
Acara yang sudah dilewati bersama kedua orang tua dan juga warga setempat, serta bersama nenek Muna, juga bersama rekan kerja Reyzan. Tidak terasa kini menyambut pagi hari yang tidak sendirian.
"Sayang, bangun, ini sudah pagi. Apa kamu gak mau temani suami kamu jalan-jalan? sayang sekali loh, tinggal di kampung tapi tidak menikmati udara segar." Panggil Rey kepada istrinya yang ia lihat masih terbungkus selimut.
Rey yang tidak mendapat respon dari istrinya, kembali menoleh ke tempat tidur.
Tidak ada respon, juga tidak ada tanda-tanda apapun saat dirinya membangunkan istrinya.
Rey yang merasa tidak ada sahutan dari istrinya, langsung membuka selimutnya.
"Apa! guling?"
Rey langsung menoleh ke sumber suara yang kedengaran ada yang tertawa, tentu saja mentertawakan Reyzan.
"Makanya, kalau dengar suara ayam berkokok itu, buruan bangun. Gini nih jadinya, sangkaannya aku yang belum bangun, wek." Kata Evana sambil meledek, yakni dengan menjulurkan lidahnya.
Saat itu juga, Rey langsung memeluk istrinya. Kemudian sengaja menc_iumi kedua pipinya dan juga pada leher jenjangnya. Evana menggeliat karena geli, alhasil langsung menggelitik bagian yang mudah merespon, seperti ketiak dan juga bagian pinggangnya.
Tentu saja, Rey seperti mendapat sengatan.
"Aw! jangan dong, sayang. Aku geli, tau." Kata Rey mencoba menyingkir dari istrinya yang hendak terus menggelitik tubuhnya yang berasa kegelian.
"Makanya jangan usil, kena batunya kan." Jawab Evana sambil membereskan tempat tidurnya.
Rey yang memperhatikan istrinya dengan penampilannya yang sederhana, juga tidak terlihat istri yang manja, semakin merasa beruntung mendapatkan istri sesuai kriterianya.
Rey berjalan mendekatinya, dan memeluk Evana dari belakang.
"Yakin nih, kalau kamu beneran gak mau menemaniku jalan-jalan pagi?" tanya Rey bergelayut manja di atas pundak milik istrinya sambil mencium aroma parfum yang masih dapat ia rasakan dari tubuh istrinya.
"Aku lagi membereskan tempat tidur, sabar sedikit. Jika Bos Rey gak mau menunggu, jalan-jalan aja sendiri, atau gak ngajak Mama sama Papa, sekalian Nenek Muna." Jawab Evana sambil melipat selimutnya.
Rey langsung memutarbalikkan badan istrinya hingga menghadap ke arahnya.
"Tega kamu ya, menyuruh suami kamu ini untuk jalan-jalan bersama Mama dan Papa, juga Nenek Muna. Gak sekalian ngajak satu kampung sini, hem." Ucap Rey terlihat cemberut, entah lah, sikapnya mulai aneh dan gak seperti biasanya.
"Ya deh, ya. Perasaan dari semalam itu, Bos Rey terlihat manja gini deh. Si Bos gak sedang lagi bermain drama, 'kan?"
"Gak lah, wajar dong kalau suami kamu ini manja. Bayangin aja sendiri, sudah lebih dua bulan gak bertemu kamu. Gak hanya itu saja, onderdil aku baru di servis, eh si tukang servisnya menghilang."
Bukannya menjawab, justru si Evana tertawa mendengar keluhan dari suaminya.
"Ketawa terus aja, mumpung lagi ada penawaran. Sudah ah, yuk kita jalan-jalan. Aku pingin menikmati hari hariku di kampung kamu ini, harus di nikmati sebaik mungkin." Kata Reyzan.
"Ya, Bos, ya." Jawab Evana sambil meletakkan selimutnya di atas bantal.
Kemudian, keduanya bergegas keluar dari kamar.
Saat sudah keluar dari kamar, rupanya Nenek Muna dan ibunya Reyzan tengah menyiapkan sarapan pagi. Tentu saja, Evana yang sempat ikut membantu memasak, sudah tidak sabar untuk menikmatinya.
