan membalas pesan darimu, karena aku ingin tahu kalau kamu akan berterus terang kepadaku.' Batin Neti.
"Kita sudah sampai," ucap Rey mengagetkan.
Tentu saja, Evana sendiri tiba-tiba meneteskan air mata.
Rumah yang selalu ia datangi, kini berubah menjadi rumah yang sedang dilanda duka. Evana kembali teringat dengan masa lalunya bersama sang suami, kenangan indah harus pupus begitu saja.
Evana meneteskan air matanya tak henti-hentinya. Rey yang melihatnya, pun merasa kasihan.
Ingin memberi ketenangan dengan sebuah pelukan, itu tak akan mungkin dilakukannya. Tentu saja, perlu pertimbangan sebelum memeluk tubuh Evana di depan Neti, teman dekatnya.
Ditambah lagi kenal dekat dengan adiknya, tentu saja butuh kehati-hatian untuk menunjukkan sikapnya.
"Sudah, jangan bersedih yang berlarut. Ayo, kita turun. Dan kamu Neti, gandeng tangan Evana. Aku takut, jika dia akan jatuh pingsan seperti tadi di kantor." Ucap Rey sambil melepaskan sabuk pengamanannya, yang juga memberi perintah kepada Neti.
__ADS_1
"Siap, Bos." Sahut Neti dari belakang kemudi, dan segera melepaskan sabuk pengamanannya.
Evana yang sudah merasa tak berdaya, kesulitan walau hanya sekedar untuk melepaskan sabuk pengamanannya.
Rey yang melihat Evana kesusahan, ia segera membantunya.
"Sini, biar aku yang membantu melepaskannya." Ucap Rey sambil membusungkan badannya, kedua matanya saling beradu pandang satu sama lain.
Neti yang duduk di belakang, hanya menyaksikan Bosnya dan temannya yang seakan hendak berci_uman.
"Sudah, ayo kita turun." Kata Rey, dan mengajaknya untuk keluar.
Evana dan Neti segera turun dari mobil. Kemudian, Neti mendekati temannya dan langsung menggandeng tangannya. Sedangkan Rey, berjalan di belakang Evana untuk berjaga-jaga jika jatuh pingsan saat melihat jenazah ibu mertuanya.
Sekuat dan setegar mungkin, Evana berusaha untuk tetap bisa menahan tangisnya yang hampir saja pecah di kerumunan banyaknya orang-orang yang melayat.
Semua orang tengah memperhatikan Evana yang diketahui istrinya Ardi, mulai berbisik dan membicarakan sesuatu padanya.
Saat itu juga, ternyata Lely juga datang untuk melayat atau apalah. Yang jelas, dia datang dengan percaya dirinya.
Evana yang sudah berada di sekeliling keluarga ibu mertuanya, pelan-pelan berjalan mendekati jenazah ibu mertuanya.
"Mama, Mama ..." panggil Evana dengan tangisnya yang pecah dan tentunya mengagetkan orang-orang disekitarnya.
Ardi yang posisinya di dekat jenazah ibunya, langsung bangkit dari posisi duduknya dan segera memeluk Evana yang tengah menangis sesenggukan.
"Lepaskan! kau sama sekali tidak berhak mendapatkan pelukan dari Mas Ardi. Kau tahu, aku sedang hamil anaknya, ingat itu."
Evana yang mendengarnya, sama sekali tidak terkejut maupun bersedih. Justru dia menatap Lely dengan tatapan acuh dan seakan tidak mengenalinya.
Semua yang melayat, rupanya dibuatnya tercengang saat mendengar ucapan dari Lely yang mengatakan jika dirinya tengah hamil anaknya Ardi.
"Siapa juga yang mau dipeluk Mas Ardi, kamu gak usah kegeeran. Maaf saja, besok juga aku akan mengajukan perceraian. Jika kamu membutuhkan Mas Ardi, ambil saja. Aku juga bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Mas Ardi, camkan itu. Aku datang kesini karena aku ingin mendoakan ibu mertuaku, bukan berdebat denganmu, perempuan mur_ahan. Minggir, kau itu bagai sampah di keluarga Mas Ardi." Jawab Evana dengan berani.
Kemudian, ia mengabaikan Lely dan segera mendekati jenazah ibu mertuanya untuk memberi doa, dan mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga ibu mertuanya, yakni kakak iparnya.
Sedangkan Ardi yang tidak ingin ribut, memilih untuk diam. Lantaran, kondisi di rumahnya tengah berduka.
__ADS_1