
Karena tidak bisa menolak keinginan Pak RT, akhirnya Evana memberanikan diri untuk maju ke depan di temani Pak RT.
"Nek, gak apa-apa kan, ditinggal sebentar?" tanya Evana pada Nenek.
Nenek Muna mengangguk.
"Ya, Nak, gak apa-apa. Sudah sana ambil kesempatan emas, siapa tahu ini hari keberuntungan kamu." Kata si Nenek.
"Ya, Nek. Kalau gitu, Evana ke sana bentar ya Nek."
"Ya, sudah sana."
Setelah mendapat persetujuan dari Nenek Muna, Evana bergegas ikut bersama Pak RT.
Semua warga dibuatnya kaget saat melihat sosok perempuan yang seperti tidak begitu asing, tetap saja lupa akan siapa Evana. Begitu juga dengan Radit, gak nyangka jika Evana yang maju ke depan.
Bangga, itu sudah pasti, lantaran sudah tahu siapa itu Evana. Murid cerdas dan berprestasi, juga mempunyai kelebihan yang terkadang tidak dimiliki oleh orang lain.
Sedangkan temannya yang baru saja bertemu, tidak menyangka kalau ternyata Evana diajak Pak RT.
Evana yang awalnya menolak karena takut, akhirnya memberanikan diri meski entah seperti apa yang akan dihadapinya. Meski sering bertemu dan berhadapan dengan orang berwawasan tinggi, tetap saja membuat nyalinya sedikit menciut.
Sebelum menggantikan Ibu Hana, diantara ke empat orang yang datang untuk membahas mengenai fisi dan misinya, Evana di ajari bagaimana dan seperti apa yang harus dilakukan di atas panggung.
"Kamu sudah siap, Evana?" tanya seseorang yang baru saja menerangkan mengenai apa yang harus dilakukan.
"Saya siap, Pak."
"Bapak percayakan sama kamu, semoga semua berjalan dengan baik. Semoga bisa, ya. Tenang, kamu gak sendirian, ada Pak Tarno yang akan mendampingi kamu." Ucap Pak Kades meyakinkan Evana.
"Semoga saja ya, Pak." Jawab Evana sedikit ada rasa gugup, karena harus tampil di atas panggung yang menurutnya tidak lah mudah. Lebih lagi harus berhadapan dengan orang petinggi, yakni yang memiliki saham, kata Pak Kades, pikirnya.
Berkali-kali Evana mengatur pernapasannya, dan juga membuang napasnya dengan kasar, berharap semua akan baik-baik saja dan tentunya tidak membuat malu.
Karena waktu yang sudah dimulai, semua bersiap-siap. Satu persatu di antara mereka, naik ke atas panggung dengan memberi pidatonya.
Cukup lama mendengarkannya apa yang di sampaikan, warga mulai mengerti dan dapat memahami isi setiap kalimat yang diucapkannya.
Semua merasa kagum dengan kampungnya sendiri, yang kini akan di buka untuk mempunyai lapangan pekerjaan.
Setelah ketiga orang tersebut memberi pidatonya, kini tinggallah Evana yang ditemani Pak Tarno untuk tanya jawab dan juga yang lainnya.
__ADS_1
"Va, kamu pasti bisa." Ucap Radit yang tiba-tiba datang untuk memberi semangat Evana.
Evana tersenyum pada Radit.
"Semoga saja ya, Dit. Lumayan grogi nih, mana ini giliran aku, benar-benar menguji nyali ini Dit." Jawab Evana mulai tidak percaya diri untuk naik di atas panggung.
Dan benar saja, rupanya Evana diminta untuk naik ke atas panggung untuk menyambut salah satu dari mereka berempat.
Evana yang sudah di atas panggung, detak jantungnya berdegup sangat kencang, lantaran grogi dan rasanya seperti tidak begitu percaya diri.
'Evana, kamu pasti bisa. Ingat, kamu ingin mendapatkan kesempatan emas, 'kan?ayolah kamu harus berani.' Batin Evana menyemangati dirinya sendiri di atas panggung, dan semua orang dapat melihatnya.
Dengan hati-hati, Evana membuka map yang berada di tangannya untuk membantunya bicara. Karena situasi mendadak, Evana tidak memeriksa dan membacanya ulang.
Setelah mendapatkan kode dari Pak RT dari bawah panggung, Evana mengerti akan maksudnya.