Berbeda sama yang di kota, yang sarapan paginya selalu dengan Roti, susu, nasi goreng, atau bubur, atau yang sejenisnya. Lain lagi di kampung, yang mayoritas sarapan paginya dengan nasi dan sayur, serta lauknya.
"Bau apaan ini, Ma?" tanya Reyzan saat indra penciumannya mulai terganggu.
"Tadi Mama sama istri kamu dibantu Nenek Muna untuk membuat sarapan pagi, sesuai kebiasaan di kampung sini, Nak."
Rey yang penasaran, langsung mendekati meja makan yang sudah tersaji begitu banyak menu makanan.
__ADS_1
Rey menelan ludahnya dengan susah payah, merasa tidak wajar dengan apa yang ia lihat.
"Ini untuk sarapan pagi?" tanya Rey sambil menunjuk pada masakan yang sudah tersaji di atas meja makan.
Evana hanya memperhatikan suaminya dengan heran, tentu saja melihat ekspresinya yang membuat Evana ingin ketawa.
"Ya, Rey. Ngomong-ngomong kalian berdua mau kemana?" tanya ibunya saat melihat Rey yang seperti hendak keluar.
"Kita mau jalan-jalan, Ma."
"Jalan-jalan, memangnya ini jam berapa?"
Rey yang terbiasa dengan pagi hari yang cerah, gak tahunya saat melihat jam dinding sudah jam delapan pagi.
"What! sudah jam delapan pagi? yang benar saja, Ma."
"Hem, kamu pikir itu, masih jam enam pagi gitu. Disini cuacanya beda dengan di kota, di kampung sini adem. Jadi, bawaannya pingin tidur terus." Kata ibunya.
Rey yang seperti mendapat si_al, hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Sudah, jalan-jalannya besok pagi aja. Hari ini Papa mau pergi ke tempat proyek yang sedang dikerjakan oleh beberapa pekerja. Katanya tinggal beberapa persen lagi akan segera selesai. Jadi, setelah sarapan pagi, kamu segera bersiap-siap untuk berangkat ikut Papa."
"Tunggu tunggu, Papa mau mendatangi proyek yang aku tangani bersama rekan-rekan kerjaku?"
Tuan Daro mengangguk saat mendapat pertanyaan dari putranya.
"Benar, karena sebenarnya Papa yang mengepalai. Papa juga tahu jika mantan suami istrimu juga ikut dalam kerja sama, cuma Papa tidak begitu mempermasalahkan. Karena apa, Papa yakin dan percaya sama kamu, bahwa kamu pasti bisa untuk menyelesaikan masalahmu sendiri." Jawab Tuan Daro sambil menjelaskan kebenaran yang ada.
"Kenapa Papa gak bilang dari awal, kalau Ardi ikut andil soal kerja sama. Kalau tahu kan, tentu saja aku tidak perlu berprasangka." Kata Reyzan.
"Sudahlah, kamu gak perlu memikirkan hal itu. Lebih baik kamu fokus saja dengan hubungan kamu dengan istrimu, Evana."
"Gak ada tapi tapian. Dan kamu Evana, kemarilah. Papa ada sebuah pesan untuk kalian berdua."
Evana yang merasa dipanggil namanya oleh ayah mertua, mendekati Beliau.
"Ya, Pa."
"Sini."
Evana berdiri disebelah suaminya menatap ayah mertuanya.
"Maafkan Papa jika harus membuat keputusan, kalian harus bisa menerimanya."
"Keputusan apa itu, Pa?" tanya Reyzan yang langsung menyambar.
"Ada satu pilihan, menetap di kota atau di kampung ini?" tanya Tuan Daro kepada anak dan menantunya.
Evana maupun Reyzan saling menatap satu sama lain.
Pilihan yang sederhana, tetapi seakan menjadi keputusan yang mutlak.
"Bagaimana?" tanya Tuan Daro kembali.
Rey sejenak berpikir, ingatannya pun kembali pada sosok laki-laki yang tidak terlihat kehadirannya. Siapa lagi kalau bukan Gevando, adik laki-lakinya yang menyimpan rasa cintanya kepada sang istri.
