
Setelah mengusir adik laki-lakinya, Rey segera menyusul Evana yang tengah berada di kantin.
Sedangkan Evana, dirinya terasa hilang selera makannya. Otaknya pun masih bekerja keras mengenai Veria, yang ia dengar sudah menjadi seorang pemb_unuh, lebih lagi dengan istri Bosnya sendiri. Tentu saja, Evana begitu sulit untuk mencernanya.
Saat itu juga, Rey langsung menyambar makanan milik Evana, dan langsung ikutan duduk dan menikmati makanannya.
Evana langsung melotot pada Bosnya.
"Makanya, kalau mau makan tuh, langsung dimakan. Bukan dengan cara ngelamun, hem."
"Dih, siapa yang melamun. Aku tuh lagi mikirin nyari uang tambahan, sok tahu kalau aku sedang melamun. Eh! sini makananku, Bos. Soalnya aku belum sarapan pagi, tadi buru-buru." Jawab Evana saat melihat Bosnya sedang menikmati makanan miliknya.
"Buka mulutmu, biar aku yang suapin."
"Bos, jangan aneh-aneh dong. Aku masih waras, sini berikan makananku."
"Nih, aku denger kamu lagi nyari uang tambahan, untuk apa?"
"Untuk ngontrak, sama ..."
"Urus surat perceraian, ya, 'kan?"
Evana sangat terkejut mendengarnya, sungguh diluar dugaan.
"Urus surat perceraian, tau dari mana?"
"Gak penting tau dari mana, yang jelas aku mengetahuinya." Kata si Bos.
Evana yang malas membahas soal perceraian, memilih untuk menikmati sarapan paginya di kantin. Tak peduli juga dengan pertanyaan-pertanyaan dari Bosnya.
"Aku akan penuhi semua keinginan kamu, tapi bukan disini untuk membicarakannya. Buruan dihabiskan makananmu, dan segera kembali ke ruang kerjamu. Cepat, aku tunggu."
"Aku sedang tidak membutuhkan bantuan dari si Bos, soalnya aku lagi males melakukan atau memenuhi syarat yang Bos berikan." Kata Evana menolak, lantaran tidak ingin ketiban sial, pikirnya.
"Nanti kamu bakalan tergiur setelah mendengarnya sendiri, serta bukti yang nyata. Baiklah, aku tunggu di dalam ruangan kerja, ok." Ucap Rey dan segera bangkit dari posisinya dan secepatnya untuk kembali ke ruang kerjanya.
Sama sekali tidak menjawab, Evana memilih untuk diam dan menikmati sarapan paginya. Sedangkan Rey, dirinya kembali ke ruang kerjanya.
Evana yang tengah mengunyah makanan, berkali-kali mencoba untuk berpikir dengan sebuah tawaran yang diberikan Bosnya.
"Si Bos mau penuhi keinginan aku, tau dari mana kalau aku sedang mengurus perceraian. Ah ya, pasti Neti yang sudah memberitahunya." Gumamnya sambil mengunyah.
Karena penasaran dengan apa yang akan dibicarakan di ruang kerjanya bersama si Bos, Evana cepat-cepat ia segera menghabiskan sarapan paginya.
__ADS_1
Setelah itu, dengan terburu-buru, Evana kembali ke ruang kerjanya.
Dengan pelan, Evana membuka pintunya.
"Buruan masuk, dan kunci pintunya, tekan aja tombol yang kuning." Perintah Rey untuk mengunci pintunya, meski sebenarnya dirinya pun bisa melakukannya.
Ketika pintunya sudah terkunci, Evana menuju tempat duduknya. Sedangkan Rey, dianya yang mendekati Evana sambil menarik kursi yang tidak jauh dari tempat duduknya. Kemudian, ikut duduk di dekat Evana.
"Maaf, Bos, ada apa ya?" tanya Evana sedikit gugup.
"Aku hanya akan memberimu tawaran, mau atau tidaknya, kamu harus mau." Jawab Rey dengan menatap Evana dengan serius.
"Tawaran, apa itu, Bos?"
Evana kembali bertanya karena penasaran.
"Memberimu rumah dan mengurus perceraian kamu, serta uang lima ratus juta." Jawab Rey dengan tatapan yang begitu serius.
Evana yang mendengarnya, pun bagai mimpi.
"Bos jangan ngelawak deh, gak lucu. Aku memang membutuhkan tempat tinggal, dan juga modal usaha, tapi gak gini caranya, di buat candaan." Kata si Evana yang merasa dikerjain sama Bosnya.
Rey yang merasa ucapannya tidak dianggap serius, dirinya menggeser kursinya sedekat mungkin.