Dengan hati-hati saat bicara, Evana mengawalinya dengan sapaan dan juga ucapan lainnya, serta memperkenalkan dirinya lagi yang mewakili Ibu Hana yang kini tengah berdiri di atas panggung.
"Evana," gumam semua orang yang hadir di balai desa.
Kaget dan terkejut, itu sudah pasti.
"Untuk Bapak Ar--"
Tiba-tiba Evana berhenti memanggil, mencoba untuk memeriksa text nya, benar atau salah, pikirnya. Semua yang hadir, dibuatnya tidak mengerti.
Evana yang tidak ingin salah dalam menjalankan amanah, langsung menepis segala pikiran yang dapat mengganggu jalannya acara.
'Ingat, Evana, kamu harus profesional.' Batinnya, dan melanjutkan lagi.
"Saya minta maaf, atas kesalahan saya tadi." Ucap Evana, dan kini memanggil kembali seseorang yang akan diminta untuk naik ke atas panggung.
"Untuk Bapak Ardi Hendrawan yang kami hormati, kami persilakan untuk naik ke atas panggung." Ucap Evana sedikit kaku dalam menyebutkan nama.
Pemilik nama segera bangkit dari posisi duduknya dan bergegas naik ke atas panggung.
Beberapa tangga untuk naik ke atas panggung, alangkah terkejutnya saat keduanya saling melihat satu sama lainnya.
"Mas Ardi."
"Evana."
__ADS_1
Keduanya saling menyebutkan nama satu sama lain seperti tidak percaya.
Karena tidak ingin acara yang sudah diselenggarakan menjadi berantakan, Evana langsung menyambut baik dan ramah kepada mantan suaminya sendiri yang kini menjadi lawan bicaranya.
'Kenapa Evana berada di kampung ini? seharusnya dia berada di kota bersama suaminya. Apa ya, dia berpisah dengan suaminya? gak, gak mungkin.' Batin Ardi bengong.
"Pak, Bapak Ardi," panggil Evana yang mencoba untuk membuyarkan lamunannya.
"Maaf, maaf." Jawabnya merasa malu, lantaran ketahuan bengong di atas panggung.
Karena tidak ingin membuang-buang waktu, Evana segera memulainya. Meski harus berhadapan dengan mantan suaminya sendiri, tetap menunjukkan sikap baik yang profesional. Lebih lagi mewakili suara masyarakat, tentu saja harus membawa nama baik kampungnya.
Semua warga yang mendengarnya, benar-benar berdecak kagum dengan keberanian Evana yang sama sekali tidak terlihat kekurangan apapun saat berada di atas panggung.
Cukup lama berada di atas panggung untuk menggantikan Ibu Hana, akhirnya tugasnya selesai. Dengan rasa hormat, Evana mengakhirinya.
'Kamu tidak pernah berubah, selalu membuatku jatuh cinta denganmu.' Batin Radit yang masih dengan perasaannya yang dulu.
"Hei! Radit, itu benaran Evana?"
"Ya, Don, dia Evana, baru pulang kampung kemarin." Jawab Radit yang masih terus melihat ke arah atas panggung.
"Wah, rezeki nomplok kalo gitu, Dit. Sudah, pepet aja terus, siapa tahu memang di takdirkan untuk menjadi jodohnya kamu." Kata Doni mengompori, Radit tertawa kecil mendengarnya.
Sedangkan di bawah panggung, Evana buru-buru untuk segera pergi dari acara tersebut. Takut, jika mantan suaminya akan mendesak dan memberi banyak pertanyaan untuk dirinya.
"Eva! Evana! Va! tunggu, jangan pergi dulu." Teriak Ardi yang tidak peduli akan menjadi pusat perhatian semua warga kampung yang hadir di balai desa.
Radit yang awalnya senyum-senyum, pun kaget dengan teriakan juga para warga yang hadir tertuju pada Evana dan Ardi yang terlihat seperti kejar-kejaran.
Evana yang takut pada mantan suaminya, terus berlari.
BRUK!
Tanpa di sengaja, Evana menabrak Radit.
"Va, kamu kenapa lari?"tanya Radit saat tubuhnya tertabrak oleh Evana.
"Va! tunggu." Panggil Ardi dengan napas ngos-ngosan.
Evana yang merasa malu karena menjadi pusat perhatian, langsung menjatuhkan diri seperti orang pingsan.
__ADS_1