"Aku ikut keputusan istriku, Pa. Apapun yang menjadi keputusannya, juga pilihannya, aku akan menurutinya. Aku yakin jika pilihannya adalah yang terbaik untukku dan juga Evana." Jawab Rey yang teringat jika istrinya ingin melahirkan anak di kampungnya.
__ADS_1
Evana yang diminta untuk memberi keputusan, seolah mendapatkan tugas yang begitu besar oleh Bosnya.
"Kok aku sih, Bos." Ucap Evana dengan lirih, tetap masih bisa didengar oleh suaminya, juga ibu mertua maupun ayah mertua, juga Nenek Muna.
"Ayo sayang, jawab. Aku siap kok, jika kamu ingin menetap tinggal di kampung ini. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, bertanggung jawab atas segalanya padamu." Jawab Reyzan.
"Serius, gak menyesal?"
Rey tersenyum dengan anggukan.
"Gak bohong?"
Rey menggelengkan kepalanya, tanda setuju dengan yang ia ucapkan.
Evana tersenyum lebar saat dirinya mendapatkan izin dari suaminya untuk menetap di kampungnya.
"Ya, Pa, Evana siap tinggal di kampung ini bersama suami. Tapi, apa suami Evana gak kaget dengan kondisi dan keadaan yang berbanding terbalik dengan yang ada di kota?"
"Kamu ini gimana sih sayang, aku yang akan memegang kendali soal mengurus proyek yang sedang berlangsung, karena aku yang akan menjadi pemiliknya. Tentu saja, aku akan sibuk seperti halnya di kota. Jadi, semua sama saja." Kata Reyzan menjelaskan.
"Terus rumah ini gimana?"
"Ya akan kita tempati, hanya saja nanti akan di renovasi. Jadi, kamu gak perlu cemas."
"Ya deh, aku nurut saja sama Bos Rey."
"Aku ini bukan Bos kamu, sayang. Tetapi aku ini suami kamu, butuh pengakuan yang akurat agar kita tidak disangka atasan dan bawahan."
Evana nyengir kuda.
"Ya, sayangku ...." Ucap Evana memanggil suaminya dengan sebutan sayang.
Nenek Muna bersama Tuan Daro dan istrinya tertawa kecil saat mendengar Evana memanggil Reyzan dengan panggilan sayang.
Suasana di dalam rumah terasa hangat, meski berada di kampung, juga dengan rumah yang sederhana milik mendiang kedua orang tuanya Evana.
Kebahagiaan yang pernah diharapkan oleh Evana sempat pupus ditengah jalan, kini impiannya untuk memiliki rumah tangga yang harmonis, impiannya telah terkabul. Meski dirinya harus menikah kedua kali yang berawal dari sebuah perjanjian dan bermain drama. Dan kini, tidak ada lagi drama, melainkan kesungguhan yang sedang di jalaninya.
TAMAT
SELAMAT BERBAHAGIA EVANA DAN REYZAN. AKHIRNYA PENANTIAN KEBAHAGIAAN TELAH DI DAPATKAN OLEH KEDUANYA.
KALAU NAMBAH RAME, LANJUT SEASON 2 YA....
Author ucapkan banyak terima kasih dari para readers setia yang selalu setia menanti updatenya Babang Tampan Reyzan, juga Evana.
Author meminta maaf, jika selama dalam update cerita Istri Yang Kau Jandakan kurang dari sempurna, maafkan otor dari segala tulisan, alur cerita, dan yang lainnya.
Author ucapkan banyak-banyak terimakasih yang sudah memberi semangat, lewat like, komen, dan juga Vote, terimakasih atas dukungannya. Semoga kita selalu diberi kesehatan dan keselamatan dalam menjalankan kehidupan kita sehari-hari, sehat selalu semua readers setianya author Anjana.
Sampai bertemu lagi dengan cerita selanjutnya readers setia
Love love full untuk semuanya.
Mulai besok sudah aktif Bodyguard Pewaris Tunggal, ya ...
Yuk, yang berkenan, kita lanjut dengan kisahnya Babang Ciko di cerita Bodyguard Pewaris Tunggal.
__ADS_1
Semangat