"Apa! menikah?"
Evana terperanjat dan langsung bangkit dari posisi duduknya.
Rey mengangguk.
"Ya, menikah denganku. Tenang, kita hanya berpura-pura. Kalau nikah sih, ya beneran menikah. Makanya aku akan membantu membereskan perceraian kamu, dan setelah itu kita akan menikah. Kamu tidak perlu takut, cukup bermain drama di dalam keluargaku. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, termasuk rumah serta mobil, dan juga uang." Kata Rey menjelaskan secara detail.
Evana yang mendengarnya, pun nyengir kuda. Senang sih, tapi syarat yang diberikan cukuplah berat, pikirnya.
"Kenapa Bos Rey gak nikah beneran aja sama pacarnya si Bos sendiri?"
"Aku gak punya pacar. Kalaupun aku sudah punya pacar, ngapain juga aku memberi tawaran kepadamu." Kata Reyzan.
"Aku pikir-pikir dulu ya, Bos. Soalnya syarat yang diberikan Bos itu sangat berat, mana harus tidur satu kamar, kan gak lucu." Jawab Evana beralas, karena tidak mungkin juga jika dirinya harus menolak dengan mentah-mentah.
"Aku beri kamu waktu selama sehari, besok pagi sudah ada keputusan, titik."
Evana langsung melotot di hadapan Bosnya.
__ADS_1
"Yang benar aja, Bos. Masa ya, ngasih waktu singkat banget. Sama aja, suruh menerima tawaran dari Bos."
"Sudah aku bilang, kan, mau tidak mau, kamu harus mau. Jadi, tidak ada alasan apapun jika kamu ingin menolak."
"Tapi, Bos."
"Gak ada tapi tapian, besok juga kamu serahkan berkas-berkas yang akan dijadikan syarat pengajuan perceraian. Besok pagi juga, aku akan antarkan kamu untuk mengurus perceraian."
"Bos, gak bisa gitu dong. Aku juga butuh waktu, gak secepat itu aku mengajukan perceraian. Mau di taruh dimana mukaku, jika secepat ini aku mengajukan perceraian.
"Kamu mau memiliki rumah sendiri atau tidak, ha? kalau gak, ya udah, gak apa-apa. Tapi ingat, tetap aja harus penuhi perintahku."
"Bos, jangan gitu dong. Nanti aku disangka perempuan gak bener, lagi. Cepat-cepat mengajukan perceraian karena matre, oh! tudak."
"Ngapain mikirin sampai di situ, suami kamu berselingkuh saja tidak ingat kamu." Kata Rey mengompori.
Sejenak, Evana kembali teringat dengan perbuatan suaminya dulu, yakni berselingkuh tanpa mikir panjang, pikirnya.
'Ah ya, kenapa gak aku gunakan kesempatan emas ini. Lagi pula hanya jadi istri pura-pura doang, habis itu cerai lagi, beres. Masa bod_oh dengan rumor yang akan mencoreng namaku. Jugaan aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, aku hanya sebatang kara.' Batin Evana setelah menimbangnya.
"Gimana, mau apa gak?"
"Tapi bener, ya, hanya pura-pura. Awas loh, kalau sampai meminta sesuatu yang lainnya."
Rey yang mendapat ancaman dari Evana, tersenyum menggoda.
"Aku gak bisa janji, siapa tahu kamu yang menginginkannya."
"Dih! jangan berharap, aku akan ketat dalam penjagaan malamku. Ingat loh, aku jago beladiri. Sekali tendang, terkapar kamunya." Kata Evana menakuti, justru Rey terkekeh mendengarnya.
"Dil, ini ya. Kalau kamu mau menerima tawaran dariku, tidak boleh untuk digagalkan."
"Dil, aku pegang janjimu. Satu lagi, harus tertulis hitam di atas putih. Aku tidak mau rugi, dan juga syarat dariku untuk tidak menyentuhku maupun hal lainnya yang menjerumus, ok."
"Siap, aku akan penuhi dalam keadaan sadar. Jika di bawah kesadaran, berarti itu kesalahan kita berdua."
"Bah! macam mana itu, aih."
"Ya siapa tahu aja kamu ngebet dan pingin, dan siapa juga yang mau nolak." Kata Rey sengaja membuat Evana geram.
"Ya udah, gak jadi kalau gitu."
"Eits, jangan gitu dong. Ok ok ok, aku penuhi syarat darimu." Ucap Rey yang akhirnya menuruti maunya Evana, dan keduanya bersepakat untuk menyetujuinya.
__ADS_1